logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Our Lovely Nanny

Our Lovely Nanny

RitaAsy


Capítulo 1 Bertemu Majikan

“Ta, lo perhatiin deh cowok yang pakai jas di ujung sana,” perintahku pada Leta teman satu kosku. Dengan sigap Leta langsung menoleh ke tempat yang aku arahkan.
“kenapa emangnya, Ne,? Lo naksir?” goda Leta sembari menyikut lenganku.
“Apaan, sih.” Aku membalas menyikut lengan sahabatku itu. “Perhatiin deh, dari tadi dia mondar-mandir kaya orang bingung gitu. Mungkin dia kebingungan milih boneka buat ceweknya.”
“Sotoy lo, Nez, kebiasaan deh.” Sahabatku itu mulai protes dengan kekepoanku. Aku memang selalu merhatiin hal-hal yang terjadi di sekitarku. Entah sesuatu yang penting maupun yang gaje seperti sekarang ini.
Aku berjalan pelan menghampiri cowok itu, yah mau gimana lagi, jiwa kepoku meronta ingin mengetahui apa yang sebenarnya ia bingungkan.
“Maaf, Mas, ada yang bisa saya bantu? Saya perhatiin, kok, dari tadi Masnya lagi kebingungan?” tanyaku.
Cowok itu hanya menoleh sesaat, sebelum matanya kembali tertuju ke deretan boneka-boneka yang sengaja dipajang untuk menarik perhatian pembeli.
“Boneka mana yang cocok untuk anak usia empat tahun?” tanya cowok itu tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Songong juga, nih, cowok," batinku gemas.
Aku mengambil satu boneka little pony ukuran kecil dengan warna merah muda yang berada di rak bagian bawah.
“Ini,” ucapku seraya menyodorkan boneka itu.
“Apa tidak kekecilan? Aku sangup membayar seluruh boneka yang ada di rak ini. Bahkan kalau aku mau, bangunan ini pun sanggup aku beli.”
Tuh, kan, nih orang selain songong, sombong juga ternyata. Belum tahu siapa gue sebenernya. Gue kepret baru tahu rasa, lo. Aku mulai terbawa emosi meladeni cowok ini.
“Bapak yang terhormat, mau Bapak bisa beli semua boneka ini kek, mau beli bangunan ini kek, serah dah. Tadi, kan katanya buat anak empat tahun? Apa anak empat tahun bisa gendong-gendong tuh boneka raksasa? Hah?!” ocehku dengan menggebu-gebu. Aku mengambil satu boneka tedy bear ukuran besar dan memperlihatkan betapa ukuran boneka ini akan sangat tidak nyaman dimainkan anak usia empat tahunan.
“Nih, ya, Pak, bayangin! Besarnya boneka ini dengan tubuhku saja hampir sama? Nyaman nggak jika di gendong-gendong anak umur empat tahunan?” cerocosku kembali. Aku masih tidak terima dengan kesombongannya. Bukan mentang-mentang karena banyak duit, jadi seseorang bisa berbuat sesuka hatinya.
Tampak ia memegang dagunya dan manggut-manggut seperti orang tengah berpikir. Mungkin ia mulai memikirkan apa yang baru saja aku ucapkan.
Dipandangnya boneka little pony yang pertama aku berikan padanya, ia memperhatikan boneka itu agak lama. Kemudian tangannya merogoh saku dari balik jas hitam yang ia kenakan, lalu ia memberikan satu lembar uang seratus ribuan kepadaku.
“Ini,” ucapnya tanpa melihat ke arahku.
"What? Dia pikir gue pelayan toko ini kali, ya?" batinku bersuara. Tetapi entah mengapa secara spontan tanganku terulur menerima uang yang disodorkannya padaku. Dia pun melenggang tanpa permisi apalagi ucapan terima kasih.
“Dasar orang kaya belagu,” gumamku lirih.
Leta yang memperhatikanku dari tadi tertawa puas melihatku mati kutu karena cowok tadi.
“Kalau ketemu lagi tuh cowok, bakal tak hih dia,” ucapku kepada Leta yang masih menertawakanku.
"Dari pada di hih, mending minta tips lagi," celetuk Leta.
"Kenapa gue terima duit ini, ya, Ta?" Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Walau bagaimana pun niatku dari awal hanya membantu, bukan mencari untung.
"Udah, nggak usah dipikirin, mending sekarang kita ke warteg. Traktir gue makan, laper," ucap Leta manja.
***RTA***
Malam ini adalah malam terakhirku sekamar dengan Leta, besok aku sudah mulai menginap di tepat kerjaku yang baru. Selama ini aku dan Leta selalu bersama-sama setelah kami dipertemukan di lembaga pelatihan baby sitter.
“Ta, sering-sering hubungi gue, ya! Gue pasti kangen sama, lo.”
“Emang gue ngangenin sih, Nez,” celetuknya.
Kulemparkan bantal tepat ke muka Leta, “Rasain, lo!” Aku pun tertawa ngakak melihat ekspresi kagetnya mendapat serangan dadakan dariku.
“Inez … awas, lo, ya.”
Kami tertawa bersama, menghabiskan sisa malam yang tinggal sepertiga.
🎀🎀🎀
Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat menuju alamat rumah tempatku bekerja. Semoga saja balita yang akan aku jaga nggak rewelan, harapku.
Aku menarik koper kecil memasuki gerbang yang telah dibukakan oleh satpam rumah ini. Halaman rumah ini begitu luas, di tengah-tengahnya terdapat air mancur lumayan besar dengan kolam melingkar menambah asri rumah ini. Banyak tanaman-tanaman serta bunga-bunga hias yang cantik di sisi kanan dan kiri.
Kutekan bel yang menempel pada sisi pintu kayu yang dipenuhi dengan ukiran-ukiran khas kota Jepara. Tak berselang lama muncul sesosok wanita paruh baya yang terlihat ramah kepadaku.
“Mbak pengasuhnya Non Akio, ya?” tanyanya setelah melihatku. Aneh bener ibuk-ibuk ini, siapa juga yang tahu nama balita yang bakal gue asuh. Mending gue iya-in aja deh, biar kelar nih urusan.
Aku pun menganggukkan kepalaku mengiyakan perkataannya.
“Silakan masuk, Mbak,” ajaknya kemudian.
“Tunggu sebentar, Mbok panggilin Tuan Bos dulu.”
Sambil menunggu tuan rumah datang, aku melihat foto-foto keluarga yang tersusun rapi pada almari kayu berukuran besar di sisi kanan ruang tamu.
Terdapat satu foto yang menarik perhatianku, foto seorang anak kecil yang sedang merayakan ulang tahunnya yang kedua. Ia diapit oleh seorang laki-laki dan perempuan cantik, mungkin anak kecil itu yang disebut Non Akio, dan yang mengapitnya mungkin orang tuanya. Tawa bahagia mereka diabadikan lewat hasil jepretan yang tertangkap kamera. Keluarga bahagia.
"Tunggu-tunggu, sepertinya gue pernah lihat orang ini," batinku. Otakku mengingat-ingat mencoba mencari memori tentang keberadaan sosok dalam foto tersebut.
Deheman seseorang mengagetkanku dari lamunan. Aku menoleh seketika, di depanku sudah berdiri sesosok laki-laki. Orang ini, kan yang kemarin pengen gue hih, tapi kenapa orang ini ada di sini? batinku kembali bertanya-tanya.
“Mbok tinggal kebelakang dulu, Tuan,” pamit wanita paruh baya itu.
“Tuan?” gumamku lirih. Oemji ... demi apa coba, cowok nyebelin ini jadi bos gue. Mamp*s gue.
“Tunggu Mbok Sar! Saya buru-buru mau ke kantor, ajak baby sitter ini ke kamarnya dan jelaskan pekerjannya. Seperti biasa, saya serahkan pengasuh ini kepada Mbok, awasi dengan baik. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya.”
“Baik, Tuan,” jawab Mbok Sar.
“Ini Akio, anak cantik yang paling aku sayangi, kalau kamu sanggup mengasuh dia di bulan pertama, gaji kamu akan saya naikkan seratus persen dari gaji awalmu,” jelas cowok songong yang mendadak jadi bosku itu, matanya hanya menatapku sekilas, setelahnya ia berlalu tanpa menatap wajahku sedikit pun. Bisa dipastikan, pasti ia takkan sadar pernah bertemu denganku sebelumnya.
“Akio sayang, Papi berangkat dulu, ya! Akio baik-baik di rumah dengan Mbok Sar dan Mbak .…”
Tatapannya beralih kepadaku seolah menunggu jawaban dari mulutku. “Inez, Tuan. Nama saya Inez."
“Ya, sama Mbak Inez dulu, ya, Sayang, okay!”
Akio hanya mengangguk dengan sedikit melirik ke arahku. Aku tersenyum semanis mungkin, tapi anak itu malah melotot ke arahku. Benar-benar buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Huft.
Baru beberapa langkah kaki Bos baruku itu terayun, tiba-tiba ia berhenti. Kepalanya menoleh kearahku dengan cepat, matanya pun memicing.
“Jangan coba main fisik sama Akio, kalau kamu tidak mau berakhir di hotel prodeo," ancamnya padaku.
Pengen tak hih kok takut dipecat, kan nggak lucu masa belum mulai bekerja sudah dipecat duluan. Lagian penawaran gaji tadi menggiurkan juga. Hihihi.
Walau sebenarnya tanganku gatal ingin menjitak orang kaya sombong bin songong ini, tapi aku harus sabar. Tantangab baru saja dimulai.
"Sabar, Inez tenang!" seruku pada diri sendiri.
Bersambu

Comentário do Livro (435)

  • avatar
    Riana Puspita

    bagus

    5h

      0
  • avatar
    Hanafigg

    bagusss bangett

    01/05

      0
  • avatar
    RohmahSiti Naila

    sangat bagus

    16/02

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes