Pertemuan itu memang singkat namun sungguh melekat. ** Laki-laki itu bernama Dimas. Pertemuan yang tak di sengaja antara Aiza dan Dimas beberapa waktu lalu, ternyata membuat mereka malah menjadi dekat. Apalagi saat Gilang -kakak Aiza- tiba-tiba saja menyuruh Dimas untuk mengantar Aiza pulang ke rumah dua hari lalu. Bisa di bayangkan, bagaimana perasaan Aiza saat itu. Pastinya dia begitu bahagia dan sungguh berterima kasih kepada kakak laki-lakinya. Hari ini Aiza sudah bersiap dengan seragam yang melekat di tubuh. Bedanya, pagi ini dia akan di jemput oleh Dimas bukan Egi si tukang ojek yang setiap hari mengantarkan dia ke sekolah, begitu ungkapan Aiza kepada sahabat laki-lakinya. Semalam saat Aiza chatting dengan Dimas, laki-laki itu memang bilang kalau besok akan kembali menjemput Aiza untuk berangkat ke sekolah bersama. Padahal Aiza sempat menolak -meski hatinya tetap ingin- karena sekolah mereka memang berbeda, membuat Aiza merasa tak enak meski tak bisa dipungkiri dia juga merasa senang mendengar Dimas akan kembali menjemputnya. Sarapan pagi ini hanya segelas susu dan juga roti. Maklum saja, ibu mereka sedang berada di rumah nenek karena beliau sakit, akhirnya dari kemarin sang ibu menginap di sana. Aiza memakan roti dengan selai kacang, sambil menunggu Dimas yang tadi bilang baru akan berangkat. Sarapan bertiga dengan kakak-kakaknya tanpa ada obrolan di antara mereka. Selesai sarapan, dia segera memakai sepatu kemudian memilih menunggu Dimas di depan rumah. Sementara ke dua kakaknya berangkat lebih dulu setelah Gilang yang mengunci pintu rumah dan menyimpannya di tempat biasa, pot bunga yang memang berada di sudut. Sejauh ini tidak apa-apa menyimpan kunci di sana. Suara dorongan gerbang yang berasal dari rumah sebelah membuat Aiza mengalihkan pandangan dari handphone. Dia melihat Egi yang tengah mengeluarkan motor dan mendorong ke depan rumah samping -rumahnya. Kebiasaan. "Yuk, Za!" seru Egi seperti biasa yang kerap kali dia lakukan. Belum sempat Aiza menjawab ajakan Egi, suara motor terdengar dari arah lain mengalihkan perhatian mereka. Dimas baru saja datang. Aiza beranjak dan mengambil tas yang berada di kursi samping. Kemudian berjalan ke arah Dimas melewati Egi yang sudah duduk di atas motornya. "Gue berangkat dulu. Mulai sekarang lo bebas dari gue. Bye Regi," pamit Aiza pada Egi. Gadis itu menghampiri Dimas yang menatapnya dengan senyum di wajah. "Nunggu lama?" tanya Dimas kepada Aiza sambil menyerahkan helm berwarna cokelat. "Nggak. Ini masih pagi juga kan," balas Aiza mengenakan helm. "Padahal tadi aku mau bawa helm dari Egi." Aiza memang punya helm dan sengaja di titipkan pada Egi, memudahkan dia yang sering lupa untuk membawa helm dari rumah. Helm berwarna abu, yang waktu itu di beli bersama Egi. "Gapapa. Ini khusus buat kamu kalau kita jalan." Pipi Aiza sepertinya merona mendengar ucapan dari mulut Dimas. Dan Egi yang masih memperhatikan dua insan itu terpaku melihat tawa Aiza yang kali ini bukan karenanya. Ada perasaan asing yang mengusik hati, tetapi dia tahu dia tidak memiliki hak untuk sekedar berkata cemburu. Cemburu? Apa mungkin? ** "Ciee ... Di anterin siapa tu?" tanya Giska saat Aiza baru saja sampai di kelas. "Kok tau kalau gue di anter?" Aiza duduk di kursi, menatap Giska dengan penuh tanda tanya. Namun ke dua pipinya tidak bisa di tutupi merona mengingat kembali dia yang di antar sampai sekolah oleh Dimas. "Iya lah. Gue lihat tadi, terus bukan Egi kan?" "Iya. Dia kak Dimas, cowok yang gue ceritain itu lho." "Oh .. Yang sahabat Kak Gilang itu. Makin deket aja kayanya." "Iya gitu. Lagian temenan doang kita." "Temen jadi demen kali," godanya membuat Aiza malu-malu. "Fani mana?" tanya Aiza mengalihkan pembicaraan mereka. "Belum dateng. Gue