Lyn saat ini tengah bersama dengan bunda dan ayahnya. Selama kehamilannya yang kini sudah menginjak 9 bulan, Lyn tinggal bersama kedua orang tuanya, tentu saja itu juga atas persetujuan Adrian. Saat ini Adrian tengah mengurus perusahaan mertuanya yang sepenuhnya sudah diserahkan kepadanya. Dimas merasa dirinya sudah tidak sanggup mengelola perusahaannya lagi, apalagi mengingat kesehatannya yang semakin hari semakin menurun. "Ayah jangan banyak beraktivitas, ayah harus menjaga kesehatan ayah," ucap Lyn sambil menyelimuti tubuh ayahnya. "Ayah baik-baik saja, Sayang, jadi kamu tidak usah khawatir. Lebih baik kamu jaga kandungan kamu, apalagi sebentar lagi kamu akan melahirkan." "Kandungan Lyn baik-baik saja, Yah. Ayah tenang saja." Mikayla membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. "Sayang, suami kamu sudah pulang," ucapnya. Lyn berdiri lalu keluar dari kamar. Dia berjalan menuju kamarnya. Lyn melihat suaminya tengah duduk sambal bersandar di sofa. "Ada apa, apa ada masalah di kantor?” tanyanya sambil duduk di samping suaminya. Adrian menggelengkan kepalanya, dia lalu memeluk istrinya dengan sangat erat. "Katakan ada apa?” tanya Lyn lagi. "Tadi kak Andre menelepon, katanya dia sangat merindukan Kenzo. Kak Andre ingin Kenzo tinggal di Jogja sementara waktu bersamanya." Kedua mata Lyn membulat seketika, kenapa Kenzo harus tinggal di Jogja? Kalau hanya kangen kan dia bisa datang ke Pekanbaru untuk menemui Kenzo. "Kenapa Kenzo harus tinggal di Jogja?” tanya Lyn dengan nada tidak suka. "Karena kak Andre ingin tinggal bersamanya." "Kenapa kak Andre tidak datang ke sini saja? Dia bisa bertemu dengan Kenzo sepuasnya." "Kak Andre tidak bisa tinggal di sini." "Kenapa?” tanya Lyn mengernyitkan dahinya. Adrian menatap lekat wajah cantik istrinya, dia lalu menghela napas berat. "Kak Andre tidak bisa tinggal satu atap sama kamu lagi. Meskipun dia sudah mengikhlaskan kamu, tapi dia tidak sanggup jika harus melihatmu terus bersama denganku." "Kenapa bisa seperti itu, bukannya kak Andre sendiri yang bilang jika dia sudah mengikhlaskan semuanya, tapi kenapa sekarang dia berubah pikiran?” "Sayang, memangnya kamu pikir semudah itu melupakan orang yang kita sayang?” Adrian menggelengkan kepalanya. "Tidak semudah itu, nyatanya aku yang selama ini ingin melupakan kamu dan membuka lembaran baru saja tidak bisa," imbuhnya. "Tapi, Dri-” "Sayang, kamu tau kan kak Andre mencintai kamu sejak dulu, bahkan sebelum aku mengenalmu. Dia hanya mampu mencintai kamu dalam diam, hingga akhirnya takdir menyatukannya denganmu, meskipun semua harus berakhir karena kesalahanku." "Dri, apa kamu menyesali semuanya?” Adrian menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan pernah menyesalinya, kamu segala-galanya untukku. Apalagi kehadiran Kenzo membuatku ingin sekali membahagiakan kalian berdua." Adrian mengusap perut Lyn yang sudah sangat membuncit. "Apalagi anak kedua kita sebentar lagi akan lahir," imbuhnya. "Dri, aku tau keputusanku waktu itu salah, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang aku hanya ingin menatap masa depan, aku tidak mau terus mengingat masa lalu. Bagiku semua itu sudah berlalu." "Aku tau." Adrian menarik Lyn ke dalam pelukannya. Dia memahami perasaan istrinya saat ini. Dia tau tak semudah itu juga Lyn melupakan semuanya. Selama ini Adrian melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri bagaimana perjuangan Lyn untuk menerima kehadiran Melanie di sisi Andre. Bahkan mengambil keputusan yang sangat sulit untuk kehidupannya, di mana dia harus melayangkan surat cerai kepada laki-laki yang sangat dia cintai saat itu. Tapi Lyn tidak mempunyai pilihan lain, karena dia tidak ingin anak yang dikandung Melanie ikut mendapatkan dampak dari situasi yang tengah mereka hadapi. Selain itu, Lyn juga tidak ingin dimadu. Jika saat itu Melanie tidak sedang hamil, maka sekuat tenaga Lyn akan tetap mempertahankan rumah tangganya yang telah ia bina hampir lima tahun lamanya. "Ada apa?” Adrian menggenggam tangan Lyn. "Berapa lama Kenzo akan tinggal di Jogja?” "Mungkin sekitar satu minggu, setelah itu kak Andre akan mengantarkannya pulang ke Pekanbaru." “Apa kamu sudah bertanya sama Kenzo, apa dia mau tinggal di Jogja?” Adrian menggelengkan kepalanya. "Nanti aku akan tanyakan kepada Kenzo," ucapnya. "Jika Kenzo tidak mau, kamu tidak boleh memaksanya," pinta Lyn. Adrian menganggukkan kepalanya. "Iya aku janji, tapi jika Kenzo setuju kamu harus menyetujuinya," pintanya. "Baiklah." Meskipun berat, tapi Lyn tidak bisa berbuat apa-apa jika itu memang keinginan Kenzo. Lyn juga tidak bisa memungkiri jika Kenzo juga begitu dekat dengan Andre. Bagi Kenzo, Andre tetaplah ayahnya. "Terima kasih," ucap Adrian lalu mengecup kening Lyn. *** Saat Adrian menanyakan keinginan kakaknya kepada Kenzo, dia tidak menyangka jawaban anaknya akan se-antusias itu. Ternyata diam-diam Kenzo juga sangat merindukan Andre. Walau bagaimana pun, Andre lah yang telah membesarkannya selama 2,5 tahun. Andre dan Kenzo bahkan sangat dekat. "Ayah, kapan Kenzo bisa bertemu dengan ayah Andre? Kenzo sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayah Andre," ucap Kenzo begitu sangat antusias. "Besok ayah akan mengantar kamu ke Jogja, tapi Kenzo harus menurut sama ayah Andre, oma dan opa." Kenzo menganggukkan kepalanya. Lyn tidak bisa berbuat apa-apa jika Kenzo sudah memutuskan, walau berat harus berpisah dengan anaknya untuk sementara waktu, tapi Lyn harus menerima keputusan anaknya. Bagaimana pun juga Kenzo juga berhak untuk bertemu dan tinggal bersama dengan Andre. Selama ini Lyn menyadari jika kasih sayang Andre untuk Kenzo tidak pernah berkurang. Bahkan dia selalu mengirimi Kenzo hadiah semenjak dia pulang ke Pekanbaru. "Bunda, Kenzo ingin memberikan hadiah untuk ayah Andre dan juga Rafael," ucap Kenzo. "Kenzo mau membelikan apa untuk mereka?" tanya Lyn. "Kenzo ingin membelikan ayah Andre sepatu," ucap Kenzo. "Kenapa Kenzo ingin membelikan ayah Andre sepatu?" tanya Lyn penasaran. Lyn dan Adrian saling menatap. "Karena ayah Andre suka lari-lari pagi, nanti Kenzo ingin lari-lari pagi bersama dengan ayah Andre," sahut Kenzo dengan sangat antusias. Adrian tidak menyangka, anaknya bisa sebegitu dekatnya dengan kakaknya. Bahkan dia tau hobi kakaknya, Kenzo bahkan tidak tau hobinya. "Baiklah, ayah akan mengantar Kenzo untuk membeli hadiah untuk ayah Andre. Sekarang Kenzo bersiap-siap, ayah antar sekarang," ucap Adrian sambil mengusap puncak kepala Kenzo. *** Adrian dan Kenzo kini sudah berdiri tepat di depan pintu rumah Andre. Adrian mengetuk pintu. Rafael yang tengah bermain mendengar suara pintu diketuk. "Papa!" teriak Rafael sambil berlari menghampiri papanya yang tengah duduk di ruang tengah sambil mengotak-atik laptop di depannya. "Ada apa, Sayang?" tanya Andre lalu memangku Rafael. "Ada orang di luar," ucap Rafael dengan suara lucunya. "Siapa?" Rafael menggelengkan kepalanya. Andre berdiri sambil menggendong Rafael, dia berjalan menuju pintu utama. Andre terkejut melihat Adrian dan Kenzo tengah berdiri di depan pintu.
orang pekanbaru kah author ini
30/12
0bagus
30/10
0bagus
16/09
0ดูทั้งหมด