Gadis itu berlari dengan napas yang terengah-engah. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 3 sore. Harusnya satu jam lalu, dia sudah berada di rumah dan bermanja dengan tempat tidur nyaman, makan dan mungkin juga menonton drama korea yang masih belum di tonton sampai selesai. Tapi nyatanya, dia masih berada di sekolah dan itu karena hukuman yang di dapatkan akibat membolos dari kelas Pak Anto si guru galak seantero SMA CEMPAKA. Nasib memang tidak berpihak padanya. Baru kali ini Aiza ketahuan membolos dan lebih parahnya lagi pelajaran Pak Anto. Beliau memberikan sebuah hukuman, membereskan sekaligus menyusun buku di perpustakaan setelah bel pulang berbunyi. Mau tak mau, Aiza pun pasrah dengan hukuman itu. ** Di sini Aiza sekarang. Di depan gerbang sekolah, di dekat pos satpam. Handphonenya berulang kali berbunyi, menampilkan nama Kak Daffa -Kakanya- di layar. Aiza membiarkan dering handphone sebentar, rasanya malas karena sudah pasti kakak pertamanya itu akan mengomel. Kak Daffa selalu tahu tentang semua kenakalannya di sekolah. Apa mungkin Kak Daffa-nya memiliki indera ke enam? Lima panggilan tak terjawab dan di panggilan ke enam. Aiza menyerah dan akhirnya mengangkat panggilan tersebut. "Bentar lagi pulang," ucap Aiza sebelum orang di seberang sana mengomel. "Dimana?" tanya Kak Daffa. "Sekolah. Nunggu angkot." "Kakak jemput." "Ya." Panggilan terputus dari seberang membuat Aiza mendengkus. Aiza menyimpan kembali handphone ke dalam tas, lalu duduk di kursi pos satpam sambil menunggu kedatangan Kak Daffa. ** "Lain kali kalau pulang telat, kabarin gue kalau emang lo nggak bisa kabarin Bunda. Lo jadi anak bikin khawatir terus. Kalau sampe--" "Stop!! Bawel banget sih. Gimana mau ngabarin, gue itu di hukum. Mana sempet pegang hp, mana bukunya banyak banget yang harus di susun." Aiza memotong perkataan Kak Daffa. Rasanya membosankan jika harus mendengarkan semua omelan yang keluar dari mulutnya. Belum lagi di rumah nanti, sudah pasti Aiza akan di ceramahi habis-habisan oleh Bunda karena membuat beliau khawatir. "Di kasih tahu malah motong omongan kakaknya, gak sopan banget." "Iya ... Maaf kak Daffa ku yang bawel." "Makan atau pulang langsung?" tanya kak Daffa membuat wajah Aiza kembali cerah. "Ma--" "Oke pulang. Lagian makan di rumah juga bisa." Seolah membalas dendam pada adiknya, kali ini Kak Daffa yang memotong ucapan Aiza. "Kalau ujungnya bikin keputusan sendiri, ngapain pake nanya gue," gerutu Aiza membuat Kak Daffa terkekeh. Menyebalkan. ** Aiza naik ke lantai dua. Dimana kamarnya berada. Setelah mendengarkan omelan Bunda kemudian dilanjutkan dengan makan karena perutnya yang keroncongan. Aiza memilih untuk ke kamar, mengistirahatkan tubuh karena hukuman tadi di sekolah. Hukuman.. Hukuman.. Kata-kata itu seolah terus terngiang di telinganya. Memang sangat menyebalkan, bisa-bisanya seorang Kayla Aizana menjadi kurang beruntung karena si guru galak itu. Aiza bukan siswi nakal, ya terkadang saja kalau mood nya memang sedang tidak baik dan malas belajar. Jadi seperti itu lah, membolos adalah satu-satunya cara yang selalu dia lakukan. Bukan hanya Aiza tapi juga dua sahabatnya, Fania dan Giska. Hanya saja tadi dia melakukannya sendirian dan sedang kurang beruntung. Handphonenya berdering. Menampilkan nama Egi, sahabat kecil yang rumahnya tepat di sebelah rumah Aiza. Bisa di tebak, laki-laki itu pasti menelepon karena akan membahas soal hukumannya tadi. Siapa lagi kalau bukan Kak Daffa yang pasti memberitahu Egi soal ini. Aiza mengabaikan panggilan itu, memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan menyegarkan tubuh setelah seharian menjalani aktivitas di sekolah. ** Wajahnya sudah tampak segar, dengan memakai pakaian santai Aiza naik ke atas tempat tidur, menyalakan laptop dan mulai larut menonton drama korea. Handphonenya kembali berdering. Masih nama Egi di sana. Lalu mau tak mau akhirnya Aiza menghentikan acara menontonnya dan mengangkat panggilan dari Egi lebih dulu. "Kenapa Gi? Lo ganggu aja," gerutu Aiza di awal sapaannya. "Gue denger lo dapet hukuman di sekolah?" Tanpa mendengar perkataan Aiza, laki-laki itu malah balik bertanya. Sudah ku duga. "Ya, emang kenapa?" "Mangkannya mau bolos itu ajak gue. Lagian sejak kapan lo bolos dan di pelajaran si galak." "Ck! Gatau lah, males gue bahas itu." "Gue di depan ni. Jalan yuk!" ajak Egi pada Aiza tanpa berniat untuk membahas lebih jauh hukuman yang di dapat oleh sahabatnya. "Jalan? Kemana?" "Terserah lo. Daripada nonton drama alay terus." "Sembarangan!!" seru Aiza protes. Tawa Egi berderai. "Yaudah, ayo jalan Za." "Iya bentar. Ganti baju dulu." "Lima menit atau gue tinggal." "Iya-iya, bawel lo!" Aiza menutup sambungannya. Kemudian mematikan laptop dan segera bersiap jalan bersama Egi. Egi memang selalu tahu, Aiza butuh refreshing setelah mendapatkan hukuman menyebalkan tadi. Memang, sahabat yang paling baik. ** "Puas?" tanya Egi dan di balas dengan anggukan oleh Aiza dengan senyum lebar di wajah. Mereka benar-benar menikmati waktu berdua dengan bermain di timezone sesuai dengan permintaan Aiza dan lebih menyenangkan lagi Egi yang membayar semuanya membuat uangnya aman di dalam dompet. Egi memang selalu begitu. Tak segan mentraktir Aiza apalagi di saat Aiza sedang dalam keadaan badmood. Egi itu seperti cowok pada umumnya, dia ramah menurut Aiza, tapi menurut yang lain dia itu terkesan dingin. Bahkan Fania dan Giska menggambarkan Egi seperti cowok dingin di dalam novel yang sering mereka baca. Aiza tentu saja menyangkal semuanya, karena baginya Egi malah begitu menyenangkan. Bahkan dia bisa menjadi teman curhat Aiza karena sedari kecil mereka memang sudah dekat. "Laper gak?" tanya Egi, setelah kita keluar dari area bermain. "Laper lah. Kali ini gue yang traktir deh," balas Aiza menawarkan diri. ** "Makasih. Lo udah ajak gue jalan," ucap Aiza. Sekarang mereka sudah berada di depan rumah setelah pergi bermain dan makan berdua. "Gak masalah. Lagian gue juga suntuk di rumah. Lo tahu sendiri, nyokap bokap gue sibuk semua." "Sering-sering aja traktir gue." Aiza terkekeh melihat wajah Egi yang malah mendelik. Tentu saja hanya bercanda. "Terserah lo. Gue cabut dulu. Maklum rumah jauh ntar macet," pamit Egi yang di akhiri dengan tawa. "Dasar! Lima langkah doang di kira jauh." Merema sama-sama tertawa kemudian masuk ke dalam rumah masing-masing. Hari ini sungguh menyenangkan, dibalik hukuman yang membuatnya sebal ternyata ada Egi yang membuat perasaan Aiza kembali seperti biasa. Egi selalu menjadi penyelamatnya. Kalau akhirnya dapet traktiran, di hukum ribuan kali juga aku mau lah.
sangat bagus
12/02
0seru
26/10
0lebih diperbaiki lagi
27/07
0ดูทั้งหมด