logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

6. Kamu cerdas, tapi kurang cermat

Sepulang sekolah Ici langsung mencari Mamanya untuk memberitahukan satu hal yang pastinya akan membuat Mamanya itu bangga padanya.
"Assalamualaikum, Mama! Ici pulang!" Ici berteriak dari depan pintu
"Waalaikumussalam, Non. Nyonya besar lagi ke restoran. Katanya kalo Nona Ici mau ke sana harus makan siang dulu" ujar salah seorang pembantu yang menyambut Ici pulang.
"Oh! Okay, Bibi! Makasih, Bibi cantik" Ici langsung berlari ke kamarnya, mengganti baju, lalu makan siang dengan lahap lantaran tak sabar mengabari Mamanya perihal kebahagiaannya.
Sesampainya di restoran, Ici langsung memasuki ruangan Mamanya.
"Mama! Ici lolos 3 besar lomba cerdas-cermat nasionalnya! Yeayyy!" ujarnya heboh sembari memeluk erat Mamanya
"Wuah! Alhamdulillah, anak Mama hebat! Kalo nanti juara 1 maka bakal ajak kamu ke Bandung! Kita liat Eyang putri sama Eyang kakung!" ujar Lyona.
"Beneran, Ma?!" Ici sudah terharu, dia akan berusaha untuk bisa membanggakan kedua Eyangnya itu. Ici tidak pernah melihat seperti apa Eyang-eyangnya itu, dia hanya melihat eyang-eyangnya itu di album keluarga. Ingin rasanya menghubungi Eyang-eyangnya itu melalui media sosial, sayangnya Eyang-eyangnya itu tidak lagi bisa aktif di media sosial. Seingatnya dia mempunyai Eyang yang keduanya masih hidup, Om, Tante, dan satu sepupu laki-laki. Orang tuanya itu teramat sibuk dalam mengurusi perusahaan dan juga dirinya.
"Beneran, Sayang... Biar nanti Mama bilangin ke Papa" ujar Lyona sembari sedikit merapikan kuncir dua Ici yang sedikit kurang rapi. Wajar saja, Ici melakukan semuanya secara mandiri, dia bahkan menolak para pembantu rumah untuk membantunya dalam segala hal yang berhubungan dengan sekolahnya. Dia hanya menerima fasilitas antar jemput yang disediakan orang tuanya, itu pun Ici memilih sendiri supir yang dikehendakinya, dia tak suka keterlambatan, sedari kecil Ici terbiasa dengan sikapnya yang suka melakukan banyak hal tanpa harus merepotkan banyak pihak, hingga kini usianya beranjak 13 tahun.
Hari ini adalah hari dimana Ici akan bertanding dengan anak dari SMPN 21 Bandung yang terkenal dengan prestasi anak-anak didiknya yang selalu berhasil membawa pulang medali juara utama. Ici dan timnya telah bekerja keras untuk merebut kejuaraan itu tahun ini, harus! Baginya saingan terberat hanyalah anak SMPN 21 Bandung, bukannya meremehkan lawannya yang satu lagi. Tapi kemampuan mereka sudah sangat tergambar, itu semua sudah dapat dilihat dari poin akhir yang mereka raih. Sejauh pertandingan itu berlangsung, akhirnya lawan yang satu itu menyerah tanpa syarat, kalah pun mereka tetap memegang medali juara 3. Kini tinggal tim dari SMP Ici dan tim SMPN 21 yang diketuai oleh seorang anak laki-laki yang dalam prediksi Ici anak itu lebih tua darinya. Camedyan dan Lyona ikut menyaksikan pertandingan itu, rasa haru dan bangga melihat anak semata wayangnya tengah berjuang membanggakan keluarga diatas podium sana. Mereka bahkan meninggalkan banyak pekerjaan demi menonton pertandingan putrinya itu.
Karena lagi-lagi posisi imbang, membuat panitia harus mengistirahatkan terlebih dahulu para peserta mengingat waktu sudah menunjukkan waktunya makan siang.
"Ugh! Si cowok itu selalu aja jawabnya bener! Mama!!! Gimana iniii" rengek Ici mengadu dipelukan Mamanya
"Sayang... Ya ginilah namanya juga pertandingan, lawan kamu hebat loh itu, kamu juga harus bisa lebih hebat dari dia, anak Mama tuh udah sangat hebat bagi Mama sama Papa, kalah menang tetep aja kalian nanti akan bawa pulang antara medali perak atau emas 'kan?" Lyona mencoba menenangkan putrinya
"Tapi, kalo nanti juara dua gak jadi dong ke rumah Eyang! HUAAA" pekik Ici membuat beberapa orang yang lewat memperhatikannya
"Eh... Syuttt, Ici gak boleh teriak-teriak gitu" Lyona panik, sementara Camedyan hanya terkekeh "anak kamu tuh" ledeknya pada Lyona
Pukh...
Lyona memukul bahu Camedyan, "anakmu juga!"
"Ma, Ici mau beli permen kapas!" ujar Ici menadahkan tangannya meminta uang
"Suruh Papa aja yang beli ya, ini rame. Nanti kamu hilang" ujar Lyona
"Ma, aku bukan anak kecil lagi" ujarnya memanyunkan bibirnya
"Oke" Lyona memberikan selembar uang seratus ribu
"Gak ada lima ribuan aja, Ma?" tanya Ici, dan Lyona menggeleng
"Kalo 100 ribu sama dengan gak ada sisa ya, Ma. Hehe" Ici melenggang meninggalkan Mamanya
"Ici! Emangnya kamu mau beli apa lagi? Jangan yang aneh-aneh ya..." jerit Lyona membuat seorang anak laki-laki yang mendengarnya sedikit menoleh menatapnya.
"Ici?" gumamnya mengulang nama itu dengan pelan sembari melihat kemana arah anak perempuan itu berlari.
Saat Ici tengah menunggu permen kapasnya dibuat oleh penjualnya, tanpa dia sadari seseorang tengah berdiri di belakangnya.
"Dek, ini arumanisnya" ujar si penjual
"Ini uangnya, Pak" Ici menyerahkan uang yang diberikan Mamanya tadi
"Waduh, Dek. Gak ada kembaliannya, apa gak ada uang kecil aja?" tanya si penjual
"Sisanya buat Om aja" ujarnya tersenyum lalu berbalik dengan ceroboh
Puk...
"AAAAAAAA"
Tanpa sengaja saat Ici berbalik dia menabrak orang yang berdiri tepat di belakangnya sehingga membuat permen kapasnya tak lagi berbentuk indah, jeritan Ici membuat beberapa orang yang melintas memperhatikan mereka
"GANTI RUGI!" ujar Ici mengamuk saat tahu siapa orang yang berdiri tepat di belakangnya itu.
"Siapa suruh balik badan gak liat-liat di belakang ada orang" ujarnya acuh
"Woy! Siapa suruh berdiri di belakang orang gak bilang-bilang!" ujar Ici membalik keadaan
Malas menghadapi Ici yang mengamuk tidak jelas, anak itu melepaskan gelang yang melingkar di pergelangan kirinya, lalu memberikannya ke telapak tangan Ici. Setelah itu ia pergi entah kemana, Ici sampai melongo karena kebingungan akan sikap anak laki-laki itu. Apakah setelah memberikan gelang jeleknya itu akan membuat Ici tidak jadi memarahinya? Batin Ici mengutuk anak laki-laki itu. "Woy miskin! Huaaaa, permen kapasku! Udah gak cantik! Liat aja, lu pasti gue kalahin! Hiks... HUAAAA MAMAAA" rengek Ici membuat si penjual langsung dengan segera memberikannya permen kapas yang baru. Ici seketika tak enak hati, "ma-makasih, Om... Hiks, maaf ya. Si miskin itu yang salah 'kan?" ujar Ici masih dengan sisa tangisannya.
Pertandingan kembali dimulai, aura sengit semakin menguar saat Ici memeletkan lidahnya ke arah anak laki-laki itu dengan wajah konyolnya. Semua orang yang menonton pun menyaksikannya, Lyona dan Camedyan hanya bisa menahan tawa sembari menahan malu akan sikap kekanakan putrinya itu, para penonton malah banyak yang tertawa melihat ekspresi menyebalkan yang dibuat Ici. Sementara anak laki-laki itu tampak tersenyum tipis.
Pertandingan berjalan begitu menegangkan hingga juri harus meminta penambahan waktu dan juga satu pertanyaan terakhir lantaran poin selalu imbang.
*Ici pov
IS! TINGGAL BILANG TIM ICI YANG MENANG APA SUSAHNYA SIH?!
Ketika jawaban terakhir telah tercetus akhirnya kini Ici dan salah satu anak perempuan dari tim SMPN 21 Bandung tengah berhadapan dan secepat mungkin menekan bel. Bel berhasil ditekan lebih dulu oleh tim SMPN 21, habis sudah harapan Ici untuk bisa pergi menjumpai Eyangnya. Tapi jawaban yang dijawab oleh anak itu malah salah yang membuat soal itu dilempar ke timnya! Akhirnya pertandingan itu dimenangkan oleh tim SMPN Taharuni Jakarta. Semua penonton bersorak heboh, tak ayal Ici bersujud syukur di atas podium kemudian berdiri tegak di atas podium sembari mengacungkan jempolnya ke arah Mama dan Papanya lalu merubah simbol tangannya menjadi bentuk hati untuk kedua orang tuanya. Bangga dan haru mendominasi perasaan Camedyan dan Lyona melihat mereka berhasil mendidik dan membesarkan Ici kecil mereka menjadi gadis cantik yang cerdas.
Betapa bangganya Lyona dan Camedyan saat melihat para juri tengah memasangkan medali emas ke leher Ici mereka, saat Ici turun dari podium untuk bergantian pemasangan medali... Ici berpapasan dengan anak laki-laki itu, lalu dengan jahilnya tangan kanan Ici memamerkan medali emasnya sedangkan tangan kirinya mengacungkan jempol ke arah anak laki-laki itu, sedetik kemudian Ici membalik jempolnya👎. Anak laki-laki itu tersenyum miring, lalu berkata "kamu cerdas, tapi kurang cermat" setelah itu mengabaikan Ici yang mengutuknya dalam hati dengan sumpah serapah.
Sepulang dari acara itu mereka langsung memutuskan berkeliling mall, membeli banyak oleh-oleh untuk keluarga mereka yang ada di Bandung. Malam harinya mereka baru sampai, melihat Ici tertidur di mobil membuat Camedyan terpaksa menggendong putrinya itu, lalu membaringkannya di kasur kamarnya.
Pukul 22.12 Ici terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba, teringat dia belum membersihkan diri bahkan belum menunaikan sholat Isya' dia pun langsung bergerak untuk menunaikan ibadah, saat berdiri dari kasurnya... Ici melihat sebuah benda terjatuh dari saku baju yang masih ia kenakan saat ini.
Ici pun langsung mengambilnya "gelang?" otaknya yang masih bekerja keras mencoba mengumpulkan nyawa-nyawa berupa memori tentang benda di tangannya tersebut.
"Eh?! Ini 'kan dari si cowok tengil itu!" seketika Ici mengingat semua tentang orang itu tadi siang. "Tapi kalo diliat-liat gelangnya bagus, pake aja kali ya? Dia 'kan kasih ke aku sebagai bentuk ganti rugi huh!" Ici pun langsung memakai gelang tersebut.
Siang harinya mereka langsung berangkat ke Bandara setelah Camedyan meminta perizinan libur untuk Ici di sekolahnya. Ici benar-benar bahagia, akhirnya sebentar lagi dia bisa melihat secara langsung wajah Eyang-eyangnya, Om, Tante, dan juga Sepupunya.
Setibanya mereka di Bandara, saat Camedyan tengah celingukan mencari taxi, dia melihat sesosok yang tak asing baginya. Camedyan pun mencoba mendekati orang itu "Papa! Mau kemana?" tanya Ici saat melihat Papanya itu malah kembali masuk ke area dalam Bandara.
"Tunggu bentar ya, mastiin doang" ujar Camedyan yang berjalan cukup cepat
"Mas! Ini udah ada taxi-nya loh, aih… Papamu itu" omel Lyona gemas
Beberapa menit berselang Camedyan kembali dengan merangkul seseorang yang asing bagi Ici, sementara Lyona sedikit terkejut melihat kehadiran orang tersebut. "Kak Key? Di Bandara juga? Ngapain? Mau urusan bisnis kah? Perasaan kita gak ada kasih tahu kalo kita mau ke Bandung" ujar Lyona bersama keterkejutannya.
"Ini Ici-ku?! Masya Allah, cantik banget!" Key memuji, sementara Ici menarik ujung baju Mamanya seolah bertanya siapa orang yang memanggil dengan sebutan 'Ici-ku' itu.
"Ici salim, ini Om kamu! Om Key" ujar Camedyan
"Oh… Om Key! Ini Ici" Ici baru bisa tersenyum lebar ke arah Key, Key terharu… Dengan gemas dia mengacak puncak kepala Ici.
"Kamu ngapain di sini, Key? Dari tadi kutanyain jawabannya aaa umm aaa umm terus" Camedyan menangkap raut khawatir pada wajah Key
"Kenapa sih?! Nungguin siapa? Jangan bilang Kakak lagi mau ketemu selingkuhan?! NGAKU!" pekik Lyona membuat orang-orang di sekitar memperkarakan perdebatan mereka
To be continued...

Book Comment (65)

  • avatar
    Goodbye

    Cerita bagus banget meskipun dengan cerita yang sangat berbeda dengan orang lain. cerita paling best deh

    31/12/2021

      3
  • avatar
    ArsyantiNita

    ok, jadi apa ini berdosa sekali 😭

    30/03/2025

      0
  • avatar
    Puji Ea

    bagus

    24/03/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters