Bunyi denting musik mengalum mengiringi sang penari yang gemah gemulai memainkan tangan. Semua mata tertuju kepada sekelompok gadis ayu yang sedang meliukkan tubuh sambil mengibaskan selendang. Tarian yang dibawakan adalah penyambutan dan penghormatan sehingga dimainkan dengan pelan dan gerak lambat. Sekar berada di tengah di antara yang lain, memakai kebaya dengan berwarna berbeda dari yang lain karena malam ini dialah yang memimpin tarian. Sejak kecil dia memang berlatih menari sebagai kewajiban bagi setiap anak perempuan di desa ini. Namun, baru pertama kali dia diizinkan tampil, atas permintaan ibu ratu. Di kiri kanan ruangan berderet kursi yang ditempati oleh para petinggi keraton. Raja duduk di singgasana, setelah memberikan kata sambutan saat acara dimulai. Lelaki paruh baya itu diapit oleh permaisuri dan dua selirnya. Para pengeran berada di sebelah kanan, dan putri di sebelah kiri. Setelah satu jam meliukkan tubuh, akhirnya tiba di puncak acara di mana Sekar membawa sebuah kalung bunga yang akan di kalungkan di leher Wijaya Kusuma sebagai penyambutan resmi. Jantungnya berdetak kencang. Tadi saat masuk ke dalam ruangan, mereka sempat bertatapan sesaat kemudian lelaki itu duduk di kursinya. Sekar berjalan pelan menuju sang pangeran kemudian berdiri di depannya dengan memberikan penghormatan. Wijaya tersenyum melihat teman masa kecilnya kini berubah menjadi sesosok gadis cantik yang memesona. Lelaki itu menunduk agar Sekar bisa mengalungkan bunga itu di lehernya. Semua orang bertepuk tangan, sepertinya sudah terbaca bahwa kelak yang akan menjadi selirnya adalah gadis itu. Mata Wijaya terbelalak saat Sekar mengangkat tangan, sehingga dua bukit miliknya ikut terangkat dan hampir menyentuh wajahnya. Lelaki itu menelan ludah, membayangkan sesuatu yang indah dari tubuh seksi itu. Setelah pengalungan itu selesai, Wijaya kembali duduk dan menikmati acara. Sementara Sekar masih menari dengan lincah bersama yang lain. Gadis itu tak menyadari bahwa diam-diam ada perjodohan di acara ini. Perjodohan para putri yang akan menjadi istri sah dari Wijaya. Semua pengeran hanya boleh menikahi putri, bukan rakyat biasa. Jikapun ada, maka hanya pantas menjadi selir. Sekar masih menari menghibur para tamu yang mulai menikmati hidangan. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok yang baru saja masuk ke ruangan itu. Kamandanu tampak tergesa-gesa. Sepertinya dia terlambat. Mata gadis itu terus saja melihat. Ketika tatapan mata mereka beradu, debar di dadanya semakin kencang. Apalagi di ujung sana Kamandanu membungkukkan badan sambil memberikan senyum yang manis sebagai tanda penghormatan. Sekar semakin berdebar dibuatnya. Lelaki itu tampak menawan dengan beskap dan celana batik. Tidak ada seragam prajurit, tetapi gadis itu tetap saja suka. Ketika bunyi musik berhenti, Sekar menutup tarian dengan memberikan salam hormat dan kembali ke belakang bersama yang lain. Tubuhnya bermandikan peluh. Udara di dalam ruangan tadi cukup panas karena penuh sesak. Apalagi pada saat sajian dihidangkan. Semua berebutan ingin makan, termasuk Raden Wijaya. "Pakai ini, biar adem." Salah satu penari memberikannya sebuah kain basah. Sekar membasuh wajah dengan kain itu, lalu mengoleskan sabun untuk membersihkan pupur yang menempel dengan kuat. Perutnya terasa lapar. Ternyata menari di depan orang banyak cukup menguras energi. "Ayo makan dulu," seseorang menyodorkannya sepiring makanan. Nasi gudeg lengkap dengan teh hangat. Sekar melahapnya dengan cepat. Tak lupa mengucap syukur sebelum memasukkan makanan ke dalam mulut. Beberapa orang melirik karena cara makannya yang kurang sopan. Biasanya sikap Sekar memang lebih kalem dan tertata. Namun kali ini perut sudah tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya gadis itu merasa lega setelah menghabiskan sepiring nasi dan segelas teh hangat dalam beberapa kali teguk. Peluhnya semakin banyak bercucuran. Namun, hanya aroma harum yang menguar dari tubuhnya. Sekar benar-benar merawat diri sekalipun dia hanya pelayan biasa. Berbagai macam lulur menempel di tubuh dan wajahnya jika malam hari tiba. Sekar berkulit kuning langsat, dengan rambut hitam panjang yang tebal. Tubuhnya mungil dan sedikit pendek dari gadis kebanyakan, tetapi padat berisi dibagian tertentu. Sehingga jika dia berjalan, maka goyangan pinggulnya akan menggoda mata kaum lelaki. "Aku pamit, pulang. Ini sudah malam," ucapnya kepada juru rias setelah mengembalikan kain dan baju yang dipakai untuk menari tadi. "Ini untukmu." Sebuah amplop diselipkan di kembannya ketika hendak keluar. "Apa ini?" tanya Sekar keheranan. Dia hendak mengambilnya tapi dicegah. "Pesannya nanti dibaca setelah sampai di kamar," kata si juru rias. "Ini dari siapa?" Sekar masih penasaran. Selama ini dia belum pernah menerima surat-surat seperti itu. Lagipula dia belum terlalu lancar membaca. "Sudah nanti saja dibaca. Sekarang kamu pulang. Nanti aku dimarahi kalau kamu kemalaman," kata si juru rias sambil mendorong tubuhnya. Sekar berjalan pelan-pelan. Ini sudah cukup gelap. Sekalipun masih dalam satu wilayah keraton, pondok tempat tinggalnya terletak agak ke belakang di luar gapura utama. Langkah kakinya terseok-seok, menyesal tadi kenapa malah memakai sendal ini. Sekar menatap kiri dan kanan. Bayangan pohon di sepanjang jalan membuatnya takut. Kadang-kadang bayangan itu terlihat seperti wujud hantu atau genderuwo yang sering diceritakan ibunya saat masih kecil. Tiba-tiba saja .... "Aaaa!" Jerit wanita itu tertahan saat ada sebuah tangan yang membekapnya. Sekar meronta dan mencoba melepaskan diri. Siapa yang berniat jahat kepadanya? Berani sekali. Apalagi ini masih dalam lingkungan keraton. "Sstttt," bisik suara itu ditelinganya. Tubuh Sekar dibalik dengan cepat dan mata gadis itu terbelalak saat melihat siapa pelakunya. "Raden?" Wijaya mengulum senyum saat melihat raut wajah Sekar yang ketakutan. Lelaki itu menutup mulut untuk menahan tawa. "Kamu lucu sekali kalau seperti itu, Kar," ucap Wijaya memanggil nama kecil sahabatnya. Sekar tersipu malu. Ternyata Wijaya masih saja mengingat itu, padahal sudah lama sekali. "Apa kabar?" Sekar bertanya basa-basi karena tak tahu harus berkata apa. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Itu membuatnya merasa canggung. "Baik. Kamu sendiri bagaimana? Masih suka ngompol di celana?" tanya Wijaya sengaja menggoda. Sekar terkejut dan refleks memukul lengan Wijaya. Bukannya mengelak, lelaki itu malah menangkap lengan mungil Sekar dan berkata, "Kamu semakin cantik saja, Kar. Tadi aku pangling melihatnya." Wajah Sekar semakin merona. Dia mencoba melepaskan diri, tetali Wijaya tak memberikan kesempatan itu. Tenaga lelaki itu begitu kuat, sehingga akhirnya dia pasrah. "Ini sudah malam, Raden. Aku mau pulang." Sekar masih mencoba menarik diri. Akhirnya Wijaya menyerah dan melepaskan cekalan tangannya. "Aku antar pulang. Nanti kamu ditangkap wewe gombel kalau sendirian." Dua orang itu tertawa, melanjutkan perjalanan sambil bercerita mengenang masa kecil. Langkah kaki mereka terhenti saat tiba di gapura pondok milik keluarga Sekar. Wijaya mengantarnya hanya sampai di situ. "Nanti kita ketemu lagi," ucapnya sebagai tanda perpisahan. Sekar mengangguk lalu masuk tanpa menoleh ke belakang. Wijaya menarik napas panjang. Dalam hatinya berucap, "Andaikan kamu seorang putri, maka detik ini juga aku akan menikahimu, Kar." Lalu tubuhnya berbalik berjalan menjauh dari tempat itu.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
sangat bagus
11/04
0bagus banget
19/07
0bagus banget
04/05/2025
1Ver Todos