logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 Akbar 2 (Awal Mula Cerita (2))

Mungkin Kakek sudah menungguku sekarang, sebaiknya aku punya alasan saat kembali. Akhirnya aku mencari-cari salah satu buku kuliahku, walaupun sebenarnya sudah dapat kutemukan hanya dalam dua menit. Hehe.
"Ke mana aja kamu? Filmnya udah mau habis." Benar dugaanku, begitu aku membuka pintu, Kakek langsung menodongku dengan pertanyaan semacam itu.
"Iya, Kek, aku nyari buku kuliahku tadi." Kutunjukkan padanya buku itu.
"Bukannya besok kamu libur?" Kakek mengernyitkan dahi.
"Kalau insomnia aku biasanya pakai waktu insomniaku buat ngulangin bacaan," jawabku ala kadarnya.
Kakek terkekeh, tawanya begitu resmi hampir seperti batuk. "Gak heran kalau kamu berprestasi."
Aku bergumam dalam hati, hmm gak juga, Kek, aku tadi cuma cari-cari alesan aja.
Tak kusangka akhirnya aku dan Sang Kakek benar-benar tenggelam dalam keakraban. Kami sering melakukan aktifitas keseharian kami bersama-sama, belanja, memasak, makan, bahkan membersihkan rumah.
Ajaibnya, kami benar-benar membuat anak semata wayangnya cemburu, sesuai dengan rencana awal kami. Apalagi ketika anaknya tahu bahwa ayahnya juga meminjamkan mobilnya untuk kupakai kuliah.
Kecemburuannya memuncak di hari ketika ia tiba-tiba muncul setelah seminggu tak pulang, di saat kami tengah tergelak dalam canda tawa. "Kalian ini lagi main catur kan? Emang apanya yang lucu?" Pemuda itu tampak heran tak habis pikir dan juga sewot.
Aku menengok ke belakang tempat ia berdiri dan menceritakan kronologinya dengan heboh, "Baru kali ini aku bisa nge-skak-mat Kakek, tapi Kakek malah langsung nyatain diri kalah minta pertandingannya diulang. Aku tahu," Aku melirik sebentar ke arah Kakek yang tengah tertawa-tawa melihat ketidakterimaanku. "ini pasti karena Kakek bener-bener gak mau ngeliat kemenanganku ..." Aku menghentikan penjelasanku karena baru menyadari ekspresi yang semakin tak nyaman dari laki-laki berusia hampir tiga puluhan tahun itu. "Yah, sepertinya memang gak lucu kalau diceritain ... tapi kalau Anda lihat sendiri ... gimana keras kepalanya Kakek—"
"Cukup! Kamu ini mahasiswa kan? Sekolahmu juga gara-gara beasiswa, belajarlah yang serius! Gak usah repot-repot nemenin Pak Tua ini main-main." Belum selesai aku bicara, pria yang biasa dipanggil Farouq itu memutus ucapanku.
Untuk beberapa saat aku dibuat membisu oleh kalimatnya. Namun, akhirnya aku sadar diri juga. "Sebenarnya akulah yang main-main dan Tuan ini yang menemaniku." Aku mulai merasa tak enak. Aku pun berdiri, memohon diri. "Anda harus istirahat, aku akan kembali ke apartemenku."
"Akbar, kamu bisa menemuiku kapanpun kamu mau, aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Kalau anakku sama sekali tidak bisa meluangkan waktu untuk ayahnya, seharusnya ia rela-rela saja kalau ada orang lain yang mengisi kekosongan itu." Kakek merapikan pion-pion catur ke dalam kotak yang sekaligus menjadi papan catur itu.
"Ayah, apa maksudnya kalimat Ayah barusan itu??!" Farouq berdiri mendekat dan menatap lekat wajah ayahnya. Kakek hanya menatap Farouq sebentar dan kembali merapikan pion-pion catur.
"Terima kasih, Kek, assalamualaikum." Aku tak berani tersenyum maupun cemberut, dan langsung berpamitan.
Sudah lama aku berniat untuk mengatakan yang sebenarnya pada Farouq, bahwa sebenarnya Kakek sangat menyayanginya. Ia selalu menunggunya di waktu-waktu seharusnya ia sudah pulang. Kakek 'galak' hanyalah karena ia punya gengsi yang sangat tinggi. Namun, aku justru keasikan menjalankan misi sampai lupa dengan tujuan awal kami.
Baru beberapa saat sendiri di kamar, aku sudah merasa sepi. Tidak biasanya aku merasa sepi walaupun sendiri.
Aku dibuat kaget ketika ada sebuah panggilan masuk di handphone-ku. Akan tetapi, belum sempat kuangkat, panggilan itu sudah mati. Kemudian terdengar bunyi notifikasi e-mail masuk.
Akbar, kamu sibuk? Bapak boleh nelpon kamu sekarang?
Itu e-mail dari Bapak, aku pun segera membalasnya. Handphone-ku kembali berdering karena panggilan masuk. Aku merasa Bapak akan membicarakan hal penting karena biasanya e-mail sudah cukup bagi kami. Apalagi tarif telepon internasional tidaklah murah.
"Halo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Akbar ...." Bapak terdengar sumringah. Ia tertawa pelan. "Udah lama bapak gak denger suaramu."
Aku pun ikut tertawa pelan. Perasaan bahagia mengalir di dadaku. "Iya ... udah lama banget Bapak gak nelfon aku," sungutku bercanda. "Aku takut ganggu kalau nelfon duluan ... Bapak lagi sakit dan bukan orang yang gak sibuk. Apalagi Bapak pasti gak akan terus terang sama aku kalau ngerasa keganggu."
Bapak tertawa. "Ya itu emang karena bapak gak pernah ngerasa diganggu sama kamu. Coba deh sekali-kali ganggu bapak, bapak pasti bakal terus terang," godanya.
Aku menyusulnya tertawa. Rindu yang memuncak rasanya sangat terobati. "Ada apa, Bapak? Apa ada hal penting?" Aku memulai pembicaraan lain sebelum tak sanggup berbicara karena saking meluapnya perasaan bahagiaku.
"Iya ...." Dari suaranya aku menangkap kegelisahan. "Akbar, dari pembicaraan-pembicaraan bapak sebelumnya ... apa kamu gak paham apa yang bapak harapkan darimu?"
Aku mulai was-was. "Ah ... iya ... sebenernya aku belum tahu persis apa yang sebenernya Bapak mau. Aku baru mau nanyain Bapak soal itu."
Ia kemudian terdengar mengambil napas panjang-panjang. "Penyakit paru obstruktif kronis bapak sudah sangat akut. Bapak ingin kamu tinggal di sini sebelum ajal menjemput bapak."
Baru saja aku merasakan kebahagiaan yang tiada tara, kesedihan langsung mengambil alih merayapiku. Kalimatnya membuatku panik. "Tentu aja! Aku bakal sesegera mungkin ada di samping Bapak kok, tapi aku tetep percaya kalau Bapak insya Allah pasti sembuh. Jadi Bapak jangan berpikiran begitu lagi. Ya?" tanyaku. "Ah aku bakal urus cutiku sekarang!" Aku berseru. "Ini-ini, ini aku berangkat!" Aku beranjak dan mencari-cari ranselku.
"Nggak, Akbar, bukan cuti. Bapak memintamu untuk melepas sekolahmu. Bapak benar-benar membutuhkanmu."
Aku kaget bukan main, hatiku semakin gelisah. Tak mengerti kenapa Bapak berniat seperti ini, membuatku menelan ludah dan tercekat untuk beberapa saat.
------

Book Comment (89)

  • avatar
    Intann

    karena seruu bgttt

    17/09

      0
  • avatar
    Jaiza Safika

    bagus

    12/07/2025

      0
  • avatar
    YunitaDestynn

    bagus banget kakkkkk omigatttt aku suka bangettttt

    01/07/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters