logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 5 Melanjutkan Perjalanan

"Ada apa, Nak Syasya?"
"Pak, Almarhum ini ... Dia yang tadi sudah membantu kami saat kehabisan bensin. Dan saat tadi di surau, aku juga melihatnya diantara Bapak-Bapak yang duduk," kataku menceritakan.
"Masya Allah, semua atas kuasa Allah, Nak. Mungkin lewat Jin Qorin Almarhum, Allah memberi bantuan."
Aku mengangguk mendengar perkataan Pak Ustad, Allah memang bisa melakukan apapun. Dan dengan cara apapun Allah bisa membantu hamba—Nya yang sedang kesusahan dan selalu ingat berdo'a. Karena sebaik-baiknya meminta hanyalah kepada Allah Yang Maha Esa.
Hari sudah larut malam, Pak Ustad mengajak untuk segera tidur. Aku yang lelah pun langsung membaringkan tubuh di atas kasur, sambil terus memikirkan untuk melanjutkan perjalanan atau pulang saja. Mungkin, besok akan aku rundingkan pada Pak Dadang dulu. Secara Pak Dadang cukup dekat dengan Papa, pasti dia bisa membelaku nanti jika Papa bertanya dan tak percaya dengan yang kami alami.
======
Malam berlalu begitu cepat, hingga mentari kini sudah menampakkan sinar indahnya. Aku menghirup udara segar dari jendela kamar yang telah kubuka, suasana kampung ini sungguh indah sebenarnya. Hanya, sayang untuk bisa sampai harus melalui kebun karet yang cukup angker itu. Kalau pun ada jalur yang lain, jalur itu tidak langsung melewati kampung ini.
Aroma makanan menganggu indra penciumanku, wangi, dan sepertinya lezat. Aku berjalan keluar, dan melihat Pak Dadang sudah rapih dengan pakaian safarinya. Ditemani secangkir teh hangat dan beraneka kue-kue tradisional. Makanan seperti ini jarang sekali kutemui di kota, Mama sangat jarang menyediakan kue tradisional seperti ini, karena Mama memang jarang pergi ke pasar.
Aku berjalan mendekat di mana Pak Dadang duduk, satu piring ketela goreng membuatku lupa bahwa sedang berada di rumah orang.
"Aduh!" kataku saat Pak Dadang menyentil punggung tangan yang hendak meraih satu buah ketela goreng dari dalam piring.
"Satu saja, Pak," ucapku sedikit mengemis ingin mencicipi ketela goreng itu.
"Jangan malu-maluin Non, mandi sana! Kita gak lama-lama di sini, Papa Non pasti sudah khawatir." Mendengar perkataan Pak Dadang barusan membuatku ingat, bahwa belum mengabari Papa dan Mama. Tetapi, saat ini aku sedang merasa dilema antara melanjutkan perjalanan atau kembali pulang.
Kuputuskan untuk mandi terlebih dahulu, baru mendiskusikan pada Pak Dadang. Mungkin setelah mandi, otakku jadi segar dan berfikir lebih baik lagi.
======
"Nah, anak gadis tuh begini Non. Pagi-pagi harus sudah mandi bukan malah makan," canda Pak Dadang, yang sepertinya tak bisa jika sehari saja tidak menggodaku.
"Pak, aku mau pulang saja."
"Loh, kenapa Non? Sedikit lagi sampe, sudah mendaki gunung lewati lembah," ucap Pak Dadang sambil terkekeh.
"Serius, Pak. Entah mengapa aku merasa takut untuk melanjutkan perjalanan," kataku dengan nada yang begitu lesu.
"Bapak sih, nurut aja apa kata Non Syasya, pulang ayo lanjut ya ayo."
Aku menundukkan kepala, sambil memainkan jari-jemari. Jika difikir-fikir, harusnya tak ada alasan untuk takut melanjutkan perjalanan. Kurang lebih dalam waktu tiga jam lagi sudah akan tiba di kampung Almarhumah Nenek, walau melewati perkebunan sawit tetapi ada rumah-rumah yang dilewati walau dengan jarak yang berjauhan. Tapi, entah mengapa hati ini jadi ragu untuk melanjutkan perjalanan.
"Lanjutkan Nak, jangan ragu hanya karena bisikan setan." Suara Pak Ustad yang datang dari dapur mengejutkan aku dan Pak Dadang.
"Apa maksud perkataan Pak Ustad," kataku dalam hati.
Pak Ustad meletakkan sebuah mushaf di meja tepat dihadapanku. Lalu Pak Ustad berkata, "Ambil mushaf ini Nak, anggap saja kenang-kenangan dari Bapak. Mungkin saja bisa berguna."
Aku menatap wajah Pak Ustad, berharap beliau menjawab rasa penasaranku dengan kata-kata yang sedari tadi diucapkan.
"Nak, bukannya Bapak mau ikut campur masalahmu, tapi saran Bapak, lebih baik kau lanjutkan perjalananmu. Karena ...." Pak Ustad berhenti sejenak mentapku.
"Karena, ada seseorang yang butuh bantuanmu Nak. Jika dirimu tak datang, dia tak akan bisa tenang," Titak Pak Ustad, yang membuatku terheran-heran. Siapa sebenarnya yang dimaksud Pak Ustad.
Di kampung Nenek, tidak ada seorang pun yang kukenal. Satu-satunya yang mengenalku adalah Nenek, diapun kini sudah tiada. Lantas, siapa yang dimaksud Pak Ustad membutuhkan pertolonganku.
"Pak, aku tak mengerti dengan apa yang Bapak katakan. Siapa, siapa yang membutuhkan aku Pak?" tukasku, yang merasa tak ada sangkut paut dengan siapa saja di kampung Nenek.
"Ini hanya saran Bapak Nak, jika kamu tak mau melanjutkan, tak apa. Semua keputusan ada di tanganmu. Hanya saja, jika mampu menolong mengapa tidak." Lagi-Lagi ucapan Pak Ustad penuh makna.
Aku berfikir sejenak, ada benarnya yang Pak Ustad katakan. Kalau bisa, mengapa tidak. Tetapi, rasa ragu dihati ini membuatku galau dalam memilih keputusan.
"Jangan takut Nak Syasya, yakin kepada Allah. Bukankah, dirimu sudah bisa melewati gangguan dari Jin suruhan orang itu? Artinya Allah memberi jalan agar dirimu bisa sampai di sana."
"Maksud Pak Ustad ... Jadi?" Aku tak mengerti dengan semua kata-kata Pak Ustad.
"Iya, kalian memang diganggu oleh Jin penunggu kebun karet, tetapi hanya sebatas ban mobil. Selebihnya, Jin suruhan seseorang yang melakukannya," ucap Pak Ustad. "Bukankah sebuah masalah jika dibiarkan saja akan semakin rumit, Nak Syasya? Maka dari itu, lanjutkan perjalananmu. Bawa mushaf ini bersamamu, mungkin saja sewaktu-waktu dirimu memerlukannya." Lanjut Pak Ustad sambil menyerahkan mushaf yang tadi diletkakkan di meja.
Kuraih mushaf itu, sambil menatap wajah Pak Ustad. Aku tak mengerti dengan semua ini, tetapi mendengar perkataan Pak Ustad, ada sebuah dorongan untuk melanjutkan perjalanan. Rasa ragu dihati yang tadi membuatku dilema, sedikit memudar.
"Baiklah, Pak Dadang kita lanjutkan perjalanan," ucapku dan Pak Dadang mengangguk sambil tersenyum.
Setelah memakan sarapan yang sudah disiapkan istri Pak Ustad, aku dan Pak Dadang sudah siap melanjutkan perjalanan.
"Pak, aku pamit ya. Terimakasih sudah mengizinkan kami menginap di rumah Bapak yang nyaman ini," kataku berpamitan pada Pak Ustad.
"Sama-sama Nak Syasya, jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa, untuk selalu berdo'a," pesan Pak Ustad padaku.
Setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih, aku dan Pak Dadang melanjutkan perjalanan. Tak lupa, kami pun membaca do'a sebelum mobil ini berjalan.
Mobil berjalan lancar membelah rimbunnya pohon-pohon kelapa Sawit, meski terdapat rumah-rumah namun jarak antar rumah satu ke rumah lain lumayan jauh. Tempat ini lebih banyak ditanami pohon-pohon kelapa sawit sebagai mata pencaharian warga setempat.
Begitu pula dengan Almarhumah Nenek, kelapa sawit miliknya lumayan luas. Tetapi, menurut Papa penghasilan dari kelapa sawit milik Nenek menurun semenjak beliau meninggal lima tahun yang lalu.
Papa anak satu-satunya Nenek sebagai ahli waris tidak sempat untuk mengurusi perkebunan peninggalan Nenek tersebut. Karena itu, Papa memintaku untuk mengurusi perkebunan kelapa sawit yang nantinya juga akan menjadi milikku.
"Lihat Non, sebentat lagi kita sampai."
Entah mengapa, semakin dekat dengan rumah Nenek dadaku berdebar tak karuan. Serasa sebuah ancaman sedang menunggu di depan sana. Ya Allah lindungi hambamu, bismillah, aku yakin selama Allah selalu dihati maka aku akan selalu dilindungi. Kedatanganku ke tempat ini, tak ada niat buruk sama sekali.

Book Comment (160)

  • avatar
    Saha We

    ending nya nyesek ga enak😖🥺🥲

    10/09

      0
  • avatar
    RojiatiSari Lila

    keren ka

    30/06

      0
  • avatar
    zizeeeyy

    baguss bgttt

    18/03/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters