Ada hati yang tidak pernah memiliki, tapi merasakan patah hati. ** "Gi," panggil Aiza pada Egi yang sedang memainkan handphone. Egi bergumam dengan mata yang masih fokus pada layar handphone menampilkan game yang selalu dia mainkan dengan teman-teman. "Egi," panggil Aiza kembali menyadari Egi belum juga memperhatikannya. "Iya," balas Egi namun masih juga sibuk bermain game, tangannya begitu lincah bergerak di atas layar handphone. "Regi!!" seru Aiza kesal karena sahabatnya itu masih saja fokus bermain padahal dia ingin bercerita. Egi terlonjak dan mengumpat saat melihat layar handphone menampilkan tulisan game over. Lalu menoleh mendapati Aiza yang sudah menekukkan wajahnya. "Apaan sih, Za. Ganggu banget." "Tau gini, gue langsung pulang ke rumah aja." Aiza merajuk karena Egi kembali asyik dengan handphonenya lagi. "Ciee ... Ngambek," bukan merayu malah menggoda Aiza dengan wajah jahilnya. "Tau ah. Sebel." Aiza melipat tangannya di depan dada, menggemaskan sekali di mata Egi kalau melihat gadis yang sejak dulu berstatus menjadi sahabatnya ini tengah dalam mode sebal, merajuk. Namun tentu saja Egi tidak mau kalau Aiza benar-benar kesal kepadanya dan membuat Aiza ngambek beberapa hari. "Eh ... Jangan ngambek dong," ucap Egi yang akhirnya menyimpan handphone di atas meja. Saat ini mereka berada di halaman rumah Egi, di hari minggu setelah mereka lari pagi mengelilingi komplek perumahan tempat tinggal mereka. "Abisnya. Sekali aja gak usah main game dulu." "Iya maaf. Emang lo mau apa sih?" tanya Egi memilih mengalah dan mendengar apa yang akan Aiza katakan. "Gue mau cerita." "Soal apa?" tanya Egi tampak begitu penasaran. "Kak Dimas." Egi mengangguk dan ber-oh ria saja mendengar perkataan Aiza yang menyebut nama Dimas. Ada perasaan tidak suka saat Aiza menyebutkan nama laki-laki itu. "Mau dengerin gak?" tanya Aiza melihat respon laki-laki itu hanya mengangguk. "Iya, kenapa emang?" meski tidak suka dengan apa yang Aiza akan ceritakan tetapi demi membuat Aiza senang Egi akan mendengarnya. "Udah sebulan kan gue deket sama dia. Lo juga tau kalau gue suka sama dia, kira-kira dia suka juga nggak ya sama gue?" Aiza mulai menyampaikan curhatannya. Tidak terasa memang dia dan Dimas sudah saling mengenal selama satu bulan ini. Perasaan dia kepada Dimas semakin melekat dalam hati, ketertarikannya kepada lawan jenis membuat hatinya berdebar setiap bertemu dan berdekatan dengan Dimas. Tetapi Aiza tidak tahu apa perasaan dalam hati Dimas sama seperti yang saat ini dia rasakan atau malah tidak sama sekali. Mana gue tau. Ingin Egi mengatakan itu kepada sahabatnya tetapi mana mungkin dia katakan yang nanti membuat Aiza kesal kepadanya. Kenapa gak tanya sama dia aja?" akhirnya Egi memilih untuk balik bertanya. Dia juga tidak tahu kan perasaan Dimas kepada Aiza bagaimana. Jangan kan tahu, kenal saja Egi tidak. "Heh!! Yang ada gue malu!" protes Aiza kepada Egi. "Masa cewek tanya duluan kaya gitu," lanjutnya. "Lah apa salahnya? Sekarang itu jaman emansipasi wanita. Jadi cewek juga boleh kali tanya gitu," balas Egi. "Tetep aja malu Bambang." "Yee ... Gue kan cuma berpendapat Maesaroh" Aiza memukul punggung sahabatnya cukup kencang, membuat Egi meringis. Niatnya curhat malah di buat kesal oleh Egi. "Lo kan cowok ya. Menurut lo gue cantik gak? Terus kalau lo itu posisinya sebagai kak Dimas, lo suka gak?" "Lo? Cantik? Biasa aja," balas Egi dengan polosnya membuat Aiza melotot karena sahabatnya itu kalau bicara tidak pernah di pikir dulu. "Regi ... Gue serius ih," rajuk Aiza. Egi terkekeh. Kemudian mengelus rambut Aiza dengan begitu lembut. Kedua mata mereka saling bertatapan, jika saja ada orang yang melihat bagaimana sorot mata yang Egi tunjukkan kepada Aiza tentu saja akan di buat meleleh. Tatapan Egi yang penuh kelembutan hanya kepada Aiza saja. Sayangnya Aiza tidak merasakan dengan hatinya, dia tidak merasakan tatapan itu dari sorot mata sahabatnya. Karena di hatinya hanya ada nama Dimas. Tidak ada yang lain sampai tidak merasakan ada orang yang begitu menyayanginya, yang selama ini sangat dekat dengan dia. "Lo itu cantik, Za, banget. Semua cowok pasti suka sama lo. Tap i.." Egi menggantungkan perkataannya, membuat Aiza penasaran. "Tapi apa?" tanya Aiza tidak sabar. Egi mendekatkan tubuhnya kepada Aiza kemudian seperti akan berbisik. "Tapi sekarang lo bau karena belum mandi," bisiknya dan tawa Egi berderai. "Regi! Gue kutuk lo jadi batu ya!" ** Siang ini Aiza dan ke dua temannya -Fania dan Giska- pergi jalan-jalan. Rencananya mereka akan menghabiskan waktu bertiga dengan menonton, makan dan mungkin juga belanja. Sekarang mereka baru saja selesai menonton dan tujuan selanjutnya adalah makan karena perut ketiganya sudah kelaparan. Giska mengajak Aiza dan Fani untuk makan di restoran Jepang, katanya dia ingin makan sushi dan yang lain pun mengiyakan ajakannya. "Jadi hubungan lo sama kak Dimas gimana?" tanya Giska kepada Aiza mengingat memang selama ini selalu menceritakan tentang kedekatannya dengan Dimas. Aiza hanya mengangkat bahu acuh. Dia sendiri juga tidak tahu hubungannya dengan Dimas bagaimana. Di katakan bahwa mereka teman tetapi keduanya seperti sepasang kekasih. Namun di katakan kalau mereka berpacaran, Dimas sama sekali tidak pernah menyatakan perasaannya kepada Aiza. Gantung? Entah. "Dia bilang suka sama lo?" kali ini Fani yang bertanya. "Nggak. Gatau gue, bingung sendiri." Fani berdecak. "Aneh banget tu cowok. Masa udah deket banget, gak nembak lo terus sih." "Iya bener. Lagian kalau bukan buat pacaran sama lo, ngapain pake acara pdkt segala. Gak mungkin kan kalau cuma buat temen doang." "Nah.. Betul kata Giska," timpal Fani penuh semangat. Makanan pesanan mereka akhirnya datang. Mereka pun menikmati menu yang di pesan sambil sesekali mengobrol, terutama membahas tentang Aiza dan Dimas. "Eh.. Gue lihat. Egi udah gak pernah berangkat bareng lo ya ke sekolah." ucap Fani tiba-tiba membahas Egi. "Hmm.. Kan lo tau sekarang gue lebih sering sama kak Dimas." "Tapi ya, dia juga aneh. Kaya jaga jarak gitu sama lo, kita juga udah gak pernah lihat dia makan di kantin. Paling cuma ada si Leon. Giliran di tanya Egi ke mana, malah gatau," cerocos Giska. "Biasa aja. Lagian tadi pagi kita juga olah raga barengan." "Oh.. Bagus deh. Kan kalau emang jadi renggang, aneh aja gitu. Secara lo berdua dari dulu nempel banget udah kaya perangko." Aiza tersenyum kecil. Benar kan, mungkin hanya perasaan mereka saja karena tadi pagi sikap Egi biasa saja padanya. ** Beberapa bulan kemudian.. Sudah beberapa bulan ini, Aiza tidak pernah bertemu dengan Dimas. Selain karena di sibukkan dengan persiapan ujian di sekolah, Dimas yang juga akan melanjutkan ke jenjang perkuliahan sepertinya sibuk mempersiapkan diri untuk masuk ke Universitas ternama. Karena Aiza juga melihat sendiri bagaimana kakaknya yang begitu sibuk. Hubungan dia dan Dimas sepertinya berjalan di tempat. Dia juga tidak pernah menanyakan kepada Dimas tentang hubungan mereka. Aiza sepertinya jatuh cinta sendirian, bertepuk sebelah tangan. Ya mungkin begitu. ** "Jadi lo sama sekali gak jadian sama tu cowok," ucap Egi. Saat ini mereka berdua berada di kantin. Sementara yang lainnya sedang berada di lapangan menonton pertandingan sepak bola. Aiza dan Egi memang memilih untuk pergi ke kantin, makan saja dari pada berdiam diri di bawah terik matahari. "Ya gitu." Egi mendengkus. "Gue udah bilang gak usah lah lo pake acara suka suka sama cowok kaya dia." "Ih.. Lo kenapa sih sirik banget kayanya. Ini kan perasaan gue," kesal Aiza. "Sebagai sahabat lo. Gue gak mau kalau sampe lo sakit hati. Buktinya bener kan, dia gak berniat buat kasih lo kepastian." "Iya lah, terserah lo. Sekarang makan dan gak usah bahas soal itu lagi." ** Dan yang di katakan Egi ada benarnya. Aiza memang merasa sakit hati, rasanya begitu menyesakkan. Karena selama ini dia benar-benar dekat dengan Dimas tapi ternyata laki-laki itu tidak memberikan sebuah kepastian. Atau mungkin dia yang terlalu berharap? Aiza tidak pernah tahu lagi kabar Dimas sekarang, seolah laki-laki itu hilang begitu saja. Ujian sekolah pun sudah di depan mata. Waktu berjalan dengan begitu cepat. Aiza semakin sibuk, memikirkan pelajaran dan sesekali memikirkan tentang Dimas. Kenapa Dimas tak pernah lagi memberikan kabar padanya? Apa Dimas lupa? ** Dan kabarnya tak pernah Aiza dengar sampai hari di mana dia lulus sekolah dan melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Hari-harinya kembali seperti biasa, tak ada senyum Dimas seperti dulu. Tapi perasaan yang Aiza miliki masih tetap sama, dia mencintai Dimas bahkan di saat Dimas tidak lagi ada di hadapannya.
sangat bagus
12/02
0seru
26/10
0lebih diperbaiki lagi
27/07
0View All