Riska memandangku dengan tajam. Tangannya terlipat di dada dengan bibir ditekuk. Napasnya naik turun, tapi saat berbicara masih halus terdengar. Dia berusaha menahan diri. Padahal aku tahu itu ... marah. "Jujur! Darimana Mas kenal dengan mereka?" Aku terdiam seperti biasa. Bukankah laki-laki harus begitu jika menghadapi wanita yang sedang marah? Agar tak terjadi luapan emosi yang semakin meledak. "Aku minta penjelasan. Dari awal ketemu Tante Sinta di butik, aku udah curiga. Kenapa dia bisa kenal Mas? Bahkan tau kebiasaan mas," lanjutnya. Riska mencecarku dengan banyak pertanyaan dan aku masih menatapnya dengan hati gamang. Aku menjadi serba salah, jika berkata jujur maka semua akan terbongkar. Aku tak mau kehilangan dia, bahkan tak sanggup hidup lagi jika sampai itu terjadi. "Jawab, Mas. Apa kamu punya masa lalu yang masih disimpan dan aku belum tahu?" cecarnya. Lagi, bibir ini bungkam. Sulit untuk mengatakan kebenaran. Masa laluku adalah aib yang sangat memalukan. Bahkan keluargaku sendiri tidak tahu. Yang mereka tahu, kiriman uang dariku lancar setiap bulannya untuk biaya sekolah Dina setelah Bapak meninggal. Ketika Ibu bertanya darimana aku mendapatakannya, aku hanya menjawab dengan bekerja sampingan. Tak ada yang curiga selama bertahun-tahun aku menjalani itu. Sampai beberapa waktu ini, Sinta muncul dan meminta hubungan kami kembali seperti dulu. "Tenang, Dek. Duduk." Aku menarik lengan Riska kemudian menatapnya lekat. Riska membuang pandangan sembari tersenyum sinis. Ternyata istriku menyimpan rasa kesal yang dipendam dan sekarang meluap begitu saja. Aku memang tidak peka, menganggap semua baik-baik saja, karena melihat sikapnya yang biasa. "Ini kamu, kan?" Dia menunjukkan kembali fotoku sewaktu di Kopi Tiam. "Aku gak bodoh, Mas. Aku tahu itu kamu." Kutelan ludah berkali-kali kemudian menarik napas panjang. "Iya, itu aku." Jujur. Sudah ketahuan, mau apalagi? "Ngapain di sana? Kok gak ngasih tau aku?" "Cuma ngobrol biasa, tapi cuma sebentar. Dia tanya kabar." "Terus?" "Kami memang pernah kenal dulu sewaktu aku masih kuliah. Tante Sinta itu baik, dia ... banyak bantu." Dengan berat hati aku mengatakannya. Posisiku sekarang terjepit, seperti tahanan yang sedang diinterogasi oleh penyidik. Jika salah menjawab maka hukumam akan bertambah berat. "Kenapa bisa begitu?" "Ya dia bantu aja. Memangnya salah? Mas kan kesulitan keuangan. Jadi dia nolongin. Kayak anak asuh gitu," jelasku dengan perasaan tak menentu, berharap Riska percaya dan tak mengungkit lagi. "Anak asuh kok mesra?" "Siapa yang mesra? Mas biasa aja," elakku. "Tante Sinta." Tajamnya ucapan Riska membuatku gregetan. Pertanyaannya tak habis-habis. Begitulah wanita jika masih belum puas akan sesuatu. "Mungkin memang gayanya begitu," jawabku asal. Matanya mendelik penuh curiga. "Mas sama orang tua asuhnya kok begitu? Kayak pura-pura gak kenal," tanya Riska lagi. Tuhan, mau jawab apa ini? "Itukan udah lama. Lagipula cuma sebentar bantuannya." Berbohong demi kebaikan bagi kaum lelaki itu sah saja, apalagi dalam situasi seperti ini. Jika dijawab jujur malah akan menambah masalah. Sekarang aku tinggal memikirkan bagaimana cara agar Sinta menjauhi kami. Pandangan mata Riska penuh selidik. Dahinya berkerut, mungkin sedang menimbang apakah akan mempercayai ucapanku atau tidak. Lalu, dia bergegas masuk ke kamar dan meninggalkan aku begitu saja. Aku menarik napas lega. Aman. *** Acara arisan keluarga kali ini akan diadakan di rumah kami. Biasanya yang datang akan lebih ramai dibandingkan di rumah yang lain. Entah kenapa mereka senang berkumpul di sini. Mungkin karena sajian yang kami diberikan berbeda dan siapapun boleh makan sepuasnya. Ibu sudah berada di sini sejak kemarin sore, menginap dan membantu persiapan memasak. Ada kamar kosong di lantai atas yang memang dikhususkan untuk siapa saja yang datang dan ingin beristirahat. Riska sudah sibuk membereskannya sebelum Ibu datang. Memang menantu idaman dia. Ibu mertuaku tidak bisa membantu karena sedang mengurus usahanya. Biasanya beliau akan datang sebelum acara dimulai. Riska tidak ke butik selama dua hari karena sibuk menyiapkan segala sesuatu. Aku sendiri tetap pergi ke bengkel, tetapi menutupnya lebih awal. "Itu sayurannya dipotong terus pindahkan ke sini. Yang ini cuci bersih." Begitulah suara Ibu memberikan instruksi. Mendengar itu Riska hanya mengiyakan dan melakukan perintahnya. "Gak usah repot masak, Bu. Pesen aja biar gak capek," ucapku santai. Aku hanya bisa menggeleng saat melihat semua kehebohan yang sedang terjadi. Segala macam jenis sayur bertebaran di meja. Entah berapa menu yang akan disajikan nanti. "Sebagian beli, sebagian masak. Kalau menu yang ini kan khas, jadi kalau beli Ibu kurang cocok," ucapnya sambil mengaduk sesuatu di panci. Tangan tua itu cekatan sekali mengolah berbagai bahan sehingga menjadi masakan yang lezat. Sekalipun usia Ibu sudah sepuh, beliau tetap bersemangat jika memasak sesuatu. "Mas, tolong tungguin di depan. Bentar lagi pesenen brownies sama lumpia aku datang. Bang ojolnya udah on the way," titah Riska. Tangannya sibuk mengerjakan satu per satu dengan telaten. "Beli di tempat biasa?" tanyaku. Riska mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya memotong-motong bahan makanan. Aku berjalan keluar dan duduk di teras, menunggu pesanan sang nyonya besar datang. Dua jenis camilan itu memang kesukaanku. Jadi, selain untuk persiapan jika ada acara, kami juga memesannya untuk cemilan sehari-hari. Tak lama menunggu, pesanan itu datang. Aku mengambilnya karena ternyata sudah dibayar lunas. Kuserahkan bungkusannya kepada Riska, yang kemudian ditata rapi dipiring saji. "Jangan dicomotin terus. Nanti tamunya gak kebagian," ucapnya sembari menepis tanganku. "Pelit amat." Kucubit hidungnya sehingga sisa krim brownies ikut menempel. Riska tergelak dan balas memukulku. Dia terlihat sangat senang. Aku sendiri merasa tenang karena sudah tak ada yang mengganggu lagi. Hari ini kami putuskan akan mengumumkan mengenai kondisiku yang sebenarnya, dan niat kami untuk mengadopsi anak. Aku memindahkan kursi juga memasang karpet agar rumah menjadi lebih luas. Piring dan lainnya sudah ditata rapi di meja prasmanan. Kami pun menunggu keluarga yang datang. Satu jam kemudian, semua berkumpul acara dimulai. Ibuku sebagai salah satu yang dituakan membukanya dengan doa. Aku hanya menyimak ketika para perempuan memulai arisan. Siapa yang dapat aku tak peduli, karena bagiku menjalin silaturahmi itu yang lebih penting. Benar saja, dalam sekejap sajian habis tak bersisa. Ibuku mendapat puja-puji. Beliau dengan bangganya membagi resep bagaimana membuat masakan seenak itu. Setelah semua selesai makan kini tibalah saatnya aku yang berbicara. "Om, Tante. Semuanya. Hari ini ada yang mau kami sampaikan," ucapku sambil merengkuh pundak Riska. Semua orang langsung terdiam dan menyimak. Beberapa yang lain saling berpandangan. "Kami berdua sudah sepakat akan mengadopsi anak." Hening. Lalu, ucapan syukur terdengar dari beberapa orang. Ada juga yang berbisik-bisik tetapi entah apa. "Kalau itu memang sudah menjadi keputusan kalian, kami mendukung dengan senang hati," ucap Ibuku bijak. "Kenapa gak coba terapi lagi, Rahman. Mana tau berhasil," saran mamanya Riska. Beliau yang sejak dulu kurang setuju jika kami mengangkat anak. "Gak bisa terapi lagi, Ma. Salah satu di antara kami yang jadi penyebabnya," jawab Riska sambil melirikku. "Benar kata Riska. Kami gak bisa punya anak kandung sendiri," ucapku melanjutkan. Bisik-bisik semakin kencang terdengar. Aku menggenggam erat jemari Riska untuk menguatkan hati. "Sebenarnya siapa sih, yang gak subur?" Kali ini Dina yang bersuara. Aku mencoba menahan diri agar tak terbawa emosi. Sikap adikku bisa membuat hati Riska terluka jika terus saja dibiarkan. "Itu ... itu ..." Riska mencoba menjawab tapi aku menahannya. Kutarik napas dalam, kemudian berkata, "Riska sehat. Dia subur. Saya yang gak bisa memberikan keturunan."
ceritanya bagus
5d
0keren banget thor 👍👍👍
25d
0bagus , happy ending..
26/05
0View All