Seperti ini cukup, bersahabat untuk sekarang, entah untuk ke depannya. Karena rasa ini semakin tampak nyata. ** Jam di atas meja belajar menunjukkan pukul 6 tepat. Masih sangat pagi tapi Aiza sudah rapi memakai seragam putih-abunya. Aiza melangkah keluar dari kamar, dengan membawa tas yang berisi beberapa buku paket mata pelajaran hari ini. Menuruni undakan tangga lalu berjalan ke arah meja makan yang bersisian dengan dapur tanpa dinding penghalang, ia melihat sang ibu yang sudah sibuk dengan peralatan memasak, pun dengan ke dua kakak laki-lakinya yang sudah duduk di meja makan. Ia, Bunda dan dua kakaknya memang tinggal berempat setelah kepergian sang ayah dua tahun lalu karena penyakit jantung. "Pagi," sapa Aiza kemudian duduk tepat di hadapan kak Daffa. "Selamat pagi," balas kak Daffa sementara laki-laki yang duduk di sampingnya hanya mengangguk singkat. Kak Gilang -kakak ke duanya- ini memang tidak pernah banyak bicara, berbeda dengan Kak Daffa yang sudah seperti ibu-ibu komplek. "Hari ini jangan telat lagi, dek." Perkataan Bundanya yang tengah membawa wadah berisi nasi goreng untuk mereka membuat Aiza menoleh lalu mengangguk. "Siap, Bunda. Hari ini nggak akan telat deh, kalau telat nanti aku kasih kabar," katanya. "Berangkat bareng gak?" tanya Daffa di sela-sela sarapan mereka yang sudah di mulai. Aiza menggeleng, menelan nasi goreng setelah itu menjawab, "Aku berangkat bareng Egi aja, Kak." Daffa mengangguk, sudah tidak heran lagi mendengar adiknya pergi ke sekolah bersama dengan Egi. Sahabat yang tinggal di samping rumah mereka. ** "Aku berangkat duluan, Bun," pamit Gilang setelah selesai sarapan kemudian mencium tangan Bunda. "Gue duluan," ucapnya pada Daffa kemudian beralih mengacak rambut adik perempuannya. Tak berselang lama Daffa pun beranjak, pun dengan Aiza yang sudah mendengar suara dari klakson motor yang tentu saja Egi tengah menunggu di depan rumah. "Kita juga berangkat, Bun." Keduanya pamit dan mencium tangan Bunda mereka secara bergantian. ** "Gila!! Lo ngebut banget sih. Berantakan ni rambut gue," seru Aiza. Mereka baru saja sampai di parkiran sekolah masih dengan Aiza yang menggerutu saat turun dari mobil. Jelas saja Aiza terus menggerutu, Egi ini tadi mengendarai motornya bak valentino rossi. Katanya sih takut mereka terlambat, padahal sekarang mereka bahkan tidak terlambat sama sekali karena masih ada 20 menit dari bel masuk sekolah mereka. "Sorry sorry, kan dari pada kita telat. Lagian selamat sampai tujuan. Ntar gue beli helm buat lo deh biar rambutnya nggak berantakan," balas Egi lalu membantu Aiza merapikan rambut tapi tangannya sudah lebih dulu di tepis oleh gadis itu. "Diem deh! Gue nggak percaya lo rapihin rambut gue secara benar dan tepat. Lo kan suka banget ngacakin rambut gue," ucap Aiza. "Terus ya tetep aja, jantung gue mau copot," lanjutnya setengah menggerutu. Perkataan Aiza malah membuat Egi terkekeh, semakin kesal saja gadis itu melihatnya. "Iya sorry. Nggak lagi deh." "Bodo ah! Gue mau ke kelas." Aiza memilih untuk berlalu, berjalan lebih dulu dan meninggalkan Egi yang masih berdiri di samping sepeda motornya. "Istirahat gue tunggu di kantin!!" Aiza mengacungkan jempol tampa menoleh saat mendengar teriakan Egi di belakangnya ** Pelajaran kedua baru saja selesai dan bel trt tanda istirahat sudah berbunyi dua menit yang lalu. Aiza masih menyimpan buku tulis dan buku paketnya ke bawah meja, sementara Fani dan Giska -teman satu kelasnya- sejak tadi sudah berjalan keluar kelas dan menunggu Aiza dekar pintu kelas mereka. "Woy ... Kay! Lama amat!" teriak Fani di tepi pintu kelas. "Nggak sabaran banget, kantin juga nggak akan pindah tempat," balas Aiza yang tentu saja tidak terdengar karena dia hanya bergumam pada dirinya sendiri. Selesai membereskan buku-bukunya, Aiza segera beranjak dan menghampiri Fani bersama Giska yang sejak tadi sudah tidak bisa diam karena takut kantin penuh. Padahal kan tidak juga. Apalagi mereka sudah punya langganan. Bakso Mang Ujang yang enaknya menggugah selera dan Mang Ujang sudah sangat hapal dengan tiga siswa langganannya itu. ** Mereka sudah berada di area kantin. Aiza melihat Egi yang melambaikan tangannya ke arah mereka. Egi duduk di bangku paling ujung bersama dengan Leon -teman sekelasnya. Aiza dan Fani memilih untuk menghampiri Egi setelah menyebutkan pesanan mereka -yang tetap sama seperti kemarin- pada Giska. Seperti biasa, ada jadwal khusus di antara mereka dan sekarang jadwal Giska untuk memesan tiga mangkuk bakso dan tiga minuman dingin. "Lama amat lo," ucap Egi saat Aiza baru saja duduk di sebelahnya. "Yaelah, baru juga bel," balas gadis itu kemudian meminum jus alpukat milik sahabatnya. "Kalau haus, beli kampret!" seru Egi mengambil gelas itu dari tangan Aiza. "Pelit!" "Bodo!" "Kalian jadian sana. Berantem terus, heran!" celetuk Fani membuat keduanya menoleh dengan kompak. "Apaan sih!!" seru mereka. "Cie ... Kompak," goda Leon menatap Aiza dan Egi dengan wajah menyebalkan -di mata mereka. ** "Nanti gue tunggu di perpus," bisik Egi di sela-sela makan mereka. Aiza hanya mengangguk singkat. "Bisik bisik terus," ledek Fani yang melihatnya. "Mulai deh." Aiza berdecak. ** Egi sudah lebih dulu berlalu dengan Leon. Sementara yang lain baru saja selesai makan, mereka akhirnya bergegas kembali ke kelas masing-masing. Giska dan Fani sudah lebih dulu berjalan menuju kelas, sementara Aiza masih ada janji dengan Egi, seperti tadi yang Egi katakan untuk bertemu di perpustakaan. Jam berikutnya di kelas Aiza memang kosong, jadi dia bisa menemui Egi di perpus. Aiza melewati beberapa kelas yang sepertinya ada juga kelas yang mendapatkan jam kosong karena guru yang memang berhalangan hadir. Tak lama untuk sampai di perpus dari arah kantin, kali ini dia sudah memasuki perpus. Hanya ada beberapa siswa dan tak lupa dengan penjaga perpus yang tengah duduk di balik meja dekat pintu masuk. Aiza menatap ke sekeliling mencari keberadaan Egi. Cukup sulit dan ternyata laki-laki itu berada di rak buku sejarah terlihat tengah memainkan handphone. Aiza akhirnya segera mendekati Egi. "Gue cari-cari, ternyata mojok," ucap Aiza duduk disamping Egi. "Gue punya lagu baru ni, enak di denger," ucapnya setelah menyadari kehadiran sahabatnya. "Lagu apa? Indonesia kan?" tanya Aiza karena gadis itu memang pecinta musik indonesia, musisi siapa pun yang penting enak di dengar. "Indo dong. Gue kan juga pecinta produk lokal." Egi menyerahkan satu earphonenya pada Aiza. Kemudian kami mulai mendengarkan lagu yang Egi bilang. Tak bisa hatiku menafsirkan cinta Karena cinta tersirat bukan tersurat Meski bibirku terus berkata tidak Mataku terus pancarkan sinarnya Apa yang kita kini tengah rasakan Mengapa tak coba kita tuk satukan Mungkin cobaan untuk persahabatan atau mungkin semua takdir tuhan . (Zigaz -sahabat jadi cinta) Aiza melepas earphone itu. Rasanya wajah dia tiba-tiba memanas. Apa-apaan sih dia, kenapa milih lagu itu coba, batinnya. "Enakkan lagunya?" tanya Egi. "Hmm.. Iya." "Gue kemarin nggak sengaja liat youtube, eh ke puter lagu ini dan gue tau lo pasti suka." "Iya, gue suka lagunya." "Apalagi gue suka banget." Ke dua mata mereka bertemu. Egi menatap Aiza lekat, gadis itu mengalihkan pandangan ke arah lain. Aneh. Kenapa tiba-tiba suasananya jadi canggung? "Gue balik ke kelas ya. Lagian lo juga, bukannya ada guru di kelas, malah mojok." "Iya bawel." Egi mengacak rambut Aiza gemas. "Ish.. Nyebelin banget sih! Berantakan ini." "Gue cabut. Ntar pulang gue tunggu di parkiran," ucapnya malah melangkahkan kaki lebih dulu menuju pintu keluar perpustakaan. Sementara Aiza masih berdiri di sekitar rak buku sejarah sambil menatap kepergian Egi yang sudah menghilang di balik pintu. Mengingat lagu tadi, Aiza kembali terdiam. Sahabat jadi cinta? Ini Egi kasih dia kode atau apa?
sangat bagus
12/02
0seru
26/10
0lebih diperbaiki lagi
27/07
0View All