Kelas masih sunyi, ini adalah pertama kali Arkan datang jauh sebelum bell berbunyi, demi meramal Chika yang ujungnya ramalan itu kacau berantakan hanya karna salah menyebut nama. "Sial banget hari ini gue, masa mau ngeramal seperti Dilan malah jadi salah sih, pasti si Dilan lagi ngetawain gue nih, mau taro di mana muka imut gue," Arkan mengomel seorang diri. Melihat jam masih lama untuk proses pembelajaran dimulai maka Arkan memutuskan untuk tidur. Tak butuh waktu lama akhirnya Arkan sudah berada di alam bawah sadar. Bima, Arga, Reklin dan Nabil baru saja tiba di kelas, dan menatap Arkan dengan tatapan ingin memangsa. "Ini dia orang yang bikin kita jatoh masal kemarin," ucap Bima. "Enaknya kita apain ni cucunya eyang Satya," Tanya Reklin pada teman teman nya. "Kita bunuh aja gimana?" jawab Arga bersemangat. "Gak-gak! jangan dibunuh ntar yang repot juga kita, repot urusin pemakaman, repot nangis, repot ngaji buat tahlilan," bantah Bima. "Gimana kalo kita coret mukanya pake make-up cewek," ucap Nabil yang juga ingin balas dendam. "Deal, bentar gue mau pinjam make-up Adel dulu ya," kata Arga kemudian keluar kelas mencari Adel. Setelah 5 menit menunggu akhirnya Arga kembali tidak dengan tangan kosong. Kemudian mereka pun mulai mencoret muka Arkan dengan sangat hati-hati. Setelah selesai mendandani Arkan mereka tersenyum puas, Kemudian mereka duduk sambil menunggu bell berbunyi. 07.15 Akhirnya bell sudah dibunyikan. Sebagai sahabat yang baik mereka tetap membangunkan Arkan dari tidur yang lumayan panjang. "Udah bell?" tanya Arkan saat membuka mata. Mereka berempat hanya mengangguk menjawab pertanyaan Arkan. "Ayo ke lapangan," ajak Reklin. Mereka berlima pun berjalan dengan gagah menuju lapangan. Semenjak keluar kelas mereka sudah menarik perhatian para siswi SMA unjulan bangsa. Apa lagi Arkan. "Kenapa meraka ngeliatin gue segitunya," Tanya Arkan pada teman-temannya karena ia sudah sedikit merasa risih di pandang seperti itu. "Biasa Ar, pesona cowok kalo baru bangun emang beda," ucap Bima menjelaskan. Di barisan Arkan merasa kalau dirinya benar-benar menjadi tontonan, apa lagi nona manis Chika juga ikut menatap dirinya. "Segitu gantengnya diri gue kalo baru bangun ya," ucap Arkan pada dirinya sendiri. Dari apel pagi di mulai sampai apel pagi selesai Arkan masih tetap jadi tatapan utama para siswi SMA Unjulan Bangsa. Ada yang menertawainya, ada yang senyum, dan ada yang menatap dengan tatapan kagum. "Barisan bapak bubarkan, kembali ke kelas masing-masing untuk menerima pelajaran. Untuk ketua OSIS dan wakil OSIS agar bisa menghadap saya sebentar di ruangan saya," ucap pak Joko selaku pembina osis. Arkan pun pergi menuju ruangan pak Joko, saat menuju ruangan dari arah belakang ada yang memanggil namanya. "Arkan," panggil orang itu. Merasa dirinya di panggil Arkan pun menengok, "Eh ada nona manis Chika," ucap Arkan sambil senyum. Chika menatap datar Arkan kemudian memberi selembar sapu tangan, "Di kasih teman-teman lo, di suruh bersihin wajah lo dulu sebelum lo ketemu pak Joko," ucap Chika kemudian pergi meninggalkan Arkan yang masih dalam mode bingung. Arkan segera mengambil ponselnya, dan... "Shit," umpat Arkan. "Pasti ini kerjaan si manusia-manusia tolol itu, awas aja bakal gue balas lo pada," omel Arkan kemudian membersihkan wajahnya yang penuh dengan makeup. Setelah membersihkan wajahnya Arkan pun masuk kedalam ruangan pak Joko. "Jadi gini Arkan, Chika, Sekolah kita mendapat undangan untuk tandingan persahabatan melawan SMA Jaya Bakti, pertandingannya akan dilakukan di hari sabtu depan, kita hanya punya waktu satu minggu lebih." Arkan dan Chika diam menyimak. "Bapak minta kerja samanya Anggota osis, tolong tentukan rapat agar kalian bisa membahas siapa yang akan ikut bertanding." "Mengenai pertandingan apa yang akan di laksanakan akan bapak share di grup ya." "Oke hanya itu saja yang ingin bapak sampaikan, tolong bergerak dengan cepat, kita tidak punya waktu banyak." "Kalian boleh kembali ke kelas." Chika dan Arkan pun berpamitan pada pak Joko kemudian keluar dari ruangan Pak Joko. "Kapan kita rapat?" tanya Arkan serius pada Chika. "Hari ini jam pertama lo pelajaran apa?" tanya Chika balik. "Sejarah." "Gimana kalo sekarang aja, biar cepat, kita buat izin dulu ke guru piket untuk semua anggota osis." "Oke." Keduanya pun melangkah menuju ruang guru untuk meminta izin. Setelah mendapat izin para anggota osis pun berkumpul di Aula untuk mengadakan rapat. Chika menatap kagum Arkan yang sedang menjelaskan beberapa rangkaian acara yang akan diadakan dan beberapa lomba yang akan dipertandingkan. Dimata Chika, tidak ada Arkan yang tolol, Disini hanya ada Arkan yang tegas dan bertanggung jawab. Rapat berjalan dengan lancar, kedepannya sisa latihan bagi yang mengikuti lomba. LIVE COALS mengikuti lomba Basket, karena kemampuan basket mereka tidak di ragukan lagi sedangkan Chika dan Salsa beserta beberapa teman lain mengikuti lomba Voly, dan masih banyak lagi perlombaan yang diadakan. Para anggota osis keluar dari Aula dan berjalan menuju kelas masing-masing. "Chika," panggil Arkan mengejar Chika. "Kenapa sih?" tanya Chika. "Bagi nomor Wa lo, biar gue masukin di grup osis, lo belum masuk kan?" tanya Arkan yang hanya dianggukki Chika. Chika pun mengetik nomornya di ponsel Arkan, setelah itu pergi meninggalkan Arkan. "Mantab eu, cowok cakep mah dapetin cewek itu bukan hal yang sulit," kata Arkan kemudian mengemut permen Milkita rasa melon. Chika melangkahkan kaki dengan senyum yang terus mengembang, kenapa Chika jadi salting seperti ini.
beeeest
23/03/2025
0msnrap
23/03/2025
0bagus
09/08/2024
0View All