logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 5 Ngerjain Hugo

Malam semakin larut, udara panas terasa membakar lemak tubuhku. Keringat bercucuran deras, putaran kipas angin takmampu menghalau suhu yang enggan menurun. Bolak-balik kubuka tutup mataku, namun kantuk tak jua mau menyapa. Suara denting jam yang menggantung di dinding kamar, terdengar lantang dan berirama.
Terasa ponselku yang tergeletak asal di meja satu-satunya yang ada di kamar ini bergetar, menandakan satu pesan masuk dari salah satu aplikasi yang terpasang di handphone-ku itu.
"Hy, Say, udah merem belum?" Isi pesan Leta.
Segera jari jempolku menari dengan lincah mengetikkan balasan pesan untuk Leta, sahabatku.
"Belum, Beb, enggak bisa bobok, nih. Tumben tengah malem masih melek?" balasku.
"Nggak bisa bobok kenapa? Kangen gue, ya?" balas Leta dengan emoticon ketawa ngakak genap sepuluh biji.
"Kepedean banget, sih.
"Iya dong, eh, Nez, gue ada kabar gembira, nih. Coba tebak!"
"Kabar apaan?"
"Buruan kasih tahu gue, malem-malem gini masa lo nyuruh gue mikir, sih?" balasku langsung dua chat untuknya.
"Ah, nggak seru, dong."
"Tebak sekali doang, dong, Nez, biar seru."
"Dasar aneh lo, Ta."
"Kabar gembira apaan? Lo dapet pacar baru?" Akhirnya aku menebak juga.
"No."
"Apaan? Cepet kasih tahu enggak? Gue tinggal merem, nih?" ancamku.
"Jangan merem dulu dong, Nez, temenin gue packing,"
"Packing? Maksudnya?" balasku semangat, sudah mulai kepo.
"Gue lagi beres-beres, nih, Nez. Temenin gue melek. Jangan merem dulu."
"Awas aja!"
Jiah, Leta pakai ngancam segala.
"Ye, beraninya ngacem."
"Lo packing? Mau kemana?"
"Pulang kampung? Apa sudah dapat panggilan kerja?" balasku beruntun untuk Leta. Seperti biasanya, kekepoanku mengalahkan segalanya. Hihihi.
"Tuh, kan udah mulai kepo," balas Leta mengejekku.
"Au ah, gue mau merem aja biar lo sendirian."
"Di kamar mandi ada apa, Ta, hayo. Ih ih ih ih." Aku menakut-nakuti Leta, dia memang penakut orangnya. Untung saja kos-kosannya saling dempet dengan kamar yang lain. Kamar mandi pun ada di dalam.
"Jangan nakut-nakutin, deh, Nez. Gue sendirian nih. Kamar sebelah ge pulang kampung."
"Hahaha." Aku menertawakan Leta dengan puas. Walaupun begitu, aku tak akan membuat sahabatku ketakutan sendirian. Alhasih, aku melakukan panggilan video ke nomor Leta.
Larut dalam pembicaraan yang begitu heboh dengan Leta, hingga tak terasa malam sudah berganti dini hari. Waktu berputar dengan cepat. Kututup sambungan telepon dan kuputuskan untuk segera menutup mata, memberi hak kepada tubuhku untuk beristirahat.
***RTA**
Nasi, telur mata sapi, dan tumis brokoli kutata rapi pada kotak bekal Tupperwar* untuk dibawa Akio bersekolah. Tidak lupa, satu gelas susu coklat manis kumasukkan ke dalam botol minum Akio.
Hari Jum'at, jadwal anak-anak berolahraga dan makan bersama di sekolah. Bekal telah siapa, Akio pub sudah rapi dan siap berangkat ke sekolah.
"Mbak Inez, Akio nggak mau sekolah," ucap Akio tiba-tiba.
"Kenapa enggak mau sekolah, Sayang? Kan sudah cantik. Nih, rambut Akio udah rapi, persis rambutnya putri Snow White," terangku.
Akio bergeming, dia hanya bergelayutan manja pada lenganku. Digoyang-goyangkan lenganku tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
"Non Akio sakit?" tanyaku. Tanganku meraba keningnya. Suhu tubuhnya netral, seperti biasanya.
"Non, pusing?" tanyaku lagi.
Akio hanya diam dengan sorot mata sayu, kurengkuh tubuh mungil Akio ke dalam gendonganku. Ia pun menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Kita tanya Papi dulu, ya, Sayang." Aku menggendong Akio menuju meja makan. Di sana Tuan Bos dan Den Hugo sedang menikmati sarapan bersama. Sendok dan garpu saling menari-nari di atas piring mereka masing-masing.
"Tuan, Akio pengen libur sekolah." Izinku pada Tuan Bos. Tampak Tuan Bos menghentikan gerakan tangannya, sendok dan garpu ia letakkan asal di atas piring makannya. Ia ambil alih Akio dari gendonganku. Ia mendudukkan tubuh mungil anaknya itu di atas pangkuannya. Tanganya meraba kening putrinya itu, persis seperti yang kulakukan tadi.
Sebagai seorang ayah, kuakui, perhatian dan kasih sayangnya terhadap sang buah hati begitu besar. Ia begitu sigap dengan apa yang terjadi dengan buah hatinya. Walau Akio tumbuh tanpa seorang ibu yang mendampingi, tetapi Akio masih beruntung, ada papi yang sangat menyayanginya.
"Sayangnya Papi kenapa? Sakit?" tanya Tuan Bos lembut.
Akio hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak seceria dan tidak serewel biasanya. Kalau biasanya dia banyak ngomong dan banyak protesnya, kali ini Akio hanya diam seperti tidak semangat untuk melakukan apa-apa.
"Ya sudah, hari ini libur dulu enggak apa-apa. Istirahat di rumah sama Mbak," ucap Tuan Bos sembari mengecup kening Akio.
"Ambil sarapan buat Akio, Nez!" perintah Tuan Bos masih seperti biasanya, tanpa menoleh dan menatap lawan bicaranya.
"Dasar! Kulkas," sungutku dalam hati.
"Bunda, tolong buatin susu putih, dong!" ucap Hugo, entah siapa yang dia ajak bicara. Tapi yang pasti di sini hanya ada aku, Tuan Bos, dan Akio. Mbok Sar sedang sibuk menjemur pakaian di belakang.
Terus, siapa yang dia panggil bunda? Apa jangan-jangan gue? Pikiranku sudah berkelana kemana-mana.
"Kok diem saja, sih, Bun?" ucap Hugo kembali dengan menatap lekat mataku.
"Lo ngomong sama gue?" tanyaku heran.
"Jangan lo gue, dong, Bun, manggilnya. Masa sama calon suami lo gue kaya gitu." Hugo masih menggencarkan aksinya. Tawa setannya pun tampak mengerikan. Seperti buaya yang merayu kancil untuk dijadikan santapannya.
"Ih, amit-amit." Kuketok kepalaku tiga kali, dengan mengucap kata amit-amit sebanyak mungkin.
Melihatku seperti ini, Hugo malah ketawa ngakak, tanpa dosa ia menertawakanku.
"Ngapain ketawa? Emang lucu," semprotku.
"Bunda sangat, sangat, sangat lucu," jawabnya tanpa berpikir.
"Bunda-Bunda..? Bunda-ran H-I?" ketusku.
Tawa kembali menggelegar dari mulut buaya. Kakaknya kulkas, adiknya buaya, enggak nyambung sama sekali.
"Bun, mau kemana?" teriak Hugo setelah aku melesat meninggalkan meja makan menggendong Akio.
"Suka-suka guelah."
"Jangan gitu dong Bun, entar dimarahi Kakak Bos loh," teriak Hugo kembali.
Kuhentikan langkahku dan menoleh ke arah mereka yang masih duduk manis menikmati makanannya. Hugo senyum-senyum sendiri kepedean, sedangkan Tuan Bos masih asyik dengan makanan di atas piringnya, tanpa memerdulikan tingkah adik satu-satunya itu.
Untuk memberi pelajaran kepada Hugo, kuputuskan kembali menghampirinya. Aku berjalan perlahan menghampiri tempat duduk Hugo. Akio masih dalam gendonganku. Setelah dekat dengan posisi duduk Hugo, aku menunduk di sebelahnya, kudekatkan bibirku ketelinganya, hingga hanya berjarak beberapa senti saja. Setelahnya, kuteriakkan kata dengan keras tepat di telinganya.
"BODO AMAT!!"
Teriakanku sukses membuat Hugo terkejut. Memang dia pikir gue mau ngapain? Puas banget ngerjain si buaya darat itu. Kali ini aku yang tertawa ngakak telah berhasil memberi sedikit pelajaran buat Hugo. Hahaha. Tawaku puas.
"Suara Bunda merdu sekali." Bukannya marah habis dikerjain, Hugo malah kembali menggencarkan aksinya. Ia takada kapok-kapoknya menggodaku.
"Bunda-Bunda? Getok, ya?"
Bersambung.

Comentário do Livro (435)

  • avatar
    Hanafigg

    bagusss bangett

    01/05

      0
  • avatar
    RohmahSiti Naila

    sangat bagus

    16/02

      0
  • avatar
    PutriMuthia

    bgus

    04/02

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes