ทั้งหมด : 85บทที่ 1 Ayah, Aku Rindu!
"Woi, Rindu! Buruan! Kau mau tinggal sama ubur-uburkah di sini?" teriak Meylin, gadis cantik berambu
readmore บทที่ 2 Meleset
"Jangan lupa oleh-oleh!" teriak Azizah dengan lemah pada panggilan video di aplikasi hijau. Dia salah
readmore บทที่ 3 Ditolak, Gaesss!
Aku nggak berani mengangkat muka di depan Kak Juna. Duduk sengaja paling pojok biar nggak keliatan,
readmore บทที่ 4 Iri
Selama empat hari kami berkeliling pulau sambil belajar melestarikan alam. Sekarang waktunya pulang
readmore บทที่ 5 Pulang
Pukul dua kurang sepuluh menit sopir mobil travel ngabarin kalo dia udah di jalan. Aku ngemas barang
readmore บทที่ 6 Om Sony
"Awww, pelan-pelan, Nak." Aku ngobatin luka bekas kuku di wajah Bunda sambil mengomel. Rupanya tadi d
readmore บทที่ 7 Para Peminat
Aku merogoh saku gamis buat mastiin cincin buat Bunda aman di dalam sana, belum berani ngomong apa-a
readmore บทที่ 8 Salah Sasaran
"Gimana, Mbak? Daripada sama Pak RT, mending sama kakakku aja, ya. Dia juga penyayang, kok. Biar nan
readmore บทที่ 9 Ternyata ....
"Bunda serius?" Aku lagi kesel karena disuruh Bunda ke rumah pasangan yang tadi berseteru di warung. "
readmore บทที่ 10 Kotak Mawar
"Halo, Manis!" Aku beringsut mundur waktu Om Beno menyapa sambil mendekat. Dia salah satu dari om-om
readmore บทที่ 11 Rahasia Bunda
Kotak itu aku kembalikan ke tempat semula. Nggak jadi nyari pakaian bekas. Kalo Bunda nggak pernah c
readmore บทที่ 12 Cari Gara-gara
Waktu nyampe di warung, aku liat ada mobil Om Sony di depan. Wah, aku bahkan belum pernah ngomong sa
readmore บทที่ 13 Cari Jalan
Aku lagi kesel tapi takut. Kesel liatin Bunda ngobatin lecet di pelipis Tante Rika---istri Om Beno--
readmore บทที่ 14 Misi Gagal
"Maksud kamu?" "Kita bisa cari keluarga Ayah lewat media sosial. Banyak loh yang berhasil ketemu oran
readmore บทที่ 15 Pupus
"Tadi berdoa apa, Sayang?" tanya Bunda waktu aku baru aja selesai sholat. Aku menggantung mukena di
readmore บทที่ 16 Kawanku
"Acara selanjutnya, pelantikan pengurus OSIS SMA Negeri 5 Berau periode 2016-2017." Tepuk tangan memb
readmore บทที่ 17 Lawan
Kami tiba di GOR. Udah rame banget. Ada empat tim yang akan bertanding dalam satu hari. Dua tim juar
readmore บทที่ 18 Musuh Bebuyutan
"Balik, jangan mancing keributan!" Meylin yang ngamatin dari tribun seberang langsung ngasih perinta
readmore บทที่ 19 Harta Kita
"Bunda, anak haram itu apa?" Bunda kayaknya kaget dengerin pertanyaanku, sampai pisau yang tadi dipak
readmore บทที่ 20 Pahlawanku
Ada kartu ATM, beberapa lembar uang dan sertifikat tanah. "Ini tabungan Bunda buat biaya kuliah kamu
readmore บทที่ 21 Tentang Nisa
"Awww, lepaskan!" Nisa menjerit, Om Sony mengunci kedua tangannya dengan kuat. Tekanan di kedua bahuk
readmore บทที่ 22 Ketos Super Ketat
Tepuk tangan membahana waktu Kepala Sekolah ngangkat trofi juara basket yang baru dimenangkan oleh t
readmore บทที่ 23 Para Jomblo
Kantin di sekolah kami ada tujuh petak, selalu ramai tiap jam istirahat. Aku dan dua member jomblo s
readmore บทที่ 24 Wildan Mahendra
"Nyari apa?" Aku lagi celingak celinguk waktu ada yang tiba-tiba ngomong dari belakang. Cowok yang s
readmore บทที่ 25 Hai, Aku Rindu
Aku membaca satu persatu daftar nama siswa yang menempati kelas Nusa selama masa orientasi sekolah i
readmore บทที่ 26 Masih Tentang Wildan
"Woi, nggak begitu caranya! Badan aja tinggi, gak bisa jadi pemimpin!" Aku capek! Udah hampir satu ja
readmore บทที่ 27 Misterius
"Terserah!" Dasar cowok kurang diksi. Eh, tapi gimana pun aku seneng liat dia nggak ngabaikan aku. Ka
readmore บทที่ 28 Hoki Atau Apes?
Suara klakson dari kendaraan yang lewat bikin aku harus mindahin motor ke tepi jalan. Dengan betis y
readmore บทที่ 29 Musuh Baru?
"Bunda mau dibeliin apa?" tanyaku setengah berteriak dalam panggilan video. "Nggak usah. Bunda cuma
readmore บทที่ 30 Lagi-lagi Ngerepotin Orang
Puluhan juta? Gila! Gimana dengan nasib HP-ku yang harganya cuma sejuta lebih dikit? Maklum kere, cu
readmore บทที่ 31 Cucu?
Ini bukan arah panti. Mau ke mana?" teriak pengemudi yang entah siapa. Jaket dan celana hitam bikin
readmore บทที่ 32 Bukan Andira
Aku nggak tau harus ngerespon seperti apa. Eyang Mira meluk aku sambil terisak, lamaaa banget, tengk
readmore บทที่ 33 Nah Loh
"Ini apa?" tanya Tante Syifa. Aku naro ponsel di atas meja, bahaya kalo dipegang terus. "Ini HP saya,
readmore บทที่ 34 Memanfaatkan Peluang
"Turun!" titah Raka dari kursi kemudi begitu Tante Syifa nggak lagi keliatan. "Tapi kata Tante ...." "
readmore บทที่ 35 Halus Tapi Menusuk
Dua kali Tante Syifa menghubungi Raka untuk mastiin anaknya itu menjalankan perintah. Galak-galak be
readmore บทที่ 36 Ternyata Senasib
Acara pelepasan kelas dua belas tinggal menghitung hari. Semua orang jadi sibuk, terutama kami anak
readmore บทที่ 37 Jebakan
Sehari setelah acara pelepasan kelas dua belas, sekolah kami ngadain kunjungan balasan ke SMA yang t
readmore บทที่ 38 Om Sony Lagi
Sudah setengah jam aku di dalam kamar mandi, memutar-mutar gagang pintu sambil teriak. Berharap ada
readmore บทที่ 39 Predator
Keliatannya Tante Melati ini sealiran sama Bunda. Semua lelaki kudu diwaspadai, nggak ada yang bener
readmore บทที่ 40 Noda Darah
Mataku membulat sempurna begitu membaca pesan dari Nisa. Peringatan dari Tante Melati tadi tiba-tiba
readmore บทที่ 41 Keluarga Baik
"Kak Rindu udah bangun?" Suara anak kecil? Aku mengangkat muka, tapi nggak ada siapa-siapa di pintu.
readmore บทที่ 42 Senyum dan Tangis
"Kakak kenal Kak Idan?" tanya Widya antusias yang kubalas dengan anggukan tak kalah antusiasnya. Aku
readmore บทที่ 43 Ini Takdir
Hening. Cuma ada suaraku yang terisak dan tarikan napas kami bertiga. "Apa yang terjadi sama Bunda?" M
readmore บทที่ 44 Kawan Baru Rasa Lama
Aku kebangun waktu ada yang mengguncang bahuku. Padahal masih ngantuk banget, entah jam berapa aku t
readmore บทที่ 45 Hangus
Aku dan Nisa sudah melepas seragam sekolah masing-masing. Mulai besok kami boleh pakai pakaian biasa
readmore บทที่ 46 Om Beno
"Tidur, Rindu! Kamu butuh istirahat." Nisa nepuk lembut pundakku. Enggak tau udah berapa lama aku dud
readmore บทที่ 47 Terima Kasih
Tiga hari menjaga orang tua kami membuat aku dan Nisa makin dekat. Dia lebih terbuka dan ngejadiin a
readmore บทที่ 48 Rahasia PIN ATM
"Itu punya siapa?" tanya Meylin sambil ngebuka tutup botol minuman sari jeruk kemasan. Sekarang gili
readmore บทที่ 49 Siap Bertemu Keluarga
"Dari mana kamu tau kalo namamu Andira?" tanya Meylin. Sekarang kami udah balik lagi ke taman, ditem
readmore บทที่ 50 Sakit
"Bunda, minta restu, ya. Rindu mau ketemu keluarga Ayah. Ada temen-temen Rindu yang jagain Bunda." Ku
readmore บทที่ 51 Pulanglah, Rindu!
"Tante kecewa sama kamu. Hanya karena kami memperlakukanmu dengan baik, kamu mau mengambil keuntunga
readmore บทที่ 52 Benarkah?
"Mereka semua adik-adikku, Rin." Nayla tersenyum sambil menunjuk anak-anak yang sibuk dengan aktivita
readmore บทที่ 53 Kenyataan Pahit
Ayah masih hidup? Berarti bener dugaanku, Bunda nggak jujur soal siapa kami. Sekarang aku yakin, seri
readmore บทที่ 54 Ayo, Bangkit!
Seperti waktu dapat kabar kecelakaan Bunda, hatiku juga terasa remuk. Rasanya berdiri pun nggak mamp
readmore บทที่ 55 Analisa
[Bantu teman untuk biaya pengobatan ibunya yang dirawat di ICU. Jual HP dengan segala perintilannya.
readmore บทที่ 56 Keraguan
"Kamu kenal?" tanya Mia tampak bingung. Aku nggak sempat menjawab pertanyaan Mia karena Tante Syifa
readmore บทที่ 57 Sebuah Kebenaran
"Entahlah, Tante sendiri yang mengecek keaslian hasil tes DNA yang dia punya. Mungkin ini cuma peras
readmore บทที่ 58 Keponakan Tersayang
Tangan Tante Syifa mengelus punggungku, sementara aku masih tersedu-sedu. Inilah reaksi yang aku tun
readmore บทที่ 59 Aku Kaya, Gaess!
"Boleh sekalian buat biaya Om Beno, Tante? Kasian istrinya harus jual perhiasan dan ngutang sana sin
readmore บทที่ 60 Entahlah
"Ciyeee, anak sultan. Happy banget kayaknya," ledek Meylin sambil mainin alisnya yang rapi, meski ng
readmore บทที่ 61 Dilema
"Namanya memang Andira, bahkan nama orang tuanya yang tertera di rapor adalah nama orang tuamu. Sepe
readmore บทที่ 62 Pindah Kamar
"Tenang, Rin. Bunda baik-baik aja." Mia yang nyusul duluan nenangin aku yang udah berlinang air mata
readmore บทที่ 63 Maafkan Kami, Bunda
Gerakan kedua perawat itu cekatan dan kompak banget. Namanya juga profesional, bukan macam kami dulu
readmore บทที่ 64 Teman-teman Nyebelin
"Gimana, Sayang? Apa kita jual saja? Nanti kita tinggal di warung aja. Kita bikin satu kamar buat ti
readmore บทที่ 65 Sampai Kapan?
Dengan modal hasil tes itu, Om Rangga dan Tante Syifa membawa Andira pulang dan bertemu Eyang. Itu s
readmore บทที่ 66 Kedatangan Om Rangga
"Rin, mau ke mana?" Itu suara cempreng Kiki. Aku terus berlari, tanpa menoleh dan menjawab pertanyaan
readmore บทที่ 67 Ayah!
Om Rangga merangkul pundakku, membawaku kembali ke bangku panjang. Mia langsung berdiri dan pamit. "T
readmore บทที่ 68 Makan Malam Bersama
"Apa kamu masih membenci ayahmu?" tanya Om Rangga setelah tangisanku reda. Aku menggosok ujung hidun
readmore บทที่ 69 Gantungan Kunci Legendaris
"Ayahmu itu sejak bayi camilannya telur ayam kampung rebus. Sampai belepotan mulutnya. Om suka ngerj
readmore บทที่ 70 Andira Malang
"Bunda baik-baik, ya. Jangan banyak pikiran, pokoknya istirahat yang cukup. Jangan sungkan nyuruh me
readmore บทที่ 71 Penolakan
Tubuhku rasanya terguncang ke kanan dan ke kiri, mana lagi rame banget suara bocah. Perlahan kukucek
readmore บทที่ 72 Eyang!
Oh Tuhan, apa lagi ini? Mendadak langkahku terhenti demi mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ey
readmore บทที่ 73 Mengomel
"Maaf karena sudah tidak mendengarkan kata-kata Mama." Bunda masih terisak di sela obrolan penuh haru
readmore บทที่ 74 Mungkinkah?
Aku melirik jam dinding, sudah pukul sebelas malam tapi Eyang masih asyik bercerita tentang Ayah dan
readmore บทที่ 75 Mantan Rasa Menantu
Aku nggak tenang. Rasa ini beneran menyiksa. Mau ngomong ke Eyang tapi takut ngasi harapan palsu. Di
readmore บทที่ 76 Usaha
"Capek, Eyang. Baru nyampe juga." Dih, mukanya sinis banget. Aku juga ogah jalan sama situ. Males de
readmore บทที่ 77 Kulkas
Semua mata menatap ke arahku diiringi tawa yang membahana. Haish, ke mana harus kusembunyikan muka i
readmore บทที่ 78 Kulkas Kudet
Bayi laki-laki? Sejak kapan aku terlahir sebagi laki-laki? Ini cewek tulen, seribu persen. "Kau pern
readmore บทที่ 79 Kan Ketahuan
Aku terus aja jalan tanpa menoleh. Dongkol banget hatiku gara-gara Wildan. Entah karena merasa kena
readmore บทที่ 80 Mencari Jejak Ayah
Eh, salah alamat, ya? Entah kenapa aku tetap yakin kalo Ayah ada hubungannya dengan tempat ini. Saya
readmore บทที่ 81 Di Mana Ayah?
Nggak salah lagi, dia kenal sama Ayah. Terima kasih, Wildan. "Saya anaknya, Om," jawabku penuh semang
readmore บทที่ 82 Ayah Masih Hidup
Ayah nggak cuma ninggalin foto. Dia juga punya catatan perjalanan dan ngejelasin alasannya menghilan
readmore บทที่ 83 Ich Liebe Dich
"Gue tinggal, ya. Lo telpon aja kalo mau pulang." Raka mengentikan laju mobil di depan gerbang, ngga
readmore บทที่ 84 Mana Tahan
"Ayah langsung pulang, kan?" tanyaku mempertegas. Aku nggak mau nunggu lebih lama lagi, pengen ketem
readmore บทที่ 85 Akhirnya (Tamat)
"Ternyata feeling Ayah benar, kan. Kamu anak Ayah." Akhirnya aku bisa liat wajah Ayah lagi, walau cum
readmore
sukaa
04/12/2024
0keren
17/11/2024
0iyaaa
16/11/2024
0bagus banget
10/11/2024
0bagus ceritanya
19/09/2024
0500
04/07/2024
0Bagus ceritanya
01/02/2024
0👍👍👍
01/02/2024
0sangatt baguss
30/01/2024
0sangat bgus
29/01/2024
0