logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 10 Bangkrut

"Kebakaran! Kebakaran!"
Suara teriakan warga sekitar menggema bersamaan dengan sirine mobil Damkar yang melintasi keramaian.
Kulihat para petugas berseragam jingga itu bergegas turun sembari sibuk menarik selang yang akan menyemburkan air. Mereka berteriak, saling memberikan perintah agar api yang sedang berkobar dapat segera dipadamkan. 
Aku terpaku dengan tangan gemetaran di depan bengkel. Bangunan kokoh yang selama ini menjadi tempat mencari rezeki itu kini lenyap dalam sekejap.
Untungnya tidak ada korban jiwa karena terjadi di malam hari saat bengkel sudah tutup. Diduga, korsleting listrik adalah penyebab utamanya.
"Sabar, Pak," ucap salah seorang karyawan sembari menepuk bahuku.
Dialah yang memberitahu karena tinggal di dekat situ. Aku terbangun di tengah malam karena sebuah telepon yang mengabari kejadian ini. Kutinggalkan Riska yang kebingungan dan bergegas menuju ke sini.
"Semangat saya hilang bersama dengan hancurnya bangunan ini," lirihku sembari tertunduk lemas. Masker yang seharusnya kupakai agar tak terpapar asap dan debu malah sengaja kubuka.
"Semua memang sudah jalannya, Pak. Kita hanya bisa menerima. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya."
Kutatap dia dengan pikiran gamang. Aku memang telah kehilangan usaha dan itu bisa dibangun kembali. Namun, mereka yang kehilangan pekerjaan justru terlihat lebih tenang dan ikhlas.
"Saya sudah gak punya pekerjaan yang bisa dibanggakan," lirihku.
Merasa tak kuat lagi akhirnya aku terduduk di tanah. Dua jam menatap kobaran api membuat napas terasa sesak. Kupasang kembali masker dan membisu, menyaksikan bangunan itu rata dengan tanah. Tak ada yang tersisa. Semua lenyap begitu saja.
"Pak. Jangan meletakkan harga diri pada sesuatu yang wujudnya materi. Jangan sampai ketika itu diambil lagi sama pemilik-Nya, harga diri Bapak ikut hilang juga."
Aku tersentak saat mendengar ucapan itu. Benar katanya, selama ini aku selalu membanggakan bengkel hingga lupa bahwa itu hanya titipan. Lagipula, semua dibangun dari hasil pekerjaan kotor, tak pantas aku menyombongkannya.
Aku tertunduk sembari menghela napas panjang, berusaha berbesar hati menerima semua. Lalu, dalam hatiku berucap, suatu hari nanti akan kubangun kembali bengkel ini.
***
Satu minggu kemudian.
"Namanya musibah, ya mau gimana lagi. Mungkin itu memang sudah jalannya," ucap papa mertuaku saat kami datang berkunjung. 
Setelah mendengar berita itu, banyak keluarga yang memberikan semangat kepada kami, terutama aku yang saat ini hanya berdiam diri di rumah.
Ada beberapa rencana yang sedang aku susun untuk kembali membuka bengkel, tetapi terkendala modal. Aku tak mendaftarkan asuransi pada saat usahaku masih berjaya. Kini, aku harus memutar otak mencari solusinya.
"Mas Rahman mau bantu aku di butik saja sementara waktu, Pa. Daripada diem-diem di rumah," jawab Riska.
"Ya bagus kalau begitu. Nganggur, kan gak enak. Mau bangun lagi belum ada dananya, kan?" tanya ibu mertuaku.
Entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan sikap mertuaku. Dulu, mereka tidak seperti ini. Sekalipun tak terlalu menyukaiku, tetapi sikapnya masih ramah.
"Itulah maksud kedatangan kami, Ma. Mau minya bantuan Papa. Soal ... modal," jelas Riska lagi.
"Loh, kok kamu yang bicara? Bukannya Rahman yang butuh?" tanya mama mertuaku ketus.
"Ini aku yang punya ide, Ma. Mas Rahman juhmga awalnya gak mau," jelas Riska lagi. Berulang kali dia menatapku agar tak tersinggung dengan ucapan mamanya.
"Ya dilihat nanti. Bangun bengkel itu kan butuh biaya besar. Gak bisa asal bangun." Kali ini papa mertuaku yang bersuara.
"Betul kata Papa. Lebih baik Rahman bantu-bantu di butik. Kumpulin modal pelan-pelan baru buka lagi."
Mama mertuaku bergegas ke dalam setelah mengucapkan itu. Aku dan Riska saling berpandangan karena tak tahu harus berbuat apa.
"Mama kenapa sih, Pa?" tanya Riska heran.
"Gak tau. Biar aja. Lagi capek mungkin. Kalian udah makan? Di dapur banyak makanan, tuh. Si Bibik habis belanja mingguan. Semua dimasak," kata papa mertuaku. Lalu, beliau juga meninggalkan kami yang masih terbengong dengan keadaan ini.
"Ayo, kita pulang aja. Suasananya lagi gak enak kayaknya."
"Ya jangan gitu, Mas. Kita ke sini kan minta tolong," rajuk Riska.
"Mas, kan bilang gak usah buru-buru. Lagian Papa juga belum tentu ada uangnya," bujuk Rahman.
"Ih, siapa bilang. Uang Papa itu masih banyak. Kalau cuma buat bangun gedung ya cukup. Isinya kan biar kita yang ngumpulin pelan-pelan."
Riska terlihat sebal dengan ucapanku barusan. Itu terlihat dari bibirnya yang ditekuk. Sebenarnya aku memang tak mau meminta bantuan orang tuanya. Pembicaraan mereka waktu itu masih terngiang di benak.
Bukannya mendendam, hanya saja aku cukup tahu diri. Setelah mereka mengetahui aku mandul saja, mertuaku menyuruh kami bercerai. Apalagi sekarang?
"Ayo kita pulang sekarang," ajakku saat berdiri dan menarik lengan Riska.
"Aku pamitan dulu. Mas tunggu di sini. Aku mau ke kamar Mama," ucap istriku sembari melepaskan cekalan.
Aku memilih untuk menunggu saja, tak sopan rasanya jika masuk ke kamar mereka. Sambil menunggu aku bermain ponsel. Tak ada gangguan beberapa hari ini. Semua terasa tenang, hanya musibah itu saja yang membuatku down. Setengah jam berlalu dan Riska belum muncul. Aku ingin menyusulnya tetapi sungkan.
Aku kembali memainkan ponsel dan membuka beberapa akun media sosial untuk melihat status teman-teman. Sengaja aku memakai akun palsu untuk menghindari mantan pelanggan lama. Dulu, saking polosnya dan begitu terdesak, aku lupa memakai nama samaran. Kini, semua sudah tak bisa disesali.
Hingga satu jam dan tak ada kabar dari Riska, akhirnya aku memutuskan untuk menyusulnya. Aku berdiri di depan pintu kamar yang sedikit terbuka, lalu urung mengetuk saat mendengar pembicaraan mereka.
"Ngapain kamu pertahankan, Nak? Lebih baik berpisah saja. Suamimu itu udah gak berguna."
Terdengar suara ibu mertuaku berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Kulihat Riska hanya terdiam dan menunduk, ingin menjawab tapi tak berani.
"Ma, jaga omongan," tegur Papa mertuaku.
"Tapi benar kan, Pa?"
"Tapi bukan begitu solusinya. Sudah benar jika memang mereka mau adopsi anak. Papa setuju saja asal pilih yang jelas di panti asuhan."
"Tapi Mama gak setuju!"
"Jangan keras hati, Ma. Kasihan anak-anak kita," ucap papa mertuaku kesal.
"Mama cuma ingin membuka pandangan Riska agar dia memikirkan masa depan."
"Ma, jodoh itu sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Selama ini Rahman juga baik sama keluarga kita. Setiap rumah tangga itu pasti ada ujiannya. Mungkin ini ujian mereka."
Aku memegang dada yang terasa begitu sesak. Ini kali kedua mama mertuaku memaksa Riska untuk bercerai. Aku mencoba mengatur napas yang memburu karena emosi.
Laki-laki tak berguna. Kata-kata itu kembali terngiang di benakku. Aku bergegas ke depan dan kembali bersikap tenang. Benar saja, tak lama istriku muncul dan langsung mengajakku pulang.
Tak ada satu katapun yang terucap dari bibir Riska sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah. Kali ini, dia yang mendiamkanku. Entah mengapa rasanya rumah tangga ini menjadi semakin hambar. Harusnya kami saling menguatkan. Sayangnya, ada banyak bisikan dari luar yang sepertinya mulai merasuki pikiran istriku.
***
"Pagi, Pak. Bu," sapa karyawan saat kami datang.
Tadi pagi saat sarapan, Riska memintaku membantu di butiknya. Aku akan di tempatkan di bagian gudang untuk menyortir kain.
Ada beberapa pakaian jadi yang dibeli istriku langsung dari pabrik. Sehingga butik selalu ready stok model terbaru. Riska akan menjahitkan sendiri jika itu sesuai dengan permintaan pelanggan dan tentu saja dengan harga yang lebih tinggi.
"Mulai sekarang Bapak bantu-bantu kita di sini, ya. Kalian jangan sungkan. Bapak nanti pegang gudang."
"Baik, Bu."
"Mas mau lihat langsung?" tawarnya.
"Boleh."
"Tapi habis itu aku tinggal sebentar. Aku ada janji sama pelanggan di cafe. Dia gak mau ke sini, kejauhan katanya."
"Boleh. Biar Mas pelajari dulu apa-apa yang perlu dilakukan."
Riska menggandeng lenganku, lalu membuka kunci sebuah ruangan di belakang. Bau aneh langsung tercium saat kami masuk.
"Buka jendelanya, Mas. Di sini memang gak dinyalain AC kalau lagi sortir. Aku nyalain kalau pas udah mau ditutup," ucap Riska saat mengambil remot AC dan mematikannya.
Seketika aroma segar langsung terhirup ke indra penciuman. Tenyata di belakang butik, ada sebuah taman mini yang di bangun Riska dan berhububgan dengan gudang ini. Aku tak pernah tahu karena selama ini terlalu sibuk dengan bengkel.
"Mas."
"Apa?"
"Papa gak bisa pinjemin modal buat bengkel."
"Ya sudah. Aku juga gak minta. Kan kamu yang ngotot."
"Tapi--"
"Apalagi?" tanyaku.
"Papa mau aku besarkan butik. Jadi modalnya dikasih buat butik."
"Alhamdulillah."
Aku mengucap syukur dalam hati. Paling tidak, dengan semakin berkembangnya butik, maka aku bisa ikut membesarkannya. Itulah yang aku tangkap dari pembicaraan Riska tadi.
"Mulai sekarang kita bangun sama-sama ya, Mas. Tanah bengkel biar aja kosong. Lagian bekas bakaran gitu nanti banyak biaya buat bersihkannya."
"Ya terserah kamu."
"Kalau gitu aku jalan dulu. Nanti telat."
Aku mengecup pelipis Riska sebelum dia ke luar, lalu mulai membuka satu per satu tumpukan kain. Dulu aku sering melihatnya melakukan ini di rumah, jadi sedikit mengerti.
Aku masih fokus memilih kain, hingga terdengar ketukan di pintu.
"Ada apa?"
"Ada pelanggan mau ketemu Ibu. Tapi saya udah bilang lagi ke luar dan bisa datang lagi besok."
"Mau pesan baju apa gimana?"
"Sepertinya iya. Tapi ini, kan pelanggan spesial. Harus ibu yang jahitkan pesanannya. Biasanya sih, dia bikin janji. Tapi hari ini mendadak datang."
"Yaudah tunggu sebentar. Saya saja yang temui."
Aku bergegas mengunci gudang lalu berjalan ke depan untuk meng-handle. Langkahku terhenti saat melihat siapa wanita yang sedang berdiri dengan posisi membelakangiku. Aku lupa kalau dia adalah salah satu pelanggan tetap di sini.
"Ya, bisa dibantu?" tanyaku gugup.
"Loh, Rahman ada di sini?"
"Iya. Riska lagi ke luar."
"Wah, kita emang berjodoh bisa ketemu lagi."
Aku melotokan mata agar dia mengerem ucapan karena para karyawan masih memperhatikan kami sejak tadi.
"Bisa ... bicara berdua?"
"Kalau memang perlunya sama Riska, baiknya kembali lagi besok."
"Gak jadi. Sekarang perlunya sama kamu."
Aku menelan ludah. Jika diusir dia akan menjadi-jadi dan menimbulkan kecurigaan.
"Kalau gitu ... ikut ke belakang."
Aku berjalan kembali menuju gudang dengan dia yang mengekori dari belakang. Begitu pintu terbuka, dia langsung menutupnya dan memelukku erat.
"Lepas!"
"Aku kangen ... kamu."
"Udah tau. Tapi tolong jaga sikap."
"Gak bisa."
"Hentikan!" bentakku.
"Jangan berisik, Rahman. Nanti yang lain curiga. Kamu mau semua terbongkar?"
"Jangan mengada-ada."
"Biarkan aku peluk kamu sebentar."
Aku menghela napas berulang kali dan akhirnya membiarkan dia memelukku erat. Sinta. Mau berulah apa lagi kamu sekarang?

Book Comment (360)

  • avatar
    Sri Sunarti

    keren banget thor 👍👍👍

    16d

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus , happy ending..

    26/05

      0
  • avatar
    Selamit Selamit

    bagus banget🫰🫰🫰🫰🫰🫰

    21/01

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters