Aku harus memberi tau mama kalau menantunya sudah sadar. Mama pasti senang. Dari kemarin dia tak bisa kesini karena sibuk mengurus perbaikan di rumah. Ada beberapa kamar yang warna catnya diganti terutama kamarku. "Langit.." seseorang memanggil namaku yang membuat aku harus menghentikan langkah. Suara yang sudah tak asing lagi di indra pendengar ku. "Sa." "Istri lo gimana? Udah sadar?" Salsa baru datang lagi ke sini setelah kemarin minta izin pulang ke Bandung. Aku merasa bersalah sudah merepotkan adik sepupu ku ini. Ya, bahasanya memang sedikit kurang ajar padaku tapi itu sudah biasa karena kami besar bersama di kota, bahasa lo-gue adalah bahasa interaksi kami. "Barusan," jawab ku sekenanya. "Syukurlah. Eh, Ngit. Kata Hendra si Mak Lampir bakal pulang besok, Biru gimana dong?" Ya, dia memang tak menyukai Laras dan berkali-kali meminta ku putus dari gadis itu tapi seperti yang sudah ku katakan, Laras gadis nekat dan aku si pengecut, aku ga bisa lakukan itu. ''Gue udah tau, dia udah telpon tadi.'' ''Terus lo udah ngomong soal pernikahan elo dan Biru?" Salsa menjadi panik. Aku tau dia juga memikirkan hal yang sama dengan ku, kita sama-sama memikirkan tentang keselamatan Biru. Aku tak pernah rela jika Laras menyakiti dia. ''Ga, gue ga ngomong apapun soal itu dan gue harap elo juga sembuyikan dulu semua ini. Lo tau kan maksud gue apa?" ''Oke deh, gue percaya sama lo. Gue harap lo bisa secepatnya bebas darinya. Kasian Biru yang juga jadi korban di sini,'' pesannya menepuk bahu ku menguatkan. Aku menaikan ujung bibir memberikan senyuman yang sangat dipaksakan. Bagaimana bisa aku akan tenang jika urusannya dengan Biru. Rencanaku untuk membuat nya bahagia setelah pernikahan kami akhirnya kandas karena kepulangan Laras yang tiba-tiba. Sedikit informasi, Laras berada di luar negeri bersama orang tuanya dan Hendra adalah pacar Salsa yang masih sepupu Laras. Alih-alih marah ketika aku terang-terangan mengungkapkan niat untuk mengakhiri hubungan ku dengan sepupunya, Hendra malah memberi semangat 45 untuk ku karena dia mungkin juga bosan melihat perlakuan Laras yang seenak nya padaku. *** Hari pertama Biru akan pulang ke rumah ku, ya ini pertama kalinya dia akan tinggal bersama ku. "Assalamualaikum.." "Wa'alakumsalam.." bi Hanum menyambut kedatangan kami. Art ku itu sudah menyiapkan makanan untuk kami bersama mama sebelum mama menjemput menantunya ke rumah sakit. "Nak Biru, selamat datang di rumah Barumu." Mama memberi selamat pada Biru yang tersenyum malu-malu. Aku tau dia kebingungan dengan semua yang terjadi begitu cepat tapi itulah takdir, kita tak tau kapan dan dimana jodoh akan mempertemukan kita. "Langit, ayo masuk!" Perintah mama saat aku masih berdiri depan pintu menatap Biru yang sudah di rangkul mama untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan. "Mari Bunda," ajakku pada wanita paruh baya yang tersenyum padaku. Malam ini Bunda akan menginap di sini. Tapi, hanya malam ini karena malam-malam berikutnya tak bisa. Beliau tak bisa meninggalkan anak-anak panti terlalu lama meskipun ada bu Darmi yang menggantikannya di sana. "Langit itu suka sekali makan sayur sup loh, tiap kali mama buat pasti dia yang habisin." Mama membuka suara menceritakan makanan favorit ku pada Biru yang entah Biru mau dengar atau tidak. Kulihat dia tersenyum. Ah, sangat manis dan tak bisa ku hindari untuk tersenyum juga karena nya. Istriku sangat cantik, batinku. Selesai makan aku mengantar Biru ke kamar, setelah sebelumnya menceritakan semua rencanaku pada mama dan Bunda. Aku tak mau menjalankan nya sendiri, takut kalau-kalau nanti ada kesalah pahaman yang diterima Biru saat waktunya aku harus jujur. Meskipun berat, mama akhirnya setuju atas rencanaku yang sebenarnya menyiksa diriku sendiri. Bagaimana bisa aku akan tetap acuh pada istri yang sangat ku sayangi. Tapi, lagi-lagi aku ingat ini semua demi dia, demi keselamatannya. "Kamu istirahat di sini, aku biar tidur di ruang kerjaku nanti," ujarku tanpa berani menatapnya. Sangat berat memang, tetapi ini bagian dari rencana ku dan lagi pula aku juga belum tau bagaimana perasaan Biru padaku. Mungkin saja dia senang dengan caraku ini 'kami pisah ranjang'. Aku berniat meninggalkan nya agar lebih nyaman istirahat. Mungkin saja aku, si suami dadakan ini membuatnya tak nyaman berada satu ruangan dengan ku. Tapi, suara lembut itu berhasil menghentikan ku membuat gelenyar hangat dalam hatiku saat dia mengatakan terimakasih. "Terima kasih, Mas-Langit." lirihnya parau. Aku berbalik menatap nya dan mengangguk, segera ku langkahkan kaki keluar dari kamar, kalian tau apa yang kurasakan kan? Dia memanggil ku Mas? senyum ku tak bisa ku hilangkan, aku sendiri tak tau mau ke mana sebenarnya. Mama dan Bunda sudah tidur, bi Hanum apalagi. Ya satu-satunya tujuan untuk menghindari kebersamaan bersama Biru adalah menonton TV sementara waktu sampai aku benar-benar yakin dia sudah tertidur baru aku balik ke sana. Ruang kerjaku bersampingan dengan kamarnya,kamar tidur ku. Sesekali mungkin aku bisa masuk kesana mengambil barang-barang ku karena tak mungkin semuanya ku pindahkan ke ruang kerja yang tak seluas kamarku. Beberapa saat menghabiskan waktu dengan siaran TV yang ku gonta-ganti Chanel nya berkali-kali akhirnya ku putuskan untuk masuk ke kamarku untuk mengambil ponsel yang tertinggal di sana. Niatnya masuk tanpa membangun kan Biru tapi aku harus menghentikan langkah ku saat membuka pintu. Ku lihat dia sedang sholat. Bahagia sekali hatiku bisa memiliki wanita sholehah ini. "Belum tidur?" ujarku setelah melihatnya salam, basa basi memang. Kulihat dia sedikit terkejut dan mengurungkan niatnya untuk membuka mukenahnya di depan ku. Ya Allah.. aku sudah jadi suaminya. Tapi, Biru seperti nya masih takut mengizinkan ku untuk sekedar melihat rambutnya yang sebenarnya sudah ku lihat ketika dia di rumah sakit. "Mas Langit?" Dia begitu gugup. "Aku cuma mau ambil ponsel ku yang ketinggalan, kamu ga perlu takut," kataku sekenanya, bukankah memang dia takut karena keberadaan ku disini membuat nya tak nyaman. Ku ambil ponsel ku dan segera meninggalkan nya di sana. Satu tujuanku sekarang adalah mengambil air wudhu. Aku merasa tak pantas untuk nya yang rajin beribadah sementara aku malah sering bolong dalam sholat dan bodohnya aku tanpa rasa malu meminta banyak hal pada Rabbku termasuk menjodohkan ku dengan Biru dan Tuhan ku selalu mengabulkan nya. Ya Allah...ampuni hamba, terima kasih sudah menegur hamba dari nya. Takdir tuhan tak pernah salah, mungkin Biru adalah salah satu cara Tuhan untuk membuat ku dekat dengan nya, karena semenjak ada Biru di hidupku, aku menjadi termotivasi untuk beribadah lebih rajin meskipun tak serajin Biru. Dalam sujud dan do'aku kali ini yang ku pinta adalah bagaimana cara agar aku dan Biru tetap bersama serta cara lepas dari Laras agar hidup kami tenang. "Maafkan aku Biru, jika besok aku harus bersikap acuh padamu, maafkan aku yang tak bisa menjadi suami yang baik untuk mu. Tapi, ini hanya sampai aku benar-benar lepas dari Laras. Aku takut dia menyakitimu," lirihku memandang foto istriku yang dua bulan lalu ku abadikan secara diam-diam dengan ponsel ku. Dering ponsel membangunkan ku setelah melanjutkan tidurku selepas sholat subuh, aku selalu begitu jika hari libur, dan mataku terbelalak melihat namanya. Laras. "Halo Ras." "Morning Beib, aku udah di depan rumah kamu nih." Apa?? Laras ada di depan?? Gawat?? Bukanya dia pulang nanti sore? Ah.. menyebalkan. "Halo Sayang, kamu masih disana kan?" Suaranya terdengar cemas. "I-iya, aku segera keluar," jawabku dan mematikan telepon lebih dulu, salah satu yang tak disukai nya. Ku lihat kamar Biru masih tertutup rapat, ini sudah jam 7 Biru tak mungkin masih tidur. Aku bersyukur jika dia benar masih tidur artinya dia tak perlu bertemu Laras.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 26 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (246)
Yu Ayuu Opi
Bagus banget ceritanya ,,
sedih,lucu, dan so sweet
08/05/2022
0
KusumaAlus Wirahadi
Novel ini adalah perjalanan emosional yang memikat, membangun dunia yang terasa begitu nyata hingga saya tenggelam sepenuhnya di dalamnya. Alur ceritanya mengalir indah, penuh kejutan yang tidak terduga, dan pembangunan karakterisasinya sungguh brilian. Protagonisnya memiliki kedalaman dan kompleksitas yang membuat pembaca benar-benar peduli pada nasib mereka. Setiap bab menyisakan jejak pertanyaan filosofis dan refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan pengorbanan. Ini adalah karya sastra
Bagus banget ceritanya ,, sedih,lucu, dan so sweet
08/05/2022
0Novel ini adalah perjalanan emosional yang memikat, membangun dunia yang terasa begitu nyata hingga saya tenggelam sepenuhnya di dalamnya. Alur ceritanya mengalir indah, penuh kejutan yang tidak terduga, dan pembangunan karakterisasinya sungguh brilian. Protagonisnya memiliki kedalaman dan kompleksitas yang membuat pembaca benar-benar peduli pada nasib mereka. Setiap bab menyisakan jejak pertanyaan filosofis dan refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan pengorbanan. Ini adalah karya sastra
24/11
0bguss
31/07/2025
0View All