logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 2 Perburuan Kedua

“Namo Budhhāya.”
-Arjuna alias Dharma Wilangga (Om Dharma)-
***
Laki-laki berusia sekitar enam puluh tahunan itu mengucapkan “Namo Budhhāya.” Sementara Arin cukup membalasnya dengan “Shalom” saja. Meski keduanya berbeda agama, namun tak lantas menjadikan sebuah jarak diantara mereka.
“Ada darah di kalung salibmu, Arin!”
Arin memang tak menyadari hal itu. Ia pun bergegas membersihkan liontinnya dengan ujung kaosnya yang masih bersih. Om Dharma hanya tertawa ringan. Dia sudah tahu kelakuan bodyguardnya yang punya hobi unik yaitu bertarung dengan para penjahat.
“Kamu masih menerima tawaran untuk mengakhiri manusia lainnya?”
“Tentu saja tidak, Om!”
“Oh, benarkah?”
Dharma Wilangga mencoba mengulik sisi gelap Arin. Ia memang bukanlah cewek biasa. Pernah menjalani pelatihan militer khusus. Sebab ayahnya masih berdinas di bagian kemiliteran sebagai petinggi disana. Namun sayang, jalan yang ditempuh cewek ini justru berbeda dari ayahnya.
“Om pernah bilang, apa aku tak takut dengan Tuhan?”
“Hm... ya lalu kamu takut?”
“Tentu tidak, Om! Aku tahu dimana tempatku nanti. Jelas saja bukan di surga!”
“Lantas kamu berhak menentukan itu, Arin? Tuhan yang menentukan dimana kelak manusia kan ditempatkan. Betapa naifnya dirimu sebagai manusia!”
Arin hanya diam saja. Dia sadar dirinya sudah dikenal sebagai pembunuh dengan julukan “Angin Pembunuh” oleh para bos besar. Namun pertemuannya dengan Dharma Wilangga membuatnya berbeda. Ia mencoba untuk menjauhi jalur gelap yang sempat dijalaninya.
“Om, ada tugas apalagi?”
Kini cewek berkaos seksi dengan jaket kulit warna hitam itu mencoba mengalihkan perhatian. Pertanyaan tentang Ketuhanan selalu membuatnya mati kutu.
“Kamu nanti akan bekerja di sebuah penerbitan. Mata-mataku melaporkan kalau Firmus bekerja disana.”
Oh, bukannya aku sudah diterima ya!”
“Ya, tugasmu adalah dekati Firmus Wijaya Mangudhibrata. Korek informasi apapun darinya. Lalu kalau kamu berhasil menarik perhatiannya, tahan dia! Jangan sampai kabur lagi.”
Arin tertawa meledek. Ia seperti harus mencari anak laki-laki yang hilang, lalu mengembalikan lagi pada keluarganya. Namun Om Dharma hanya diam sambil tetap tersenyum padanya.
“Huh! Om tidak tersinggung? Kenapa selalu saja tersenyum!”
“Buddha mengajarkan untuk tetap welas asih. Senyum adalah jalan yang kuambil Arin. Kamu menertawakan Firmus?”
Tatapan Arin mengarah tajam pada orang yang seharusnya ia hormati ini. Namun Om Dharma tak pernah menuntutnya untuk melakukan itu.
“Apa yang om cari darinya? Dia keturunan keluarga Mangudhibrata.”
“Dan kamu adalah keturunan Tirto Wahyudi yang memiliki trah seorang ksatria dari jaman Majapahit.”
“Aku tidak tertarik dengan pujian dari om!”
“Itu bukan pujian, tapi sebuah fakta tentang darah yang kini mengalir dalam tubuhmu.”
“NONSENSE! Aku tidak pernah percaya dengan trah dan embel-embel kerajaan lainnya.”
Suasana sedikit memanas. Senyuman Om Dharma yang mampu mendinginkannya. Aroma kopi menyeruak kembali. Ternyata laki-laki itu lupa kalau ia sudah menyiapkan segelas kopi sedari tadi. Dirinya bergegas masuk ke dalam dan menyeruput sedikit air hitam tanpa gula itu. Barulah ia kembali lagi ke balkon.
“Jadi, bekerjalah dengan baik sebagai sekretaris disana.”
“Sambil mencari tahu tentang Firmus. Baiklah, aku paham!”
Arin sudah memutar badannya untuk pergi dari kamar hotel ini. Tapi pundaknya ditepuk dan ia menoleh ke belakang.
“Ini tiket bis dan alamat kos-mu selama disana. Aku sudah membayar semuanya. Besok kamu tinggal berangkat saja.”
Perempuan itu membalikkan badan sambil menerima tiket bis serta beberapa berkas lainnya. Barulah ia benar-benar pergi dari hadapan Om Dharma.
“Hei, ngomong-ngomong kenapa ada bercak darah tadi?”
“Aku baru saja menghabisi sekelompok copet di pasar malam tadi. Om sudah puas kan?”
Dharma kini menepuk jidatnya keras. Ia yakin besok akan ada berita heboh tentang hal itu. Arin tak peduli, dia fokus saja pada tugas yang diberikan. Setelah ini berkemas dan siap keluar dari kota kelahirannya ini.
“Selamat tinggal, Ayah! Selamat tinggal juga kota Semarang!”
***
“Huaah! Kembali ke sini lagi. Welcome to Salatiga, Firmus!”
Firmus mengepalkan kedua tangannya, lalu mengangkatnya keatas. Seperti seorang ksatria yang baru saja lolos dari maut di medan perang. Udara di kota kecil ini tetap terasa sejuk baginya. Ia hanya membawa beberapa baju di tas ransel miliknya. Sementara barang lainnya, masih ada di kos yang lama.
“Saatnya cari kos baru nih!”
Laki-laki berkacamata itu mulai memacu pelan sepeda motor miliknya. Ia berhenti di sebuah pom bensin. Mengisi bahan bakar sambil bertanya kos khusus laki-laki yang masih kosong. Petugas yang tengah mengisikan BBM ke tangki motor Firmus sedikit melirik pada plat nomornya.
“Mas bukan asli sini ya?”
“Bukan, saya pendatang disini!”
Petugas itu hanya mengangguk pelan. Ia sedikit memberi tahu kalau kos disini letaknya agak masuk ke dalam gang. Jarang yang ada di dekat pinggir jalan. Firmus rasa tak sabar, dia hanya ingin tahu lokasi persisnya.
“Biasanya ada tulisannya kok, mas. Coba masuk ke gang sebelah pom bensin ini.”
“Oh, iya deh! Makasih sebelumnya ya, mas.”
Mesin motor dinyalakan oleh Firmus, ia susuri jalanan Salatiga yang ternyata tak banyak berubah. Sejak dia kuliah dulu sampai dengan sekarang. Barulah dirinya teringat, kalau dulu pernah menempati salah satu kos di area yang sedang Firmus lalui ini. Hanya saja, bentuk bangunannya yang sudah banyak berubah. Membuat dirinya sedikit kebingungan.
“Apa ketuk pintunya satu per satu ya?”
Namun Firmus tak mau asal. Dia berhenti sesuai dengan kata hatinya. Entah kenapa, ada satu bangunan kos bertingkat dua yang cukup menarik di matanya. Ia pun menghentikan laju motor. Belum sempat tangannya meraih gembok untuk diketuknya, seorang laki-laki berjaket ojol pun muncul.
“Eh, cari siapa mas?”
“Oh, maaf disini masih ada kamar kosong nggak ya?”
“Ooh, mas lagi cari kos-an. Mahasiswa baru ya?”
Seketika tangan Firmus menyentuh wajahnya. Ia bingung saat disebut sebagai “mahasiswa baru”. Sebab umurnya sudah masuk usia tiga puluh tahunan. Aneh kalau ada yang mengira dia adalah mahasiswa baru.
“Bukaan! Saya baru mau cari kerja disini, mas.”
Laki-laki yang Firmus temui itu malah menggaruk kepalanya. Mungkin dia berpikir, apa yang mau dicari di Kota Salatiga? Sebuah kota kecil yang tenang dan tidak se-sibuk Kota Semarang.
“Mas salah tempat deh!”
“Hah! Maksud masnya apa ya?”
Hanya tawa kecil yang ia suguhkan. Laki-laki itu akhirnya meminta Firmus untuk memarkirkan kendaraan di area halaman bangunan kos itu.
“Lah tapi kan....”
“Sudah, masuk dulu! Kita ngobrol didalam ya.”
Firmus mengangguk sambil menuntun motornya masuk ke halaman. Ia diajak duduk di sebuah sofa berwarna hijau tosca. Kulit jok-nya sudah beberapa yang sobek. Rasa tak tega dia mendudukinya. Ia cukup hati-hati meletakkan pantatnya disana.
“Santai aja mas! Itu sofa udah rusak lama kok.”
“Oh, hehe....”
Firmus hanya nyengir sambil sedikit mengubah posisi duduknya. Laki-laki itu menawarinya mau minuman hangat atau dingin. Namun ditolak oleh Firmus.
“Nggak apa, lagipula masih punyaku juga. Eh, nama mas siapa?”
“Firmus.”
“Kenalin, namaku Prasetyo Wiratama. Panggil aja Pras!”
“Oh, iya Mas Pras!”
“Duh, panggil aja aku Pras! Oke?”

Komentar Buku (150)

  • avatar
    GalangDika

    bagus

    10/02/2025

      0
  • avatar
    AmarsyahArya Noor

    cerita menarik

    03/01/2025

      0
  • avatar
    NasirHasbi

    bagus

    18/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru