logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bluesky 2

Langit POV
Nama ku Langit, Langit Julian Pratama. Kemarin tepat dihari kelahiran ku, aku harus mendapatkan kejutan yang super istimewa dari pemilik ku. Benar-benar tak bisa didustakan nikmat yang  diberikan pada hamba-NYA.
Entah kenapa, di dorong rasa panik, gugup dan kasihan yang menyatu dalam diriku, aku bisa mengatakan hal itu dengan tegasnya. Aku bisa mengatakan akan menikahi dia, Biru, gadis yang kini menjadi istri ku. Ini memang sangat-sangat di luar kehendak ku, ini terjadi begitu cepat dan tanpa direncanakan. Aku menikah dengannya.
Jika kalian bertanya apa aku menyesal? tentu saja tidak!.
Kenapa?
Karena dia, dia adalah gadis yang selama ini ku pinta di setiap sujudku pada sang ilahi, dalam setiap harap dan do'aku.
Pertemuan kami di rumah sakit bukan lah pertemuan pertama. Aku bertemu dengannya pertama kali  saat penyuluhan di Panti Asuhan Kasih Ibu, tempat dimana dia dibesarkan.
Gadis yang begitu anggun dan lemah lembut tutur katanya.
Sejak pertama bertemu dengannya entah kenapa rasanya begitu berbeda, tak seperti ketika aku berada di dekat wanita lainya termasuk Laras yang menjadi kekasih ku selama dua  tahun terakhir.
Berkali-kali aku ingin mengakhiri hubungan ku dengan Laras. Tapi, dia gadis nekat, bahkan sangat nekat.
Berkali-kali dia mengancam ku akan bunuh diri jika aku melukainya. Pernah sekali, aku biarkan saja dia melakukan apapun setelah ku akhiri hubungan kami.
Tapi, yang Laras ucapkan bukan hanya ancaman, gadis saiko itu berlari menghadang mobil ku saat melaju meninggalkan nya dan alhasil dia tertabrak oleh mobil lain yang datang berlawan arah dengan ku, dia terluka dan itu karena aku.
Laras belum tau pernikahan ku dengan Biru dan sebaiknya dia tak perlu tau, karena akan sangat bahaya bagi aku dan Biru, aku yakin Laras tak akan biarkan aku semudah itu lepas darinya.
"Sayang makan dulu ya."
Suara mama mengagetkan ku saat aku sibuk menatap wajah pucat istriku yang belum juga sadarkan diri pasca operasi dan ini sudah hari ke 5 nya, padahal operasi nya begitu lancar.
"Langit masih kenyang mah."
"Sayang..kamu ga boleh gitu, kamu kan mau cepet sembuh biar bisa rawat istri kamu."
"Sakitnya Langit ga terasa kalau udah liat wajahnya." aku mengode dengan daguku pada mama dan mendapatkan cubitan kecil darinya.
Ya, memang hanya mama yang tau semua yang kurasakan selama ini. Cuma mama yang tau bahwa aku mencintai gadis ini sejak dua bulan lalu.
"Harus sehat dulu biar dia bisa nyaman sama kamu," titah mama yang langsung menyuapi ku makanan
dan langsung ku terima agar beliau tersenyum. Tak ada yang lebih membahagiakan bagiku selain senyuman mama dan...istri ku.
"Assalamualaikum."
"Wa'alakumsalam," jawab kami bersamaan ketika seorang wanita paruh baya memasuki ruangan ini.
Beliau tersenyum padaku begitu manis.
"Nak Langit, terimakasih ya. Bunda bener-bener ga tau kalau nak Langit adalah anak mba Ranti yang selama ini dia ceritakan."
"Sama-sama Bunda, saya sangat berterima kasih pada Bunda karena telah mengizinkan saya menikahi Biru meski belum tau siapa saya."
Entah apa yang sebelumnya mama ceritakan pada sahabat nya ini, yang terpenting aku bahagia mengenal mereka.
****
Ku rapikan nakas di ruang rawat Biru dan tak lupa menggantikan cairan infus nya yang sudah habis.
Aku tak tau bagaimana aku akan bersikap padanya nanti, aku takut dia sebenarnya terpaksa menikah dengan ku, aku takut jika Biru akan meminta ku pergi darinya.
Ku tinggalkan dia sebentar bersama Bu Halimah yang kini ku panggil Bunda. Sudah hari ke enam pasca operasi Biru belum sadarkan diri juga.
    Kembali ku langkahkan kakiku menuju ruangan nya karena aku tak bisa jauh dari dia. Tapi, rencanaku harus terhenti dengan sebuah panggilan masuk di ponsel.
''Laras?’'
  "Halo sayang, kamu kok ga pernah kasi kabar ke aku?" Berceloteh dengan manja yang buat aku muak dengan sikapnya yang selalu ingin menang sendiri.
"Ras..aku..aku."
"Kamu kenapa Langit? Jangan bilang kalo kamu punya wanita lain selain aku!" suaranya terdengar marah.
"Ga kok, kamu tenang aja."
Dengan berat hati aku harus berbohong padanya sementara waktu demi Biru.
"Aku pulang ke Jakarta besok, aku kangen sama kamu."
"Be..besok?"
"Iya,kenapa?"
"Oke,aku tunggu ya. Ya udah, Ras aku lagi di rumah sakit ga enak sama yang lain kalau telponan terus."
"Oke Sayang, bye."
Ku hela napas panjang berkali-kali untuk menenangkan pikiran. Sekarang aku tau harus bersikap bagaimana pada Biru, demi keselamatan nya.
   "Assalamualaikum."
"Wa'alakumsalam. Nak Langit, Biru.."
Aku menoleh padanya yang sudah membuka mata entah sejak kapan, aku senang melihat nya sudah bangun.
   "Maaf Bu, boleh kita bicara sebentar," pintaku tanpa berbicara apapun pada Biru, aku tau Bunda heran tapi dia mengikuti ku keluar.
"Ada hal apa, Nak Langit." tanyanya ketika kami sudah ada di luar kamar Biru.
  Aku tak sanggup mengatakan nya tapi ini harus ku lakukan.
"Bunda..maafkan Langit. Sepertinya, Langit harus pura-pura acuh pada Biru untuk sementara waktu."
"Kenapa, Nak?" kulihat air mukanya berubah setelahku katakan hal itu.
"Laras," lirihku dan menghela nafas berat.
  Ku ceritakan semua tentang ku dan Laras dan bagaimana nekatnya wanita itu, aku takut jika Laras tau aku mencintai Biru dia akan melakukan hal-hal yang tak di inginkan pada Biru aku tak mau itu terjadi.
   Bu Halimah menepuk bahuku dengan lembut, menyalurkan ketenangan atas kegelisahan ku.
"Lakukan apa yang kau anggap baik Nak Ibu serahkan Biru padamu," ucapnya dengan lembut disertai senyuman penenang.
"Bunda tidak marah pada Langit?"
"Kamu sudah berkorban untuk anak Bunda, dan pengorbanan kamu cukup besar. Apa Bunda masih bisa meragukan kamu, Nak?"
Aku memeluk nya erat, aku bisa tenang sekarang. Biru..maafkan aku.
  Kami kembali ke ruangan. Biru yang tadinya tak memakai hijab nya sekarang hijab berwarna Biru langit miliknya sudah bertengger di kepalanya.
   Ku dekati ia untuk memeriksa kondisi nya. Tapi, saat ku ulurkan tangan  padanya, Biru malah menarik tangannya.
   Aku menatapnya heran dan dia menggeleng. Seperti mengerti, Bunda mendekati kami.
"Sayang...izinkan dia menyentuh mu, dia sudah berhak atas kamu sekarang. Dia kan Suami kamu."
  Biru mengeryit heran, mungkin dia lupa kejadian hari itu, Ya Allah sebegitu tidak penting kah pernikahan kami baginya hingga dia lupa hari yang bersejarah itu.
  "Su..suami?" tanyanya keheranan, ternyata Biru benar-benar lupa.
"Iya nak, dia Suami kamu. Sebelum operasi berjalan, kalian kan sudah menikah."
   Dia beralih menatap ku yang siap mengeluarkan dua buku kecil bertuliskan 'Buku Nikah'
"Ini milik kamu, di sana belum ada fotonya jadi nanti kita foto untuk buku nikah nya belakangan," sambutku. Ku lihat dia terkejut tapi berusaha di sembunyikan.
  "Astagfirullahall'azim..Biru baru inget," lirihnya parau dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Syukurlah dia ingat, aku sedikit lega mendengarnya.
"Sekarang, boleh aku periksa kondisi kamu?" Tanyaku to the point karena aku memang harus melakukan itu.
 
