Pada akhirnya kamu jatuh cinta sendirian dan kamu pun patah hati sendirian. ** "Aku akan menikah." Degh. Kalimat itu seperti petir di siang bolong. Kalimat yang dengan sekali dengar mampu membuat gadis itu terdiam. Tidak pernah terpikir akan ada hari seperti ini, di mana belum sempat dia memiliki, dia sudah harus patah lebih dulu. Bagai mimpi buruk yang tidak pernah di inginkan kehadirannya bahkan untuk singgah dalam tidur panjang di malam hari. Tapi nyatanya ini lah yang terjadi, laki-laki itu, yang lima menit lalu terlihat begitu memukau saat pertama kalinya kedua mata mereka bertemu. Laki-laki itu yang pada akhirnya menjadi patah hati pertama untuk gadis tersebut. Bolehkan dia merutuki dirinya sendiri? Bahkan saat dia saja belum sepenuhnya memiliki, dia malah patah lebih awal. Miris sekali. Apakah memang cinta sesakit ini? Gadis itu melihat ke dalam sorot mata sang laki-laki yang memancarkan ketegasan bahwa apa yang baru saja di katakan tadi adalah benar adanya. Ingin sekali dia tertawa, menertawakan dirinya sendiri. Teman-temannya benar, dia memang begitu bodoh. ** Tujuh tahun, tiga bulan. Sebanyak itu waktu yang dia habiskan demi menunggu laki-laki pujaannya. Demi memastikan agar dia bisa masuk dan menempati satu ruang di hati pujaannya. Tetapi semua waktu itu sekarang hanya sebuah kesia-siaan dan memang benar apa yang mereka katakan, kalau dia tak pernah bisa mengetuk pintu hati sang laki-laki yang selama ini dia nantikan. "Berhenti lah," katanya. Aiza. Iya gadis itu bernama Kayla Aizana menatap laki-laki yang saat ini tengah berada di hadapannya. Aiza tersenyum, "Berhenti untuk apa, Kak?" "Mencintaiku," jawabnya. "Kakak salah, aku nggak pernah mencintai Kakak," balas Aiza. Bohong. Tentu saja perkataan dia bohong. "Aku nggak mau kalau pada akhirnya kamu terluka, Kay," balasnya kembali. Kayla, begitu panggilan dari laki-laki itu kepadanya. "Semua baik-baik, Kak." "Terima kasih." "Untuk?" Aiza menatapnya dengan tatapan keheranan. Untuk apa laki-laki itu berterima kasih? "Untuk tetap baik-baik saja." Lagi. Aiza tersenyum tipis. Lalu mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak berselang lama, Aiza memilih beranjak membuat laki-laki itu menatapnya. "Selesai kan? Maaf Kak, aku sibuk," pamitnya tanpa mau lagi berada di satu meja yang sama dengan orang yang baru saja mematahkan hatinya. Bahkan tidak pernah di sadari laki-laki itu. ** Aiza terpaku. Sudah satu jam berlalu dari pertemuannya bersama dengan laki-laki tadi, akhirnya dia memilih berada di sini. Taman ini menemani dia dalam keheningan di antara keramaian mereka yang sedang bercengkrama dengan orang-orang tersayang, anak-anak yang sedang bermain sepeda dan bola. Dia kesepian dalam sebuah keramaian. Semua masih terasa seperti mimpi, rasanya begitu menyesakkan. Aiza tak pernah menyangka akhirnya akan seperti ini. Harusnya dari dulu dia bisa sadar, sekuat apa pun, selama apa pun, pada akhirnya dia hanya jatuh cinta sendirian. Tetapi dia terlalu bodoh, terus menunggu tanpa sebuah kepastian. Air matanya perlahan membasahi pipi, sejak di Kafe dan bertemu dengan laki-laki yang menjadi cinta pertamanya, Aiza terus menahan air mata itu. Dia tak ingin menangis saat berada di hadapan laki-laki tersebut, dia juga tak ingin di pandang lemah. Karena selama ini dia di kenal sebagai perempuan kuat oleh cinta pertamanya. Tangannya terus menghapus sisa air mata yang tak ingin kering, tetapi air itu terus saja membasahi pelupuk matanya. Dia cengeng. "Lo disini, Za." Aiza menoleh dan mendapati Egi -sahabatnya- sudah berada di sini. Entah kenapa laki-laki itu bisa menemukannya di sini. Dan entah kenapa setiap kali dia menangis selalu saja Egi yang mendapatinya rapuh seperti saat ini. "Lo nangis lagi?" tanya Egi seolah sudah tidak asing lagi untuk laki-laki itu melihat air mata yang jatuh di pelupuk mata sahabatnya. "Gue pernah bilang kan, lo harus berhenti. Tapi lo tetep aja ngeyel," lanjutnya setengah mengomel. Pandangan Aiza terarah ke depan memperhatikan anak-anak kecil yang baru saja di sadarinya sudah ramai bermain di sekitar taman ini. "Gak semudah itu, Gi." Suaranya begitu lirih, sisa air mata masih terlihat membuat wajahnya agak sembap. Terdengar tarikan napas berat dari laki-laki yang berada di sampingnya. "Karena lo gak mau berusaha," ucap Egi. "Jadi semua salah gue?" kali ini Aiza menatap Egi dengan sorot mata yang amat tajam. Semua salahnya? "Bukan gitu," suara Egi begitu lembut menyapa pendengarnya. Tetapi tidak membuat sorot tajam itu memudar. "Itu kenyataannya. Dari dulu selalu aja nyalahin gue! Lo itu nggak pernah tau karena lo gak pernah ngerasain apa yang gue rasain." "Lo benar, Za. Karena gue gak kaya lo yang bodoh karena cinta!" sarkasnya. Aiza terdiam, tidak ada niatan untuk menjawab apa yang Egi katakan. Dia memilih bungkam, karena berdebat dengan Egi tidak akan pernah ada kata selesai. Sahabatnya itu satu satu orang yang menentang dirinya untuk jatuh cinta pada laki-laki yang sekarang membuat patah hati. Aiza tak pernah tahu alasannya apa sampai Egi melarangnya untuk jatuh cinta pada laki-laki tersebut. "Gue sayang sama lo, Za." Degh. Aiza terkesiap. Dia terkejut dengan apa yang baru saja Egi katakan kepadanya. "Kasih gue kesempatan buat bikin lo bahagia," lanjut Egi. Aiza masih diam sampai akhirnya dia membuka suara meski dengan tatapan kembali pada anak-anak kecil yang asyik bermain sepeda. "Gue gak bisa, Gi," ucap Aiza membuat Egi menoleh namun masih diam mendengar perkataan Aiza selanjutnya. "Gue gak mau lo merasa jadi pelarian gue." "Gue gak perduli." "Tapi gue perduli, Gi." "Cukup kasih gue kesempatan, Za." "Tapi---" perkataan Aiza terpotong dengan apa yang Egi katakan begitu mudahnya. "Jadian sama gue ya, Aiza."
sangat bagus
12/02
0seru
26/10
0lebih diperbaiki lagi
27/07
0ดูทั้งหมด