Menikah barangkali adalah mimpi bagi semua orang. Mengenakan gaun panjang nan anggun. Hiasan gedung mewah dan meriah. Tamu-tamu hadir dengan dress code yang senada. Nggak lupa pojok atau spot yang instagramable. Nyatanya, menikah tidak diidamkan semua orang, gue salah satunya. Tidak melulu seindah yang dipikirkan. Ada yang bahagia, ada yang harus bersuka-duka karena berbagai alasan, bahkan ada yang harus menelan pil pahit, seperti gue. Jangan ditanya bagaimana terlukanya gue. Saat semua keluarga justru menyetujui keputusan tersebut. Tak cukup waktu untuk gue bisa mencerna alasan di balik semua hal ini. Butuh jeda yang tidak sebentar pula untuk gue belajar tentang mengikhlaskan. Semua orang bersuka cita menyambut hari pernikahan yang tinggal menghitung waktu. Tentu, ini kepedihan yang teramat. Seakan diabaikan dan tidak dihargai ketika gue melayangkan protes. Seperti pendemo di gedung DPR. Eh, gimana? Canda DPR. Pengorbanan yang selama ini gue lakukan, seakan tidak dipandang sama sekali. Menjadi anak baik, anak rumahan, selalu juara kelas, dipaksa masuk jurusan sesuai keinginan orang tua, semuanya! Hanyalah kesia-siaan. Hampa, Guys. Demi kepentingan pribadi Papa, gue-lah yang menjadi korban. Bahkan, tidak punya kesempatan atau pun sekedar harapan untuk menghindar. Gue percaya ini adalah ujian yang Tuhan berikan agar bisa naik kelas. Menjadi pribadi yang lebih bijak dalam memandang kerasnya kehidupan. Ini bentuk husnudzon gue sama Allah. "Ara, lusa acara lamaran!" teriak Papa dari balik pintu. Bodo amat! Gue merutuk dalam hati. Gue nggak ingat lagi kapan terakhir keluar untuk menghirup udara segar. Kalau saja mereka paham bagaimana kerasnya gue berusaha mengikhlaskan kenyataan, mungkin kesewenangan itu tak akan pernah datang. Andai, ya andai-andaian doang. Sayangnya, orang lain selalu men-judge dari luarnya saja. Tidak ingin dan tidak pernah mau tahu apalagi berempati pada apa yang sedang gue rasakan. Jahara kalian. Gue memang kepalang menanggung perih. Segala persiapan pernikahan telah mendekati final. Undangan pun terlanjur dicetak. Bagaimana entengnya mereka membuat jalan dan jalur takdir gue. Mereka nggak tahu air mata gue yang udah membatu setiap hari. Melalui sisa kekuatan diri yang gue punya, harus kembali mengabarkan bahwa gue baik-baik saja. Kadang bukan empati yang gue terima. Justru sebatas cibiran yang datang kepada gue dengan nada meremehkan. Mereka bilang gue lemah, cemen, manja, dan sebagainya. "Kamu sudah dua puluh, lah Tante dulu umur enam belas sudah menikah." Begitu kata salah seorang kerabat Papa. "Bagus lagi nikah muda, Ara. Masa produktif-nya panjang," timpal yang lain cekikikan. "Eh, nikah muda itu syahdu tahu. Tante loh, umur tujuh belas menikahnya. Tiga tahun pertama, puas-puasin pacaran halal. Habis itu baru program hamil. Apalagi nih ya, itu si Leo anak konglomerat, bebas kamu mah mau keluar negeri tinggal kedip mata juga bisa." Giliran adik Ibu yang bersuara, disambut riuh tawa yang bagi gue itu pilu. Senyum getir. Itu saja, nggak lebih. Hingga hari pertunangan itu tiba. Kebaya terbaik gue kenakan. Rambut disasak rapi dengan make up natural untuk menyempurnakan penampilan. Rasanya? Aaah mantapzzzz. Prosesi yang panjang dan membosankan. Terlalu banyak kata pengantar basa-basi kosong dari orang-orang yang merasa punya power dalam keluarga Adyaksa. Gue hanya duduk mematung. Mengumbar senyum palsu pada tamu yang datang. Ekor mata gue sempat memotret lelaki itu, masih sebeku dan semenyebalkan seperti sebelumnya. Puncaknya, penyematan cincin tunangan olehnya Frozen Man--Leo Hameed Ghufran--si kulkas berjalan. Gue gugup, bukan karena mendadak falling in love. Gue gugup because harus berinteraksi sedekat ini dengan manusia seperti Leo. Lensa kamera menyoroti tiap sisi. Berhasil, cincin tunangan bertahta berlian itu sukses melingkar di jari manis. Tiba saatnya, giliran gue melakukan hal sama. Menyematkan cincin pada jemarinya. Nahas, cincin itu tergelincir dan jatuh menggelinding di atas permadani biru yang menjadi alas pijakan. Semua orang terkesiap. "Itu saja nggak becus!" rutuknya hampir bisik. Persis saat gue merunduk hendak memungut benda melingkar itu. Apalagi kalau bukan amarah yang menggelegak. Jantung berdentuman menahan geram. Rasanya ingin kujambak dan kucakar mukanya. Bisa-bisanya dia melontarkan perkataan tanpa memikirkan perasaan orang lain. Orang dewasa yang krisis empati. Atau, memang dia manusia tidak berperasaan? Rasanya ingin gue bernyanyi, palpale palpale pal pale-pale sambil toyor-toyor kepala Leo. Gue mendelik padanya. Mirip Mbak Feni Rose pembawa acara Silet. Tanpa berkata-kata itu saja yang gue lakukan agar amarah nggak meleduk. Mata gue memerah karena stimulasi emosional, sekaligus membendung air mata. Bagi gue, ini sebuah penghinaan. Pantang buat gue jika harga diri yang dipertaruhkan. Nggak peduli dia siapa. "Hati-hati, Ara. Jangan bikin malu begini," bisik Papa yang memberikan cincin itu pada gue. Terburu gue meraih, menyematkan dengan paksa pada jari manusia tanpa ekspresi itu. Noh, mamam tuh cincin! Memang, dia aktor yang ulung. Ketika ada tamu yang meminta foto, bisa begitu semringah wajahnya. Menyambut dengan ramah dan air muka yang luwes. Ini kah manusia seribu wajah itu? Leo siapanya Naruto kira-kira? Satu persatu, orang meninggalkan lokasi. Tinggal keluarga inti yang berbincang mengenai pernikahan. Satu minggu lagi, perhelatan itu akan digelar. Kata mereka, pesta! Halah, pesta mata kalian. "Kamu jangan terlanjur senang bisa menikah denganku, aku melakukan ini karena orang tuaku pernah berhutang budi pada orang tuamu!" Diiiihh, Alfonso ... aku-kamu segala? Gue nggak salah dengar nih? Dia pikir gue berharap dan bahagia menikah dengannya. Hish, dasar manusia! Pede boros. "Jangan juga merasa bangga bisa menikahi gue. Gue melakukan ini juga karena nggak bisa melawan Papa. So, bukan berarti karena Anda keren bisa memenangkan hati Tsamara Byan Adyaksa," balas gue sengit. "Hegh, bar-bar. Tapi kamu mengakui kalau aku keren, 'kan?" "Barangkali itu hanya kebetulan!" Dengkusan kesal, itu saja yang dia berikan. Apa istimewanya manusia satu ini yang bisa gue jadikan alasan untuk belajar mencintai? Wajahnya, emm ... gue akui keren sih. Semakin dekat ke hari pernikahan, semakin terlihat watak aslinya. Krisis attitude. 🍁 Kamar yang sengaja nggak diberi penerang, hanya sebuah lampu tidur mini sebagai sumber cahaya. Adalah tempat ini paling menentramkan bagi gue. "Ara, Mama boleh masuk?" Suara di luar terdengar memohon. Gue putar kunci, menimbulkan bunyi klek dalam hening. "Kamu belum istirahat?" tanya Mama sesaat setelah duduk di tepi ranjang. "Belum, Ma." Mama meraih tangan kiri gue, meraba jari manis yang dilingkari cincin tunangan tadi siang. Manik matanya berkaca-kaca. "Mama ... turut hancur dengan kejadian ini, Ra. Mama pikir kamu akan melesat jauh mengejar karir. Anak mama satu-satunya yang mama banggakan. Ternyata jalannya berbeda." Ucapan Mama terasa lebih sendu. "Apa daya mama menentang keputusan Papa. Tidak ada yang bisa mama lakukan untuk menolong kamu. Hanya doa-doa tulus di sepertiga malam, agar kamu tabah dan ikhlas atas takdir ini." "Ma ...." Gue eratkan pagutan jemari pada tangan kurus Mama. "Mama minta maaf, sudah membuat Ara menjadi begini." Gue merangkul Mama, saling bertangisan tanpa berkata apa-apa. Hanya derai air mata yang bisa menyampaikan isi hati masing-masing. Baper banget, anjim. "Nanti, kalau sudah pindah dan tinggal dengan Leo. Sering-sering hubungi Mama ya, Ra." Sekali ini gue terhenyak, sebenci-bencinya gue pada keputusan mereka, Mama tetaplah Mama. Gue tetap anak Mama satu-satunya. Entah nanti masih akan bisa mengunjungi mereka sesering mungkin. Gue tahu sakitnya rindu. Dulu, camping tiga malam berturut-turut nggak pulang-pulang, mau gila gue nahan rindu. Canda rindu. "Jangan racuni pikiran Ara, seminggu lagi hari H. Kesalahan fatal ini namanya, Ma!" bentak Papa yang muncul tiba-tiba. Gue terkesiap, begitupun Mama. Sejak kapan Papa ada di pintu kamar? "Meracuni apa maksudnya. Saya hanya bicara hati ke hati dengan Ara, apa itu salah?" pekik Mama lantang. "Salah!" Papa kalap membentak. "Stop! Ara bosan mendengar bentakan demi bentakan. Sabar sebentar lagi, Pa ... nanti Ara juga pergi dari rumah ini tanpa perlu papa usir begini!" "Diam kamu, Ara!" "Kebebasan Ara untuk bicara, Ara juga punya hak azasi manusia, Pa. Sekarang, memang masih anak Papa. Sebentar lagi akan berubah, semoga Papa nggak menyesal!" "Berani ya kamu sekarang!" Tangannya terangkat, siap untuk melancarkan tamparan. Ayo, gue mah santuy. "Apa? Tampar! Ayo tampar ... bunuh kalau perlu!" "Sudah, stop ... stop ... ayo kita turun, kamu tidur ya, Ra." Mama berteriak, memeluk dan menarik Papa keluar. Lelaki itu masih merah matanya, gigi juga gemeletukan. 🍁 Setelah sekian hari gue lewati pasca-keputusan sepihak itu, gue merasa kembali lahir menjadi sosok yang malang. Sosok yang gue rasa, menjadi lebih tidak ada arti dari sebelumnya. Luka yang baru ditorehkan memang begitu dalam. Gue nyaris putus asa dan merasa tak akan pernah mampu memulihkan kembali. Ternyata perkiraan gue salah, justru luka ini yang membuat gue menjadi orang yang lebih legowo dalam menghadapi kenyataan kehidupan. Inilah gue, Tsamara ... yang tidak bisa memilih bisa memiliki papa yang seperti apa. Pada simpulan terakhir, Papa sudah membentuk gue sebagai pribadi yang sedemikian pembangkang. Misalnya, jika ada kejadian yang sangat menyakitkan nanti, gue nggak akan mau menerima menjadi seseorang yang paling disalahkan, tidak! Gue hanya gadis biasa, yang tidak selamanya diam kalau diinjak-injak. Gue ditempa dengan keras, dipaksa dewasa sebelum waktunya. Tunggu! Gue yang pemberontak atau mereka yang menanamkan jiwa bar-bar itu pada gue? "Cukup perlakukan Ara demikian. Nanti dia tidak mengunjungi kita lagi, baru paham rasanya rindu. Sekarang kamu bisa membentak dan mendikte semau-maunya, nanti dia tidak lagi hadir, sementara kita menua dalam rasa bersalah!" Mama masih mendebat dengan tangis menjadi-jadi. "Saya tidak mendiktenya, memilihkan jalan terbaik, supaya masa depannya tidak keliru!" Papa lebih hebat dari Tuhan, ledek gue sinis di ujung tangga. Tbc
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
bagus
27/07
0suka bangeeeeet sama ceritanya,, bagus banget,,
08/02/2025
0bgus
21/10/2024
0Ver Todos