logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 Foto di Buku Yasin

'Dia ....' segera kutarik lengan baju Pak Dadang, dia langsung menoleh ke arahku yang berdiri tepat di belakangnya. Wajahnya mengernyit, bola mataku langsung berputar ke arah sosok yang tadi terlihat.
Aku terkejut, sosok tadi sudah tidak ada di sana. Pak Dadang pun makin kebingungan, lalu dia berkata, "apa sih, Non?"
"Pak, tadi di sana ... Ah sudahlah Pak, mungkin aku kelelahan jadi salah lihat." Pak Dadang menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawabanku. Tetapi, tadi jelas-jelas terlihat sosok Bapak yang menolong kami saat kehabisan bensin. Dia sempat tersenyum padaku, dan entah ke mana dengan cepat dia sudah menghilang, misterius sekali.
" Pak Ustad, kita naik mobil saja," ucap Pak Dadang mengajak Pak Ustad, dijawab anggukan seraya tersenyum oleh Pak Ustad.
Jarak surau dan rumah Pak Ustad tidak terlalu jauh, hingga kami kini sudah tiba di depan perkarangan rumah yang terbuat dari bilik bambu. Meski sederhana, rumah ini tampak begitu sejuk dan nyaman. Bunga-bunga di halaman rumah ini membuat pemandangannya lebih indah meski dilihat pada malam hari.
Nampak seorang Ibu-Ibu keluar dari dalam rumah, lalu dia berkata, "Bapak sudah pulang, loh ini sama siapa?"
"Ini tamu kita Buk, ayo ajak masuk. Namanya Syaya, dia dari kota kebetulan lewat dan kemalaman." Aku tersenyum pada Ibu yang sepertinya Istri dari Pak Ustad.
"Mari masuk Nak, kelihatannya kamu kecapean, ya!" Ibu itu memegang pundakku seakan aku adalah anaknya yang baru saja datang. Meski baru saja kami bertemu dan saling kenal, tetapi keluarga ini begitu sangat baik dan menyambut kami dengan begitu hangat.
"Bu, boleh numpang ke kamar mandinya?" Rasanya tubuhku sudah sangat lengket, setelah kejadian yang sangat menegangkan tadi membuat keringat dingin membasahi tubuhku dan membuat tak nyaman.
"Boleh Nak, masuk saja kebelakang. Tapi maaf ya Nak, kamar mandinya gak kaya di kota," jawab istri Pak Ustad sangat ramah.
"Tidak apa, Bu."
Sebelum kekamar mandi, kuambil baju di dalam tas yang ada di mobil. Tetapi, saat mengambil baju ada sesuatu yang janggal menurutku. "Bukannya, tadi Pak Dadang bilang ban mobil kempes dan dia menggantinya, tetapi kenapa ini ...." sambil kuketuk-ketuk ban yang ada di dalam mobil tepat disamping tasku.
"Ah, nanti saja kutanyakan pada Pak Dadang," gumamku.
Lalu melanjutkan lagi tujuan awal untuk membersihkan diri. Masuk ke dalam kamar mandi yang juga terbuat dari bilik bambu, namun tetap bersih. Nyaman, walau lantai kamar mandi ini hanya terbuat dari kayu yang disusun-susun.
Kuraih gayung berisi air dan menyiramnya di tubuhku yang begitu lengket, meski malam hari air ini tidak terasa dingin. Guyuran demi guyuran membasi tubuh, dan membuat pikiran sedikit tenang.
Aku berjalan masuk mendekati Pak Dadang juga Pak Ustad dan istrinya yang nampak sedang berbincang.
"Nak Syasya, sudah beres mandinya?" tanya Istri Pak Ustad yang melihatku.
"Sudah, Bu." sambil tersenyum kujawab.
"Kemari Nak, minum teh dulu. Ada sedikit rejeki dari tetangga sebelah." Aku melihat meja yang memang sudah berisi bermacam makanan.
Setelah terkena air, perut ini memang meronta kembali ingin segera diisi. Melihat berbagai makanan yang ada di meja, aku merasa lagi-lagi Allah selalu memberi nikmat yang lebih.
Aku ikut duduk bergabung, dan meneguk teh yang masih hangat. Pak Dadang yang memang sudah sangat kelaparan, sudah lebih dulu makan. Istri Pak Ustad memasukan nasi beserta lauk pauk kedalam piring dan memberikannya padaku.
"Terimakasih, Bu." Kuraih piring yang sudah berisi nasi dan lauk-pauk.
Tak lupa kubaca do'a dan cepat memasukan suapan pertama ke dalam mulut, nikmat memang rasanya. Jika apapun yang dimakan, selalu mengucap syukur. Tetapi, tiba-tiba aku teringat tentang ban mobil yang tadi kata Pak Dadang kempes. Karena rasa penasaran langsung kutanyakan pada Pak Dadang. "Pak, tadi Bapak bilang ban mobil kempes, kan?"
"Iya Non, tapi ...."
"Tapi, ternyata enggak kan Pak." kupotong kata-kata Pak Dadang, dan dia mengangguk.
"Kok, Non tau." Pak Dadang nampak penasaran, karena aku sudah mengetahui ban yang ternyata tidak sama sekali kempes.
"Tadi pas ambil baju, gak sengaja liat. Pas Syasya pukul-pukul masih nyaring bunyinya." Sambil menguyah-ngunyah makanan aku menjawab.
"Beberapa bulan yang lalu, juga ada yang mengalami hal yang sama seperti kalian alami," ujar Pak Ustad. "Bahkan keadaan mereka lebih parah dari kalian, seminggu mereka dijebak oleh Jin hutan karet itu." lanjut Pak Ustad menuturjan.
"Jadi, bukan hanya kami yang menjadi korban Jin usil itu, ya Pak Ustad?" Tanya Pak Dadang.
"Hmmm, tapi untung kalian bisa cepat keluar dari jebakan itu. Aku lihat, Nak Syasya pintar mengaji, ya?" Pertanyaan Pak Ustad membuatku tersedak karena merasa tersanjung.
"Minum, Nak." Istri Pak Ustad memberiku segelas air putih.
"Aku belum pintar Pak, masih belajar," jawabku mencoba untuk tetap rendah hati, walau jujur rasanya saat ini ingin melayang-layang di angkasa. Ada rasa bangga pada diri sendiri, saat Pak Ustad mengatakan aku pintar mengaji.
"Sangking pintarnya, ngusir Demit pake do'a masuk WC Pak Ustad," kelakar Pak Dadang sambil tertawa, membuat aku malu dan menundukkan kepala.
Ah, Pak Dadang. Kadang karena ulahnya yang suka guyon malah membuatku menjadi malu, ibaratnya sudah dibawa terbang jauh keangkasa malah sekarang dihempaskan kembali kebumi. Tapi dengan begitu suasana menjadi semakin hangat, kami tidak seperti orang lain yang sedang menumpang.
"Kenapa lewat jalan itu Pak Dadang, bukannya sudah ada jalur yang baru?" tanya Pak Ustad pada Pak Dadang.
"Wah, aku tidak tau Pak kalau sudah ada jalur baru."
"Kebanyakan melamun si Pak Dadang." Skakmat kali ini Pak Dadang kena serangat balik. Aku terkekeh melihat wajah Pak Dadang, lalu dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dan kami tetawa bersama.
"Ditambah Nak makannya." Istri Pak Ustad mendorong besek yang berisi makanan.
"Iya Bu, ada acara apa tetangga sebelah Bu?" tanyaku, sekedar basa-basi sambil menyendokan makanan dari besek keatas piringku.
"Tahlil—an empat puluh harian, Nak," jawab istri Pak Ustad.
Aku mengangguk-anggukan kepala dan melanjutkan makan, hingga tidak ada yang tersisa dipiring. Kami pun melanjutkan mengobrol, setelah membatu Istri Pak Ustad membereskan piring-piring dan sisa makanan di meja.
Kami berbincang-bincang prihal kebun karet yang memang katanya dihuni oleh Jin yang suka usil, sudah banyak yang menjadi korban terlebih mereka yang jarang membaca do'a saat hendak berjalan. Bahkan, ada beberapa orang yang tersesat saat sedang menoreh karet. Ketika ditemukan, orang itu sudah linglung dan tampak lemas.
"Karena itu Nak Syasya, jangan pernah lupa menyebut nama Allah apapun keadaannya. Walaupun do'a masuk WC tidak masalah, itu artinya Nak Syasya selalu ingat Allah." Kulirik Pak Dadang sambil menaik-naikkan alis dan tersenyum, kata-kata Pak Ustad barusan bisa membuat Pak Dadang tidak lagi mengejek.
Pak Dadang tersenyum, lalu menggelang-gelengkan kepala. Melihat mimik wajahku yang menurutnya lucu.
"Buk, bukannya tadi dapat buku yasin dari keluarga Almarhum Pak Sholeh?" tanya Pak Ustad pada Istrinya.
"Iya, Pak." Istri Pak Ustad memberikan sebuah buku yasin, yang di sampulnya terdapat foto Almarhum.
"Nah, Almarhum ini pernah tersesat di kebun karet itu," ucap Pak Ustad. "Seminggu dia menghilang, lalu ditemukan warga di tengah jalanan kebun karet."
Aku dan Pak Dadang mendengarkan cerita Pak Ustad, agak ngeri sebenarnya, ulah Jin yang usil ini bisa membahayakan keselamatan warga.
"Tetapi, setiap masalah itu membawa hikmah. Sejak kejadian itu Almarhum menjadi rajin sembahyang berjama'ah kesuaru. Bahkan awalnya beliau jarang ikut kajian malam, tetapi sejak kejadian itu setiap malam dia hadir." Lanjut Pak Ustad mengisahkan.
"Lantas, Almarhum meninggal apa penyebabnya, Pak Ustad?" tanyaku yang penasraan.
"Beliau tidak sakit, meninggal mendadak. Mungkin memang takdir umurnya sampai di situ Nak Syasya," jawab Pak Ustad, sambil dibuka-bukanya buku yasin.
"Meninggal diumur berapa ya Pak, kalau boleh tau?" Kali ini Pak Dadang yang nampaknya penasaran.
"Sekitar empat puluhanlah, di buku yasin ini tertulis umur Almarhum empat puluh Pak Dadang," jawab Pak Ustad, sambil menunjukan umur yang tertera di buku yasin yang terdapat foto dari Almarhum itu sendri.
Aku yang melihat foto tersebut mendadak merinding, kuraih buku yasin yang diletakkan Pak Ustad dimeja tepat di depanku. Kuperhatikan foto itu, untuk meyakinkan bahwa memang dia orang yang sama.
"Pak Dadang, lihat ini." Mata Pak Dadang membulat saat melihat sosok yang ada di sampul buku yasin tersebut. Sepertinya dugaanku benar. Pak Ustad yang melihat kami berbisik-bisik pun merasa heran.
"Ada apa Nak Syasya?"

Book Comment (160)

  • avatar
    Saha We

    ending nya nyesek ga enak😖🥺🥲

    10/09

      0
  • avatar
    RojiatiSari Lila

    keren ka

    30/06

      0
  • avatar
    zizeeeyy

    baguss bgttt

    18/03/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters