Benar kata Nayla, karena terdesak Mbak Nani pasti akan menemui kami kembali. Namun, hari ini bukan Mbak Nani dan suaminya yang datang, melainkan Sahrul—putra mereka. "Ayo duduk dulu, Rul." "Nggak usah, Om. Sahrul cuma mau sampein pesan mama aja." "Ya, ada apa?" "Minggu depan om sama tante disuruh bantu-bantu, jangan sampai enggak." "Sampaikan sama mama, InsyaAllah tante dan om datang." "Ya sudah, Arul balik dulu." Sahrul berlalu begitu saja, tanpa mengucap salam apalagi mencium tanganku. Dasar anak zaman sekarang, kurang sopan. "Loh? Sahrulnya mana, Bang?" tanya Nayla yang baru saja kembali dari dapur, membawa serta dua gelas tes manis hangat di tangannya. "Udah pulang." "Kok nggak disuruh mampir dulu, Bang?" "Sudah, tapi kata dia nggak usah." "Teh manisnya bagaimana, dong?" "Taruh saja di situ, nanti Abang minum." Aku kembali dengan kesibukanku merapikan gerobak, mumpung ada sedikit bahan tambahan pemberian Pak Sodikin kemarin. Selagi ada bahan yang bisa dipakai, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Nayla duduk di teras rumah, memperhatikanku yang sedang sibuk menyusun potongan kayu agar membentuk sebuah kotak yang kekar. "Ada apa Sahrul datang, Bang? Apa ada kaitannya dengan rencana pernikahan Alisa?" "Iya, Mbak Nani minta kita datang membantu Minggu depan, jangan sampai enggak—katanya." "Oh, begitu." Sejujurnya aku tak mau memaksa Nayla untuk ikut. Apalagi, selama ini Mbak Nani selalu berkata tajam pada kami. Aku khawatir Nayla akan sakit hati nantinya, ada baiknya menghindar jika bisa, namun tentu saja kali ini kami tidak ada pilihan lain selain datang. Sejauh ini Nayla memang tidak pernah mengeluhkan sikap Mbak Nani, tapi aku yang adiknya saja merasa sakit hati apalagi istriku. "Apa kita jangan datang aja ya, Dek?" "Hussh, saudara minta tolong kok dianggurin gitu?" "Mbak Nani begitu sih orangnya, kalau ngomong enggak ditakar dulu, orang sakit hati apa tidak dengan ucapannya." Nayla terkekeh. "Ditakar, memang beras? Sudahlah, Bang. Kita 'kan dimintai tolong untuk bantu-bantu, lagipula kamu satu-satunya adik Mbak Nani. Kalau bukan kita, siapa lagi?" "Ya sudah kalau begitu, selagi kamu nggak keberatan." Hubunganku dengan Mbak Nani memang memburuk sejak bapak tiada, entah apa salahku sampai Mbak Nani dan suaminya begitu sinis setiap kali bertemu. Padahal, selama ini aku selalu mengalah, bahkan urusan rumah warisan bapak saja aku tidak mau ambil pusing dan menyerahkannya pada Mbak Nani. Aku hanya sadar diri, saat bapak masih ada, Mbak Nani lah yang sering memberinya uang. Aku mengalah untuk menghindari konflik, tapi rupanya dimata Mbak Nani semuanya tetap salah. *** Tak terasa dua hari lagi acara pernikahan Alisa digelar, aku dan Nayla segera bersiap untuk pergi ke rumah Mbak Nani sore nanti. Sebelum itu, Nayla membongkar celengan yang sebelumnya kami siapkan untuk dana darurat. Mengingat akhir-akhir ini memang hasil dagangan sedang sepi, jadi dengan terpaksa kami harus pakai dana yang ada. "Dapat berapa, Dek?" "Nggak banyak sih, Bang. Cuma dua ratus tiga puluh dua ribu." "Ambil saja dua ratus ribu, sisanya simpan." "Kita beli kado apa bagaimana, Bang?" "Kita kasih uangnya saja, lumayan bisa untuk tambah-tambah Mbak Nani." Nayla hanya mengangguk pelan lalu memasukkan uang recehan itu kedalam plastik. "Nay tukar uangnya dulu ya, Bang. Sekalian beli amplop." "Ya, Dek. Jangan lama-lama, ya. Kasihan Marwah, ngantuk kayaknya." "Iya, Bang." Nayla berlalu pergi, sedangkan aku mencoba menenangkan Marwah yang rewel karena menahan kantuk. *** Setibanya di rumah Mbak Nani, tenda, pelaminan dan panggung besar sudah berdiri. Ternyata Mbak membuat pesta yang cukup meriah, terlihat dari segala hiasan yang terpajang disana. Tidak ada siapapun yang menyambut kami, kecuali saudara jauh almarhum bapak yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumah peninggalan bapak, itu pun mereka tak bisa berlama-lama dan langsung pulang begitu saja. Aku merasa kedatanganku dan Nayla diacuhkan, Mbak Nani sibuk menyambut keluarga Mas Yoga, sedangkan kami disuruh langsung pergi ke dapur setibanya sejak tiba. "Kalian langsung ke dapur saja, banyak kerjaan," titahnya. Tentu saja batinku berontak, Mbak Nani pikir aku dan Nayla ini apa? Seenaknya saja terus memperlakukan kami seperti ini. Setidaknya, apakah dia tidak bisa berpura-pura menyapa kami untuk sekedar berbasa-basi? Kuhampiri Nayla yang sedang membantu mengupas wortel. "Ayo, Dek." "Kemana, Bang?" "Ke depan, kita temui Mbak Nani dulu." "Sepertinya saudara Mas Yoga masih ada, Bang." "Kita juga saudaranya, kenapa tidak boleh ikut bergabung?" "Bang ...." Ini sudah kelewat batas, Mbak Nani sudah keterlaluan merendahkan kami yang seolah dianggap tak ada. Mbak Nani tentu saja kaget saat aku dan kedua anakku ikut duduk bersamanya, apalagi Mas Yoga yang terlihat sinis menatapku seolah jijik melihat serangga. "Ngapain disini, Di? Bantu-bantu di belakang, sana!" bisik Mbak Nani seraya membulatkan matanya. "Maaf, Mbak. Aku dan Nayla nggak bisa bantu-bantu, kami hanya bisa datang saja." Mbak Nani langsung menarikku dan membawaku ke ruangan belakang. Sontak saja Marwah yang berada di pangkuanku langsung ketakutan, belum lagi Safa. "Maksud kamu apa sih, Di? Kamu nggak mau bantu saudaramu?" "Mbak anggap aku saudara? Sungguh?" "Tentu, kenapa kamu tanya begitu?" "Aku dan Nayla datang, langsung Mbak suruh bantu-bantu, sudah seperti pembantu. Sedangkan adik Mas Yoga, Mbak sambut di ruang tamu. Apa Mbak nggak sadar sudah melukai hatiku?" Nayla yang menyusulku setelah membersihkan tangannya langsung menghampiri, dia berusaha menenangkanku dan Mbak Nani yang terlihat murka. "Lalu kamu mau disambut juga? begitu?!" "Setidaknya sapa kami, Mbak. Aku dan Nayla bukan batu." Mbak Nani terkekeh. "Nggak sangka kamu begitu kekanak-kanakan, Di. Aku memperlakukan adiknya Mas Yoga begitu karena dia yang membantu banyak biaya, sedangkan kamu? Mbak Minta satu juta saja nggak ngasih, lagaknya mau disambut." Sakit hatiku mendengar ucapan begitu menusuk dari Mbak Nani. Apakah hanya saudara kaya saja yang harus dihargai dan disayangi? Sedangkan saudara miskin sepertiku tak pantas meski hanya disapa ramah oleh kakakku sendiri? "Maafkan Adi, Mbak. Mungkin memang Adi yang tidak sadar diri, ini hanya sedikit dari Adi dan Nayla. Tolong diterima." Mbak Nani meraih amplop yang kuberikan, lalu dia membukanya tepat di hadapan kami. Bahkan, ada juga beberapa orang yang tengah membantu tak sengaja menonton itu. "Ya ampun, Di. Ngasih dua ratus aja tapi mau diperlakukan seperti raja," cibirnya. Aku malu bukan main, kenapa Mbak Nani begitu tega mempermalukan adiknya sendiri dihadapan banyak orang begini. Nayla juga sudah siap menitikkan air mata, kini sudah tak ada lagi alasan kami tetap tinggal. "Iya, maaf hanya segitu, Mbak. Adi pamit, Assalamu'alaikum." Tak perlu menunggu jawabannya, ku ajak Nayla dan kedua putriku pulang. Tak kuhiraukan lagi pandangan sinis Mbak Nani, Mas Yoga dan juga keluarganya yang menatapku seolah orang yang hina. Cukup sampai disini, tak akan kubiarkan Mbak Nani menghinaku apalagi Nayla lagi, lebih baik tak perlu bertemu daripada menyakiti hati.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 23 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (93)
RifqiLalu
ceritanya menyayat hati perjuangan kita umat manusia... 😞
05/05/2022
0
MeilianaEstina
alhamdulillah, bagus sekali dan sangat menginspirasi. mengajarkan utk selalu bersyukur dalam situasi apa pun. thanks ya.. saat sedang terjatuh baca karya ini jadi bangkit lagi.
semangat terus utk menghasilkan karya yg bagus
ceritanya menyayat hati perjuangan kita umat manusia... 😞
05/05/2022
0alhamdulillah, bagus sekali dan sangat menginspirasi. mengajarkan utk selalu bersyukur dalam situasi apa pun. thanks ya.. saat sedang terjatuh baca karya ini jadi bangkit lagi. semangat terus utk menghasilkan karya yg bagus
02/12
0bagus
13/07
0Ver Todos