"Anak Tante Zahra yang dua tahun lebih muda dari kamu, tadi siang udah wisuda, lho, Drey. IPK akhirnya 3,75. Lulus predikat Cum Laude, lagi. Coba bayangin gimana bangganya Tante Zahra sama suaminya." Mama berujar santai sembari menyendok lauk ke atas piring. "Si Mesya itu memang anak yang berbakti sama orang tua, Ma. mengerti gimana susahnya kondisi keuangan keluarga mereka, makanya dia nggak mau leha-leha di kampus apalagi sampai nunda-nunda wisuda." Papa yang duduk di dekat mama juga tak mau ketinggalan ikut menimpali. "Iya, anak-anak sekarang itu harusnya lebih pengertian. Orang tua sudah susah-susah kerja banting tulang, eh malah nggak dihargai." Aku meletakkan sendok di samping piring. Selera makanku mendadak menguap entah ke mana mendengar sindiran halus dua pasangan suami istri tersebut. Ini sudah yang kesekian kali mereka berdua kompak melontarkan kalimat-kalimat yang begitu menyelentik hati. Namun anehnya hati kecil ini nyatanya selalu saja tersindir, apalagi menyadari sebagian besar yang mereka katakan sesuai dengan realitas di lapangan. "Padahal lulus tepat waktu itu manfaatnya jauh lebih banyak, lho. Bisa hemat uang, hemat masa muda, bisa lebih cepat nyari calon suami, bisa ... bisa apa lagi, ya, Pa?" "Bisa cepat kerja biar berhenti nyusahin orangtua." "Ah, iya, benar. Pokoknya rugi kalau lama-lama menunda studi. Nggak ada faedahnya. Bener, kan, Pa?" Dari sini dapat kulihat ujung bibir Ara mulai terangkat ke atas, pertanda dia cukup menikmati drama pembulian dalam keluarga ini. Dasar licik, pantas saja sedari tadi dia kebanyakan diam. "Oh, iya, Ara katanya semester lima ini sudah mulai konsultasi skripsi, ya?" Mama kali ini berpaling pada Ara yang sedang mengunyah makan malamnya. "Masih tahap milih judul dan explore masalah penelitian dengan DPA, Ma. Mudah-mudahan di akhir semester enam sudah bisa daftar seminar proposal." "Berarti peluang kamu lulus tiga tahun setengah lebih besar lagi, kan?" Mama terlihat begitu antusias. "Iya. Sayang beasiswanya nanti mubazir kalau Ara kelamaan nunda," sahutnya seraya mengerling sejenak padaku. Sifat tinggi hatinya yang lebih tinggi dari tiang jemuran sampai saat ini memang sulit dihilangkan. Apa mau dikata, kenyataan bahwa dia dilahirkan nyaris sempurna hampir tanpa cacat cela, merupakan hal tak terbantahkan. Sedari kecil, kami begitu memiliki perbedaan mencolok. Ara punya segudang kelebihan untuk dipamerkan, sedangkan kelebihanku adalah terlalu banyak memiliki kekurangan, sampai-sampai aku sendiri tak mampu menghitungnya. Ara selalu masuk peringkat tiga besar sejak dia masih duduk di sekolah dasar, mengikuti berbagai macam perlombaan dan memenangkan penghargaan, mengantarkannya menjadi kesayangan guru serta teman-temannya. Tak mengherankan, dibanjiri sanjungan dan menjadi pusat perhatian sudah seperti gaya hidup baginya. Dia begitu ambisius untuk mendapat pengakuan banyak orang dengan semua kelebihan yang dia punya. Sementara aku harus selalu puas dengan pencapaian ala kadarnya. Naik kelas dengan nilai standar setengah paksa merupakan mujizat Tuhan yang paling luar biasa. Bahkan prestasiku memenangkan perlombaan balap karung 3 tahun berturut-turut di SMP tak akan pernah bisa menandingi medali emas OSN yang pernah Ara raih. Aku tak bermaksud merasa iri. Hanya saja terkadang perasaan pesimis akan selalu singgah tiap kali orang-orang membandingkan kami. "Lho, Drey. Makanannya, kan, belum habis." Mama berkomentar saat melihatku tetiba berdiri dari kursi, membereskan perlengkapan makan. Aku balas menyindir mereka tak kalah halus. "Audrey mau selesain revisi. Biar cepat lulus dan berhenti nyusahin orang tua." Kemudian dengan senyum jemawa aku beranjak dari meja makan menuju dapur. Menyindir balik, lalu melarikan diri adalah senjata andalanku menghadapi keisengan mulut kedua orang tuaku yang lebih rempong dari mulut ibu-ibu yang mengelilingi gerobak sayur. Andai saja mereka tahu, bahwa kehidupan mahasiswa semester akhir tak selamanya dapat berjalan mulus. *** Aku berdiri gugup mengawasi gerak-gerik pria yang duduk di hadapanku. Matanya yang sibuk meninjau lembaran kertas di tangannya membuatku dilanda beragam rasa. Rasa cemas, rasa lemas, dan yang paling dominan adalah rasa kesemutan, karena sejak masuk ke ruangan ini hingga lewat 20 menit waktu berlalu, dia sama sekali tidak mempersilakanku untuk duduk. Tapi lebih daripada itu, memikirkan bagaimana reaksinya nanti setelah selesai meninjau hasil kerjaku, jauh lebih mengkhawatirkan dari apapun. PAKK.... Aku berjengit saat Pak Angga menghempas kasar hasil revisiku ke meja. Dosen lain yang awalnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sejenak teralihkan perhatiannya pada kami. "Bukannya kemarin saya minta kamu revisi dua bab?" Aku mengangguk pelan sambil memandangnya takut-takut. Bukan karena akan terintimidasi oleh tatapan tajamnya, tapi merasa was-was jika mulut tanpa saringannya kembali berulah mempermalukanku di depan umum. Apalagi ruang dosen di pagi hari cukup ramai oleh kehadiran para dosen maupun beberapa mahasiswa yang berkepentingan. "Lalu kenapa yang direvisi cuma satu bab?" Nada bicaranya sedikit meninggi. "I-itu ... sa-saya...." Sial. Kenapa aku mendadak jadi gagap. "Ma-maaf, Pak. Saya kemarin---" Dia mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkanku agar berhenti berbicara. "Tahun depan kamu sudah mendekati batas DO. Kalau terus bersikap masa bodoh seperti ini, jangan salahkan saya kalau nanti kamu dikeluarkan sebelum sempat sidang." Tubuhku kembali menegang. Ucapannya sukses membuatku bungkam seribu bahasa. "Dengar." Dia mengunciku dengan satu tatapan lurus. "Kalau niat kamu kuliah cuma main-main, lebih baik berhenti saja sekarang. Jangan buang uang orang tua untuk sesuatu yang tak ingin kamu perjuangkan. Perjalanan ke depan masih panjang dan kamu sudah terlalu terlambat memulai. Dengan sikap lamban seperti itu, jangan harap kamu bisa mencapai garis finish seperti yang lain." Ini kali kedua aku dibuat terdiam oleh kata-katanya. Dia sangat lihai menampar perasaan orang dengan fakta menyakitkan. Tapi di satu sisi, ada rasa cemas dalam diriku yang ikut membenarkan ucapannya barusan. Dia benar, waktuku memang sudah tak banyak lagi. "Bawa revisi bab satu ini juga ke Pak Tanto, lalu lanjut kerjakan bab dua sesudahnya. Setelah semua kelas saya selesai jam satu, temui saya di perpustakaan utama dan selesaikan sekaligus sampai bab tiga." Aku membeliak. "Maksud Bapak, saya harus nuntasin semua revisi hari ini?" "Ya. Saya yang akan langsung mengawasi kamu." Dia berdiri dari kursi dan merapikan beberapa bukunya. Sebelum beranjak menuju kelas, dia berpaling padaku sejenak. "Tolong jangan sampai terlambat lagi. Saya tidak suka membuang-buang waktu." Ujung mataku mengekori kepergiannya sampai hilang dari balik pintu ruangan. Aku mengernyit frustasi, walau kesal setengah mati dengan kesinisannya, tak terelakkan bahwa semua perkataannya tadi masih terus terngiang di kepalaku. Memulai seminar proposal di semester sebelas bukanlah perkara mudah. Mengawali sesuatu di waktu yang begitu mepet benar-benar membutuhkan ketekunan yang gigih. Pak Angga benar, bersikap masa bodoh hanya akan mempersulitku ke depannya, karena perjalanan ke sana masih cukup panjang. Berbeda dengan Gio yang telah merampungkan bab akhir dan tinggal menunggu persetujuan untuk maju sidang hasil semester ini, perjalananku bahkan belum mendekati setengah tahap yang mereka lalui. Terkadang aku ragu, jika waktu yang kupunya sanggup menjamin aku mampu menuntaskan kewajiban penelitianku tanpa kendala berarti. Setidaknya, aku cuma bisa berharap untuk dijauhkan dari segala kemungkinan terburuk.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 24 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (151)
Lutviah Winarni
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
26/01/2022
0enak
10/04
0terbaik
02/04
0View All