juga baru sampe kan." Aiza mengangguk dan ber-oh ria. "Jadi gimana? Lo suka kan sama Kak Dimas itu?" "Hah?! Apaan sih lo ..." ** "Lah, Egi mana Le?" tanya Aiza pada Leon -teman Egi- yang tengah duduk sendirian sambil menyantap makanan. Aiza menyimpan mangkuk bakso di atas meja, sementara yang lain masih mengantri membeli minum. "Gak tau. Tadi bilang ke toilet, tapi udah sepuluh menit gak dateng lagi." "Aneh banget." Aiza duduk di sebelah Leon. Kemudian memilih untuk mengambil handphone di dalam saku sebelum menyantap bakso yang dia beli. Mengetik pesan dan mengirimnya pada Egi. Aiza : Lo dimana. Tak berselang lama, muncul balasan dari Egi. Egi : Kenapa? Kangen? Aiza mencebik. Kangen katanya? Dasar Egi! Dia kan hanya tidak terbiasa dengan ketidakhadiran Egi di kantin saat mereka istirahat jam pelajaran seperti ini. Aiza : Terlalu geer. Kantin buruan! Egi : Males. Aiza melotot membaca balasan dari Egi yang begitu singkat. Laki-laki ini kenapa sih? Aiza : Kenapa sih? Egi : Gapapa. Aiza : Kaya cewek lo. Egi : Bodo. Aiza mendengkus, sebenarnya Egi kenapa? Tidak biasanya laki-laki itu bersikap seperti ini. Apalagi membalas pesan dengan begitu singkat sampai membuat kesal. Aiza : Kamvret lo! Selesai mengirim balasan, Aiza menyimpan handphone ke dalam saku seragamnya kembali. Kemudian mulai makan bakso tadi, mengabaikan Egi yang entah berada di mana. Paling dia di rooftop. ** "Maaf kak, nunggu lama ya, " ucap Aiza setelah menghampiri Dimas yang menunggu di atas motornya. "Santai aja. Lagian aku juga baru sampe." "Yaudah. Yuk pulang!" Dimas mengangguk mendengar ajakan Aiza dan menyuruh gadis itu untuk segera naik ke atas motor. Perjalanan kali ini begitu singkat atau mungkin karena Aiza terlalu menikmatinya. Dia dan Dimas baru saja sampai di kedai es krim. Laki-laki itu mengajak Aiza untuk mampir ke sini, katanya sekalian traktiran dan Aiza ya mana bisa menolak. Mereka duduk di kursi yang menghadap keluar. Di mana jalanan dan orang orang yang berlalu lalang menjadi pemandangan mata mereka. Tadi, Aiza memesan es krim rasa strawberry sementara Dimas memilih rasa durian. Tak berselang lama es krim yang di pesan sudah tersaji di atas meja. Mereka pun mulai menikmatinya. "Kayanya aku sering lihat cowok yang tadi pagi di depan rumah," ucap Dimas membuka pembicaraan mereka. "Iya lah, dia kan rumahnya di sebelah." "Kalian deket banget ya?" "Iya. Soalnya kita temenan dari kecil." "Oh ..." "Kenapa?" tanya Aiza penasaran. "Gapapa, tanya doang," balas Dimas. ** "Baru pulang?" tanya Daffa saat Aiza menutup pintu rumah. Aiza terkesiap karena suara Daffa yang tiba-tiba. "Bikin kaget. Iya, tadi mampir ke kedai es krim dulu sama kak Dimas," balasnya sambil melepas sepatu dan menaruh di rak. "Dimas? Temannya Gilang?" "Iya." "Kalian deket? Dari kapan?" "Yaelah bawel banget sih, iya deket udah lama. Udah ah mau ke atas, gerah ni pengen mandi." Aiza berjalan dan naik ke lantai atas mengabaikan Daffa yang sepertinya masih penasaran dengan kedekatannya dan Dimas. ** Aiza kembali meraih handphone yang tadi di taruh di atas meja. Kemudian mengirim pesan pada Dimas, memastikan kalau laki-laki itu sudah sampai di rumah atau belum. Aiza : Udah sampe? Dimas : Baru aja. Aiza : Oh.. Dimas : Kamu lagi apa? Aiza : Mau mandi kak. Dimas : Hmm.. Aiza : Makasih ya, udah ajak aku makan es krim. Dimas : Sama-sama, lain kali kita jalan lagi Aiza : Sip deh. Aku mandi dulu kak. Dimas : Oke. Aiza tersenyum. Hari ini dia begitu senang karena menghabiskan waktu bersama dengan Dimas. Walau pun singkat, tapi rasanya tetap membahagiakan. Tapi kedekatan meraka ini, di artikan apa olehnya? Apa laki-laki itu juga merasakan apa yang saat ini Aiza rasakan?
sangat bagus
12/02
0seru
26/10
0lebih diperbaiki lagi
27/07
0View All