logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 4 Kecupan Salah Sasaran

Kalau kau suka hati tepuk tangan (prok prok prok)
Kalau kau suka hati tepuk tangan
Kalau kau suka hati
Mari kita lakukan
Kalau kau suka hati tepuk tangan (prok prok prok).
"Hore ...." Akio kegirangan di pangkuanku, saat aku mengajaknya bernyanyi dengan mengikuti gerakan tepuk tangan menirukan lagu yang kami nyanyikan. Tuan Bos sesekali memerhatikan kami dengan lirikan-lirikan kecilnya. Senyum simpul sempat mengembang dari sudut bibirnya, ia mungkin senang melihat keceriaan dari Akio.
"Mbak, nyanyi lagi!" ajak Akio.
Aku mengiyakan permintaannya, binar dari mata Akio memancarkan kebahagiaan yang luar biasa. Benar adanya, kebahagiaan tidak dapat diukur dengan seberapa besar materi yang kita punya, melainkan dengan hal-hal kecil yang membahagiakan yang kita lakukan bersama.
"Kalau kau suka hati cium Akio." Aku mendaratkan ciuman di pipi gembul Akio, ia cekikikan merasa geli.
"Kalau kau suka hati cium Mbak." Kali ini Akio yang menciumku. Kami saling tertawa bersama.
"Kalau kau suka hati, mari kita lakukan, kalau kau suka hati cium Akio ... emuach." Aku kembali mencium Akio, kali ini aku menghujani ciuman pada setiap sudut wajahnya. Akio tertawa terbahak mendapatkan serangan ciuman dariku.
"Sudah sampai." Tuan Bos menghentikan laju mobilnya di depan gerbang sekolah Akio. Ia meraih tubuh mungil anaknya itu lalu memeluknya penuh sayang.
"Sayang, sekolah yang pintar, ya! Nggak boleh nakal," pesan Tuan Bos.
Aku membiarkan sepasang ayah dan anak itu berdua, kubuka pintu mobil beranjak ingin keluar.
"Mbak, Akio ikut!" rengek bocah kecil itu yang masih dipangku papinya. Akio melepas pelukan yang masih melingkar pada tubuhnya, "Gendong," rengek Akio manja.
Aku langsung menagkap tubuh mungil Akio yang masih terduduk di kursi penumpang, Tuan Bos menatap anak semata wayangnya heran. Raut mukanya lucu sekali, seperti anak kecil yang ditinggal ibunya nge-mall.
"Papi ditinggal, nih," ucap Tuan Bos merajuk kepada anaknya. Ia memonyongkan bibirnya lima senti kedepan. Ingin ngakak takut dosa. Hihihi. Ternyata kulkas berjalan pun bisa merajuk.
"Dada, Papi." Akio melambaikan tanganya.
"Cium dulu." Papinya masih belum terima ditinggal begitu saja.
"Nggak mau!" jawab Akio polos. Ia tidak mau turun dari gendonganku.
Tuan Bos yang gemas dengan tingkah putrinya itu langsung turun dari kursi kemudi untuk menghampiri Akio.
"Aawww ...," teriakku kaget. Bibir Tuan Bos mendarat cantik di pipi kiriku.
"Sorry!" ucap Tuan Bos salah tingkah. Aku tahu saat ini Tuan Bos sangat gugup dan kikuk.
Aku? Jangan ditanya, sesuatu dari organ dalamku berdetak dengan cepat, desiran-desiran hangat seakan menyengat sekujur tubuhku. Andai aku bercermin, mungkin aku dapat melihat pipiku yang berubah warna seperti kepiting rebus.
"Maaf, tidak sengaja. Tadi sebe-, em ... sebenarnya, ah sudahlah," kata Tuan Bos yang terbata-bata. Ia berlalu begitu saja. Mobil hitam itu pun melesat dengan cepat membelah ramainya jalan raya.
Sebenarnya aku lebih kaget lagi, tetapi untuk situasi ini bukan karena kesalahanku. Aku pun tahu Tuan Bos tidak sengaja melakukan itu. Akio yang menghindari kecupan papinya, sehingga tanpa sengaja bibirnya mendarat di pipiku.
Ah, malunya...!!
***RTA***
Di atas pembaringanku, berkali-kali aku merubah posisi tidur. Berharap mataku ini dengan manut perlahan-lahan terpejam.
Kumiringkan badanku menghadap tembok, kemudian tengkurap, yang ada hanya bayangan kejadian tadi pagi di depan sekolah Akio yang terlintas. Kembali aku menelentangkan tubuhku, kututup netraku dengan bantal rapat-rapat, tetapi yang ada hanya pengap dan ingatan kejadian tadi pagi masih saja menghantuiku.
"Aarggh ...," teriakku sendiri di dalam kamar.
Tiba-tiba Mbok Sar sudah berada di sampingku. "Mbak Inez, kenapa, Mbak?" tanya Mbok Sar khawatir melihatku yang seperti orang stres.
"Hehe nggak apa-apa, Mbok," jawabku cengengesan.
"Mbak, Mbok salut lho sama Mbak Inez."
"Salut kenapa, Mbok?" tanyaku penasaran.
"Mbak Inez tuh,ya, baru dua hari mengasuh Non Akio tapi Non Akio bisa nempel banget sama Mbak. Padahal, ya, Mbak, pengasuh-pengasuh Non Akio sebelum-sebelumnya tuh pasti nggak tahan dengan sikap Non Akio. Apa sih rahasianya Mbak, kok Non Akio bisa nurut banget sama Mbak?" tanya Mbok Sar ingin tahu.
"Rahasia apa, sih, Mbok? Mbok mah ada-ada saja," jawabku singkat.
"Beneran lho, Mbak, ngasuh Non Akio itu nggak gampang. Mbok saja yang sudah lama di sini masih kualahan ngadepin Non Akio."
"Masa, sih, Mbok? Perasaan Non Akio nggak nakal, deh. Cuma agak bandel dikit sih iya, waktu kemarin itu pas aku mandiin juga rewel banget. Tapi sekali itu saja, sih, selanjutnya dia nurut-nurut saja."
"Kok bisa ya, Mbak? Langsung bisa nurut sama Mbak?" Mbok Sar masih penasaran denganku dan Non Akio.
"Sudahlah Mbok, jangan dipikiriin, mending sekarang kita tidur," ajakku.
"Nanti Mbak, nunggu Tuan dulu."
Mendengar kata Tuan disebut, desiran aneh kembali terasa dari sesuatu di dalam sini. Ya, hatiku sekarang berdebar kencang ketika telinga ini mendengar kata tuan disebut. Pasti karena rasa malu yang teramat sangat sehingga membuat aku parno sendiri.
Suara bel berbunyi dari pintu depan. Rasa gugupku pun semakin menjadi. Cepatnya ritme kereta yang melintasi rel masih kalah dengan kecepatan detak jantungku.
"Mbak Inez tolong bukain pintu sebentar, ya! Mbok kebelet ke belakang, nih," perintah Mbok Sar tiba-tiba.
"Aduh Mbok, jangan saya deh. Please ...." Aku mulai tidak tenang, apa aku sanggup bertatap muka dengan tuan bos sekarang. Aduh, gimana nih.
"Ayo, dong, Mbak, Mbok sudah nggak tahan nih. Mbok ke belakang dulu, cepat bukain sebelum Tuan marah!" teriak Mbok Sar sembari berlari ke arah kamar mandi dekat dapur. Mau tidak mau aku harus membuka pintunya.
Kakiku terasa berat untuk melangkah menuju pintu depan, bayangan bersitatap dengan Tuan Bos menari-nari di pelupuk mata. Andai bisa aku sembunyikan wajahku di suatu tempat.
"Arghh ...." Aku mengusap wajah dengan kasar. Perlahan anak kunci pun kuputar ke kanan.
Dua kali anak kunci berhasil kuputar, perlahan kutarik daun pintu itu. Mataku tertutup rapat, agar tak bersitatap dengan tuan bos. Hening. Tak ada pergerakan, suara derap langkah pun belum terdengar memasuki rumah. Sedikit demi sedikit kucoba membuka mataku sebelah kanan saja, mengintip apa yang ada di depanku. Samar-samar terlihat pemuda alay yang cengengesan di depanku. Dia melipat kedua tangannya di atas dadanya menyilang. Wajahnya menatapku lekat, dengan senyum menggoda dia terus mengawasi setiap perubahan mimik mukaku.
"Ngapain, Sayang merem-merem gitu? Minta cium, ya?" tanya Hugo menggodaku.
What? Cium? Kena ciuman salah sasaran saja galauku minta ampun.
"Sana tuh, cium tuh macan," sungutku sambil menunjuk patung macan yang duduk di sudut ruang tamu.
"Marah-marah mulu, ge dapet yah?"
"Iya ge dapet, dapet majikan dan adik yang sama-sama anehnya," jawabku asal.
Deheman berat terdengar dari luar pintu. Sesaat kemudian Tuan Bos sudah berada di belakang Hugo. Alamak, dia yang aku hindari, berdiri menantang dengan tatapan elang. Baru juga ngatain bos aneh udah ke-gep.
Aku berlari melesat kebelakang. Kutinggalkan dua kakak beradik itu yang sama-sama bikin pening kepala.
Bersambung.

Comentário do Livro (434)

  • avatar
    Hanafigg

    bagusss bangett

    01/05

      0
  • avatar
    RohmahSiti Naila

    sangat bagus

    16/02

      0
  • avatar
    PutriMuthia

    bgus

    04/02

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes