logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 8 Orang Utan Kurus

Sementara Zara sibuk meratapi kelambatan otaknya di luar dinding lantai tiga, Leo Marcone melangkah keluar dari kamar dengan senyum sinis yang tipis. Rasa jengkelnya entah bagaimana berubah menjadi kepuasan tersendiri setelah melihat penderitaan gadis pengacau itu.
Saat melewati lorong, Leo berpapasan dengan asisten pribadinya yang kebetulan sedang lewat.
"Toby!" panggil Leo tegas.
Toby langsung menegakkan tubuhnya, menoleh cepat ke arah sang majikan. "Iya, Tuan?"
"Ambilkan aku penutup telinga, dan minuman favoritku," perintah Leo tanpa ekspresi.
Toby mengerutkan keningnya, merasa heran dengan kombinasi permintaan yang tidak biasa itu. "Siap, Tuan. Tapi... untuk apa penutup telinganya? Apa Tuan ingin pergi ke tempat itu?"
Leo tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepala perlahan dengan wajah dingin khasnya yang tak tersentuh.
Melihat reaksi membisu dari bosnya, Toby masih nekat memuaskan rasa penasarannya. "Lalu kenapa Tuan membutuhkan pe—"
Belum sempat kata 'penutup telinga' terucap sepenuhnya, Leo langsung mengarahkan tatapan mata yang sangat tajam mematikan. Kilatan mata itu seketika membuat Toby tersadar bahwa dia baru saja menginjak ranjau darat. Toby buru-buru mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Maaf, Tuan. Segera saya siapkan," ucap Toby pasrah.
Namun, baru saja Toby memutar tubuh untuk pergi menyiapkan pesanan tersebut, suara bariton Leo kembali menginterupsi.
"Tunggu."
Langkah kaki Toby langsung terkunci seketika. Dia menoleh ke belakang dengan lirikkan ngeri. Jantungnya berdegup kencang karena mengira sang Tuan sangat kesal padanya dan bersiap menjatuhkan hukuman berat.
Duh, mampus nih! gumam Toby ketakutan dalam hati, bersiap menerima nasib buruk sambil perlahan berbalik badan menghadap Leo kembali.
Alih-alih amarah, Leo justru memberikan perintah baru dengan nada santai yang misterius. "Siapkan kursi santai di pinggir mansion, dekat dengan... ya, kau akan lihat orang utan kurus yang sedang bergelantungan di sana. Aku ingin menontonnya sambil menikmati minumanku."
Toby melongo. Otaknya mendadak nge-blank. "Hah? Sejak kapan Tuan...?"
"Kenapa kau jadi banyak bertanya?!" potong Leo, nadanya meninggi satu oktaf lengkap dengan kernyitan di dahi.
"Hehehe... maaf, Tuan! Iya, iya, siap! Laksanakan perintah!" jawab Toby panik.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Toby langsung berbalik dan lari terbirit-birit menjauh dari hadapan sang singa Marcone sebelum kepalanya benar-benar dipenggal. Sembari berlari cepat di sepanjang koridor menuju dapur, Toby menepuk jidatnya sendiri.
Duh, lupa! Tuan kan darahnya lagi tinggi, makanya jadi sangat sensitif begitu! batin Toby, merutuki kebodohannya yang sempat-sempatnya menguji kesabaran pria pemarah itu.
Di tengah ketegangan yang konyol itu, Zara yang masih bergelantungan mulai terlibat adu mulut sengit dengan dua pengawal di bawahnya.
Namun, perdebatan mereka terinterupsi saat seorang pelayan wanita bernama Anna berjalan tergesa-gesa ke area taman samping tersebut sembari membawa sebuah kursi santai lipat yang cukup mewah.
"Hei Anna, untuk apa kau membawa kursi santai kemari?" tanya salah satu pengawal yang sedari tadi urat lehernya sudah mau putus meladeni celotehan Zara.
Anna, yang tahu betul betapa sensitifnya suasana hati sang bos besar pagi ini, memilih untuk tidak bersuara. Dia mengabaikan pertanyaan pengawal itu dan tetap fokus meletakkan serta menata kursi santai tersebut di posisi terbaik sesuai arahan Toby sebelumnya.
Melihat pengawal bertubuh kekar itu dikacangi mentah-mentah, Zara yang dasarnya bermulut usil tidak bisa menahan tawa ejekannya.
"Ahahaha! Kasihan dicuekin! Emang enak!" ledek Zara puas, tertawa renyah dari atas tali selimutnya.
"Dasar orang gila!" bentak pengawal itu, wajahnya memerah menahan malu sekaligus kesal. "Tuan benar, kau ini memang wanita gila! Awas saja, kami tidak akan repot-repot menangkapmu dari sana. Kami akan menunggumu di sini sampai kau terjatuh sendiri! Ahahaha!"
Kedua pengawal itu kompak tertawa terbahak-bahak, mencoba membalas ejekan Zara. Namun di telinga Zara, tawa mereka sama sekali tidak terdengar mengintimidasi.
Garing banget sih, cibir Zara dalam hati, memutar bola matanya malas. Huh, dasar! Gak anak buah gak bos sama aja pikiran dan omongannya, sama-sama cuma mau nungguin gue jatuh.
Tak berselang lama, suasana di taman samping itu mendadak hening dan mencekam. 
Sosok yang paling dihindari akhirnya muncul. Leo Marcone berjalan dengan langkah tegap nan anggun, diikuti oleh Toby di belakangnya yang membawa nampan berisi botol Macallan M Decanter—wiski mewah berharga fantastis dengan cita rasa candu yang menjadi favorit sang mafia—lengkap dengan sebuah gelas kristal kecil.
Leo melangkah mendekati kursi santai yang sudah disiapkan Anna. Sebelum duduk, tangan kokohnya bergerak ke saku jas, mengambil sepasang kacamata hitam berbahan premium lalu mengenakannya demi menghalau silau matahari pagi yang mulai naik tinggi. 
Pria itu kemudian menyandarkan tubuh jangkungnya di kursi santai dengan pose yang terlampau kasual, elegan, dan... luar biasa menyebalkan di mata orang yang sedang bertaruh nyawa.
Itu si Pemarah mau ngapain lagi, sih? pikir Zara, melotot tidak percaya melihat pemandangan super santai di bawahnya.
Begitu menyadari kehadiran sang majikan, kedua pengawal yang tadi tertawa garing langsung menegakkan tubuh, berdiri dalam posisi siap dan memberikan hormat dengan penuh takzim.
Leo menuangkan sedikit cairan keemasan dari botol mewah itu ke dalam gelas kecilnya, menyesapnya perlahan, lalu memberikan perintah dingin tanpa menatap mereka.
"Kalian semua, pergilah."
"Siap, Tuan!" jawab kedua pengawal itu serempak.
Mereka berdua, bersama Anna, segera memutar tubuh dan melangkah pergi dari area taman. 
Toby pun ikut undur diri secara perlahan. Meski di dalam lubuk hatinya Toby dilanda rasa penasaran setengah mati tentang apa yang akan dilakukan bosnya pada "orang utan kurus" itu, dia memilih bermain aman. 
Toby sama sekali tidak berniat membantah atau menguji kesabaran sang singa Marcone yang tekanan darahnya sedang melonjak hari itu.
Kini, di area halaman samping mansion yang luas itu, hanya tersisa Leo Marcone yang duduk bersila dengan gaya bos besarnya, dan Zara Collins yang masih bergelantungan pasrah di ujung kain bed cover.
“Lumayan, boleh tahan... kuat juga dia bergelantung lama di sana. Aku penasaran sampai kapan dia bisa bertahan lebih lama lagi,” gumam Leo dalam hati. 
Sepasang matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitam terus mengawasi gerakan Zara, sementara tangannya terangkat untuk meminum pelan wiski mahalnya.
Di atas sana, Zara yang menyadari dirinya dijadikan tontonan gratis mulai merasa darahnya mendidih.
"Hei Tuan Pemarah! Lo itu malah santai-santai aja ya! Lo kira gue ini monyet sirkus yang bisa lu tonton gitu?! Ini nyawa orang lagi dalam bahaya, woy!" teriak Zara, terus mengomel panjang lebar demi meluapkan kekesalannya.
Namun, sehebat apa pun Zara berteriak sampai urat lehernya menegang, Leo sama sekali tidak mendengarnya. 
Alat peredam suara khusus yang menyumpal telinganya dirancang khusus untuk menahan gemuruh ledakan dahsyat di medan tempur. 
Di mata Leo, Zara hanya tampak seperti pantomim yang komat-kamit tanpa suara. Leo tersenyum sinis di dalam hati, meski wajah tampannya tetap mempertahankan ekspresi dingin nan menyebalkan.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (0)

    ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด