Setelah beberapa menit berhasil menenangkan diri, aku pun mulai mengintip dari celah pintu toilet yang hanya dibuka sejengkal. Mengamati keadaan sekitar mencari keberadaan sosok yang sempat membuatku merasakan senam jantung. Kondisi kafe yang tergolong tak terlalu luas, mempermudah bagiku menelisik setiap sudut ruangan dari pintu ini. Tak butuh waktu lama, mataku langsung menangkap sepasang pria dan wanita yang tengah duduk bercengkrama di dekat pintu masuk. Oke ralat, sebenarnya hanya wanita itu yang tampak antusias berceloteh ria, berbanding terbalik dengan lawan bicaranya yang hanya sesekali mengangguk menanggapi dengan mimik datar. Bukan lagi hal mengejutkan menyaksikan pemandangan seperti ini, manusia sekaku dan sejudes Pak Angga mustahil dapat berbasa-basi santai. Apalagi secara sukarela memamerkan kilau giginya di depan orang lain, sekalipun kekasihnya sendiri. Bukannya bermaksud sok tahu, namun selama beberapa tahun mengenal sifat kikuk Pak Angga di kampus, sudah dapat ditebak kehidupan pribadi lelaki itu pasti tak akan jauh berbeda dari image yang selama ini melekat padanya. Karena terlalu sibuk memikirkan muka datar Pak Angga, tanpa sadar pria yang sedang menjadi objek pengamatanku itu telah berdiri dari tempatnya, hendak berjalan ke bagian counter---yang sialnya hanya berjarak beberapa meter dari posisiku berdiri. Dengan panik, buru-buru aku menutup pintu sebelum mata pria itu menangkap kehadiranku. Walau aku sendiri tidak yakin dia akan mengenaliku hanya lewat setengah wajah yang terekspos di balik celah kecil pintu ini, tapi tidak ada salahnya mencoba waspada, bukan? Aku menghabiskan sekian detik untuk mondar-mandi bak setrika panas, memikirkan langkah tepat apa yang harus kulakukan. Rasanya canggung sekali kalau memaksa bersikap akrab padanya jika nanti tanpa sengaja dia menyadari kehadiranku. Tapi bersikap cuek juga bukan pilihan yang tepat, aku tidak ingin tumbuh menua di kampus hanya karena menyinggung harga dirinya. Di tengah kebimbangan yang menyergap, dorongan seketika dari luar pintu hampir saja membuatku memekik di tempat. Seseorang yang juga tak kalah kagetnya---mungkin karena disambut muka acak-adutku sewaktu pintu terbuka, hanya menyunggingkan seulas senyum canggung. Untuk sesaat, aku terkesima memandangi penampilan fisik wanita di hadapanku ini. Bentuk wajah oval ditambah garis rahang V line yang memberi kesan tirus alami, bulu mata lentik sempurna, hidung kecil yang cukup mancung, bibir tipis dipoles liptint bergradasi peach, belum lagi ditambah warna kulit putih langsatnya, semakin memberikan kesan anggun dan ayu untuknya. Kalau diperhatikan saksama, Pak Angga dan wanita ini memiliki kontur wajah cukup mirip. Hanya saja dibedakan oleh rahang tegas pria itu, serta bentuk hidungnya yang sedikit lebih mancung. Meski benci mengakui, mereka memang terlihat serasi jika bersanding bersama. Di balik kejudesan dan muka minim ekspresi Pak Angga, harus diakui, dia memang memiliki paras tampan walau usianya sudah mendekati kepala tiga. Wanita itu berpindah ke bagian wastafel dan meletakkan tas jinjing branded-nya, yang dapat kutaksir harga benda tersebut bisa sepuluh kali lipat uang kuliahku. Demi mengusir kecanggungan, aku juga ikut beringsut ke wastafel satunya untuk sekadar mencuci tangan. Diam-diam kulirik wanita di sampingku. Dia mulai mengeluarkan cushion dan menyapukan spons lembut ke wajah. Berikut liptint bewarna peach tak ketinggalan menjadi polesan pelengkap. Bagaimana denganku? Tentu saja aku juga tak mau kalah, ikut mencari kesibukan sendiri dengan berkumur-kumur dan membasuh muka, sekaligus menjernihkan kekalutan pikiran. Deadline revisi ditambah pertemuan dengan Ara dan Raskal di kampus, benar-benar mengacaukan setiap kinerja sel otakku. Mendinginkan diri dengan air mungkin bisa sedikit melegakan. Selesai membasuh muka, tanganku bergerak meraba-raba dinding di samping wastafel. Kemudian tersenyum getir menyadari sesuatu, toilet ini rupanya tidak menyediakan tisu, melainkan pengering tangan. Cobaan apa lagi ini, ya Tuhan. "Mbak pakai ini saja." Melihatnya, wanita itu menyodorkan sapu tangan berwarna nila sebagai pengganti tisu. "Ini belum saya pakai, kok." Meski merasa malu karena tertangkap basah ceroboh, tetap saja kuterima tawarannya. Mana mungkin aku memakai lengan baju untuk mengelap wajah seperti kebiasaan jorokku di rumah. Di depan wanita yang nyaris sempurna pula. Cukup saja penampilan fisikku yang jauh kebanting, jangan harga diri ini. "Terima kasih, Mbak. Nanti saya kembalikan," ujarku sopan. Wanita itu tersenyum menggeleng. "Nggak usah. Lagian belum tentu kita akan ketemu lagi, kan? Simpan saja." Tak heran kalau Pak Angga sampai dibuat jatuh hati. Selain cantik, kekasihnya ini begitu ramah dan baik. Sungguh berbeda jauh dengan sifatnya yang menjengkelkan itu. Dering ponsel dari dalam tas, sontak mengalihkan perhatian kami. Wanita yang belum kuketahui namanya itu segera meraih ponsel yang masih riang berdering. Dapat kulihat senyum bahagia terpancar jelas saat dia meletakkan benda persegi tersebut ke telinganya. "Iya, iya. Satu jam lagi aku ke sana." "Nggak bisa, Sayang. Sekarang aku lagi sama Mas Angga. Dia nggak mungkin ngijinin aku pergi sebelum makan siang. Kamu tahu sendiri seprotektif apa dia." "Belum. Mas Angga belum tahu sama sekali soal kabar kehamilanku. Kita tunggu waktu yang tepat buat jelasin semuanya." "Iya. Nanti aku hubungi lagi." Selesai menutup percakapan, wanita itu tersenyum sekali ke arahku---mungkin sebagai bentuk ramah-tamah antar sesama wanita, sebelum dia berlalu ke luar dari tempat ini. Berulang kali aku memastikan bahwa tak ada yang salah dengan pendengaranku. Semua yang mereka bicarakan di telepon tadi memang benar adanya. Dan jika aku tak salah menafsirkan, kemungkinan bahwa Pak Angga dikhianati pasangannya sendiri begitu sulit dicerna otak miniku. "Drey, kamu nggak apa-apa?" Ketukan dari luar, mengingatkanku bahwa ada kehadiran orang lain yang hampir saja terlupakan. Raut khawatir Sandi langsung menyambut begitu aku membuka pintu. "Kenapa? Kamu nggak enak badan? Atau---" Aku menggeleng cepat sebelum dia terus memberondongku dengan banyak pertanyaan. Saat ini bergegas pulang adalah pilihan terbaik agar dapat terhindar dari pertemuan tak terduga dengan Pak Angga nanti. "Kita langsung pulang sekarang, ya? Aku masih harus ngejar deadline revisi," bujukku menampilkan tampang memelas. Hujan di luar juga sudah mulai mereda, jadi tak akan terlalu beresiko kalau kami keluar sekarang. "Yasudah, aku beresin barang-barang di meja dulu." Dari meja kami menuju pintu masuk, kira-kira terpaut sekitar empat meja lagi untuk dilewati, salah satunya adalah meja yang ditempati Pak Angga. Dan itu artinya aku harus mati-matian melewatinya tanpa ketahuan oleh pria itu. Berjalan bersisian di sebelah Sandi cukup memberi keuntungan. Perbedaan tinggi kami yang lumayan berjarak, mampu menyembunyikan diriku dengan baik. Meski Sandi kelihatan heran oleh tindakanku yang mendadak berjalan mengapitnya, dia lebih memilih diam saja. Aku menahan napas saat jarak kami semakin dekat dengan meja pria itu. Sejak kapan perjalanan keluar kafe jadi semelelahkan ini? Baiklah. Jangan gugup. Aku hanya perlu bertahan beberapa detik, dan semuanya akan baik-baik saja. Sebentar lagi, pintu keluar sudah ada di depan mata. Kebebasan sesungguhnya telah menanti di depan. Sedikit lagi, ya tinggal sedikit lagi.... "Lho, Mbak yang tadi udah mau pulang, ya?" Sial!
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 23 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (151)
Lutviah Winarni
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
26/01/2022
0enak
10/04
0terbaik
02/04
0View All