logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 Kesurupan

"Pak Dadang, awas!" Pak Dadang yang mendengar teriakanku langsung berlari ke arah lain.
Bruak!
Sebuah pohon kelapa sawit tumbang, ukurannya yang besar membuat suara yang sangat nyaring. Beruntung aku cepat menyadari jikalau pohon kelapa sawit itu akan roboh. Kalau tidak mungkin saja, Pak Dadang yang sedang berdiri tepat di bawah pohon itu tertimpah.
Aku berlari menghampiri Pak Dadang, dia terdiam melihat pohon kelapa sawit yang hampir saja menimpanya.
"Syukurlah, Bapak gak sampai tertimpa pohon ini," kataku, akan tetapi Pak Dadang hanya terdiam.
Sorot mata Pak Dadang kosong, dia seperti tak menyadari jika aku ada di sampingnya. Walau sudah kucoba menggoyang-goyangkan tubuh Pak Dadang, tetapi dia hanya diam berdiri mematung.
"Ada Apa, Pak?" Terus kugoyang-goyang tubuhnya, namun tak jua dia merespon.
"Pergi!" kata Pak Dadang dengan suara yang berat.
"Maksunya ...?" Belum sampai kata-kataku terucap, tangan Pak Dadang tiba-tiba saja mencengkram leherku dengan sangat erat.
Tenagaku sama sekali tidak bisa melawan cengkraman tangan Pak Dadang, semakin meronta semakin cengkraman itu kuat dan membuat aku hampir kehabisan nafas. Sepertinya, Pak Dadang sedang dikuasai makhluk halus dan mungkin makhluk ini juga suruhan seseorang yang sama saat di tengah kebun karet. Seseorang yang tak menginginkan kehadiranku di tempat ini.
Terlihat Mbak Ningsih lari tergopoh-gopoh membawa seember air yang dicampur dengan berbagai macam bunga. Lalu Mbak Ningsih menyiramkan air tersebut pada tubuh Pak Dadang. Cengkraman tangan Pak Dadang terlepas, seiring tubuhnya yang lunglai jatuh ke tanah.
"Ada apa, Ning?" tanya seseorang pekerja kelapa sawit yang melintas.
"Biasa Pak, kesurupan." wajahku memgernyit mendengar ucapan Mbak Ningsih, itu artinya hal ini biasa terjadi di sini. Tetapi, tak kuhiraukan hal itu, aku kembali fokus pada Pak Dadang.
Perlahan-lahan Pak Dadang sadar, Mbak Ningsih memberi segelas air putih yang terdapat satu buah bunga kantil kuning di dalamnya. Jujur, aku bingung melihat semua yang di lakukan Mbak Ningsih. Bukannya memberi doa-doa Allah malah bunga-bunga seram itu dia gunakan, ingin menegur tetapi rasanya tak enak hati karena Mbak Ningsih lebih tua dariku.
Saat Pak Dadang sadar sepenuhnya dia lalu berkata, "Non, lebih baik pulang saja. Ada seseorang yang berniat jahat sama, Non."
"Siapa, Pak?" tanyaku penasaran.
"Dia, Non. Lelaki berbaju serba hitam itu," jawab Pak Dadang yang nampaknya ketakutan.
Aku menghela nafas panjang, "Siapa orang itu, dan apa tujuannya? Kami saja tidak saling mengenal, lalu untuk apa dia menyakitiku?" Berbagai pertanyaan melintas di kepala.
" Non, orang itu memang sering berdiri di depan rumah kita." Aku menoleh ke arah Mbak Ningsih, itu artinya orang itu memang sudah menungguku.
"Banyak yang bilang, orang itu memamg sedikit kurang waras Non," ucap Mbak Ningsih lagi.
"Jadi, dia gila Mbak?" tanyaku.
"Gila juga gak Non, waras sih, tapi suka ngamuk Non. Katanya itu karena dia sedang mendalami ilmu hitam." kata-kata Mbak Ningsih menbuatku terkejut, lalu apa hubunganya denganku. Jika benar dia sedikit kurang waras, lalu untuk apa dia berniat jahat padaku?
" Pak, lebih baik kita istirahat dulu. Biar kupikirkan harus pulang atau tetap tinggal di sini, menginaplah dulu semalam di sini," kataku pada Pak Dadang.
Kamipun masuk kedalam rumah kembali, meninggalkan pohon kelapa sawit yang tadi tiba-tiba saja tumbang. Padahal tak ada angin atau pun hujan. Tapi, kurasa memang ini ulah seseorang. Melihat apa yang terjadi barusan, sepertinya aku yakin akan tetap tinggal di sini. Harusku jawab rasa penasaran dihati ini, siapa sebemarnya yang berniat jahat padaku, dan apa tujuannya? Sedangkan baru kali ini aku berniat untuk tinggal di kampung kelahiran Papa.
======
Hari sudah malam, di dalam kamar Nenek aku terdiam memikirkan semua pertanyaan-pertanyaan di kepala, sambil sesekali mataku melirik ke arah jendela yang belum ditutup tirainya. Tak sengaja, kulihat sebuah bayangan hitam yang melintas. Melesat begitu cepat.
"Apa itu," ucapku dalam hati.
Lalu aku berdiri kearah jendela, untuk memastikan bayangan yang baru saja kulihat. Akan tetapi, mataku menangkap satu sosok berjubah hitam berjalan kearah belakang rumah.
Rasa penasaran memaksaku untuk mengikuti sosok berjubah tadi, perlahan-lahan aku membuka pintu dan berjalan mengendap-endap dibelakangnya. Sosok itu terus berjalan ke belakang lalu membuka pintu dapur, dan masuk ke dalam.
Terus kuikuti sosok berjubah hitam itu, nampaknya dia menuju kamar Nenek yang saat ini sedang kutempati. Dan benar saja, sosok berjubah itu masuk kedalam kamar Nenek. "Akan kutangkap, kau," gumamku.
Namun langkahku terhenti di depan pintu kamar. "Nenek?" bisikku, yang melihat Nenek terbaring di atas tempat tidur. Sedangkan sosok berjubah hitam itu, berdiri tepat di depan Nenek. Wajah tua Nenek terlihat begitu ketakutan, ingin rasanya kuhantam sosok berjubah hitam itu. Tetapi, tubuhku terasa kaku, bahkan aku tak mampu mengeliarkan suara sedikitpun.
Di sini, aku hanya bisa menyaksikan Nenek yang sedang ketakutan. Air matanya mengalir deras dan kedua tanganya melipat tanda meminta ampun. Terlihat bibir Nenek berkata-kata sesuatu. Tetapi, aku sama sekali tak bisa mendengar apa yang sedang mereka katakan.
Sosok berjubah hitam itu mengeluarkan sebuah botol berisikan air dari dalam jubahnya. Wajah Nenek semakin ketakutan, tak tega rasanya aku menyaksikan rasa ketakutan Nenek. Sosok bejubah hitam itu menuangkan air dari dalam botol tepat di wajah Nenek.
Nenek yang terkena siraman air dari dalam botol langsung menggelepar seperti ayam yang sedang disembelih. Bola matanya melotot ke atas, hingga tak terlihat lagi warna hitamnya. Sungguh, hatiku begitu terasa teriris. Siapa sebenarnya sosok berjubah hitam itu, mengapa dia tega sekali menyiksa Nenek yang sudah tua renta?
Air mataku luruh tak tertahan, sungguh sangat kusesali. Di sini aku hanya bisa menyaksikan tanpa bisa membantu apa yang sedang dialami Nenek. Di depan mataku, akhirnya Nenek meregang nyawa dengan cara yang tragis.
"Nenek!" teriakku histeris, akhirnya suara ini bisa muncul juga. "Tolong!" teriakku lagi, berharap ada seseorang yang datang dan membatu.
"Non, ada apa?" Kulihat sekitar ruangan ini, aku masih di dalam kamar Nenek. "Non, mimpi buruk?" tanya Mbak Ningsih.
Mimpi? Apakah yang baru saja kulihat adalah mimpi. Tetapi, semua begitu terlihat nyata. Apa mungkin, memang itu kejadian yang sebenarnya, dan Nenek sudah di habisi seseorang. Kematian Nenek bukan karena serangan jantung, tetapi Nenek di bunuh. Apa mungkin begitu?
Aku memekik, tiba-tiba saja kepalaku terasa begitu amat sakit. Terdengar suara berdenging di telingaku, pandanganku memudar lalu terdengar suara, "Sya, Tolong!"
"Sadar, Non, sadar," suara Mbak Ningsih terdengar tetapi, semua terlihat samar.
Apa yang terjadi, siapa yang melakukan ini. Secepatnya aku mencoba untuk sadar.
"Allah!" Kusebut nama Allah, dan membaca ayat kursi, juga surat-surat yang lainnya.
Lagi-lagi, suara dengingan itu terdengar. Tetapi, kali ini suara itu terdengar seperti seseorang yang menjerit kesakitan. Suasana yang tadi samar kini sudah mulai terlihat jelas, tubuhku sudah mulai bisa digerakkan lagi. Aku pun duduk dan bersyukur.
"Mbak Ningsih, kenapa?" Mbak Ningsih berlari, tanpa berkata apapun. "Mbak!" Panggilku lagi.
Aku berdiri dan mengikuti Mbak Ningsih yang berlari ke arah dapur, terlihat dia sedang berdiri di depan keran air.
"Mbak Ningsih!" kataku.

Book Comment (160)

  • avatar
    Saha We

    ending nya nyesek ga enak😖🥺🥲

    10/09

      0
  • avatar
    RojiatiSari Lila

    keren ka

    30/06

      0
  • avatar
    zizeeeyy

    baguss bgttt

    18/03/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters