ทั้งหมด : 92Chapter 1
Windy Melanie Audrey. Perempuan berusia dua puluh tiga tahun, tidak bekerja di ibu kota. Berbanding
readmore Chapter 2
Windy menguap dengan indra penglihatan yang masih tertutup rapat. Dia mengucek-nguce matak sebentar
readmore Chapter 3
__________ Rose menundukkan kepala setelah melihat dua sosok tidak asing menghampiri keberadaannya. "A
readmore Chapter 4
________ Byurr!!! Terdengar suara benda jatuh dari danau. Orang-orang disekitar danau tersebut menjeri
readmore Chapter 5
Windy membuka matanya perlahan. Sinar matahari yang menyilaukan keluar dari balik jendela, akibat da
readmore Chapter 6
Sudah tiga hari Windy menjadi kaum rebahan. Kerjanya hanya makan, tidur, nguap, cari kotoran di hidu
readmore Chapter 7
Daripada meminta saran pada Emina, Windy lebih memilih untuk menyaksikan wajahnya yang sekarang deng
readmore Chapter 8
"_Emy aku ingin membaca, aku ingin buku," pinta Windy. Sesaat setelah Emy menyerahkan beberapa buku p
readmore Chapter 9
Selama satu pekan lebih Windy mengurung di kamar, bukan untuk menggalau, tapi untuk belajar. Tadinya
readmore Chapter 10
"Mengapa anda berpakaian seperti ini?!" ujar Emina dengan raut wajah yang shock ketika meneliti seti
readmore Chapter 11
Itu suara Emin, batin Windy. Windy berbalik seraya menelan ludah. Ternyata dugaannya seratus persen b
readmore Chapter 12
Windy kemarin tidak sempat menanyakan hal tentang hubungan Permaisuri Moon dengan Stephan. Setelah pe
readmore Chapter 13
Lagi lagi, Windy terlupa dengan pertanyaan nya yang dia tujukan pada Emina tempo hari. Ya semua itu g
readmore Chapter 14
Pagi-pagi sekali, para pelayan sudah selesai merias Windy. "Emy?!" panggil Windy. "Iya Yang Mulia," sa
readmore Chapter 15
"Ahh, Emy kepala ku hampir meledak. Apa semua ini benar-benar harus ku hitung? Tidak-tidak apa-apa b
readmore Chapter 16
Windy sudah mempelajari beberapa buku terkait Kerajaan Grassland yang bentuk kerajaan seperti apa, s
readmore Chapter 17
"IBUNDA!!!" Teriakan nyaring seorang gadis kecil di luar. Suara itu terdengar cukup jelas karena pint
readmore Chapter 18
Di akhir pekan Windy ingin keluar dari istana. Dia berencana untuk menjual barang-barang mewah nya. P
readmore Chapter 19
Tibalah Windy di Desa Garadriel. Desa itu berada di gang sempit. Fakta baru yang Windy baru ketahui
readmore Chapter 20
Butik baju yang bernama Sity Botique dan Mly Botique dan LE' Botique menjadi pilihan Emina. Emina tah
readmore Chapter 21
Hari yang baru. Tubuh Moon Winter tidak lagi merasakan lelahnya kerja rodi. Windy akan menjaga tubuh
readmore Chapter 22
Gumpalan rambut cantik dan berbelat-belut buatan Emina dan dayang lain segera dicabut oleh sang pemi
readmore Chapter 23
Windy menguap sebelum membangkitkan diri. Dia menatap sekitar sejenak, kemudian menggerak-gerakkan k
readmore
Chapter 24
Violetta! Violetta! Violetta! Nama itu berputar terus menerus di pikiran Windy. Bukan karena rindu, han
readmore Chapter 25
"Jika pun tidak tunduk, aku tidak peduli. Aku hanya perlu satu anak darinya, hanya satu anak, setela
readmore Chapter 30
"Sebentar, maksud mu apa ini? Kau keliru!" ucap Stephan melemparkan tiga kertas ke meja dengan kasar
readmore Chapter 27 (Memories)
***"Ary?!" Winter Moon melemparkan batu kerikil berukuran kecil sampai melewat ke atas benteng, bent
readmore Chapter 28 (Memories)
***"Aku mencintaimu Lady." Pernyataan itu cukup membuat satu degupan kencang di jantung Winter. Dia t
readmore Chapter 29 (Memories)
***"Ary," lirih Winter dengan bibir bergetar. Meskipun beberapa saat lalu Ary telah melakukan hal di
readmore Chapter 30
"Yang Mulia Ratu." Windy mendengar suara dari samping. Alisnya berkerut. Suara itu semakin jelas ber
readmore Chapter 31
Rencana mendekati Stephan, gagal. Windy tidak berpikir untuk mencoba lagi. Dia tidak ingin mengambil
readmore Chapter 32
Windy berjalan dengan tegap dan percaya diri. Dia yakin Elissa tidak akan menang dan ketahuan berboh
readmore Chapter 33
Windy menaruh punggungnya ke pegangan sofa dengan kaki yang berselonjor di pegangan yang lainnya. Win
readmore Chapter 34
Bangun di sore hari, Windy disambut dengan kabar gembira, bahwasanya surat persetujuan permohonan su
readmore Chapter 35
Pagi-pagi, Windy dan Emina sudah duduk di restoran kecil dengan penginapan, untuk sarapan di sana. Se
readmore Chapter 36
Windy hanya menatap datar laki-laki paruh baya itu yang mencurigai nya dengan hal yang tidak-tidak.
readmore Chapter 37
Windy bangun di pagi hari. Emina sudah tidak ada disampingnya. Bagus, ternyata Emy benar-benar selalu
readmore Chapter 38
Ketika turun dari kereta di pagi hari, Windy gugup. Apalagi gaun yang dipakai sederhana dan dirinya
readmore Chapter 39
Kini Windy tengah menikmati acara minum teh kecil bersama sang ayah Henre. Wajah, aura, dan tampilan
readmore Chapter 40
"Tapi wilayah yang ku punya adalah wilayah bekas letusan gunung berapi. Apa ayah yakin mau?" tanya W
readmore Chapter 41
Setelah melakukan perjalanan yang hampir memakan satu hari satu malam, Windy dan rombongan akhirnya
readmore
Chapter 42
"Apa-apaan kau Emy?!" Windy protes melihat Emina mengeluarkan gaun pesta. "Apa Anda tidak akan mengha
readmore Chapter 43
Di malam pertama Stephan dan Violetta Windy pergi ke Istana Dalam bagian timur. Di sana ada bangunan
readmore Chapter 44
Windy terbangun dengan kondisi yang kata Emina mata bengkak. "Hah?! Semalam aku menangisi Stephan?! K
readmore Chapter 45
"Kau telah menyentuh area pribadi ku tanpa izin," ungkap Stephan. Kening Windy langsung menukik. "Men
readmore Chapter 46
"Salam hormat Yang Mulia Ratu Moon, semoga anda panjang umur. Diharapkan Anda berkenan untuk menerim
readmore Chapter 47
"Kalau boleh tahu siapa nama Anda tuan?" tanya Rose dengan lembut, menaruh seluruh atensinya ke penj
readmore Chapter 48
"Raja ingin bertemu Yang Mulia Ratu!" ungkap Rus pada pelayan ratu yang membukakan pintu untuknya. "O
readmore Chapter 49
Windy tidak perduli satu hari satu malam tidak makan dan minum. Setelah dikeluarkan oleh Rus, Windy
readmore Chapter 50
Sudah lima bulan berlalu, Windy sibuk berkerja di departemen keuangan. Dia adalah seorang Menteri Ke
readmore Chapter 51
"Emina panggil Kesatria Abigail dan Idril di kediaman nya," pinta Windy seraya menata dokumen yang b
readmore Chapter 52
Windy memikirkan hal yang dikatakan tadi siang di depan Emina. "Aku tidak mau Salome!" ucap nya denga
readmore Chapter 53
Windy berusaha untuk makan dengan tenang selama perjamuan. Berusaha untuk melayani dua tamunya den
readmore Chapter 54
"Di sini ada taman bunga matahari yang diperbaharui sebulan sekali. Beruntung ada berkunjung saat me
readmore Chapter 55
Malam itu pekerjaan Windy sudah selesai, jadi tidak ada alasan untuk kerja lembur bagai kuda sampai
readmore Chapter 56
"Ibunda, Ibunda ada di sini?!" gumam Michelle yang sudah membuka mata, melihat sosok Windy di sana. "
readmore Chapter 57
Jackwill menahan mulutnya dengan kepalan sebelah tangan, menahan agar tidak tertawa. "Ratu mengira ji
readmore Chapter 58
"Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Ratu," teriak salah pelayan sambil berlari terpogoh-pogoh ke arah Windy
readmore Chapter 59
Tampak dua perempuan cantik dengan umur yang terpaut jauh itu bersulang. "Ibu, apa ini akan berhasil?
readmore Chapter 60
"Apa?!" Violetta tampak terkejut mendengar pernyataan dari Elissa bahwa Stephan menolak permintaan s
readmore Chapter 61
Windy memakai gaun berwarna senada dengan Michelle untuk menghadiri undangan makan malam dari Erwin,
readmore Chapter 62
Windy mengutak-atik jari-jemari nya di atas meja. Dirinya berharap keputusan nya untuk menyerah sete
readmore Chapter 63
"Terimakasih Pangeran Willhere," ucap Windy karena dia sudah dibantu oleh laki-laki bersurai perak i
readmore Chapter 64
"Selamat ulang tahun Yang Mulia Ratu Moon, ratu Grassland yang adil dan bijaksana. Seperti hal nya l
readmore Chapter 65
Semua tamu undangan bertepuk tangan setelah menyaksikan penampilan ibu dan anak yang menyelesaikan d
readmore Chapter 66
Jackwill memandang kursi berbalut kain putih di depan, bekas tempat duduk Youngsun. Laki-laki itu me
readmore Chapter 67
Windy berhak mendapatkan cuti selama dua hari setelah ulang tahunnya. Setelah pulang dari kediaman M
readmore Chapter 68
Maksud dari 'Pangeran Young dan Pangeran Will hebat bisa datang dan pergi dengan cepat', Windy menan
readmore Chapter 70
Windy membanting kan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ramuan cinta itu dia amati kembali. "Siapa yang m
readmore Chapter 71
Tujuh hari yang lalu "Jack aku baru saja menghirup ramuan cinta milik Ratu. Aku pusing karena nya." M
readmore Chapter 71
Windy tidak mau menyalahkan kedatangan Michelle yang sudah didandani oleh para dayang yang membuat p
readmore Chapter 72
Tiga belas tahun yang lalu Seorang gadis kecil cantik yang memiliki iris keemasan itu kian tengah mel
readmore Chapter 73
"Apa Anda serius?" tanya Windy kepada Jackwill yang baru saja bercerita bahwa dirinya pernah menolon
readmore Chapter 74
"Aku ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja," ucap Windy pada pelayan yang membukakan pintu untuknya. "
readmore Chapter 75
Windy keluar dari kediaman nya, setelah makan siang pasca menyelesaikan pertemuan dengan pihak Keraj
readmore Chapter 76
"Rempah-rempah masih banyak Yang Mulia, karena seminggu yang lalu kami mendapat kiriman." "Syukurlah.
readmore Chapter 77
Pagi-pagi telinga Windy sudah ternodai saja akibat rumor. Ah bukan sebuah rumor ternyata, tapi sebua
readmore Chapter 78
"Aku pantas membenci mu, karena kau Yang Mulia Raja membenci ku," ucap Windy. "Aku benar kan?!" lanju
readmore Chapter 79
Setelah kepulangan Windy dari kediaman Michelle, Emina langsung memberinya kabar tidak mengenakan. "A
readmore Chapter 80
Windy memicingkan mata ketika melihat Rose yang sengaja tersenggol oleh temannya, dari kejauhan. Ked
readmore Chapter 81
Setelah pulang dari kediaman John Windy langsung mencari seorang pelayan dapur senior yang katanya s
readmore Chapter 82
Tiba di Kediaman Ratu, Windy langsung mempersilahkan Jackwill masuk setelah pintu terbuka. Para pelay
readmore Chapter 83
"Yang Mulia, Yang Mulia." Panggilan tidak beraturan itu membuat Windy menghentikan sarapan pagi nya
readmore Chapter 84
"Saya melihat nya Yang Mulia. Ratu Winter dan Pangeran Willhere berciuman di teras gazebo di dekat k
readmore Chapter 85
Windy puas hari ini dia selesai menghukum dayang penuduh itu di ruang bawah tanah. Sesuai dengan ren
readmore Chapter 86
Di tengah jalan Rus meminta maaf karena tidak bisa mengantarkan sang ratu sampai kediaman sang raja.
readmore Chapter 87
Esoknya Windy kehilangan burung yang datang semalam tadi. Mungkin keluar melalui celah udara, pikir
readmore Chapter 88
Mata Rose bergerak ke kanan ke kiri, melihat-lihat ruang tamu Windy yang begitu mewah dan elegan, me
readmore Chapter 89
Rose terbatuk darah untuk yang kedua kalinya dengan tangan yang masih memegang kaki Selene. "Kau bisa
readmore Chapter 90
"Ibu, Ayah, maafkan aku. Gara-gara aku, kalian...." Tangis Windy pecah kembali. Selena dan Henre pun
readmore Chapter 91
Windy terduduk di kursi kayu sambil menatap ke arah jendela. "Maaf, aku pasti membuat kalian semua ce
readmore Chapter 92
"Jack!" lirih Windy. Karena saat dia membuka mata, Jackwill sudah ada di sampingnya. Windy ingin mena
readmore
lanjutkan kak, ceritanya menarik dan bagus alurnya aku suka
12/06/2022
1bagus banget ceritanya 🤩🤩
20/05/2022
1saldooo
06/12
0keren
27/11
0Pesan moral terakhir yang baik pasti menemukan yang baik jugaaa . Real life sih
22/10
0bgus
29/06
0Baguss
11/06
0sangatt bagusss
09/06
0bguss
03/06
0bagus👍👍👍
02/06
0