Hidup di kota kecil—Nganjuk—dan jauh dari tempat bermuaranya industri membuat beberapa penduduknya banyak yang pergi bekerja ke Surabaya. Mereka meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di sana. Bekerja menjadi buruh pabrik, supir, pelayan restauran atau menjadi asisten rumah tangga dengan berbekal ijazah SMA seperti Gayatri. Gayatri masih bimbang dengan keadaannya. Begitu susahnya mencari kerja. Teman-temannya banyak yang melanjutkan kuliah. Kabar itu pun dia dapat dari Leni, sahabat baiknya waktu masih sekolah SMA. Mereka berdua bertemu tanpa sengaja di alun-alun kota saat Gayatri sedang menjajakan dagangannya. Gayatri masih terus berjualan aksesori sambil menunggu panggilan kerja. Dia telah mengirim surat lamaran kerja di beberapa perusahaan yang ada di kota kecil ini. Dengan menumpang menuliskan data nomor telepon tetangganya, dia berharap jika ada panggilan kerja bisa dengan mudah dihubungi. Menunggu dan menunggu, tetapi tidak ada panggilan sama sekali. Sebenarnya Gayatri juga ingin seperti orang-orang yang sukses di Surabaya. Dia juga ingin sekali bisa mendapatkan pekerjaan di sana. Namun, tidak ada sanak saudara atau pun teman membuatnya agak bimbang dan ragu. Lebih memilih mencoba melamar pekerjaan di kota Angin meskipun nanti upah yang didapatkan sangat kecil. Ayah dan ibunya ingin Gayatri tetap berada didekat mereka. Maklumlah dia adalah anak semata wayangnya. "Yatri, ayo makan dulu. Kamu pasti capek seharian keliling jualan aksesori," ajak ibunya. "Nggak apa-apa, Bu. Yatri sudah biasa berjualan. Alhamdulillah kalau alun-alun kota sedang ramai hasilnya juga lumayan jika sedang sepi juga hasilnya tidak seberapa. Disyukuri saja, Bu. Meskipun terkadang hasilnya sedikit dan tidak seberapa yang terpenting setiap hari ada pemasukkan," ucap syukur Gayatri. "Maafkan kami, Yat, telah membuatmu hidup susah." Terlihat genangan air mata yang memenuhi pelupuk mata itu pun akhirnya tumpah dan mengucur dengan derasnya, "tidak seharusnya kamu ikut susah seperti ini, Yat." Yatri berjalan mendekati ibunya. Kemudian, mengelus punggungnya pelan. "Yatri, nggak apa-apa, Bu. Yatri ikhlas dengan semua jalan yang sudah Allah gariskan. Kenapa Ibu harus merasa bersalah. Kita sudah berusaha, tetapi memang kehidupan kita sudah seperti ini. Jika suatu saat Allah memberi kemudahan, Insya Allah pasti hidup kita bisa berubah, Bu." Gayatri terus berpikir positif. "Ibu benar-benar bersyukur memiliki kamu. Apalagi, dengan keadaan yang sangat susah. Jarang ada anak yang mau bertahan dan menerima keadaan kedua orang tuanya yang sangat susah. Yang ada, mereka sangat malu dengan keadaan kami sebagai orang tua. Terima kasih untuk semua pengertianmu kepada kami," ucap Bu Marni haru dan bahagia. Mereka berdua pun saling berpelukan. Saling menguatkan satu sama lain dan larut dalam kesedihan. *** Tanpa terasa, sudah tiga bulan Gayatri belum mendapatkan pekerjaan tetap. Hari-harinya diisi dengan berjualan aksesori di pagi hari, lalu siang hari hingga sore membantu ibunya menjahit. Orderan yang diambil dari adiknya Bu Mia masih terus berjalan begitu pun dengan berjualan aksesori. Gayatri masih tetap mengambil beberapa barangnya dari situ. Namun, saat ini Gayatri mencoba mendesain sendiri aksesori berupa bros yang terbuat dari kain dengan motif bunga berwarna-warni. Mesin jahit yang tersedia saat ini hanya satu jadi Gayatri ingin membeli lagi satu buah mesin jahit baru beserta mesin pengobrasnya. Terkendala dengan keuangan membuatnya rajin menyisihkan uang menabung sedikit demi sedikit. "Assalamualaikum, Bu Marni," ucap salam dari seorang wanita. "Walaikumsalam," jawab Bu Marni, lalu berjalan ke aran pintu. "Bu Lurah, mari silahkan masuk," ajak Bu Marni, lalu berjalan masuk ke dalam diikuti Bu Lurah "Silahkan duduk, Bu," lanjut Bu Marni. "Terima kasih, Bu Marni," jawab Bu Lurah. Bu Lurah pun duduk di kursi ruang tamu yang terbuat dari papan kayu. "Maaf, Bu, kalau boleh tahu, ada apa, ya?" tanya Bu Marni. "Begini, Bu. Saya dengar dari beberapa ibu-ibu, Gayatri berjualan aksesori yang didesain dan dijahit sendiri dan hasilnya sangat bagus sekali," terang Bu Lurah. "Iya, Bu. Dia membuat sendiri, tetapi untuk hasil bagus atau tidak yang bisa menilai adalah orang yang sudah membeli secara langsung barangnya." "Contohnya ada, Bu. Kebetulan ibu-ibu PKK mau memesan bros untuk aksesori seragam." "Sebentar ya, Bu. Saya panggilkan dulu Gayatri. Kebetulan dia sedang ada di rumah." Bu Marni pun masuk ke dalam untuk memanggil Gayatri. Di dalam kamar, Gayatri sedang menggambar desain. Tangannya benar-benar terampil dan piawai membuat desain aksesori maupun desain baju. "Yat, ada Bu Lurah ingin bicara sama kamu. Sepertinya, dia tahu bros buatanmu dan ingin memesan untuk ibu-ibu PKK," ucap Bu Marni. "O, begitu. Baik sebentar kususul, Bu." Gayatri membereskan kertas-kertas yang sudah bergambar desain sebelum ke luar menemui Bu Lurah. "Ya sudah, Ibu buat minum dulu untuk Bu Lurah. Kamu tolong segera temani, ya!" pinta Bu Marni. "Iya, Bu," jawab Gayatri. Bu Marni meninggalkan kamar Gayatri menuju ke dapur. Gayatri segera ke luar menemui Bu Lurah. Sesampainya di ruang tamu, Gayatri menjabat tangan Bu Lurah, lalu ikut duduk. "Maaf, Bu Lurah. Ada apa, ya?" tanya Gayatri. "Begini, Yat ... kemarin, ibu-ibu yang sudah membeli bros di tempatmu bilang brosnya bagus dan banyak yang merekomendasikan bros buatanmu. Apakah brosnya itu memang buatanmu sendiri, Yat?" tanya Bu Lurah. "Iya, Bu. Untuk yang terbuat dari kain seperti model bunga, pita dan beberapa motif lain ini saya yang membuatnya sendiri. Kalau yang terbuat dari plastik atau besi ini dari pabrik. Sebentar saya ambilkan contoh gambarnya dulu, kebetulan, saya sedang menggambar untuk bros yang akan saya buat," jawab Gayatri. Dia berusaha menjelaskan tentang bros buatannya. Gayatri melangkah menuju ke kamar untuk mengambil contoh gambar. Sementara itu, Bu Marni sudah kembali dengan dua gelas teh di nampan, lalu meletakkannya di meja. "Monggo, Bu Lurah, diminum dulu. Cuma teh hangat yang bisa kami suguhkan," ucap Bu Marni. Terlihat Gayatri sudah datang dengan map di tangan. Kembali dia duduk, lalu membuka map dan menunjukkan beberapa gambar kepada Bu Lurah. "Ini, Bu. Kebetulan gambar untuk bros yang akan saya jahit. Jika ingin motif lain bisa memilih dari beberapa gambar di sini," Gayatri menyodorkan beberapa gambar desain bros.
Bu Lurah pun melihat beberapa gambar bros.Terlihat dia melebarkan pandangan saat melihat beberapa gambar desain di bawah gambar bros. "Ini kamu yang gambar sendiri, ya, Yatri?" tanya Bu Lurah dengan rasa kagum. "Maaf, yang mana ya, Bu?" tanya Gayatri sambil melihat gambar yang sudah dipegang Bu Lurah. "Ini, gambar kebaya cantik, tas dan beberapa gaun." Bu Lurah menunjukkan gambar desain gaun kepada Gayatri. "Iya, Bu. Saya sendiri yang menggambar." "Bagus sekali. Kamu memang benar-benar berbakat, Yat. Saya pesan bros yang motif bunga mawar ini sebanyak seratus biji, ya," ucap Bu Lurah sambil menunjuk gambar motif sesuai yang akan diordernya. "Se-seratus biji, Bu!" Gayatri sedikit kaget. "Iya, seratus!" Bu Lurah meyakinkan. "Mohon maaf sebelumnya, mungkin waktu pengerjaannya agak sedikit lama. Mesin jahitnya masih satu dan gantian sama ibu," ucap Gayatri mencoba menjelaskan sedikit kendalanya. "O, tidak apa-apa. Ini uang tiga ratus ribu buat DP-nya dulu, ya. Nanti, sisanya setelah barang selesai. Satu lagi jika saya butuh baju untuk ke acara penting, kamu bisa membuatkannya untukku, Yat?" tanya Bu Lurah. "Bisa, Bu!" jawab Gayatri yakin. Alhamdulillah, rasa syukur yang tiada terkira. Nikmat yang tidak akan pernah dilupakan adalah datangnya rezeki yang tiba-tiba saat punya niat baik dan ingin mewujudkannya. Semoga bisa segera membeli satu mesin jahit dan satu mesin obras, batin Gayatri. Bersambung ...
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 26 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (93)
Shazarina
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya...
Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
28/01/2022
0enk untuk di baca terimakasih:))
26/02/2025
0saya sangat antusias membaca novel terbaik
27/01/2025
0Lihat Semua