Hiruk pikuk terdengar seantero tempat ini. Hilir mudik orang beraktivitas sejak subuh tadi hingga siang ini tiada henti. Keraton sudah disulap menjadi lebih cantik dengan berbagai macam hiasan. Suara gamelan juga sejak tadi terdengar, ditabuh oleh beberapa abdi dalam dengan suka cita. Para abdi berbagi tugas. Ada yang membersihkan halaman, ada juga yang berjaga-jaga dan mengawasi keraton. Sementara itu, para pelayan di dapur sibuk menyiapkan hidangan terbaik untuk disajikan. "Sekar! Bawa rangkaian bunga ini ke depan," perintah salah satu pelayan. Gadis yang dipanggil Sekar itu, tegopoh-gopoh mengambil nampan yang berisikan berbagai macam kelopak bunga. Harum aromanya menguar ke indra penciuman. "Hati-hati jangan sampai jatuh," ucap pelayan itu mengingatkan. Sekar bergegas membawa nampan itu ke ruang pertemuan, tempat para petinggi keraton berkumpul. Dia meletakkannya dengan hati-hati lalu melihat suasana sekeliling pendopo. Lalu, setelah merasa puas, gadis itu kembali ke tempatnya untuk menyelesaikan pekerjaan. "Radenmu akan pulang. Apa kamu ndak senang?" tanya pelayan itu menggodanya. Sekar mengulum senyum tetapi dengan cepat menguasai diri. Tentu saja dia merasa senang, hanya tak terlalu mau menampakannya. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Apalagi setelah ratu memutus berita mengenai putranya. Sekar tentunya menyimpan rasa penasaran dan keingintahuan mengenai kondisi Wijaya. "Semua orang pasti senang karena Raden akan pulang. Begitu pula denganku," jawabnya. "Aku jadi penasaran. Bagaimana wajahnya setelah bertahun-tahun pergi merantau untuk belajar," lanjut pelayan tadi. "Pasti ndak banyak berubah. Sama seperti dulu," ucapnya. Sekar sibuk memotong tangkai bunga. Jika kelopaknya tadi akan digunakan untuk taburan, maka yang ini akan disimpan di pot-pot yang akan menghiasi ruangan. "Apa kamu ndak menaruh hati kepadanya? Bukankah dari kecil kalian selalu bermain bersama?" Sekar tersenyum menjawab pertanyaan itu. Memang dia dan Wijaya sejak dulu sangat dekat. Namun, menginjak usia remaja, putra ketiga dari raja itu dilarang bergaul dengan sembarangan orang. Sebagai salah satu penerus keraton, seorang Raden dituntut untuk banyak belajar. Apa saja, tak hanya berkuda dan memanah. Dia juga diajari berdagang dan mengelola wilayah. Sejak itu, mereka jarang bermain bersama. Apalagi menginjak usia lima belas tahun, Sekar sudah mulai diminta menjadi pelayan. Ibunya masih bekerja sebagai juru masak, sedangkan ayahnya beralih tugas mengurus peternakan kuda. "Aku hanya pelayan. Tidak ada kisah cinta antara kaum Sudra dan Ksatria," lirih Sekar. Lagipula dia memang tidak menaruh hati kepada Wijaya, karena ada laki-laki lain yang saat ini menarik perhatiannya. "Jika aku jadi kamu, maka aku akan mendekatinya. Usia Raden sekarang sudah menginjak dua puluh tahun. Sepertinya Kanjeng Ratu menginginkan dia menikah," lanjut si pelayan tadi. Sekar termenung sejenak. Jika Wijaya berusia dua puluh tahun, itu berarti dia sendiri sudah delapan belas tahun. Pantas saja ayah dan ibu kerap menjodohkan dengan beberapa lelaki. "Aku dengar juga begitu. Kenjeng Gusti sering sakit-sakitan. Mungkin Raden akan meneruskan tahtanya. Ada banyak putri yang akan diundang di acara nanti malam. Aku rasa mungkin salah satu akan menjadi jodohnya," jawab Sekar. Mereka berdua asyik berbincang. Lalu tak lama pintu gerbang terbuka. Bunyi derap kuda yang memasuki halaman istana menggema hingga ke dalam. Banyak pelayan yang keluar untuk menyaksikan kedatangan putra sang raja. Sekar dan pelayan tadipun tak terkecuali. Mereka meninggalkan pekerjaan dan berlari menuju ke halaman keraton. Tampak sosok gagah keluar dari dalam tandu. Tubuhnya tinggi menjulang dengan kulit yang bersih. Semua orang menatapnya dengan kagum. Ada juga yang diam-diam menaruh hati. Sekar berdiri paling belakang. Dia mencoba berjinjit tetapi tetap tak nampak. Tubuhnya yang mungil dan pendek membuatnya kesulitan Akhirnya dia memilih mundur ke belakang dan melihat yang lain melambaikan tangan ke arah raden. Wijaya Kusuma. Putra ketiga dari Penembahan Angling Kusuma. Raja di wilayah selatan ini. Tiga tahun pergi ke negara tetangga untuk menempuh pendidikan. Perjalanan jauh dengan menggunakan kapal laut tak menyurutkam niatnya untuk menuntut ilmu. Bruk! Sekar terjatuh saat tak sengaja kainnya tersangkut pada sebilah kayu. Kembannya hampir saja terlepas. "Kamu ndak apa-apa, Kar?" tanya seseorang. Sekar mendongak. Tampaklah seorang lelaki tampan dengan pakaian prajurit yang gagah. Di pinggangnya ada sebilah pedang yang terbungkus rapi dalam selongsong. Dialah panglima keraton. "Ndak apa-apa," jawab Sekar gugup. Mereka saling bertatapan dengan wajah merona. Sudah satu tahun ini, keduanya saling mencuri pandang. Saling memberikan perhatian secara diam-diam. "Hati-hati. Kamu bisa terluka," ucap lelaki itu dengan wajah memerah. Lelaki yang dipanggil panglima itu memalingkan pandangan ketika penutup dada Sekar tersibak sebagian. Sebagai laki-laki normal, tentu saja itu merupakan pemandangan indah baginya. Sekar menunduk dan menutupnya dengan sebelah tangan. Aset miliknya yang putih dan kenyal itu jangan sampai dilihat orang lain kecuali suaminya nanti. Dia membalikkan badan dan menyimpul kain, lalu merapikan rambut. "Ayo, aku bantu." Laki-laki itu mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. "Terima kasih," ucapnya malu. "Lain kali jangan pakai kemban. Kamu menggoda mata kami untuk melirik. Apa kamu ndak punya kebaya?" Dia bertanya. "Aku tadi dari belakang sedang merangkai bunga. Ndak keburu ngambil selendang. Lalu ada bunyi kereta. Kami mau melihat kedatangan Raden," jawabnya. "Oh. Tentu saja. Kamu mau ketemu dengan kekasih masa kecil?" tanya pengawal itu. Semua orang di keraton tahu bahwa Sekar adalah sahabat Wijaya sejak masih dulu. "Dia bukan kekasihku. Aku masih sendiri, belum dimiliki oleh siapa pun," jawabnya sambil menundukkan kepala. Tangan kecil itu memainkan ujung kain sehingga membentuk sebuah simpul. "Oh syukurlah. Jadi aku masih punya peluang," kata lelaki itu senang. Sudah lama dia memperhatikan Sekar. Sejak gadis itu masih kecil hingga kini tumbuh menjadi dewasa. Usia mereka memang terpaut cukup jauh. Dia sendiri tahun ini memasuki angaka dua puluh delapan tahun. Perbedaan usia sepuluh tahun dengan Sekar membuatnya agak ragu untuk mendekati. Sehingga di antara para pengawal istana, dia dijuluki si perjaka tua karena tak kunjung menikah. Padahal banyak gadis yang mendekati karena wajahnya cukup tampan. Namun, hatinya telah tertambat kepada Sekar, sang primadona keraton. Ada bisik-bisik yang sempat tersebar di kalangan para pengawal, bahwa sepertinya Sekar akan dijadikan selir oleh salah satu pangeran di keraton ini. Entah yang mana, karena putra raja ada beberapa dari ratu dan selirnya. Karena itulah, mereka yang diam-diam menaruh hati kepada gadis ini menjaga jarak. Jangan sampai raja marah dan mengusir karena berani berbuat lancang. Sekar, sekalipun dibebaskan dan dijadikan pelayan, diam-diam telah diawasi dan dijaga oleh beberapa orang suruhan raja. "Maksudnya?" tanya Sekar. Berpura-pura tidak tahu padahal malu. "Ah, lupakan. Kembalilah ke tempatmu. Nanti malam akan ada acara penyambutan. Aku dengar kamu akan menari bersama yang lain," kata lelaki itu. "Kamu benar. Kanjeng Ratu memintaku menari untuk penyambutan Raden Wijaya," katanya bersemangat. Ini pertama kalinya dia tampil dan unjuk kepiawaian dalam menari. Tentu saja Sekar merasa senang. "Jangan terlalu cantik berdandan. Nanti banyak yang tergoda melihat kemolekanmu," bisik lelaki itu, lalu pergi begitu saja. Sekar masih terpaku, tak menyangka bisa berbicara lama dengan sang pujaan hati. Kamandanu, kepala prajurit keraton yang gagah perkasa. Pemimpin perang yang ditakuti lawan dan disegani kawan. Sekar berdoa dalam hati, semoga kelak jodohnya adalah lelaki itu.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
sangat bagus
11/04
0bagus banget
19/07
0bagus banget
04/05/2025
1Ver Todos