Tanpa terasa, sudah satu bulan Gayatri bekerja di Konfeksi Mawar. Kerjanya yang sangat rapi dan teliti membuat Bu Mawar suka dengan kinerjanya. Apalagi, dia termasuk pekerja yang sangat rajin. Saat jam istirahat Gayatri dipangil sebentar untuk menemui Bu Mawar di kantor. Dia pun bergegas menuju ke kantor dengan perasaan yang was-was dan mengingat-ingat sesuatu. Apakah dia pernah melakukan kesalahan? Saat ini, hanya doa dalam hati yang dipanjatkan. Berharap bukan sesuatu yang buruk dan berhubungan dengan pekerjaannya. Sesampainya di depan ruangan, Gayatri mengetuk pintu beberapa kali. Hingga terdengar suara sahutan dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk. "Saya mendengar dari Bu Dina, kamu juga bisa menggambar desain baju?" tanya Bu Mawar. "Iya, Bu. Namun, sekadar bisa menggambar dan hasilnya belum sempurna. Saya masih amatiran dan masih perlu banyak belajar," jawab Gayatri. "Kebetulan, saya punya butik dan saat ini sedang tidak ada bagian desainnya. Apakah kamu bisa bekerja di sana?" tanya Bu Mawar lagi. Dia mencoba memberikan penawaran kepada Gayatri sesuai bakatnya. "Maaf sebelumnya, Bu. Saya bukan lulusan desain dan saya hanya bisa menggambar, itu pun dengan belajar otodidak!" jawab Gayatri. Dia tidak ingin hasil desainnya mengecewakan. "Coba kamu menggambar desain baju pesta di kertas ini!" perintah Bu Mawar sambil memberikan kertas. Gayatri pun meraih kertas dan pensil dari tangan Bu Mawar. Dalam sekejap gambar desain baju pesta itu pun selesai. Kemudian, Gayatri memberikannya kepada Bu Mawar. "Perfect! Bagus sekali desainnya. Baiklah kamu saya tempatkan di butik!" ucap Bu Mawar. Ia yakin akan kemampuan Gayatri. "Ta-tapi ... Bu Mawar, bukannya saya tidak mau. Saya takut nantinya mengecewakan banyak pelanggan butik karena saya bukan seorang desainer," ucap Gayatri. Dia kurang percaya diri dengan kemampuannya. "Kita coba saja dulu, ya. Saya yakin dengan kemampuanmu!" ucap Bu Mawar. "Baiklah, Bu," jawab Bu Mawar. *** Setelah satu bulan bekerja di Konfeksi Mawar, sekarang Gayatri di tempatkan di Butik Mawar. Tempatnya lumayan jauh dari lokasi konfeksi membuat Bu Mawar meminjamkan kendaraan untuk dipakai Gayatri. Sepeda motor matic keluaran terbaru dari brand yang sudah ternama di Indonesia kini menjadi temannya saat berangkat dan pulang kerja. Saat sekolah dulu, Gayatri pernah belajar naik sepeda motor milik temannya meskipun dia sendiri belum pernah memiliki kendaraan itu. Kini dia tinggal mempraktikkan saja. *** Sudah tiga minggu, Gayatri bekerja di Butik Mawar dan belum menemui kendala berarti. Terlihat Bu Mawar datang dengan seorang wanita cantik dan modis. "Sebentar ya, Bu. Saya perkenalkan dengan orang yang mendesain gaun Ibu ke pesta, kemarin," ucap Bu Mawar kepada wanita itu. Kemudian, Bu Mawar memerintahkan bagian resepsionis untuk memanggil Gayatri. Tidak berapa lama Gayatri muncul di hadapan mereka. "Maaf, Bu Mawar memanggil saya?" tanya Gayatri. "Iya, ini ada Bu Siska. Beliau ingin mengetahui perancang gaunnya kemarin. Waktu dibawa pergi ke acara pesta, ternyata banyak yang suka dengan desainmu, Yatri," ucap Bu Mawar dengan mata berbinar penuh kebahagiaan. "Selamat pagi, Bu," ucap Gayatri sedikit menunduk tanda memberi hormat. "Sepertinya, aku pernah melihat kamu, di mana, ya?" tanya Bu Siska. "Maaf, kalau salah. Apakah Anda, ibunya Ardi?" tanya Gayatri ingin memastikan. "Iya. Kamu siapa, ya? Maaf, saya lupa," ucap Bu Siska. Dia masih belum bisa mengingat Gayatri. "Saya Gayatri, teman SMA Ardi, Bu," ucap Gayatri. Gayatri masih diam berdiri mematung menunggu perintah Bu Mawar. Terlihat dari balik pintu kaca Butik Mawar, seorang pemuda sedang berjalan masuk ke butik. "Sudah, Ma?" tanya Ardi. Sambil berjalan menemui mamanya yang sedang duduk bersama Bu Mawar. Gayatri yang sedang berdiri membelakangi tidak tahu kedatangan Ardi. "Ardi, ini ada teman SMA, kamu," ucap Bu Siska. Dia menunjuk ke arah Gayatri. "O, ya. Siapa, Ma?" tanya Ardi. Gayatri pun menoleh ke arah pemuda yang berjalan ke arahnya. Ardi yang melihat Gayatri untuk sesaat menghentikan langkahnya. "Ga-Gayatri," ucap Ardi gugup dan masih diam di tempatnya. Terlihat tatapan Ardi yang tidak seperti biasa bertemu dengan seorang teman, karena tatapannya seperti mengisyaratkan sesuatu hal yang berbeda. Bagai oase di padang pasir, Ardi seperti menemukan sesuatu yang dicarinya selama ini. "Ga-Gayatri," ucap Ardi, sekali lagi. Gayatri masih diam berdiri di tempatnya. Ada apa dengan Ardi? Kenapa sikapnya seperti itu? batin Gayatri. Ardi yang menyadari kekakuan sikapnya pun segera melangkah maju menghampiri Gayatri. Kemudian, berusaha mencairkan kebekuannya dengan menyapa Gayatri. "Hallo, bagaimana kabarmu, Yat?" tanya Ardi sambil mendekat ke arah Gayatri. Gayatri yang masih diam berdiri di tempatnya pun menjawab dengan sikap formalitas karena saat ini dia masih berada di tempat kerja jadi harus menjaga sikapnya. "Baik, Ardi," jawab Gayatri singkat. Sesaat ada kekakuan yang terjadi antara Gayatri dan Ardi. Suara Bu Mawar pun mencairkan kebekuan sikap yang telah mereka ciptakan. "Ternyata sudah saling kenal, ya?" tanya Bu Mawar. "Mereka teman SMA, Bu." Suara Bu Siska menyahut, menjawab pertanyaan Bu Mawar yang belum dijawab oleh keduanya. "Maaf, Bu Mawar. Jika sudah tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya izin permisi untuk kembali bekerja," ucap Gayatri. Masih berdiri di tempat yang sama menunggu persetujuan Bu Mawar. "Bagaimana, Bu Siska masih ada yang dibutuhkan lagi dari Gayatri?" tanya Bu Mawar. "Sudah, tidak ada, Bu. Saya hanya ingin tahu saja," jawab Bu Siska. "Permisi" Gayatri sedikit membungkuk, lalu meninggalkan tempat itu. Terlihat pandangan Ardi tidak pernah lepas memperhatikan Gayatri hingga bayangan tubuhnya hilang ditelan pintu. Beruntung, sikapnya barusan tidak tertangkap oleh pandangan dua wanita yang sedang asyik melihat-lihat desain baju. "Ya sudah, Bu. Saya permisi pamit dulu, ya," pamit Bu Siska. "Baik, Bu. Terima kasih. Akan segera kami kerjakan gaun pesanan ibu hari ini." Bu Mawar mengantar Bu Siska dan Ardi sampai pintu butik. Bu Siska dan Ardi pun pamit undur diri meninggalkan butik. Gayatri sudah berada di dalam ruangannya. Dia sedikit bertanya-tanya dengan sikap Ardi tadi. "Ada apa dengan Ardi?" ucap Gayatri lirih. Dia mencoba mencerna sikap Ardi yang menurutnya terkesan aneh. *** Gayatri masih harus terus berjuang mengumpulkan pundi-pundi uang untuk bisa membeli mesin jahit dan mesin obras. Satu bulan bekerja di Konfeksi Mawar, dia mendapatkan upah sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Nganjuk tahun 2015 sebesar Rp 1.265.000. Saat ini, tabungan Gayatri yang dikumpulkan dari hasil berjualan aksesori dan menerima order jahit masih berkisar Rp 1.200.000. Uang tabungan itu dia kumpulkan sedikit demi sedikit, setelah sebagian untuk membantu keuangan keluarga. Melihat harga mesin jahit kemarin dengan uang yang dimiliki Gayatri saat ini, membuatnya harus ekstra bekerja keras, karena kekurangannya masih banyak. Upah UMR di Surabaya, Rp 2.710.000 hampir dua kali lipat dari Kabupaten Nganjuk terkadang membuatnya tergiur ingin mengadu nasib di sana. Berharap bisa berhasil dan sukses di kota dengan julukan kota industri terbesar nomor dua setelah Jakarta. Semua keinginan Gayatri diurungkan karena demi memenuhi keinginan kedua orang tua. Mereka merasa khawatir, takut jika terjadi sesuatu dengannya. Bagaimana pun dia adalah anak satu-satunya di keluarga kecil itu. Mungkin sudah menjadi jalan takdir yang harus dilalui. Gayatri harus menerima dengan ikhlas dan lapang dada. Meskipun, takdir menempatkannya di tengah-tengah keluarga miskin dan dalam serba keterbatasan. Namun, semua keterbatasan itu tidak membatasi langkahnya untuk terus maju dan berjuang. Bermandikan kehangatan dan berlimpah kasih sayang yang didapatkan Gayatri, dalam keluarga kecil itu saja sudah membuatnya sangat bersyukur tiada terkira. Bersambung ...
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 26 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (93)
Shazarina
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya...
Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
28/01/2022
0enk untuk di baca terimakasih:))
26/02/2025
0saya sangat antusias membaca novel terbaik
27/01/2025
0Lihat Semua