Selain insiden dikejar anjing waktu maling mangga tetangga 14 tahun lalu, duduk bersama dengan orang yang salah serta di waktu yang salah pula, benar-benar membawa kembali perasaan mendebarkan itu. Aku lagi-lagi menelan ludah. Kupastikan yang kutelan ini memang benar ludah, bukan keringat dingin yang menyempil di bibir dan tak sengaja tersapu ke mulut waktu aku menggigitnya karena gugup. "Jadi, Mas Angga kenal Mbak ini?" Ya. Pertanyaan paling bijaksana dari si Mbak tas branded---yang baru kuketahui ternyata bernama Mawar. Bukan, ini bukan nama samaran atau sebut saja Mawar. Sungguh, namanya betul-betul Mawar. Pelan-pelan tapi pasti, kulirik pria yang namanya baru saja disebutkan. Dan pada saat itulah pandangan kami saling bertumbuk. Pria itu juga rupanya sedang menatapku, atau lebih tepatnya menyorot tajam ke arahku. Sungguh, rasanya seperti dihujam belasan paku payung ke kornea mata. Begitu menusuk. Jika saja Mbak Mawar tidak bersikap terlalu akrab seperti tadi, mungkin kami berempat tidak akan berakhir duduk saling berhadapan di meja yang sama. Gara-gara sapaan keakraban bormodus ramah-tamah itu, niatku untuk melarikan diri dari pertemuan dengan Pak Angga ikut hancur tak bersisa. Lebih parahnya lagi waktu tahu kami ternyata saling mengenal, karena aku secara langsung menyapa sopan pria itu, Mbak Mawar tanpa tanggung-tanggung memaksa aku dan Sandi untuk duduk bergabung sebentar bersama mereka. Sungguh mulia sekali hati wanita itu. "Iya. Saya salah satu mahasiswi di kampus Pak Angga." Aku segera menyela sebelum Pak Angga membuka mulut. Siapa yang tahu kalimat nyelekit apa yang akan keluar dari mulut fenomenalnya. "Wah, kebetulan sekali," ujar wanita itu bersemangat. "Mas Angga jarang berbagi apapun soal pekerjaannya. Ngebayangin gimana orang sekaku dia mengajar di kelas aja rasanya sulit dipercaya," imbuhnya seraya tersenyum menggoda kepada Pak Angga. Sementara Pria yang menjadi objek pembicaraan itu tak memberi komentar apapun. Dia hanya cuek menyeruput kopinya sambil sekali-kali mencuri pandang ke arahku. Perlu digaris bawahi, curi pandang dalam konteks ini bukanlah tatapan bermakna pendekatan seperti yang biasa orang lain bayangkan, tapi lebih kepada tatapan keberatan yang menegaskan bahwa aku tak seharusnya berada di sini. Mungkin karena kehadiranku telah mengusik acara kencannya. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa wanita bernama Mawar ini tampak begitu santai setelah mengetahui statusku sebagai mahasiswa Pak Angga. Maksudku, bukankah dia juga menyadari keberadaanku tadi saat berbicara mesra di telepon dengan pria lain di belakang kekasihnya sendiri? Dan soal masalah kehamilan itu ... jujur saja, perlahan timbul sedikit rasa empati kala menerka bagaimana reaksi Pak Angga nanti kalau tahu dirinya ternyata dikhianati. Aku yang pernah merasakan hal serupa, turut dilanda rasa bersalah bercampur iba. Rasa bersalah karena telah memilih tutup mata. Memangnya aku punya hak apa untuk ikut campur urusan pribadi mereka? "Pasti sekarang lagi sibuk-sibuknya, ya. Apalagi awal semester gini biasanya perkuliahan lebih padat ke proyek dan tugas-tugas. Oh, iya, Mbak Audrey semester berapa emang?" Aku tersenyum masam. Tidak tahukah wanita itu bahwa pertanyaan tentang semester dan nilai IPK merupakan pertanyaan paling sensitif bagi kaum seperti kami? "Dia mahasiswi semester sebelas yang kebetulan saya bimbing." Pak Angga melirik ke arahku seraya bersedekap. "Bukan begitu Audrey Mariska?" Sudah kuduga cepat atau lambat hal ini pasti terjadi. Sekali mulut seorang Najendra terbuka, hanya kata-kata pedas nyelekit yang selalu terutarakan. Seakan mengumumkan statusku yang menyedihkan ini pada dunia hanyalah sebuah pembicaraan ringan mengenai cuaca. "I-iya. Semester ini saya memang sibuk skripsi," jawabku sedikit rikuh. "Dan di tengah kesibukan itu kamu masih sempat-sempatnya sesantai ini? Atau kamu memang sebegitu percaya dirinya?" Dia kembali berujar tanpa saringan. Terlihat tenang, tapi nada penghinaan yang terkandung di dalamnya cukup menyentil. Suasana hening seketika tercipta di antara kami berempat. Mbak Mawar tampaknya mulai salah tingkah karena sudah menanyakan sesuatu yang cukup sensitif. "Audrey sekarang memang lagi sibuk skripsi. Semoga tiga atau empat bulan ke depan sudah bisa ikut sidang hasil, ya, kan, Drey?" Sandi yang sedari tadi hanya duduk menyimak di samping Pak Angga, mulai ikut bersuara. Ia berusaha menghibur menyaksikan keterbungkamanku. "Empat bulan terlalu mustahil untuk orang-orang seperti itu. Minimal mereka harus memperbaiki pola pikir apatis mereka terlebih dulu." Pak Angga kembali menyorotiku. "Bagaimana Audrey? Apa kata-kata saya terlalu berlebihan?" Aku hanya menggeleng lemah. Menahan malu bercampur perasaan rendah diri. Walau berusaha membantah, semua yang dikatakan lelaki itu memang sesuai kenyataan. Fakta bahwa aku terlalu lama mengabaikan kewajibanku untuk segera lulus, di saat rata-rata mahasiswa seangkatanku telah meraih tujuan awal mereka, merupakan bukti nyata jika aku memang terlalu membuang-buang waktu selama ini, atau mungkin terlalu masa bodoh dengan tujuan hidupku sendiri. Dari awal aku sadar tempatku bukan di sini. Dari awal pula aku sadar sama sekali tidak ada mimpi yang benar-benar ingin kuraih. Bisa dibilang, sejak awal aku memang tak pernah punya tujuan hidup. Menjadi pengekor di belakang mimpi orang lain, lalu terpaksa bertahan karena tidak ada pilihan untuk berhenti, cukup memberi gambaran betapa menyedihkannya masa depan yang kupilih. Bukan hakku untuk tersinggung jika ada orang-orang seperti Pak Angga menilaiku seperti itu. Selanjutnya dalam beberapa waktu ke depan, kami lagi-lagi kebanyakan saling diam. Hanya Mbak Mawar yang sekali-kali melemparkan pertanyaan ringan yang ditanggapi aku dan Sandi seadanya. Jangan tanya bagaimana dengan pria itu, jika tidak melihatnya sesekali bergerak untuk menyeruput kopi atau menyantap makan siangnya, mungkin kehadirannya tak akan pernah terasa oleh kami. *** "Senang bisa ngobrol sama Mbak Audrey. Kapan-kapan kita nge-teh bareng, ya." Usai cipika-cipiki bersamaku dan bersalaman dengan Sandi, Mbak Mawar pamit, kemudian melenggang menuju kendaraan mereka. Pak Angga membantu melindungi kepala wanita itu agar tidak terantuk sewaktu memasuki mobil. Jika yang melakukan hal itu bukan Pak Angga, aku mungkin akan menganggap kejadian yang sedang berlangsung di depan mata ini merupakan hal termanis yang pernah kutemui. Terkadang aku sulit meraba kepribadian pria itu. Rasanya melihat sisi berbeda yang ditunjukkan olehnya ketika memperlakukan seorang wanita sungguh membuatku cukup terkesan. Meskipun mulut pedas dan muka tak bersahabat miliknya begitu mengesalkan, tapi di satu sisi, dia benar-benar tipe pria yang tulus terhadap pasangannya. Sayang sekali, kalau perasaan setulus itu harus dibayar dengan pengkhianatan. "Yuk." Sandi mengajakku masuk ke mobil begitu kendaraan keduanya telah bergerak menjauh dari pandangan. Kali ini dia langsung mengarah ke Kedoya selatan untuk mengantarku pulang. "Sorry." Sandi tiba-tiba bergumam pelan. Aku mengernyit mencerna maksud permintaan maafnya. "Tentang apa?" "Soal pertemuan tadi," ujarnya di tengah fokus menyetir. "Aku nggak tahu kalau kamu ternyata ingin menghindar dari dosen itu." Sandi memang tipe orang yang mudah sekali merasa bersalah. Hal ini juga yang menjadikannya sebagai sosok yang begitu pengertian. "Bukan salah kamu. Pertemuan tadi emang nggak bisa dihindari." Dia beralih menatapku. "Apa yang mereka katakan tadi nggak perlu kamu masukin ke hati. Kamu sudah cukup bekerja keras selama ini." Aku tersenyum hangat sebagai balasan atas kata-kata penghiburannya. "Padahal tadi aku sempat geer waktu kamu tiba-tiba main gandeng. Eh ternyata cuma modus, " kelakarnya. Pura-pura memasang tampang kecewa. Aku terkekeh geli. Sandi memang sangat mahir dalam mengembalikan mood orang lain. Setelah 20 menit perjalanan yang diisi candaan dan joke receh Sandi, tanpa kusadari mobil ternyata sudah berhenti di depan pagar rumah. Mbok Ijah, asisten rumah tangga kami langsung berlari tergopoh-gopoh untuk membuka pagar begitu mendengar klakson mobil. "Baru pulang, Non?" "Iya, tadi habis mampir makan siang," balasku. Mbok Ijah kemudian gantian menatap Sandi. "Den Sandi nggak mau masuk dulu? Biar Mbok buatkan teh atau kopi." Sandi menolak sopan. "Nggak usah repot-repot, Mbok. Saya harus segera balik rumah sakit karena masih ada shift siang." "Oalah, susah kalau dokter mah, bawaannya sibuk terus. Udah ganteng, badan atletis, baik hati pula, tapi sayang masih jomlo." Mbok Ijah adalah satu dari sekian perserikatan wanita di kompleks ini yang gencar menggoda Sandi. Mulai dari asisten rumah tangga tetangga sebelah hingga mbak-mbak pedagang kaki lima di depan kompleks, mereka semua adalah penggemar garis keras Sandi sejak aku beberapa kali mengajak laki-laki itu datang main ke rumah. Untung saja Sandi masih jomlo, kalau sudah taken, tak bisa dibayangkan berapa banyak hati yang akan patah karena kasih tak sampainya. Selepas kepergian Sandi, aku melangkah masuk ke rumah untuk membersihkan diri sebelum berperang dengan separangkat laptop dan tumpukan lembar proposal skripsi. Di ruang keluarga, kulihat Arabella sudah berbaring santai di atas sofa sembari menonton TV. Sama seperti biasa, dia cuek saja menyadari kedatanganku. Aku juga sama sekali tak berniat untuk menyapa balik. Ya, karena memang hubungan kami memang tak seakur itu. "Baru pulang, Drey?" Mama menyambut dengan muka berlapiskan masker. Dari aromanya dapat kutebak ramuan kali ini pasti campuran daun lidah buaya dan madu. Mama sangat senang bereksperimen perwatan kulit lewat beauty vlogger atau beauty blogger yang rutin dia ikuti tiap minggunya. Merawat kulit merupakan investasi penting jangka panjang yang wajib dilakukan seorang wanita, begitu katanya. Sayang sekali petuah itu hanya bagai angin lalu di telingaku. Jangankan repot-repot merawat kulit, jika bukan untuk ke kampus, aku mungkin hanya akan mandi satu kali sehari. Menurutku menjaga kelangsungan air bersih jauh lebih penting daripada menjaga kolagen, elastisitas kulit, ataupun tete-bengek lainnya. "Minggu depan anak bungsu Om Herman mau nikah. Mama nggak mau tahu pokoknya kamu harus ikut hadir di sana." "Ma...," rengekku keberatan. Hadir di kondangan orang lain merupakan siksaan batin bagi wanita single sepertiku. Belum lagi harus menghadapi pertanyaan sejuta umat 'Kapan nyusul?' "Nggak ada alasan lagi, Drey. Mama sengaja kasih tahu kamu dari jauh-jauh hari biar kamu berhenti ngeles bajaj. Lagian Om Herman itu Dekan di fakultas kamu, kan? Mau taruh di mana muka Mama kalau ditanyain nanti." "Mama kan masih bisa ngajak...." Aku sedikit memelankan suaraku sembari melirik ke sofa. "Ara." "Dia minggu depan harus rutin latihan paduan suara mahasiswa, mereka bentar lagi mau ikut choir festival di Bali. Toh, selama ini Ara terus yang nemenin Mama ke kondangan, kamu seumur-umur cuma dihitung pake jari. Pokoknya kali ini nggak ada penolakan lagi. Titik." Mama memberi ultimatum yang tidak bisa kutolak. Bersikeras membantahnya sama saja dengan menggali kuburan sendiri. Sekali Rosita Mardinah bertitah, jangan harap kau masih bisa untuk membantah, atau uang sakumu bisa-bisa melayang ke antah-berantah. Dengan segala keberatan hati, kuiyakan perkataannya. Anggap saja semua ini sebagai pelengkap kesialan beruntunku seharian ini.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 36 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (151)
Lutviah Winarni
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
26/01/2022
0enak
10/04
0terbaik
02/04
0View All