"Mamaaa" jerit Ben semakin ketakutan "Jangan berani coba-coba, Rhoky! Kamu tu kenapa sih?! Banyak perempuan lain yang masih lajang! Udah gila kamu ya?!" Lyona benar-benar tak menyangka semua ini akan terjadi, dalam hatinya dia mengutuk dirinya sendiri. Karena masa lalunya, kini anaknya yang menjadi taruhannya, Lyona benar-benar menyesal pernah mengenal bahkan menjatuhkan hatinya pada seorang Rhoky Hareta. "Aku maunya kamu! Aku gak akan kek gini kalau bukan karena kamu, jadi... Tolong kembali, apa kamu gak kangen aku? Aku udah jauh-jauh loh dateng ke sini demi jemput kamu!" Rhoky mengutarakan isi hatinya "Rhoky, coba buka mata kamu lebar-lebar. Aku ini siapa? Kamu itu siapa?! Aku ini seorang Ibu dua anak yang masih punya suami!" Lyona mencoba cara lembut untuk menghadapi seorang Rhoky "Apa kamu fikir aku lagi merem?" "Udah dramanya, sekarang serahin anak gue!" Camedyan benar-benar muak, se-terobsesi itu kah Rhoky pada istrinya?! "Iya! Aku mau nikah sama kamu!" pekik Lyona yang terdengar melengking di telinga Camedyan sampai-sampai membuatnya seolah lebih baik tidak mendengar kata-kata barusan. Dia potong saja daun telinganya andai dia salah mendengar kata-kata tadi. "Serius?" Rhoky mulai berbinar-binar mendengarnya. "Iya, aku mau" sekali lagi, kata-kata itu seolah menikam Camedyan hingga tembus ke relung hatinya. "Lyo! Apa kamu juga ikut gila?! Gimana Ici kecil kita?! Ben? Tanpa kamu? Apa arti pernikahan ini bagi kamu?! Pernikahan ini bukan permainan yang dengan mudahnya bisa gantiin pemeran utamanya!" Ujar Camedyan dengan segala rasa sakitnya. Melihat putranya tengah berada di ujung tanduk, lebih lagi istrinya berkata demikian. *Lyona pov Professor bodoh! "Sini tarik aku, kujamin anakmu baik-baik aja asal kamu gak coba-coba nipu aku" Rhoky meminta Lyona menariknya dari sana agar turun dari pembatas berbahaya itu. "Jangan coba sentuh istri gue seujung kuku pun! Atau tangan lo... Gue potong-potong!" Ancam Camedyan yang tak diindahkan baik Rhoky maupun Lyona. Baru saja Lyona hampir menggapai dan menarik Rhoky bersama Ben dari sana, tiba-tiba... Tarrr!!! "BENNN!!!" Tembakan peluru mematikan dari Camedyan menembus tepat di jantung Rhoky, seketika genggamannya pada lengan mungil Ben pun ikut terlepas, lantas Ben dan Rhoky pun jatuh bersamaan ke bawah. "BENNN!!!" raungan penyesalan dari Camedyan dan Lyona pun semakin menambah suasana pedih di hati mereka masing-masing. Dengan segera Lyona berlari turun menghampiri tubuh putra sulungnya yang baru genap berusia enam tahun beberapa hari yang lalu itu sudah banjir akan darah. Diabaikannya tubuh Rhoky yang berada tak jauh dari tubuh Ben. Dengan bergegas dibawanya Ben ke rumah sakit, meninggalkan Camedyan yang kehilangan kesadarannya di rooftop. Beberapa menit setelahnya barulah segerombolan polisi mengepung tempat itu. Rhoky meninggal dalam keadaan kepala yang terbelah menjadi dua, sementara Ben mengalami kritis... Setelah mengabari Ayah dan Ibunya, Lyona mencoba melihat keadaan Camedyan yang tampak lemah, dia diserang rasa bersalah yang hampir membunuhnya. Siang harinya mereka mendapat kabar duka baru, bahwa William dan Willyazh tewas lantaran kecelakaan pesawat, keadaan semakin menyiksa bagi keluarga Minarukha. Kecelakaan itu terjadi akibat mereka terlalu terburu-buru memesan tiket pesawat demi bisa melihat keadaan Cucu pertama mereka yang kabarnya sedang dalam masa kritis, hingga akhirnya mereka memesan tiket pesawat yang tidak terjamin keselamatannya. Keadaan Ben sudah cukup menyiksa batin mereka masing-masing, ditambah kepergian kedua orang tua mereka. Lyona bahkan hampir melupakan putri kecilnya yang masih membutuhkan kasih sayangnya. Dia hanya ingin menunggui putranya itu siuman, sayangnya tiga hari setelah masa kritis akhirnya Ben dinyatakan meninggal dunia, dokter mengatakan kalau pun Ben hidup... Dia akan mengalami kelumpuhan. Lyona benar-benar merasa gagal menjadi seorang Ibu, karena masa lalunya... Ben harus menjadi korbannya, andainya dulu dia tak perlu mengenal seorang Rhoky Hareta! Dia terus-terusan mengutuk dirinya sendiri. Bukan hanya Lyona, tapi juga Camedyan. Andainya dia tak gegabah dan menuruti permainan Lyona tanpa harus merasa sakit hati, pasti semuanya tak akan seperti ini. Jasad William telah ditemukan, hanya saja jasad Willyazh yang belum ditemukan, mereka memutuskan untuk menguburkannya secara berdampingan setelah keduanya ditemukan nanti. Berulangkali Famela jatuh pingsan ketika jasad Dady-nya sampai di rumah kebesaran itu, dia bahkan sempat membenci keadaan. Kehadiran Iqy kecil mampu membuatnya tersadar bahwa semuanya ini bukan akhir dari segalanya. Sementara di Manila... "Nyonya... Nona Ici nangis terus, udah satu Minggu ini Nona Ici minum susu formula, keknya dia bosen" lapor salah seorang baby sitter Ici yang mereka bawa dari Indonesia. Lyona yang tadinya melamun sembari memandangi foto-foto kenangan Ben pun langsung tersadar. "Ya sudah, bawa ke sini ya..." Keadaannya sudah mulai membaik, hanya saja... Camedyan masih menyalahkan dirinya sendiri, bahkan dia beranggapan bahwa dirinya telah membunuh anaknya sendiri. Dua hari setelahnya pasangan Keyfam mendatangi kediaman Camelyona di Manila... Tok... Tok... "Nyonya, di depan ada Nyonya Famela" ucap salah seorang pembantu rumah itu, melihat Nyonya-nya tak kunjung merespons akhirnya dia pergi dari sana. Tak lama berselang muncullah sosok Famela di ambang pintu kamarnya dalam keadaan mata sembab, dipandanginya adiknya yang tengah melamun sembari melihat ke luar jendela itu. Dia tahu rasanya kehilangan orang-orang tersayang, dia pun mengalaminya. "Lyo" panggilnya dengan suara bergetar Lyona menoleh, lalu berlari memeluk Kakak perempuannya itu sembari menangis dipelukannya "Kak! Mom sama Dad! Ben!!! Semuanya pergi! Aku gagal... Gagal jadi Ibu yang baik, gagal jadi anak yang baik! Hiks..." Tangis Lyona pecah, hanya kepada Kakaknya yang satu itu dia bisa menumpahkan segala rasa sakitnya. Mungkin karena sama-sama perempuan yang bisa merasakan perasaan perempuan lainnya. Famela mengangguk, mati-matian dia menahan agar air matanya tidak lagi tumpah di hadapan adiknya, tujuannya datang ke sini adalah untuk menguatkan adiknya yang satu ini. "Udah, ini udah takdir Allah. Sekarang kita do'ain mereka semua kumpul dan bahagia di surga, Kakak yakin kalau mereka liat kita sesedih ini, pasti mereka ikut sedih. Sekarang kamu punya Ici, inget dia masih kecil. Dia butuh kamu, Kakak denger kamu gak mau kasih dia ASI satu Minggu ini?" tutur Famela dan Lyona hanya bisa melepas pelukannya sembari tertunduk. "Kamu udah kehilangan Ben, jadi jangan sia-siain Ici, kamu mau kehilangan Ici juga?" Famela menyadarkan Lyona dari kesalahannya. Dengan segera Lyona menggeleng kuat, "BIK!!! BAWA ICI-KU KE SINI!" pekik Lyona nyaring hingga terdengar sampai ke lantai bawah rumahnya yang besar. "Astaghfirullah, Lyo! Kamu ini gak berubah juga suaranya, untung Kak Dyan gak budek" Famela mencoba menghibur Lyona dan juga dirinya sendiri. Tak lama berselang muncullah Keytodhilac di ambang pintu sembari menggendong Iqy yang sudah berusia dua tahunan bersama salah seorang baby sitter yang menggendong Ici kecil "Abang... Sini! Turunin aja, Yah" ujar Famela Iqy berjalan mengiringi langkah sang baby sitter yang hendak memberikan Ici kepada Lyona, langkah kecilnya berhasil menggapai Famela yang tak jauh darinya. "Kalau anak kita dewasa nanti... Pasti mereka bakal dijodohin juga, sama kayak kita" cetus Famela begitu saja. "Iya, dan aku akan pastiin anakku gak akan mengenal laki-laki lain selain dari keluarga kita, berteman boleh. Jangan sampe kek aku" Lyona tertunduk sembari memberikan Ici kecilnya ASI "Udah... Masih terlalu dini untuk pembahasan ini, anak kita juga butuh kebebasan. Dididik sesuai anjuran Nabi aja" timpal Key, dan Famela hanya tersenyum, dia merasa beruntung memiliki suami seperti Keytodhilac, padahal di awal pernikahan Key sangat dingin padanya, lantaran Key merasa bahwa adat yang ada di keluarganya ini salah dan haram bagi agama yang mereka anut. "Bang Dyan mana?" Tanya Key yang penasaran lantaran sedari tadi tak melihat kehadiran Kakak laki-lakinya itu. Tiba-tiba... Prank... Duar... Ctarrr... "BENNN! MAAFIN PAPA! HUAAA BEN!" terdengar suara teriakan Camedyan dari arah samping kamar Lyona dan Camedyan, ruangan itu milik Ben. Kamar yang penuh akan mainan ala anak laki-laki itu sudah tak karuan bentuk, berbagai macam barang sudah terhempas ke sembarang arah oleh Camedyan, rasa bersalahnya begitu ingin membunuhnya. Dengan cepat Key mendobrak pintu yang selalu dijadikan Camedyan sebagai tameng agar orang-orang rumah tak melihat bagaimana menderitanya seorang Camedyan yang telah membunuh anaknya sendiri. "Bang! Kamu ini kenapa?!" Key mencoba memapah tubuh Camedyan yang tergolek di lantai sembari memeluk sebuah figura dengan wajah Ben yang tengah tersenyum lebar. Camedyan terdiam sembari menatap kosong apa yang ada di depan matanya, "Bang, yang udah pergi gak akan pernah bisa buat dikembalikan. Biarin Ben tenang di sana, cukup kita kirim do'a buat dia, buat Mom, buat Dad! Sedih-sedihan kek gini malah nyiksa diri sendiri! Liat anakmu, kamu masih punya Ici! Masih punya Lyona, jangan jadi Professor bodoh" Key kesal akan pemikiran Abangnya itu. Tidak seharusnya dia menyiksa dirinya sendiri seperti sekarang. Lyona muncul di ambang pintu sembari menggendong Ici kecil yang terus-terusan menangis usai mendengar pecahan beberapa barang tadi. "Sekarang tanggungjawab! Anakmu nangis gara-gara denger barang pecah tadi, dia gak mau diem nih!" Lyona merasa tenang setelah menggendong Ici kecil, hati kecilnya perlahan mencoba mengikhlaskan segala yang telah terjadi, dia harap Camedyan pun bisa tenang setelah mengingat mereka masih mempunyai seorang malaikat kecil. Dengan gemetar Camedyan menggendong Ici-nya, "aku masak dulu, kamu belum makan dari kemarin sore. Kak Key sama Kak Famela pasti laper juga 'kan?" Lyona mencoba kembali tersenyum meski sembab matanya tak dapat menutupi bahwa kesedihannya belumlah berakhir. "Wah, mantap nih. Udah lama banget gak nyobain masakan Lyo, cepet ya" goda Key sembari berlagak seolah Lyona adalah pembantunya. Lyona yang geram pun melempar bantal sofa yang ada di dekatnya ke arah Key lalu berlari menuruni tangga, pertengkaran kecil seperti itulah yang dia rindukan dari Kakak-kakaknya itu. "Adik durhaka! Awas kamu ya!" Key menggeleng melihat kelakuan Lyona masih tak berubah meski sudah beranak dua, dia masih tetap Lyona kecilnya yang suka menjerit jika tak dituruti kemauannya. Lyona masih adik bontotnya yang suka menguji emosi Kakak-kakaknya... "AAAAAAA" terdengar suara jeritan Lyona dari arah dapur bawah. To be continued....
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 34 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (65)
Goodbye
Cerita bagus banget meskipun dengan cerita yang sangat berbeda dengan orang lain. cerita paling best deh
Cerita bagus banget meskipun dengan cerita yang sangat berbeda dengan orang lain. cerita paling best deh
31/12/2021
3ok, jadi apa ini berdosa sekali 😭
30/03/2025
0bagus
24/03/2025
0View All