Kamu ... Yang kukagumi dan tak mudah kumiliki. ** Pagi ini suasana sekolahan cukup ramai dari biasanya. Bukan karena para siswa tengah berebut untuk lebih dulu sampai di kanti saat bel istirahat berbunyi, bukan juga karen para siswa yang baru saja selesai melaksanakan upacara bendera setiap hari senin. Tetapi karena hari ini ada acara perlombaan yang di selenggarakan di sekolah mereka. Perlombaan olah raga dan kesenian antar sekolah menengah atas, yang tahun ini sekolahan Aiza menjadi tuan rumah dalam perlombaan. Aiza sendiri menjadi salah satu panitia perlombaan kali ini karena dia adalah salah satu anggota organisasi siswa atau lebih di kenal dengan nama singkat osis yang merupakan panitia dalam perlombaan antar sekolah ini. Bukan sebagai panitia perlombaan basket atau lainnya. Tetapi Aiza berada di posisi panitia keuangan alias Ibu Bendahara yang akan siap sedia memberikan dana. Tentu saja dari kas osis dan iuran para siswa untuk memeriahkan acara ini. ** Aiza tampak celingukan mencari keberadaan Egi yang masih belum terlihat batang hidungnya. Tadi dia dan Egi memang berangkat kw sekolah secara terpisah, Egi berangkat lebih pagi dari biasanya karena harus berkumpul dengan teman-teman basket, katanya. Sementara Aiza sendiri menyusul dan diantar oleh Kak Daffa. Banyak sekali orang berlalu lalang membuat Aiza agak kesulitan mencari keberadaan Egi, pun dengan keberadaan Fani dan Giska, sahabatnya. Aiza merasakan ada yang menepuk pundaknya. Lalu ia menoleh dan mendapati kakaknya -Gilang- sudah berada di belakangnya. "Kok di sini?" tanya Aiza heran melihat kakaknya berada di sekolahannya karena mereka memang tidak berada di satu sekolah yang sama. "Tanding lah," balas Gilang pada adiknya. "Basket?" "Iya." Aiza ber-oh ria. Dia baru ingat kalau kakaknya ini memang kapten team basket di sekolahnya. Sekolahan mereka juga terkenal saling bersaing satu sama lain. Entah itu dalam bidang akademik, seni atau pun olahraga. Tanpa sengaja Aiza melihat keberadaan Egi yang tidak jauh darinya. "Yaudah. Gue kesana dulu kak," pamit Aiza akhirnya. Gilang mengangguk singkat dan memperhatikan adiknya yang sudah berlalu menghampiri laki-laki yang sangat ia kenali. ** "Kenapa gak bilang kalau lawannya sekolah Kak Gilang sih?" tanya Aiza pada Egi setelah duduk di hadapan laki-laki itu. Sekarang mereka sedang berada di kantin, masih menghabiskan waktu di sini sebelum pertandingan basket yang akan Egi ikuti di mulai. "Lah! Lo kan panitia, harusnya tahu dong," balas Egi yang tengah menyantap roti cokelat yang di beli dari Bi jujum -penjual di kantin- tadi. "Iya. Tapi gue bukan seksi acaranya. Gue kan cuma ngurusin duit doang." "Ibu Bendahara gitu lho. Gue boleh dong minta duit," ucap Egi yang di akhiri dengan cengengesan. Aiza mendengkus. "Gue bukan ibu lo," balasnya. "Iya tapi Ibu dari anak-anak gue." "Mulai deh!" "Udah ah, mau lawan siapa juga. Yakin aja sekolah kita menang, kan ada gue," sombongnya membuat Aiza mencebik. "Jangan sombong. Kalah baru tahu rasa lo!" cibir Aiza. "Gak boleh gitu, kalau doa itu harus yang baik-baik, Za." "Iya iya. Sana ke lapangan!" usir Aiza dengan mengibaskan tangannya. "Lo juga lah. Itu pegang botol minum gue. Oke asisten," balas Egi tersenyum meledek. "Iya supir pribadi." Aiza tak mau kalah. "Kamvret lo!" ** "EGI SEMANGAT..!!!" Suara sorak dan tepuk tangan bersahutan saat Egi sang kapten basket mencetak point. Triple point. Egi melirik ke arah Aiza dengan senyum manisnya. Mungkin yang tidak begitu mengenal mereka, akan mengira kalau keduanya adalah pasangan kekasih tapi nyatanya mereka hanya sebatas sahabat. "Yes!" seru Aiza saat Egi kembali mencetak point. "Semangat amat, Bu." Giska yang sejak tadi duduk di samping Aiza tersenyum menggoda. Saat pertandingan memasuki putaran ke dua, temannya ini semakin semangat meneriakkan nama salah satu anggota team basket yang tidak lain adalah Regi Naufal. Si pemain bernomor punggung 19 dan juga merupakan kapten basket sekolah mereka. "Harus dong. Ini kan tim basket sekolah kita," balas Aiza lalu kembali melihat permainan di lapangan. "Yakin? Bukan karena Egi?" "Lo apaan sih. Gak lah!" Gadis itu kembali fokus pada pertandingannya dan mengabaikan perkataan Giska tadi. Memang benar kan, dia di sini untuk melihat team basket sekolah mereka, melihat Egi hanya bonus dan sebagai sahabat tentu saja Aiza juga harus mendukung Egi yang berada di lapangan. ** Pertandingan di menangkan oleh sekolah mereka. Dengan skor yang hanya berbeda tipis. Kemampuan team basket sekolah Aiza memang harus di acungi jempol, meskipun beberapa kali kecolongan dan ketinggalan point tetapi para pemain bisa kembali meraih point dan mereka berakhir sebagai pemenang. Ini memang baru babak penyisihan pertama. Belum menuju final tapi mengalahkan sekolah Gilang memang incaran team basket sekolah mereka. Termasuk Egi, ia ingin membuktikan kalau dia lebih unggul dari Kak Gilang -kakak sahabatnya. Mereka memang tak pernah bisa akur, meskipun sering kali main basket bersama. Entah kenapa. ** Aiza baru saja dari kantin dengan kantung plastik yang berisi minuman dan juga makanan di tangan. Ini semua sebagai hadiah untuk teman-teman basket karena sudah bekerja keras di pertandingan tadi. Bruk. Minuman yang dia bawa berjatuhan. Siapa sih yang main tabrak- tabrak aja gerutunya dalam hati. Aiza pun mengambil minuman tersebut kemudian ada tangan lain yang membantunya. "Sorry, gue gak sengaja," ucap orang yang membantu Aiza. Ternyata seorang laki-laki dengan pakaian basket. "Gapapa. Gue yang ceroboh," balas Aiza mengambil kaleng minuman dari tangan laki-laki tersebut. "Eh ... Lo Kayla kan, adiknya Gilang?" Degh. Kenapa dengannya? Mata itu seolah membuat Aiza larut dan terhipnotis. Mata coklatnya, meneduhkan. "Kay ... Kayla!" seru laki-laki itu membuat Aiza terkesiap. "Eh! Sorry, iya gue Kayla. Kok Kakak tahu?" "Ya tahu lah. Gue Dimas, sahabat Gilang." ucap laki-laki tersebut mengulurkan tangannya kepada Aiza. "Salam kenal, Kak Dimas." ** Aiza tak pernah berhenti tersenyum. Pertemuannya dengan laki-laki bernama Dimas tadi membuat jantungnya berdebar. Ini pertama kalinya Aiza merasakan perasaan yang tak menentu, aneh tapi selalu membuat dia tersenyum. Apa ini namanya jatuh cinta? Entahlah.. "Kesambet lo! Seyum terus." Suara Egi membua Aiza tersentak. "Ganggu banget sih," protesnya memukul lengan Egi cukup kencang. Egi meringis. "Lagian dari tadi gue panggil, malah senyum sendiri. Ngeri banget," ucapnya bergidik ngeri. "Kenapa sih?" Aiza balik bertanya dan memilih menghiraukan perkataan Egi itu. "Pulang. Gak lihat ini di parkiran." Aiza menganggukkan kepala membuat Egi hanya mengangkat bahu acuh. Kemudian menaiki motor dan Egi melajukan motor ini meninggalkan parkiran sekolah. ** "Makasih kang ojeka," ucap Aiza setelah sampai di depan rumah. "Bayarnya udah ya Mas," ucapnya kembali sedikit meledek membuat Egi mendengkus. "Lo kira gue ojek online," gerutunya. "Emang! Kan ojek gue," balas Aiza cengengesan. "Gapapa deh. Lo juga asisten gue." Egi tak mau kalau meledek kembali. "Gue perhatiin lo kelihatan seneng. Ada apa?" tanya Egi setelahnya yang sejak tadi mengamati wajah Aiza tampak berseri dari sebelumnya. "Hah?! Emang kelihatan banget ya?" Ah, aku jadi ingat kak Dimas, batinya. "Lo gak cerita sama gue." "Tadi gue ketemu cowok," ucap Aiza akhirnya. "Oh ..." "Ih! Giliran mau cerita malah gitu." "Iya, terus." "Temennya Kak Gilang. Ganteng banget Gi. Kayanya tadi juga main basket." "Siapa?" "Dimas." "Oh.. Dia." "Lo kenal?" "Pernah main basket bareng sama Kak Gilang juga." "Kok nggak pernah bilang sih," rajuk Aiza mendengar perkataan Egi. "Lo gak nanya." Aiza berdecak, "Iya deh. Eh gue kayanya jatuh cinta sama dia, Gi." Aiza tampak tersenyum lebar membayangkan pertemuan tadi dengan Dimas. "Cepet benget." "Lo gak tahu ya Gi. Ini namanya cinta pada pandangan pertama." Egi hanya bergumam tak jelas. "Ah ... Udah deh. Males cerita sama lo, responnya gitu," ucap Aiza hendak masuk dan menutup gerbang rumah. "Terus gue harus apa Maemunah." Egi lebih dulu menarik tangan Aiza. "Lo pulang aja Bambang," balasnya sebal melepas genggaman tangan Egi. "Gitu aja marah. Sorry deh." "Iya, udah sana!" usir Aiza. Egi mengangguk. "Dadah ... Asisten, jangan kangen ya sama gue," pamitnya mendorong motor ke dalam halaman rumah di samping rumah Aiza. Dasar kepedean. Siapa juga yang bakal kangen.
sangat bagus
12/02
0seru
26/10
0lebih diperbaiki lagi
27/07
0View All