Cahaya lampu dibawah atap rumah, menyinari terang ruang makan malam itu. Beberapa pelayan terlihat berdatangan sili berganti meletakan berbagai jenis makanan dan minuman diatas meja. Buah buahan terlihat memenuhi tiga mangkuk hias besar ditengah tengah meja panjang yang di tutupi telapak meja bordiran cantik dan mahal. Tidak sampai disitu saja, terlihat dua orang pelayan wanita sedang menuangkan minuman sejenis anggur merah di gelas bertangkai panjang disetiap sisi orang orang yang sedang duduk berkumpul di sebelah satu meja. Meja penuh dengan manusia asing tidak dikenali wanita muda yang masih berdiri didepan pintu menggenggam tangan pasangannya yang juga membalas genggamannya. Meskipun begitu tampak ramai, namun tidak satupun dari mereka yang membuka suara kecuali wanita tua yang berada di kursi paling ujung meja. "Nenek, aku baru bertemu dengannya bagaimana mungkin bisa langsung menikah" "loh, memang kenapa, bukannya kalian sudah saling mengenal selama 3 tahun di SMA?" "Tapi tetap saja ini terlalu cepat, aku juga belum bertemu dengan orang tuanya." "Cepat gimana, nenek mu ini sudah sangat ingin menimang cucu, tidak bisa kau lihat ya, ibu tiri mu saja mandul. Sudah lama menikah sampai sekarang tidak memiliki anak" sindiran dengan senyum kecut terlihat sangat tidak ingin memandang seorang wanita separuh baya yang duduk disisi kirinya, dengan gaun berwarna putih dan rambut tergulung indah serta pita anggun yang menghiasi rambut. Wanita itu hanya bisa diam merasa sedikit bersalah karena tidak bisa melahirkan anak demi memenuhi kepuasan mertuanya. "Lupakan dulu nenek, kami masih berdiri, bukannya ini acara makan malam keluarga, belum sempat lagi kami duduk, nenek sudah mengatakan hal itu berulang kali" "Hahahha.. iya ya iya, kau minggir dari situ," usir wanita tua kepada wanita separuh baya yang tadi ia sindir. Dengan segera wanita tersebut menyingkir posisi duduknya menuju ke kursi sudut meja yang tersisa. Semua mata memandang penuh kasihan karena sikap wanita tua yang keterlaluan. Bahkan ouya yang masih berdiri merasa sangat iba melihat wajah wanita separuh baya yang ia rasa sanggup menahan rasa malu karena perlakuan kasar wanita tua diujung meja. "Ouya, duduk disini?" "Aku?"gumam gadis itu dalam hati merasa sangat khawatir bercampur bingung. Dia tidak menyangka dirinyalah yang menggantikan Wanita separuh baya untuk duduk disisi kiri depan wanita tua yang dia anggap kejam itu. Rasa takut mulai menyelimuti kembali menusuk dalam jiwanya. Takut, kejadian dimasa lalu akan terulang kembali, takut bahwa ia akan dibenci oleh banyak orang lagi, dan takut hidupnya akan berakhir lebih menderita dibandingkan kejadian dimasa lalu. "Kenapa bengong, sana dekat nenek" suara Laki laki membangunkan gadis malang yang tubuhnya tengah gemetaran, ia berkali kali menggelengkan kepala menolak untuk duduk diposisi yang telah diberikan wanita tua diujung meja. "Loh, kok diam aja, sini duduk dekat nenek" Gadis itu menggelengkan kepala, detak jantungnya tidak karuan dipandangi oleh banyak mata, dia sekilas melihat wanita separuh baya bergaun Putihlah satu satunya orang yang tidak memandangnya. "Nenek, ouya masih belum mengenal nenek, jadi mungkin belum terbiasa dekat dengan orang" laki laki disebelah gadis tersebut memberikan saran agar wanita tua dapat memaklumi keadaan gadis yang bahkan sudah menundukan kepala. "Aih aih. Masih malu malu, Iron, sana pindah dekat istrimu, biar Hiyun duduk disebelah ouya. Menemaninya dekat denganku" perintahnya kepada laki laki yang duduk dikursi kedua tempat wanita separuh baya tadinya berada. "Ah kan ibu, kau selalu saja sesuka hati memerintah" "Kau selalu saja melawan perintah, padahal aku terus terusan memberimu kelonggaran, masih tidak mau mendengar. Kalau tidak suka, sana keluar tidak usah gabung makan" "Iya iya.. aku duduk dekat dengan nya. Tapi tetap saja sangat membosankan, padahal aku ingin sekali mengenal menantu cantikku" " Jangan gatal iron, berani kau sentuh dia, kupastikan kau tidak akan kembali lagi keindonesia" "Ibu galak sekali" keluh Laki laki separuh baya yang dipanggil iron tersebut. Dengan segera ia pergi dari posisinya menatap ke ouya dengan senyuman licik. Pandangan mata nya tiba tiba tertuju kepada Laki laki muda yang masih berada disebelah ouya. Hiyun, dia menantap ayah yang ia benci dengan tatapan penuh dengan ketidak sukaan. Hiyun menarik tangan ouya untuk terus berjalan mendekati neneknya. Ia mendudukkan wanita muda tersebut tepat disisi depan wanita tua yang sangat senang dengan kehadiran gadis cantik dengan rambut bergelombang disampingnya. "Ayo kita makan, jangan takut.. anggap saja aku nenekmu sendiri, oke" "Iya nek" "Hmmm..anak penurut, beruntung sekali cucuku memilikimu" Makan malam telah berakhir, wanita tua sangat berharap cucu kesayangannya untuk tidur dirumah mereka. Tapi hiyun menolak dengan alasan pekerjaan yang masih menumpuk dirumah. Dengan terpaksa Wanita tua tersebut melepaskan kepergian cucunya. Berdiri didepan pintu rumah besar bertingkat dua. Wanita tua memeluk erat tubuh ouya. Mendekapnya penuh harapan. Harapan bahwa gadis itu segera menikah dengan cucunya. Karena ia sungguh sangat menginginkan kehadiran Bayi lagi sebelum hari kematian tiba. "Hati hati dijalan" "Iya nek, nenek jangan lupa jaga kesehatan ya" teriak hiyun dari jauh sebelum masuk kedalam mobil. "Iya., ouya juga sehat sehat ya " "Iya nenek, " teriak ouya Memandang masih dengan penuh rasa takut menerima kebaikan nenek dari bossnya karena ia juga pernah menerima kebaikan dari pemilik Sekolah ketika ia masih duduk di SMP, dan berakhir menderita.
baca novel ini, kaya lagi baca komik aja aq tuh.. seruuu, lucu, .unik beda sama yg lain...
24/07/2022
0mantap ceritanya
01/05
0terima kasih atas bantuin aku
05/02
0ดูทั้งหมด