“Duh, panggil aja aku Pras! Oke?” -Prasetyo Wiratama- *** Tangan Pras masih terus saja menjabat Firmus. Laki-laki berkacamata ini cukup bingung, bagaimana cara melepaskannya? Tapi akhirnya bisa lepas dengan sendirinya. Seketika tangan Firmus terasa sedikit gemetar. Pras seolah tak ada rasa bersalah pada dirinya. “Aku bisa ngomong sama siapa kalau mau nge-kos disini?” “Tunggu Mas Fadli pulang dulu. Nah, itu dia orangnya!” Nampaknya tak pantas laki-laki yang baru saja datang ini dipanggil “mas”. Malah seharusnya Pras memanggilnya “dek”. Penjaga kos-an itu sepertinya anak yang putus sekolah yang terpaksa bekerja disini. Dari wajahnya saja dia nampak masih belia. Fadli tersenyum pada Firmus dan Pras. Tangannya menenteng satu kresek berwarna hitam berukuran besar. “Oh, iya kenapa Mas Pras?” Tentu saja yang bersangkutan tahu kalau sedang dicari. Sebab sedari tadi, jari telunjuk Pras mengarah padanya. “Tuh, ada yang mau nge-kos disini. Namanya... eh siapa tadi?” “Firmus!” “I-iya, namanya Mas Firmus!” Fadli hanya mengangguk disertai senyuman saja. Dia ijin masuk ke dalam, lalu tak lama kembali sambil membawa buku besar dengan cover batik berwarna merah. “Semua yang mau nge-kos disini lewat saya, Mas Firmus. Nah, aku butuh KTP atau kalau ada fotokopinya boleh kasih ke saya.” Firmus bergegas merogoh dompetnya. Dia selalu siap dengan beberapa lembar fotokopi identitas dirinya. Pras nampak terus melihat kearah dompet Firmus yang terlihat tebal. Sejenak dia berpikir, kalau Firmus ini pastilah orang kaya. “Eh, kayaknya kamu bukan orang biasa!” Celetukan Pras membuat Firmus berkeringat sesaat. Ini sama seperti saat Are mengatakan identitas aslinya. Ia menelan salivanya sendiri. “Ah, tebel itu karena isinya struk belanjaan yang dulu!” “Coba lihat?” Tangan Pras memaksa Firmus agar menunjukkan isi dompetnya. Tentu saja dia tak mau. Baru kenal saja sudah begini. Takutnya, Pras mau memanfaatkan dirinya. “Sudah, Mas Firmus ini aja! KTP asli saya kembalikan juga. Pembayaran di awalnya....” “Saya bayar langsung untuk satu bulan pertama boleh? Kalau cocok, saya nanti bayar lagi sebelum akhir bulan.” “Nah, kan? Mana ada anak kos bayar langsung satu bulan!” “Lah, biasanya gimana Pras?” “Mereka satu minggu dulu atau dua minggu dulu. Nggak banyak sih yang berani bayar satu bulan kontan.” Firmus tak menanggapi perkataan Pras. Ia mengeluarkan tujuh lembar uang berwarna merah yang cukup membuat mata siapapun pedes. Apalagi Pras yang baru dikenalnya. Fadli menerimanya sambil menghitung jumlahnya kembali. Baru ia mengangguk dan masuk ke ruangannya. “Kebiasaan di tempat yang lama, Pras! Murah buatku disini cuma tujuh ratus ribu sudah lengkap kamar mandi dalam.” “CUMA TUJUH RATUS RIBU KAMU BILANG MURAH?” Kepala Pras langsung menggeleng. Dia masih yakin laki-laki berkacamata ini adalah orang kaya. Namun sekali lagi, Firmus menegaskan kalau dia biasa saja. Sebab dulu biaya kos lebih mahal, bisa sampai satu jutaan dengan fasilitas yang sama. “Oh, berarti aku beruntung ya! Tapi memang ngikutin UMR kok.” Sebuah kunci dengan gantungan kayu bertuliskan nomor kamar diserahkan oleh Fadli. Firmus pun menerimanya dan tak sabar untuk segera masuk ke dalam. Kasur didalamnya seolah memanggil dirinya untuk segera menidurinya. Firmus pun menghempaskan tubuhnya ke kasur busa berukuran single itu. “Aku ngojek dulu ya! Ntar malem mau nggak kita ke kucingan Mak Sum?” “Boleh deh! Aku juga mau urus barang-barangku di kos yang lama.” Pras meninggalkan Firmus sendirian di kamar. Namun ia tak mau tinggal diam. Selagi kamar ini tidak banyak barang bawaan miliknya, segera saja dia membuka smartphone. Mencari pekerjaan baru karena dirinya tak mau menganggur lebih lama lagi di sini. *** “Ini langgananku nih, Mas Firmus!” Pras bangga memperkenalkan sebuah angkringan dengan menu nasi kucing didalamnya, milik seorang ibu tua bernama Sumringah. Lebih terkenal dengan sebutan “Angkringan Mak Sum”. Firmus agak malu mengambil sate telur dan sebungkus nasi kucing. “Ealah mas ojo siji lah! Nggak wareg mengko lho...!” (Ealah, jangan satu lah! Nggak kenyang nanti lho...!) “Iya, nih orang aneh! Tuh, tambahin dua bungkus lagi.” Pras memaksa Firmus dengan memberikanya dua bungkus nasi kucing lagi. Mata laki-laki itu nyaris keluar menabrak kacamatanya. Dia bukan tipe mukbang! Padahal Firmus belum tahu, kalau nasi kucing satu bungkus tidak akan terasa apa-apa di perutnya. Dulu sewaktu kuliah dia terbiasa makan nasi rames yang cukup satu bungkus saja. “Nih, satenya tambahin lagi! Sama gorengan juga, cuma seribuan lho.” “Kamu suruh aku makan sebanyak ini, Pras?” “Iya, biar badanmu lebih berisi kan!” Firmus kesal, berarti Pras menganggap dirinya itu kerempeng. Padahal kalau kemejanya dibuka, akan nampak perut sixpacknya. Bekas dia nge-gym waktu dulu. Sekarang dia tak mau lagi, cukup berlatih yang ringan saja. “Ora usah isin, mas! Kae lho Mas Pras biasane maem limang bungkus.” (Nggak usah malu, mas! Itu lho Mas Pras biasanya makan lima bungkus.) “S-s-saya diet kok, Mak Sum!” Bukannya Firmus tak tahu Bahasa Jawa, namun untuk menanggapinya dia cukup kesulitan. Terlebih lagi memang dia bukan asli Jawa Tengah. Firmus besar dan lahir di Surabaya. Hanya saja, keluarganya terbiasa memakai Bahasa Indonesia. Wajar kalau kemanapun dirinya tinggal, selalu menggunakan Bahasa Indonesia tanpa logat sama sekali. “Walah diet-dietan harang iki lho! Koncone Mas Pras pancen maraki ngguyu.” (Walah diet-dietan segala ini lho! Temennya Mas Pras memang bikin ketawa.) Pras juga ingin tertawa, malah dia justru tersedak. Firmus menyodorkan segelas teh hangat yang tadi dipesan oleh laki-laki berambut keriting ini. Pras bergegas meraihnya, lalu meneguk isinya sambil sedikit menepuk bagian dadanya. “Woo...Mas Pras kualat kie! Makane koncone ojo diguyu. Sabar yo, Mas! Pancen koyok ngono kuwi wong e.” (Woo... Mas Pras kualat nih! Makanya temennya jangan diketawain. Sabar ya, Mas! Memang kayak gitu orangnya.) Kini giliran Firmus yang sedikit menertawakan Pras. Dia menyibakkan poninya, lalu mulai membuka bungkusan nasi kucing. Sementara Pras hanya diam saja dengan wajah memerah malu. “Mak Sum, teh anget satu lagi ya!” “Iya, Mas Pras!” “Bocor ya hehe....” “Ngeledek deh kamu, Firmus!”
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus
10/02/2025
0cerita menarik
03/01/2025
0bagus
18/12/2024
0Lihat Semua