logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 Bang Agam Semakin Mendekat

"Arumi!"
Aku mengangkat kepala yang sedari tadi menunduk menghadapi pandangan orang-orang.
"Rahma! kamu di sini juga?" tanyaku sembari menyeka buliran bening yang kucoba tahan namun menetes juga.
Rahma duduk setelah celingukan melihat orang-orang di kiri dan kanan. Mendelikkan matanya pada mereka mengkode agar menjauh.
Sebelumnya banyak yang telah pergi memang sesudah kepergian Mona dan Bang Agam. Namun, masih ada juga yang tetap di tempatnya, masih mencuri-curi pandang ke tempatku duduk.
"Ada apa, Rumi? tadi aku mendengar ocehan orang-orang jika ada pelakor yang dilabrak." ujar Rahma pelan.
"Apa yang terjadi?" Rahma kembali bertanya karena aku hanya diam.
Mendengar pertanyaannya aku semakin terisak. Sudah kuduga, pasti orang yang menonton pertunjukan yang dibuat Mona tadi akan men-cap aku sebagai pelakor.
"Kamu yang sabar ya?!"
Kemudian Rahma menarik kepalaku ke pelukannya. Tangisku semakin menderas di bahunya. Aku seperti mendapat tempat menumpahkan segalanya. Selama ini aku tak punya sahabat, keluarga apa lagi. Sehingga semua persoalan kupendam sendirian.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, aku mengangkat kembali kepalaku dari bahu Rahma.
"Ma, aku pulang dulu ya!" ucapku sambil menghapus air mata dengan tisu.
"Mamak kenapa menangis?" Delima menatapku dengan raut kebingungan.
"Kita pulang sekarang Sayang ya?!" ajakku pada Delima tanpa menjawab rasa penasarannya.
"Kalian ke sini pakai apa? bawa motor?" tanya Rahma mencegah aku bangkit dari kursi.
Aku menggeleng, "Tadi perginya sama Ayahnya Delima, sekarang kami pulangnya pesan taksi online saja." jawabku kemudian memanggil pekerja di gerai bakso ini untuk membayar.
"Aku antar, ayo!" Rahma ikut bangkit dan menggenggam tangan delima, menggandengnya mengajak keluar. Aku mengikuti dari belakang setelah membayar.
"Aku dan Bang Agam telah bercerai sejak tujuh bulan lalu, Ma." aku menutup cerita tentang apa yang barusan terjadi di Mall sesesaat setelah kami tiba di rumah.
"Jadi, istri Bang Agam sekarang sepupumu sendiri?" Rahma tampak terkejut mendengar kenyataan kisahku.
Aku mengangguk, "Begitulah ..." jawabku pasrah.
Rahma menepuk-nepuk pundakku dengan tatapan prihatin. Hidupku memang memprihatinkan. Ibu meninggal karena melahirkan aku dan Ayah yang entah masih hidup atau tidak. Kini, ditambah lagi suami meninggalkan dengan alasan tidak cinta dan menikahi sepupuku pula. Lengkap sudah.
"Jika butuh apa-apa, aku selalu ada Rumi. Jangan sungkan-sungkan menghubungiku, ya?!" Rahmi mengeratkan genggaman tangannya seolah ingin menguatkan.
Aku mengangguk. Sekian lama tak punya tempat berbagi, kehadiran Rahma yang tiba-tiba menjadi oase untukku tentu saja. Entah kebetulan atau tidak, Rahma menawarkan persahabatan di saat yang memang kubutuhkan. Padahal kami sudah kenal lama, tetapi justru dekat hari ini. Kenapa tidak sejak dulu saja kami bersahabat. Entah lah ...
"Eh iya, aku sudah berbalas pesan loh Rum dengan kembaranmu." Rahma mengalihkan pembicaraan.
"Kembaran?" kutautkan alis tak mengerti.
"Kamu lupa? itu loh, si selebgram." jawab Rahma sembari merogoh tas tangannya dan mengeluarkan ponselnya dari sana.
"Ini." Ia menyodorkan ponselnya yang berisi pesan-pesan antara ia dan Karina si selebgram di aplikasi Instagram.
Aku membaca semuanya tanpa terlewat. Penasaran juga dengan keantusiasan Rahma.
"Dia mau ke sini?" tanyaku tak percaya.
"Iya, kamu baca sendiri 'kan?" Rahma tersenyum.
"Untuk apa?"
"Ya, bertemu kamu lah, Rum." balas Rahma malah semakin mengeraskan tawanya.
"Sudah aku bilang 'kan feeling-ku jarang meleset." Rahma jumawa.
"Tapi belum tentu orang yang mereka cari itu aku." gumamku lirih.
"Ya, ketemu saja dulu, apa susahnya sih?" Ucap Rahma santai.
"Kapan?"
Rahma hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya. "Belum pasti." jawabnya kemudian.
***
'Kania mengikuti anda'
Sebuah pemberitahuan muncul saat aku membuka akun Instagram. Hah? nggak salah ini, seorang selebgram mengikuti aku. Aneh saja rasanya, akunku yang hanya punya beberapa ratus pengikut diikuti oleh seseorang yang punya pengikut puluhan ribu.
Saat sedang asik memanjakan mata di Instagram, sebuah notif lainnya muncul di layar ponsel bagian atas.
Aku membuka pesan what'sapp dari nomor tak dikenal.
[Kalau kau masih mendekati Bang Agam, tunggu saja, akan aku buat lebih malu dari tadi.]
Mona!
Pasti itu dari Mona.
[Kita lihat Bang Agam bakal bertahan sama kamu atau kembali padaku.]
Tulisku segera menekan send. Tak sabar menunggu balasan dari Mona.
[Setan, jangan coba-coba bermain-main dengan aku.]
Mona terlihat begitu geram sampai menyebutku setan. Sebegitunya dia. Ada apa sebenarnya? Bukankah ia sudah mendapatkan yang ia inginkan?
Malas memperpanjang pesan, aku menutup aplikasi telepon hijau itu dengan terlebih dahulu memblokir nomornya.
Kusimpan ponsel di samping lalu aku meraih sebuah Novel berjudul 'Suami Bilang Aku Jelek!' karya penulis favoritku, Fadiatur Rahmi. Ceritanya seru, kadang bisa buat nangis karena kasihan sama tokohnya, kadang aku tertawa sendiri karena kekonyolan tokoh utamanya, Maya.
Baru beberapa lembar aku membaca yang sedikit lagi tamat bukunya, ponselku kembali bergetar.
'Ayah Delima memanggil ...'
"Assalamualaikum, Bang." sapaku menjawab panggilan.
"Rumi, maafkan sikap Mona tadi pagi ya!" ujar Bang Agam seperti ragu-ragu.
"Iya, nggak apa Bang, aman itu." ucapku santai, seolah aku biasa saja.
"Syukurlah ..., terima kasih Rumi." terdengar suara Ayah Delima itu melega dan selanjutnya getar suaranya kembali santai seperti biasa.
"Ayah, Ima mau martabak keju." Delima berteriak di ponsel begitu aku menyerahkan ponsel padanya.
"Oke, tunggu ya, Ayah belikan sekarang. Coba tanya Mamak mau makan apa?"
Aku mendengar Bang Agam bertanya pada Delima karena memang ponselnya aku nyalakan loud speaker sedari tadi.
Delima menatap aku. Kuberikan gelengan kepala.
"Mamak nggak mau apa-apa, Yah." ujar Delima memberitahu Ayahnya.
"Baiklah, untuk Mamak, Ayah belikan salad buah aja ya seperti biasa." ucap Bang Agam lagi.
"Sebentar lagi Ayah antar. Tunggu ya sayang!" Bang Agam menutup ponselnya setelah berbicara dengan Delima.
Bang Agam mau kemari lagi. Aku melirik jam dinding, sudah pukul sembilan malam. Bagaimana jika dilihat tetangga? Aduh.

Book Comment (795)

  • avatar
    ShadowMao

    keren

    12d

      0
  • avatar
    LeguTian

    saya senang dengan ceritanya

    19/06

      0
  • avatar
    May

    sangat baguss dan suka bgtt SMA alur ceritanya

    18/06

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters