logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

7. Bertemu Mantan

Gedung perpustakaan utama terletak cukup jauh dari Fakultas Ekonomi. Butuh kira-kira 10 sampai 15 menit jalan kaki untuk sampai ke sana. Masih menenteng map berisi kumpulan berkas, aku memotong jalan melewati taman belakang Departemen Manajemen, yang lebih tepat dikatakan hutan karena ilalang dan rumput liar sudah mulai menjalar menutupi jalan setapaknya.
Rimbun pepohonan yang membentuk setengah kubah, juga menghalau pias cahaya matahari di atas, sehingga hanya menyisakan biasan-biasan sinar dari celah yang terbuka. Menimbulkan kesan horor dan ngeri sekalipun berjalan di siang hari.
Aku bukannya paranoid dengan hal-hal berbau mistis. Tapi kalau sudah dihadapkan dengan situasi sunyi nan mencekam seperti ini, jiwa penakutku serasa terpanggil. Harusnya aku minta tolong Gio saja untuk mengantarku dengan motornya, tapi hal itu baru terpikirkan setelah hampir melewati seperempat jalan setapak ini. Berbalik pun bukan keputusan yang tepat karena sedari tadi ada seseorang di belakang terus mengimbangi langkahku.
Ya. Suara langkah kaki dari belakang yang terdengar terburu-buru, mau tak mau menambah tingkat kewaspadaanku. Alasan kenapa aku tak mau memberanikan diri untuk menoleh, karena imajinasi liarku sudah mengelana ke mana-mana. Jika seandainya aku berbalik sekarang untuk melihat si pemilik langkah kaki, tapi justru kenyataannya kaki tersebut tidak menapak, atau mungkin ketika aku berbalik nanti dan hanya mendapati suara langkah tanpa wujud, maka dapat kupastikan insiden pingsan menggelapar di tanah yang akan menjadi akhir tragisnya.
Melihat makhluk kasar sebangsa kecoa saja sudah mampu membuatku histeris kesetanan, apalagi harus bertemu secara perdana dengan makhluk halus yang tak bisa disentuh, diraba, apalagi ditampar. Jadi, alternatif terbaik adalah mempercepat langkah kakiku sendiri sebisa mungkin.
"Tunggu!"
Aku semakin berjalan cepat setengah berlari saat langkah itu semakin terasa dekat. Sepertinya dia juga berusaha mempercepat langkahnya. Bahkan memintaku untuk menunggu? Apa aku sudah gila? Mana mungkin aku mau menunggunya.
"Drey?"
Oh, bagus. Bahkan hantu itu bisa tahu nama panggilanku. Memangnya apalagi yang lebih horor dari ini?
"Drey, tunggu!" Satu tarikan kuat berhasil membuatku terundur ke belakang. Tangan besarnya mencengkram lenganku begitu kuat hingga aku spontan langsung berbalik menghadap wajahnya.
"Kita perlu bicara."
Aku masih terengah karena napas yang terkuras akibat berjalan tergesa-gesa. Namun, yang membuatku semakin tercekat adalah sepasang iris gelap yang menghujamku dengan begitu dalam.
"Kita perlu bicara," ulangnya lagi. Menunjukkan keseriusan pada kalimatnya.
Ini memang bukan saat yang tepat untuk melongo, tapi keterkejutanku tak bisa disembunyikan tatkala mengetahui siapa sosok yang berdiri mengungkungku. Walaupun bukan hal baru jika dia pernah berkali-kali muncul secara tak terduga seperti sekarang hanya untuk berbicara empat mata, tetap saja hal itu tak dapat mengurangi rasa kagetku.
Raskal menarik kembali tangannya begitu aku melayangkan pelototan tajam.
"Sorry," ujarnya seraya bergerak mundur memberi ruang.
"Langsung saja. Aku nggak punya banyak waktu," sergahku sambil melipat tangan di depan dada. Bukan agar terlihat garang di depannya, melainkan berusaha menekan debaran aneh yang muncul tiap kali kami bersitatap.
Sebesar apapun kebencian yang membuncah oleh rasa sakit yang dia tinggalkan setahun lalu, aku tak akan menyangkal jika bagian lain dari hatiku masih merespon positif kehadirannya.
Hal ini bukan tanpa alasan. Sosok Raskal yang sudah menemaniku sejak kami kelas 3 SMP, menjadi sahabat dalam segala suka dan duka, serta perhatian manis yang hanya diberikan untukku seorang, secara otomatis menimbulkan perasaan khusus yang menginginkannya lebih dari sekadar sahabat.
Bertahun-tahun aku memendam perasaan bodoh ini agar menjaga persahabatan kami tetap utuh. Menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti dia akan memiliki perasaan yang sama denganku. Makanya dulu, selain untuk memenuhi ekspektasi papa, aku  bertekad mati-matian lulus ujian seleksi masuk universitas dan fakultas ekonomi yang sama dengannya, semata-mata agar bisa terus berada di dekat laki-laki itu.
Alhasil, dapat ditebak akhir tragis apa yang harus kutuai akibat perasaan bodoh ini. Raskal memang membalas perasaanku, tetapi itu tak berlangsung lama. Semuanya berakhir seolah dalam kedipan mata. Aku tidak hanya kehilangan cinta pertamaku saja, melainkan juga sosok sahabat terbaikku.
Move on memang sudah kulakukan, tapi bukan berarti aku telah sepenuhnya melupakan semua kenangan yang pernah kami lalui. Kendatipun status hubungan yang terjalin hanya berlangsung tiga minggu, namun kebersamaan selama bertahun-tahun sebagai seorang sahabat bukan hal mudah untuk dihapus dalam waktu satu atau dua tahun.
Aku memang sudah membunuh perasaaan khusus terhadapnya, tapi untuk membenci dia seutuhnya masih sulit kulakukan. Mungkin diriku juga tak bisa benar-benar membencinya. Bagaimanapun, sebelum pengkhianatan itu terjadi atau sebelum dia menjadi sosok yang tak lagi kukenali, setidaknya dia pernah menjadi seorang teman yang begitu berarti.
"Drey, Aku...." Dia terdiam cukup lama. Seakan sedang menimbang-nimbang apa yang harus dikatakan.
"Mungkin ini kedengaran egois, tapi aku benar-benar nggak bisa membiarkan hubungan kita berakhir lebih buruk dari ini."
"Lalu?" tukasku tajam. Mulai paham ke mana arah pembicaraan ini.
"Aku benar-benar minta maaf, Drey. Aku---"
"Kamu sudah bilang itu yang kesekian kali, dan aku sudah kasih jawaban sesuai yang kamu mau. Apalagi yang kamu tuntut sekarang?"
Dia kembali bungkam. Perkataan yang kulontarkan nampaknya berhasil memukulnya telak. Setelah semua peristiwa menyakitkan yang dia torehkan, dan dengan tanpa rasa bersalah dia mau menuntut lebih dari permintaan maaf?
"Dengar...." Kali ini aku memberanikan diri untuk menatapnya dengan tegas. Termasuk meyakinkan diri sendiri agar tidak mudah goyah oleh segala rasa bersalahnya. "Seratus kali pun kamu datang buat minta maaf, aku pasti dengan bodohnya akan mengiyakan. Tapi kalau kamu berharap aku secara sukarela mau melupakan semuanya dan bersikap baik-baik saja, kamu salah. Aku memang bodoh, tapi bukan berarti harga diriku juga sedangkal itu."
Masih berupaya mengontrol sesak, aku tetap melanjutkan, "Mari kita tetap di jalan masing-masing dan berhenti saling mengusik. Aku masih punya banyak masalah rumit yang harus dipikirkan. Jadi tolong, jangan tambah hal rumit lainnya dengan keegoisan kamu."
Keheningan menyeruak di antara kami. Raskal masih memilih bergeming. Kepalanya yang tertunduk, cukup menjelaskan bahwa dia tengah bergelut bersama rasa bersalah.
Ingin sekali aku menamparnya detik ini juga. Meluapkan semua kekecewaan dan amarah yang menumpuk selama setahun belakangan. Sayangnya, lenganku terasa berat untuk terangkat. Tak pernah aku sebenci ini pada jiwa pengecutku. Bukan cuma kehilangan nyali dalam menghadapi Arabella, menghadapi Raskal pun aku sama tak berkutiknya. Hatiku terlalu lemah untuk membenci mereka berdua segamblang itu. Seandainya mereka hanya orang asing yang kukenal dalam hitungan 4 atau 5 tahun, pasti akan jauh lebih mudah bagiku melampiaskan semuanya.
Sadar ada rasa panas yang mulai menjalari pelupuk, aku segara berbalik memunggunginya. Tak akan kubiarkan dia melihat sisi rapuh yang semakin membuatku terlihat menyedihkan lagi.
"Drey...." Aku menepis tangan yang terulur hendak meraihku.
Mengabaikan panggilan sendunya, aku beranjak menyeret langkah. Pertahananku hampir mencapai ambang batas. Terlalu lama meladeninya hanya akan memberi rasa sesak yang lebih besar. Aku berjanji ini terakhir kali aku mau menanggapi pembicaraan semacam ini dengannya. Sudah cukup bodoh aku memendam semua rasa sakit sendirian, sedangkan hidupnya tampak baik-baik saja selama ini. Jika rasa bersalah yang menjadi satu-satunya hal yang menganggu. Maka akan kubiarkan ia terus hidup membawa rasa bersalah itu. Sampai kapanpun.

Book Comment (151)

  • avatar
    Lutviah Winarni

    suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran

    26/01/2022

      0
  • avatar
    ALFEANAMMAR

    enak

    10/04

      0
  • avatar
    Bilkis Allma

    terbaik

    02/04

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters