"Nggak, Akbar, bukan cuti. Bapak memintamu untuk melepas sekolahmu. Bapak benar-benar membutuhkanmu." Aku kaget bukan main, hatiku semakin gelisah. Tak mengerti kenapa Bapak berniat seperti ini, membuatku menelan ludah dan tercekat untuk beberapa saat. "Aku bahkan gak tahu ... apakah keberadaanku di sana bakal membantu, atau justru bakal semakin mempersulit kondisi Bapak." Aku berusaha menenangkannya. "Tapi aku bakal tetep segera pulang. Aku janji, aku baru akan kembali kemari setelah kondisi Bapak sudah bener-bener baik nanti." Aku ingin menambahkan, aku cuma butuh satu semester lagi untuk menyelesaikan program S-1ku, tapi tidak mungkin, karena sepertinya itu terdengar egois. "Ini bukan soal kesembuhan bapak, Akbar, tapi ini soal Fatima. Bapak akan segera meninggalkannya di saat usianya masih sangat membutuhkan orang tua. Bapak meminta tolong yang sangat-sangat padamu, Akbar, untuk merelakan sekolahmu demi Fatima," pinta Bapak. Aku terdiam beberapa saat untuk mencerna kalimat Bapak. "Dengan menghentikan sekolahku, apa yang bisa aku lakukan untuk Fatima?" tanyaku yang merasa tak paham. "Akbar, hanya kamu yang benar-benar mengenal bapak. Hanya kamu yang benar-benar tahu apa yang benar menurut pandangan bapak dan apa yang salah menurut pandangan bapak. Jadi, gantikan posisi bapak sebagai ayahnya. Juga, kelolakan bisnis bapak. Tolonglah bapakmu ini, asuhlah Fatima seperti ketika bapak mengadopsimu dulu." Suaranya terdengar sangat khawatir dan berharap. "Ap? A-aku??" Aku tak percaya dengan apa yang Bapak minta dariku. Mengelola bisnis?? Mengasuh Fatima? Apa aku tidak salah dengar?? "Tap-tapi ... usiaku sekarang bahkan baru 22 tahun ...?" Aku sedikit tertawa, tanda benar-benar sedang keheranan. "Fatima bukan bayi lagi, Akbar, kamu bukan mengasuh dalam artian seperti itu. Bapak cuma pengen kamu yang mengurusnya setelah bapak meninggal, menjadi penanggungjawabnya setelah bapak," terang Bapak. Aku terdiam karena pikiranku campur aduk. Menyanggupi permintaan ini adalah hal yang sangat berat, tapi menolaknya juga hampir tak mungkin. Bapak adalah orang yang paling kuhormati dan kusayangi, orang yang paling ingin kubahagiakan. Selain itu aku juga sangat berutang budi padanya. Tentu aku tak ingin mengecewakan orang yang sangat berharga di hidupku itu. "Fatima sama aku dulu kondisinya sangat berbeda ...," lirihku. "Dulu Bapak mengadopsi dan mengasuhku dengan kondisi aku gak punya siapa-siapa. Sedangkan Fatima, dia punya tante, om sama kakek-nenek. Selain itu, ayah Fatima itu orang sekondang Bapak. Kalau aku yang jadi penanggung jawab Fatima menggantikan Bapak, apa yang bakal orang-orang bicarakan? Bapak bukan orang yang gak dikenal seperti bapak kandungku dulu." Aku mengiba. "Bapak sudah memikirkannya, Akbar, percayalah. Kita atur semua itu ketika kamu sudah pulang. Bapak gak mungkin mempercayakan Fatima sama selainmu. Kamu tahu sendiri kan gimana sifat saudara-saudara bapak? "Mereka gak memikirkan halal-haram uang penghasilan mereka, udah gak malu lagi tidak menjalankan shalat dan puasa, batasan-batasan antara laki-laki dan perempuan juga bukan hal yang mereka hiraukan. Bagaimana bapak bisa mati dengan tenang kalau meninggalkan Fatima cuma sama mereka? Bapak bener-bener meminta bantuanmu, Akbar." Badanku lemas. Pikiranku kalut. Aku tak punya kata-kata lagi. "Bapak mau memberikan hak asuh bapak ke kamu. Ini supaya kamu bisa jadi filter buat Fatima. Dengan ini, kamu punya wewenang buat menolak hal-hal yang bertentangan sama prinsipku dari pengasuhan Fatima," terang Bapak. "Menurut Bapak ... apa aku bisa ngelakuin itu?" tanyaku sedih, setengah merengek. "Aku takut kalau aku gak bisa seperti yang Bapak harapkan." "Kamu adalah harapan pertama dan terakhir bapak, Akbar. Kamu satu-satunya pilihan buat bapak. Bapak tidak punya rencana lain selain ini," sahut Bapak yang juga dengan nada memohon. °°•°° Aku keluar menuju balkon depan apartemen untuk menghirup udara segar walaupun udara tak benar-benar segar. Kupandangi jalanan di bawahku yang ramai dengan lalu lalang kendaraan Tak tahu apa yang akan terjadi dengan perjalanan hidupku nanti, tak bisa kuterka-terka. Yang pasti tidak akan sesuai dengan apa yang telah kurencanakan. Menulis buku tentang filsafat adalah salah satu cita-citaku. Aku ingin merevolusi buku pelajaran filsafat menjadi buku bacaan yang menyenangkan, ibarat membaca sebuah novel. Filsafat yang terkesan berat, serius, memusingkan, dan hanya teori, aku ingin mengubah kesan-kesan seperti itu. Filsafat sangat bermanfaat untuk memperbaiki peradaban karakter melalui perbaikan cara berpikir manusia. Filsafat juga sangat bermanfaat untuk menentukan pandangan hidup manusia karena ia memisahkan antara makna yang memiliki realita dan makna yang semu belaka. Buku tidak memilah-milah siapa yang pantas membacanya. Kelak, siapa saja yang membutuhkan dan menyukai filsafat, apapun statusnya, semuanya bisa membaca bukuku. Mereka bisa mengambil manfaat dan mencicipi filsafat tanpa harus duduk di bangku kuliah terlebih dahulu karena tidak semua orang yang suka dan membutuhkan filsafat memiliki kesempatan untuk mempelajarinya di dalam kelas dan sekolah. Itu adalah salah satu hal yang membuatku harus menyelesaikan study falsafahku. Walaupun tentu bukan 'selesai' dalam makna yang sesungguhnya karena Ilmu-Nya sangatlah luas, dan yang bisa kita jangkau hanyalah sebagian kecilnya saja. Akan tetapi, aku ingin menyelesaikan ilmu falsafah-Nya yang sudah dapat kujangkau dan sudah tersedia di depan mataku ini. Melalui kuliah yang aku juga sudah mendapatkan beasiswa untuk menempuhnya. Dengan hati yang tengah porak-poranda, aku terkesiap ketika melihat Kakek keluar dari apartemennya. Ia menyapaku dengan sebuah senyuman, "Akbar!" °°•°°
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 18 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (89)
Intann
karena seruu bgttt
17/09
0
Jaiza Safika
bagus
12/07/2025
0
YunitaDestynn
bagus banget kakkkkk omigatttt aku suka bangettttt
karena seruu bgttt
17/09
0bagus
12/07/2025
0bagus banget kakkkkk omigatttt aku suka bangettttt
01/07/2025
0View All