“Non Akio ... jangan lari-lari kaya gitu! Nanti jatuh.” Aku ngos-ngosan mengejar Akio yang tak pernah mau diam. Nih anak ada aja tingkahnya, pantas saja baby sitter yang dulu-dulu tak pernah bertahan lama. Mbok Sar tadi sempet cerita kalau pengasuh Akio bertahan paling lama hanya sekitar dua mingguan saja, yang lainnya hanya hitungan hari sudah mengundurkan diri. Pantas saja, tadi Tuan Bos bilang akan menaikkan gaji seratus persen bila bertahan di bulan pertama mengasuh anaknya. Ternyata, eh, ternyata. “Mbak Inez, minta buah,” pinta Akio. “Siap! Buah apa, Sayang?” tanyaku. Aku memang sangat menyukai anak-anak. Karena dari kecil aku sudah terbiasa mengasuh adik-adik di rumah. Soal Akio? Tenang, selalu ada jurus jitu mengambil hati anak kecil, yaitu sayangi ia dengan tulus. “Buah jeruk,” jawab Akio sembil berteriak. “Ok siap!” Segera aku mengupaskan satu buah jeruk mandarin yang tersaji di atas meja makan. “Ini Sayang, jeruknya,” ucapku. “Nggak mau,” jawab Akio yang masih fokus dengan permainannya, dia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arahku. Benar-benar mirip bokapnya nih anak kecil. “Ayo, Sayang, hak. Manis, loh, jeruknya.” Aku masih berusaha merayu Akio agar mau memakan jeruk ini walau hanya sedikit. Tapi bocah itu masih aja kekeh menggelengkan kepalanya. Enggak pusing apa, ya, geleng-geleng melulu. “Mau buah naga, di jus,” pintanya kemudian. “Ya, nanti Mbak buatin. Tapi Non Akio maem dulu, gih, buah jeruknya. Dikit aja,” pintaku dengan halus. Aku masih berusaha merayu bocah kecil ini. “Enggak mau, enggak enak.” Akio memanyunkan bibirnya ke depan. Huft, dicoba aja belum sudah bilang enggak enak. Enggak mau ya sudah masuk mulut gue aja sendiri. Hihihi. Setelah melahap jeruk yang begitu segar, aku bergegas membuat permintaan Akio yang lain. Jus buah naga. Satu gelas jus buah naga sudah siap untuk dinikmati, aku menghampiri Akio yang sekarang tengah menonton kartun di televisi. “Jus buah naga sudah siap ... hhmm sedapnya.” Takada jawaban dari Akio. “Ayo, dong, Sayang, diminum jusnya! Nanti jusnya nangis loh pengen diminum sama anak cantik, eh anak cantiknya malah ngediemin jusnya,” gurauku. “Enggak enak,” ucapnya. “Enak dong, kan Mbak Inez yang bikin. Pasti enak.” “Enggak mau.” Akio menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya. Dasar nih anak! Masa masuk perut gue lagi, sih? Bisa melebar, dong badan gue kalau gini ceritanya. Huft. “Akio mau susu!” pintanya lagi. “Enggak mau, ah! Paling juga enggak kamu minum?” "Huuaa ... Mbok ...." “SSTTT..!! Ya ... ya, Mbak buatin. Diminum, loh, ya?” ***BR*** Akhirnya bocah berumur sekitar empat tahunan ini pun terlelap juga. Jika dilihat-lihat seperti ini, Akio cantik sekali. Kalau diem, bobok imut, duh ngegemesin. Pipi gembul dengan bibir tipisnya yang kemerah-merahan alami menambah manis pada sosok kecil ini. Rambut lurusnya tetap indah walau tertindih kepalanya. Hitam pekat bak arang, sempurna. Kalau ingat tingkahnya, rasa gemes pengen hih juga kembali terbesit, tapi aku sadar, takada anak yang nakal. Hanya saja mereka butuh pengarahan dari orang tua dan orang-orang di sekelilingnya. Aku nggak boleh menyerah, timbang ginian doang pasti aku bisalah menaklukannya. Hanya menunggu waktu. Aku harus optimis, semangat Inez. Menyemangati diri sendiri sangat penting agar jiwa termotivasi untuk tidak menyerah. Sambil rebahan menjaga Akio yang tengah tertidur pulas, aku mengirim pesan kepada Leta sahabatku. Belum ada sehari berpisah dengan Leta, namun rasa rindu ingin ngakak bersama sudah menghantui pikiran. "Lo pasti kaget, Ta, kalau tahu siapa bos gue di sini." Pembuka pesanku untuk Leta. "Siapa?" "Artis yah?" "Enak dong." Leta langsung membalas chatku dengan bertubi-tubi pertanyaan. "Artis dari hongkong," balasku. "Hahaha, kali aja lo suruh ngasuh anaknya Baim w*ng atau kalau nggak anaknya Rafi Ahm*d, kan keren, Nez." "Lo kebanyakan halu, Ta, boro-boro artis, yang ada orang yang pengen gue, hih, kemarin," balasku dengan emoticon api. ""Seriusan?" "Cowok yang beli boneka kemarin?" balas Leta cepat. "Betul." "Haha, jodoh kali, Nez," balas Leta dengan hadiah emoticon ngakak guling-guling genap satu lusin. "Ngawur lo, gue jadi bini kedua gitu? Ih, nggak banget, deh." "Wkwkwk." Leta menertawakanku. Terdengar suara pintu diketuk dari luar, “Mbak Inez ...," panggil Mbok Sar pelan, dengan kepala yang sudah menyembul ke dalam. “Iya, Mbok,” jawabku. “Nanti jam dua Non Akio dibangunin ya, Mbak, dandani yang cantik, jam tiga kita berangkat ke hotel,” terang Mbok Sar. “Ke hotel ngapain, Mbok?” tanyaku bingung. “Ngrayain ulang tahunnya Non Akio, Mbak, emang ngapain ke hotel?” Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. “Hehehe, kirain, Mbok?” mikir apa, sih, gue. “Bajunya Non Akio ada di almari gantungan, yang warna pink, ya, Mbak." “Ok! Mbok,’ Jam setengah dua, aku sudah membangunkan Akio dan segera aku mandikan. Mau mandi aja dramanya oemji, ngidam apa dulu emaknya. Ngomong-ngomong soal emaknya kok sudah seharian di sini tapi belum bertemu dengan nyonya, ya? Aku bertanya-tanya. Jiwa kekepoanku pun kembali meronta. “Ayo, dong, Non Akio, jangan siram-siram Mbak dengan air, basah, kan bajunya Mbak." “Biarin, weeee.” Akio dibilangin bukannya nurut malah semakin menjadi. Ia tambah bersemangat menciprat-cipratkan sabun ke wajahku. "Sabar, Inez!" Lagi-lagi aku meminta hatiku untuk bersabar. “Non Akio Sayang, kalau Non mandinya tenang, nanti Mbak Inez akan buatin gaya rambut ala-ala princess untuk Non Akio, biar Non Akio tambah cantik,” rayuku. “Akio mau rambut inces.” Akio tertarik dengan penawaranku. Yes, selangkah lebih maju untuk menghandle Akio. “Siap Non, mau dibuatin kayak rambutnya Princess Shopia?” tanyaku mengakrabkan diri. “Mau rambut kayak Cinderella,” jawab Akio polos. “Wow, rambut Cinderella? Oke, mandinya sudah selesai sekarang saatnya buat rambut Cinderella, pasti Non Akio terlihat cantik persis Cinderella.” Wajah Akio berbinar mendengar penuturanku. Beberapa jam bersama Akio, baru sekarang aku melihat tawa kebahagiaan dari raut wajahnya. Entah apa yang anak ini alami, tapi aku merasa ia tidak cukup ceria untuk anak seusianya. “Bajunya bagus banget, Non.” Akio bergeming tanpa ekspresi di wajahnya. “Mau rambut Cinderella,” celetuknya. “Ah iya, duduk di sini, Non.” Aku menggendong Akio dan kududukkan ia di kursi depan meja rias sederhana miliknya. Meja rias kaca berwarna pink dengan gambar Princess Cinderella. Akio ternyata menyukai sosok putri Cinderella, pantas saja ia meminta gaya rambut yang sama. “Non Akio pengen gaya rambut kayak ini?” tanyaku dengan menunjuk gambar Princess Cinderella yang terpampang pada sisi kiri almari. “Iya,” jawab Akio disertai anggukan kepala. Aku menyisir dengan lembut setiap helai rambut Akio, entah sejak kapan aku mulai merasa trenyuh setiap melihat mimik muka Akio yang jarang sekali mengembangkan senyumnya. “Non Akio sekarang ulang tahun keberapa?” tanyaku memecah keheningan. Akio sangat tenang tidak banyak tingkah seperti sebelum-sebelumnya. Mungkin ia takut mengacaukan tatanan rambut yang baru saja aku buat. “Empat,” jawab Akio singkat. Oh ... berarti kemarin bokapnya Akio mencari boneka untuk hadiah ulang tahunya. “Selamat ulang tahun, ya, Sayang, semoga panjang umur, sehat selalu dan tambah cantik.” Doaku tulus untuk Akio, ia tak menjawab, mata indahnya sibuk memerhatikan setiap gerakanku menata rambutnya dari cermin di depannya. “Oh ya, Mama Akio mana, kok Mbak belum lihat dari tadi pagi?” tanyaku. “Akio enggak punya Mami,” jawab Akio. Hatiku berdesir hebat merasa bersalah atas pertanyaan yang kulontarkan barusan. Kenapa jiwa kepoku tak bisa aku rem di depan anak kecil ini. Akio pasti sedih aku mengingatkan tentang ini. Tapi foto keluarga di ruang tamu itu masih terpampang dengan baik, kalau mereka bercerai kenapa anak sekecil ini tidak ikut mamanya saja. Lagi-lagi jiwa kepoku meronta. Cukup Inez, tahan dulu. Nanti kalau ada kesempatan tanya Mbok Sar. “Sudah selesai, bagus, kan, Non, rambutnya? Non jadi tambah cantik.” Ye ye ye ... Akio melompat kegirangan. Kali ini ia berlari keluar kamar, dengan tergopoh aku mengejarnya. Akio menuju dapur di mana ada Mbok Sar di sana. “Rambut Akio bagus, Mbok,” kata Akio kepada Mbok Sar. “Bagus sekali, Non. Cantiknya Non Akio,” puji Mbok Sar. Akio kembali berlarian muter-muter ruangan. “Aku ganti baju dulu Mbok, titip Non Akio bentar ya, Mbok!” Bergegas aku mengganti pakaian yang tadi sudah basah karena ulah Akio. Sebelum Tuan Bos pulang dan mendapatiku belum siap. Bisa habis kena omel Tuan Bos rese pastinya.
Bersambung.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
bagus
4h
0bagusss bangett
01/05
0sangat bagus
16/02
0Ver Todos