Biru menoleh pada Bunda dan mendapatkan anggukan kecil dari paruh baya yang baik ini.
Aku menyentuhnya untuk kesekian kalinya tapi rasa ini benar-benar berbeda. Biru seperti masih takut padaku tapi dia coba tepis dan aku bisa merasakan itu.
   "Keadaan nya sudah membaik, hanya butuh istirahat untuk yang cukup untuk pemulihan. Besok mungkin bisa dibawa pulang jika Biru tak ada keluhan lain," ujarku dan mendapatkan anggukan keduanya.
Biru pulang, aku senang, hehe..
  "Terimakasih, Nak Langit."
"Jangan berterimakasih terus pada Langit Bunda."
Aku tersenyum padanya sebelum minta izin untuk meninggalkan ruang itu lagi. Aku harus memberi tau mama kalau menantunya sudah sadar, mama pasti senang. Dari kemarin dia tak bisa kesini karena sibuk mengurus perbaikan di rumah. Ada beberapa kamar yang warna catnya diganti terutama kamarku. Kalian penasaran ga mama menggantinya dengan warna apa?
Shutt.. perpaduan warna namaku dan istriku.
"Langit.."
seseorang memanggil namaku yang mengharuskan aku menghentikan langkah. Suara yang sudah tak asing lagi di indra pendengar ku.

Book Comment (246)

  • avatar
    Yu Ayuu Opi

    Bagus banget ceritanya ,, sedih,lucu, dan so sweet

    08/05/2022

      0
  • avatar
    KusumaAlus Wirahadi

    Novel ini adalah perjalanan emosional yang memikat, membangun dunia yang terasa begitu nyata hingga saya tenggelam sepenuhnya di dalamnya. Alur ceritanya mengalir indah, penuh kejutan yang tidak terduga, dan pembangunan karakterisasinya sungguh brilian. Protagonisnya memiliki kedalaman dan kompleksitas yang membuat pembaca benar-benar peduli pada nasib mereka. Setiap bab menyisakan jejak pertanyaan filosofis dan refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan pengorbanan. Ini adalah karya sastra

    24/11

      0
  • avatar
    sandra233nadia

    bguss

    31/07/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters