logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

MENIKAH DENGAN LELAKI KULKAS

MENIKAH DENGAN LELAKI KULKAS

Pistachio


Capítulo 1 Prolog

Semburat jingga di ufuk seakan tergelak menatap ke arah gue. Bukan, itu tawa prihatin. Sialan! Damn it.
Apa gue semenyedihkan itu? Oh shit!
Ternyata memang sememprihatinkan itu, setelah Papa menjodohkan gue dengan anak kolega bisnisnya.
Mengapa tiap kali membicarakan tentang bahagia tidak ada habisnya? Hanya berujung menjadi penyakit bernama sesal tanpa penawar. Bayang masa depan menari, meliuk-liuk memainkan imajinasi yang nakal. Sesekali meraba sebelah pipi berhias anak rambut liar yang tergerai.
Gue seperti terjebak, dalam labirin tanpa peta. Lagu cinta berirama suram, bersulaman di atas dedaunan. Melodinya mengepak sebentar dibelai angin.
Geleparnya pilu.
Ahh ....
Itu seperti jerit dalam jantung. Belakangan ini sering meradang tak tertahankan.
Sakitnya menghunus tanpa ampun. Kalaulah saja menjerit, semua orang hanya mengecap gue wanita muda yang sudah gila. Bisa juga perawan yang kehilangan kewarasan, karena mengejar fatamorgana dunia.
Sungguh membagongkan.
Mengapa gerimis di kelopak netra masih menenun? Gue melihat lukisan cita ikut gugur, hanyut dalam arus yang terjun bebas menuruni pipi. Adakah yang tahu? Big no!
Sebenarnya gue pengen buru-buru meraba dan mengusapnya. Ingin bercerita tentang apa saja untuk menghibur kekalutan yang mendera. Tapi, nggak mampu.
Sayang, ternyata hanya guyonan basi. Gue yang berharap lebih. Sementara takdir terus memberi jarak seperti bentangan langit dan bumi.
Semalam papa merangsek tanpa permisi ke dalam kamar, kayak perampok di film-film barat yang dulu sering gue tonton. Ngeri.
Dia mengusap lembut kening gue yang tertutup beberapa helai anak rambut. Meninggalkan satu kecup hangat di sana. Juga menyelipkan segenggam harapan pada langit yang ikut meratap. Baper kan gue.
Waktu itu, gue nggak benar-benar tidur. Mata masih merah dan bengkak setelah menangis tersedu-sedu. Hanya memejamkannya saja. Di balik kelopak yang menggelap, gue bisa mentaksir mereka tersenyum manis sekali. Seakan-akan telah memenangkan kompetisi, dan gue-lah yang kalah.
🍁
Kenalin, gue Tsamara Bian Adyaksa. Maba yang masih unyu-unyu volos di salah satu universitas kenamaan di Kota Padang.
Barang sedetik pun dalam hidup nggak pernah terpikirkan kalau gue harus menikah dengan usia masih dua puluh tahun. Masa-masa mulai berjingkat, menikmati indahnya masa muda. Bangs*t sekali rasanya.
Mereka datang, berbicara banyak hal di ruang tamu. Tawa berderaian, tentang masa akan datang yang akan terhidang. Sementara gue, menjadi kambing congek pesakitan yang mengintip dari ujung tangga.
Cekung dangkal di kedua pipi lelaki itu, benar-benar membuat gue nggak bisa tidur. Lengkung sebaris di bawah hidungnya yang bangir, kini menjadi racun. Gue putus asa melupakan tiap jengkal kejadian malam itu. Gila ... gila ... gila!
Kaku, membosankan, arogan, dan beku. Kesan pertama yang gue dapati pada manusia itu. Hanya lengkung senyum kepalsuan, yang dipaksakan sewaktu-waktu. Menurut gue sih gitu. Hihi.
Diri gue ini hanya bisa menjadi penyaksi setiap tetes duka. Kuncup rindu berselimut embun. Hanya resah menyesak di dada. Anjay nggak tuh.
Gue hanyalah gadis muda yang mencari jati diri. Mengikuti trend adalah jalan ninja untuk menghibur hati. Memangnya salah, ketika gue berekspresi di depan kamera dengan polesan pose dan iringan musik ceria? Ya nggak salah dong!
Ekor mata gue menangkap lelaki itu berangsur tegak. Tiba-tiba muncul di ujung tangga dan menatap pada gue sinis. Lebih tepatnya merendahkan. Songong nih orang.
Sekilas dia melihat ke kamera ponsel mode selfie yang gue taruh di atas kursi kecil. Hanya senyum entah dan mengejek yang dia berikan.
"Childish!" rungutnya agak keras.
What?
Spontan membuat mata gue membeliak dan emosi naik ke ubun-ubun. Tidak kenal, tidak mengganggu dia, tiba-tiba mengumpat orang? Geser nih cerebrum laki.
Hello!
Bolehkah gue bilang dia edan?
"Hallo, Pak ... gue nggak mengganggu hidup Anda, ya! Tolong etikanya ketika bertamu ke rumah orang!"
Menunggu lelaki aneh itu keluar dari kamar mandi, membawa gue ke pikiran jahat. Oh ya, ada yang membisikkan satu kata, kayaknya anak dakjal. Untuk apa berbuat dan bersikap sopan pada orang yang senyatanya tidak berlaku sama? Orang gue yang punya rumah, eh bukan ... papa gue lebih tepatnya.
Dia muncul kembali, dengan wajah kaku yang masih menyebalkan. Jangankan terimakasih, ngelirik saja dia nggak. Gue nggak habis thinking, ada manusia model begini.
"Minimal, kalau orang waras dan beradap, bisa bilang terimakasih setelah memakai kamar mandi orang!" sindir gue persis saat dia turun tangga.
Dia berhenti, menoleh ke belakang dengan tatapan entah. Sungging senyumnya memang menyebalkan. Smirk kalau nggak salah ini mah istilahnya.
Manusia seperti apa lelaki ini? Hatinya terbuat dari batu kah? Sehingga nggak ngerasa sedikit pun?!
Tanpa berkata, dia pergi begitu saja. Benar adanya, pendidikan tinggi dan karir yang mumpuni, tidak serta merta menjadikan orang punya adab. Juga, penyakit sombong itu mudah sekali hinggap di jiwa manusia.
Deru kendaraan menjauh di halaman. Ya, mereka sudah pergi.
Baguslah!
"Ara, turun dulu, Nak."
Itu papa gue, pemegang aturan otoriter tampuk pertama dalam rumah ini.
"Sudah saling kenal?" tanya Papa, saat gue empaskan punggung pada sandaran sofa.
"Belum, malah dibilang childish. Siapa sih mereka?"
"Namanya Leo, anak sahabat Papa ... Om Daryadi dan Tante Lisna. Dalam waktu dekat, acara lamaran dilangsungkan."
"Lamaran?"
Barangkali pertanyaan itu tidak begitu terdengar atau boleh jadi pendengaran gue mulai terganggu. Budeg dadakan, misalnya. Atau gendang telinga gue lagi nge-lag gitu.
"Siapa yang melamar siapa?"
"Ya, melamar kamu." Papa menegaskan.
Suara gue rasanya sendat hanya sebatas kerongkongan. Desing peluru seperti menghujam jantung. Luka-luka spontan menganga. Mengucurkan darah yang tidak terkira. Anjay untuk kedua kalinya, gue nggak percaya bisa punya diksi se-indie ini.
Seolah separuh jiwa gue ikut terkubur bersama hilangnya harapan meraih masa depan. Gue ingin dibenam aja, beneran. Di bawah gundukan tanah merah, cacing-cacing akan bersemangat mengurai jasad. Gue ingin di sana, mendekap tubuh yang kaku dalam peti mati.
"Ara, semua juga demi kebaikanmu, Sayang." Gue masih nggak percaya, Mama turut mendukung keputusan papa.
"Ara yang mau dilamar? Oleh lelaki tidak beradap tadi?"
"Jaga omonganmu, Ara!" sentak Papa melotot.
Tangan kurus Mama meremas jemari gue. Gurat waktu mengikis sedikit kecantikan wanita itu. Bagi gue, Mama tetap sandaran, paling cantik dan berwibawa.
"Ara nggak mau nikah sama Leo. Ara mau kuliah, kerja, berkarier, please, Ma." Gue merintih memohon.
"Setelah menikah, kamu masih bisa kuliah Ara!" bentak Papa.
"Beda, Pa. Ara masih dua puluh tahun, kenapa harus dipaksa menikah?"
"Jangan durhaka, Ara. Tidak ada orang tua di atas dunia ini, menjerumuskan anaknya pada jalan yang salah. Semua demi kebaikan kamu!"
Lagi, hanya tekanan dengan suara lantang.
"Kebaikan Ara apa kepentingan Papa, ha?" Gue berteriak kalap.
Malam itu benar-benar suram. Bening airmata berguguran di sudut netra gue. Sebelum semuanya menjeda, lantas terkulai lemah di atas kasur. Mencoba pasrah pada takdir dan nasib pilihan orang tua.
Ruh gue seakan ikut pergi bersama kunang-kunang yang melayang di kebun belakang. Tinggal jasad bernyawa yang tidak berharga. Gue kehilangan alasan untuk tetap bertahan hidup.
"Mau mati aja," rintih gue di bawah bekapan bantal.
Beranda hati ini lengang dan temaram. Bias cahaya rembulan yang menyelinap di reranting pokok cemara. Memberi bias sendu di pelupuk kornea.
Desir angin membawa hawa basah. Entahlah ... berjam-jam duduk di bangku ini, mengingat-ingat kembali masa silam. Ketika 'Tsamara' masih menjadi primadona bagi mereka.
Kepada siapa gue bisikin resah ini agar sampai pada-Mu?
Sesak, jangan lagi datang ketika malam telah larut. Gue kesulitan bangkit untuk menyambut kedatangan sinar rembulan.
Jika asa ini benar-benar telah terkikis. Bagaimana gue bisa menemukan bahagia? Apa rambu dan clue yang bisa dipedomani, agar tidak tersesat ketika mencari jalan pulang. Semua jalur adalah asing, gue bingung dan nyaris gila.
Andai kematian yang gue pilih. Dongeng mengabarkan, ternyata maut hanya membuat jembatan panjang berkabut. Pandangan akan sering menjadi buram dan memerih. Takut 'kan gue.
Malam-malam kelu setelah itu, kusampaikan permohonan padanya--malaikat pencabut nyawa--agar turut datang ke kamar. Sudah kusediakan sebotol penuh Baygon dan berpuluh butir obat tidur. Siap untuk ditenggak, saat otak mulai tidak bekerja.
🍁
"Kamu nggak perlu terlalu merasa terjahati, Ara. Papa melakukan ini justru untuk menyelamatkan masa depanmu."
Pagi setelah itu, sepertinya Papa mulai melihat bahwa gue nggak baik-baik aja.
"Menyelamatkan apa?" Nggak gue lirik wajah lelaki itu.
"Ara, kondisi kita sedang sekarat. Kamu adalah harapan papa satu-satunya!"
Kalimat Papa barusan, spontan menghentikan gerakan tangan gue yang tadi sibuk memotong roti dengan olesan mentega. Ngiangnya menusuk telinga, menembus jantung. Wuss, untung gue nggak modar.
Papa ngejual gue?
"Papa ngejual Ara?" Sedikit mendelik, gue lancarkan tanya.
"Jangan kurang ajar, Ara! Asal bicara, mana ada orang tua tega ngejual anaknya!" bentaknya, tak lupa menggebrak meja makan.
"Nih buktinya ada. Apa namanya kalau bukan? Kenapa hak kebebasan Ara direnggut paksa seperti ini. Hanya perlu bersabar, Pa. Ara pasti bisa menjadi apa yang Papa mau, tanpa menikah dengan Leo!" Kali ini, gue turut meninggikan suara menentang Papa.
"Kurang ajar kamu, ya! Makin ke sini bukannya tambah bener, malah makin nggak tahu adab!" tangan Papa terangkat, mungkin mau nampar gue.
"STOP!" teriak Mama. "Mau sampai kapan seteru seperti ini? Mama cape!" Mama berseru dengan suara parau dari arah dapur. Muka Mama merah padam.
"Papa sama Mama selalu berdalih ini demi kebaikan Ara, masa depan Ara, untuk Ara, apa, ha? Bullshit! Kebaikan Ara apa kepentingan pribadi kalian?" Gue berteriak lagi, semakin berani. Udah kayak di sinetron televisi ikan terbang yang episode-nya nggak habis-habis.
"Jangan sampai papa gampar kamu nanti, Ra!" Papa menahan amarah, mukanya merah, dikuasai emosi.
Sendok di tangan, gue lempar asal. Berlari menaiki tangga menuju kamar. Cuma di situ tempat yang nyaman, satu-satunya tempat gue bersembunyi dari kekejaman dunia.
"Lusa mereka datang untuk lamaran, tolong jaga kesehatan! Jangan sampai mempermalukan keluarga besar Adyaksa," teriak Papa dari meja makan yang sudah berantakan.
"Terserah!" dengkus gue penuh amarah. Buum, pintu gue banting keras. Bodo amat.
Lelaki paruh baya itu, cinta pertama gue dulu. Jika berjauhan, gue pasti demam. Jika dekat, gue ingin terus-terusan dalam pangkuannya. Itu dulu, Esmeralda.
Entah bagaimana ceritanya, kini dia menjadi orang asing. Krisis kasih sayang, kasar, dan egois. Bukankah seharusnya semakin tua, semakin matang dan dewasa? Kenapa nggak gue temui itu padanya kini?
Tbc

Comentário do Livro (250)

  • avatar
    GustianiSheila

    bagus

    27/07

      0
  • avatar
    MaryanaNini

    suka bangeeeeet sama ceritanya,, bagus banget,,

    08/02/2025

      0
  • avatar
    MahdiYanti

    bgus

    21/10/2024

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes