logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 3 Hugo

Acara ulang tahun berjalan lancar, tetapi sampai acara tiup lilin dilakukan aku belum melihat maminya Akio datang. Masa anaknya ulang tahun emaknya nggak nyempetin datang. Walau seberapa besar masalah dengan mantan suami tapi, kan anak tetap menjadi tanggung jawab orang tuanya sampai kapan pun.
Akio sedang asyik bermain bersama teman-teman kecilnya ditemani papinya. Aku dan Mbok Sar hanya memerhatikan saja.
“Mbok, Maminya Non Akio, kok, nggak datang, sih?” tanyaku.
“Nyonya sudah meninggal dua tahun lalu Mbak,” jawab Mbok Sar.
Dugaanku salah besar, ternyata maminya Akio sudah meninggal. Pantas anak itu seperti kekurangan kasih sayang. Walau ada papinya yang sangat menyayangi Akio, tetapi pasti anak sekecil itu juga merindukan kasih sayang dari ibunya.
“Mbok Sar makin langsing saja,” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang kami. Ia dengan akrab merangkul Mbok Sar.

"Siapa pemuda ini?" Oh Inez kenapa kamu terlahir dengan komposisi kepo yang berlebihan. Hihihi.
“Den Hugo, ih, ngagetin Mbok saja,” ucap Mbok Sar.
"Den Hugo? Den?" Berarti dia keluarga Tuan Bos kali, ya? Aku masih sibuk dengan pemikiranku sendiri.
“Kenalin Den, ini Mbak Inez. Pengasuhnya Non Akio yang baru.” Mbok Sar memerkenalkanku dengan pemuda itu.
“Cantik,” celetuk Hugo sesaaat setelah melihatku. Dasar cowok, nggak bisa lihat cewek bening dikit saja.
“Ini Den Hugo, Mbak Inez, adiknya Tuan Bos,” jelas Mbok Sar. Oh ternyata adiknya Tuan Bos. Kuulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya.
“Bertahan agak lama, ya, Mbak! Biar aku ngenal Mbaknya lamaan juga.” Hugo nyengir kuda.
“Bertahan apa, nih, maksudnya?” tanyaku.
“Bertahan di hatiku ... eeaak ....” Kali ini Hugo memerlihatkan tawa setannya.
“Apaan sih, gaje,” sungutku.
“Jangan didengerin Mbak, Den Hugo mah memang gitu orangnya. Suka kecentilan kalau lihat cewek cantik.” Mbok Sar ikut menimpali.
"Emangnya gue cewek Mbok? masa centil?" Hugo protes terhadap omongan Mbok Sar.
Kami hanya tersenyum melihat Hugo yang tak terima dikatain centil.
***RTA***
Pukul delapan malam Akio sudah tertidur, ia memeluk boneka yang kemarin aku pilihkan. Boneka little pony kecil berwarna pink. Akio memeluknya sangat erat. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba bergejolak di dalam hati. Trenyuh. Ya, perasaan iba melihat anak cantik ini yang tumbuh tanpa kasih sayang lengkap kedua orang tuannya.
Aku pernah berada di posisi seperti Akio, hanya saja waktu Bapak meninggalkan dunia ini, aku sudah beranjak remaja. Namun, ada empat adik-adik yang harus aku jaga, ketika ibu harus meninggalkan kami berjualan di pasar.
Ibu adalah pedagang ayam negeri di pasar daerah kampung halamanku, ibu biasa berangkat pukul dua dini hari untuk ke tempat bos ayam. Ibu ikut membantu proses pembubutan bulu ayam sebelum dijual ke pasar.
Aku ditugaskan menjaga keempat adik-adikku. Bayangkan, aku baru berusia dua belas tahun waktu itu, dan harus menjaga empat saudaraku. Untung ada Tsani, adikku yang paling besar, ia sudah berusia sembilan tahun waktu itu. Dia sudah bisa merawat adiknya yang berusia tujuh dan empat tahun, sedangkan aku, sibuk dengan adik bungusuku yang baru berusia sembilan bulan.
Kami ditempa untuk menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Andai Bapak masih ada, mungkin aku tidak akan sekuat ini.
Saat itu, aku baru mendaftar di salah satu sekolah menengah pertama negeri di kotaku. Namun setibanya di rumah, keadaan rumah sudah ramai oleh para tetangga yang tengah berkumpul. Semula aku belum menyadari apa yang terjadi, namun saat kakiku baru masuk satu langkah ke dalam rumah, sosok bapak yang selama ini berjuang untuk keluarga kecilnya telah terbujur kaku dengan ditutupi kain batik sebatas leher. Tampak wajah beliau pucat pasi. Aku berjalan tertatih, mendekatinya. Kusentuh wajah yang tadi malam masih tersenyum kearahku. Dingin. Aku masih bergeming, mencoba memahami apa yang telah terjadi. Rasa tidak percaya dan sedih ini begitu menghimpit relung batinku. Aku tak sanggup berkata-kata, bahkan menangis pun aku tak bisa. Aku hanya seperti orang linglung. Setelahnya, hanya gelap yang kurasa.
Saat mataku kembali terbuka, Bapak telah selesai dimandikan. Modin desaku sedang memakaikan kain putih untuk bapak. Aku berlari berhambur memeluk tubuh yang hampir selesai di kafankan itu. Kuciumi berkali-kali wajah orang terkasihku itu. Sebisa mungkin kutahan air mata yang hendak meluncur bebas dari netraku, aku tak mau, pakaian terakhir bapak terkotori oleh air mataku.
Menurut keterangan warga, bapak meninggal karena tersengat aliran listrik di area persawahan milik warga. Mulai saat itulah, aku tumbuh menjadi anak sulung yang kuat, membantu pekerjaan ibu di rumah, menjaga adik-adik kecilku, dan sekarang aku tengah berjuang untuk mencari pundi-pundi rupiah agar adik-adikku dapat terus bersekolah.
🎀🎀🎀
Hari kedua menjadi baby sitter Akio.
“Mbak, Akio mau rambutnya dibuat kaya rambutnya Rapunzel,” pinta Akio pagi-pagi setelah aku berhasil memandikannya tanpa drama. Kata Mbok Sar, pengasuh-pengasuh Akio terdahulu sangat kerepotan kalau menyuruh Non Akio untuk mandi. Namun, entah kenapa Akio nurut-nurut saja saat aku mengajaknya untuk mandi. Padahal ia bersamaku baru dua hari ini.
“Beres Non, sini Mbak keringkan dulu rambunya biar enak menatanya.”
Akio tersenyum sangat manis sekali, wajahnya berbinar seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
“Sudah mirip Rapunzel belum , Non, rambutnya?”
“Horeee … rambut Rapunzel.” Akio berlari kegirangan melihat rambut panjangnya yang kutata sedemikian rupa.
“Pi, rambut Akio bagus kaya rambutnya Rapunzel.” Akio berlari ke arah papinya yang tengah duduk di meja makan.
“Cantik banget, sih, anak papi.” Diciumnya pipi gembul Akio. “Papi suapin, ya, Sayang.” Tuan Bos menyuapkan satu sendok nasi goreng untuk Akio.
“Nggak mau, Akio maunya di suapin Mbak aja.”
Tuan Boas dan Mbok Sar melongo mendengar ucapan Akio. Aku hanya memerhatikan, mengapa semua orang kaget melihat Akio meminta suap pengasuhnya, wajar, kan?
Ekspresi Tuan Bos masih terlihat bingung, ia berkali-kali menatapku dan Akio bergantian. Senyum simpul tersungging dari bibirnya.
“Akio mau disuapin Mbak Inez?” tanya Tuan Bos memastikan. Akio menganggukkan kepalanya mantap.
“Selamat pagi semua, selamat pagi cantik,” sapa Hugo sok ramah, ia tersenyum genit kearahku.
“Kamu, kok, di sini?” tanyaku kaget.
“Ini, kan rumah gue,” jawab Hugo singkat.
Aku malu degan pertanyaanku sendiri, ya iyalah dia di sini, dia kan adiknya Tuan Bos. Aku menggetok kepalaku berkali-kali, sialnya Hugo memerhatikanku.
“Jangan digituin kepalanya, ntar amnesia lagi, nyangka gue suami lo. Duh, mau banget.” Hugo kembali berkelakar. Tuan Bos hanya bergeming memerhatikan tingkah adiknya. Sesekali netranya mencuri pandang kearahku. Aku pura-pura tidak menyadarinya. Padahal jantungku berdegup kencang diperhatikan bos dingin sedingin ruangan mesin atm. Hihihi.
"Mbak Inez cantik, bagi nomernya, dong?" Dengan suara dibuat-buat Hugo kembali membuat ulah. Alay.
"Nomor apaan? Nomor sepatu apa nomor rekening?" jawabku ketus.
Tuan Bos sepertinya ingin tertawa mendengar kelakarku, namun ia seperti menahannya. Apa tertawa haram, ya, bagi Tuan Bos. Ckckckck, orang aneh.
"Nomor antrian," jawab Hugo dengan sedikit penekanan. "Nomor berapa antrianku untuk bisa masuk ke dalam hatimu?"
"Nggak usah ngurusin Hugo, cepat suapin Akio makan!" perintah kulkas berjalan. Ah, aku jadi punya julukan untuk Tuan Bosku yang dingin ini, kulkas berjalan sangat cocok untuknya. Hihihi.
"Ah, Kak Aland nggak asyik, kayak nggak pernah muda saja."
Bersambung.

Comentário do Livro (434)

  • avatar
    Hanafigg

    bagusss bangett

    01/05

      0
  • avatar
    RohmahSiti Naila

    sangat bagus

    16/02

      0
  • avatar
    PutriMuthia

    bgus

    04/02

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes