Amerika Serikat. Seorang gadis dengan jilbab pasmina berwarna peach yang dipadukan dengan gamis hitam bergaris senada dengan jilbabnya, menarik dua buah koper berukuran besar, berniat keluar dari tempat yang terasa seperti memutarkan seisi kepalanya. Netra matanya berputar, mencari pintu keluar. Sial, yang di lihatnya hanya sebuah ruangan luas dengan orang yang terus berlalu-lalang. Entah di mana sebenarnya letak pintu keluar itu. Ia berdiri mematung di ambang pintu keluar sebuah bandara. Ia mengedarkan pandangan ke luasnya kota Cambridge, Amerika Serikat. Menghela napas lega sekaligus puas, saat berhasil keluar dari bandara sebesar ini. Gila, ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sebuah bandara yang benar-benar sangat besar. Cukup sulit untuk membuat matanya menjamah keseluruhan bandara. Wajar saja, jika pada akhirnya ia harus berputar-putar mencari pintu keluar selama dua jam. Bagi sebagian orang, mungkin akan lebih memilih bertanya pada orang-orang di dalam sana. Namun, untuk gadis itu, rasanya terlalu asing jika harus bertanya. Jadilah ia mengandalkan diri sendiri untuk sampai di pintu keluar. Satu hal yang ia rasakan sekarang, senang. Tentu saja. Nyatanya, mendapatkan sesuatu dengan usaha sendiri itu lebih menyenangkan, dibandingkan dengan bantuan dan dorongan orang lain. Gadis itu mendudukkan bokongnya di sebuah kursi tunggu, di luar bandara. Menunggu mobil jemputan yang dikhususkan untuk menjemput mahasiswa dari luar negeri sepertinya. Ia merogoh tas selempang, mengambil ponsel yang sedari tadi dimatikannya. 15 Panggilan Tak Terjawab 4 Pesan Belum Terbaca Kurang lebih, begitulah notifikasi yang didapat saat ponsel jadul miliknya itu dinyalakan. Dengan gesit, ia membuka log panggilan, mengetikkan beberapa huruf di kolom pencarian, dan setelah menemukan nama yang sesuai, barulah ia mengklik tombol "panggil" di sana. Ponselnya bergetar sebanyak tiga kali, sebelum pada akhirnya terdengar bunyi yang mempertandakan jika nomor yang dihubungi berada di luar jangkauan. Bodoh. Gadis itu merutuki dirinya sendiri. Ia baru ingat, jika ponsel jadulnya itu tidak mendukung panggilan jarak jauh-berbeda negara. Sialnya, ia juga lupa untuk mempersiapkan dan mengantisipasi terjadinya hal seperti ini. Jari-jemarinya saling memilin, gelisah. "Aduh, gimana ini? Bunda pasti khawatir kalo hari ini aku gak telepon balik," gumamnya, bertanya pada diri sendiri. Saat sedang dalam kondisi gelisah dan tak tenang. Sebuah mobil hitam berhenti di hadapannya. Kaca jendela mobil itu-tempat pengemudi-turun, menampilkan wajah oriental pria berambut pirang. "Excuseme." "Sudah datang, ya?" Gadis itu bergumam, sebelum pada akhirnya beranjak dari kursi tunggu. Ia menghampiri mobil hitam tersebut. Tersenyum lebar ke arah sang pria-yang ia tebak berusia 40 tahun ke atas. "Is this a pickup car in the name of Alisya Respati?" tanyanya. "Yes, this is," jawab pria tersebut sambil membalas senyum manis Alisya. "Wait, let me help you to open the car door." Ia berinisiatif, hendak keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Alisya. Namun, Alisya dengan tegas menolaknya, "No need, Sir. I can do it." Alisya membuka pintu mobil, mendaratkan bokongnya di jok belakang. "Are you ready?" tanya pria itu yang kemudian diangguki olehnya. Mobil hitam yang ditumpangi Alisya melesat, meninggalkan bandara Cambridge City Airports. Gadis itu masih tetap dalam suasana gelisah, meskipun sedari tadi ia mencoba mengalihkan pikiran dengan berbagai hal. Entah dari menyapa sang sopir, atau bahkan dengan bersenandung kecil sambil melihat ke luar jendela. Semua hal itu, ternyata tidak bisa mengalihkan perasaan dan jejak gelisah dalam dirinya. "Are you okay?" Alisya terperanjat dengan pertanyaan pria yang duduk di depannya. "Hah?" Ia refleks bergumam. "I can see that you are confused. Why?" tanya pria itu, semakin memperjelas pertanyaannya. "Oh, are you noticed me, Sir?" Alisya tersenyum malu. Gerak-geriknya ternyata tertangkap basah oleh sang sopir. "Actually, I have a little problem, Sir," lanjutnya, menjawab pertanyaan. Sang sopir menyempatkan melihat pantulan Alisya di kaca yang menggantung. "If possible, you can tell me. Maybe I can give you some advice or help," tawarnya. Pria itu tampak menjawab dengan santai. Kedua tangannya digunakan untuk memutar setir, membelokkan mobil. Netra matanya begitu fokus menatap jalanan yang membentang di depan, meski sesekali mengalihkannya ke arah kaca yang menggantung-melihat reaksi dari penumpangnya. "So here it is, Sir. I wanted to contact my mother who was in Indonesia, wanted to tell her when I arrived in America, but I forgot something. I forgot that my phone can't make calls between countries, my phone is an old phone. I also forgot to change it before coming here," jawab Alisya dengan kekehan kecil, merasa sedikit malu. Pria di depannya ikut terkekeh. "Oh, it turns out. I've come across students experiencing the same thing as you, several times." Alisya terkejut mendengar pernyataan yang dilontarkan pria di depannya. Ah, ternyata bukan hanya ia saja yang mengalami hal seperti ini. Syukurlah, ia tak perlu merasa malu lagi. "Oh, really?" Pria itu mengangguk. Kemudian menceritakan banyak hal tentang mahasiswa luar negeri yang banyak mengalami masalah ketika baru saja sampai di Amerika. Memang bukan hal mudah untuk beradaptasi di lingkungan yang baru. Sering kali, pria itu menemukan mahasiswa luar negeri yang sampai menangis histeris saat mengalami masalah. Gadis itu bergidik ngeri mendengar cerita-cerita yang terlontar dari mulut pria di depannya. Ia memang mengakui, jika saat dirinya menginjakkan kaki di Amerika, maka pasti akan ada masalah yang setia untuk membuntutinya dari belakang. Namun, Alisya juga selalu mengimbau dirinya untuk tidak terlarut dalam satu masalah nantinya. Takut-takut pada akhirnya ia akan terus terjebak dalam satu masalah. Maka, saat ia mengalami masalah seperti sekarang, dirinya akan tetap berlaku santai sambil mencari jalan keluar dengan pikiran dingin. Alisya tahu betul, bersikap berlebihan saat menghadapi masalah tidak akan mendapatkan titik terang dengan cepat, yang ada masalah itu akan semakin memanjang. Pun, masalah yang dihadapinya itu akan berkembang menjadi masalah lainnya yang lebih rumit. "Then, for the case as I experienced, is there any way out, Sir?" tanya Alisya. Setelah beberapa saat mendengarkan cerita dari pria tersebut, ia kembali ingat dengan masalah yang sedang dialaminya. "Of course," jawabnya dengan mantap. "What is that?" "I suggest you to contact your family by the general phone." Alisya mengerutkan alisnya. "General phone?" tanyanya dengan mengulang kata itu. "Yes." "Where can I get it? Is there around Harvard Housing?" Alisya menanyakan telepon umum yang berada di sekitar Harvard Housing. Harvard Housing sendiri merupakan asrama tempat tinggal mahasiswa di sana. Namun, adanya Harvard Housing, tidak menutup kemungkinan mahasiswa lainnya untuk tinggal di asrama atau apartemen lain. "I think there," jawab pria tersebut dengan pasti. "Thank you, sir. I'll try it later."
sangat asyik
13/11
0bagus
10/06/2025
0sangat suka
25/04/2025
0ดูทั้งหมด