logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 5. Kelulusan

Hari ini, tiba saatnya bagi Gayatri menghadapi ujian akhir sekolah. Pagi-pagi sekali dia sudah bersiap, setelah semalam belajar sesuai jadwal ujian hari ini.
Jadwal ujian hari ini adalah Bahasa Indonesia dan Matematika. Gayatri merasa sudah percaya diri menghadapi ujian akhir sekolah. Sebelum berangkat ke sekolah dia sempatkan kembali membaca materi yang sudah dipelajarinya semalam.
"Yatri, sarapan dulu! Jangan lupa nomor ujian, alat tulis dan satu lagi jangan lupa berdoa dulu sebelum mengerjakan soal-soal ujian," ibunya mengingatkan sebelum Gayatri berangkat ke sekolah.
"Iya, Bu. Doakan Yatri, ya!" pinta Yatri kepada ibunya.
"Iya ibu akan selalu berdoa untuk kesuksesan dan kebaikanmu. Kebetulan Ayah sudah berangkat bekerja tetapi dia menitipkan pesan untukmu supaya terus berusaha dan berdoa. Kedua kata itu selalu berkaitan erat baik dalam penulisan, ucapan, maupun dalam praktek kehidupan," ucap ibunya mengingatkan pesan dari ayahnya.
"Baik, Yatri berangkat dulu, Bu." Gayatri meraih punggung tangan ibunya sebelum melangkah ke luar untuk berangkat ke sekolah.
***
Sesampainya di sekolah, Gayatri menuju ke tempat parkir sepeda. Kemudian, dia duduk di depan kelas yang digunakan untuk ujian akhir.
Gayatri membaca kembali dua mata pelajaran yang semalam sudah dipelajarinya. Dia hanya ingin kembali memperkuat daya ingatnya tentang apa yang sudah dipelajari semalam meskipun dengan hanya membaca sekilas.
Ternyata Gayatri duduk di ruangan yang sama dengan Leni. Leni berjalan menghampiri. Kemudian, ikut duduk di sampingnya.
"Yat, nanti jangan lupa tengak-tengok, ya. Lihatlah aku yang begitu mendambamu," canda Leni dan berhasil membuat Gayatri tersenyum.
"Tengok saja 'kan," goda Gayatri.
"Enak saja, tengok doing. Jangan lupa kasih yang aku butuhkan," pinta Leni, masih dengan cengar-cengir berharap Gayatri mengerti keinginannya.
"Apa?" tanya Gayatri pura-pura tidak mengerti.
"Jawaban soal," ucap Leni
Kembali, candaan itu membuat mereka berdua tertawa.
***
Bel berbunyi pertanda masuk kelas dan siap untuk menghadapi ujian. Sesuai dengan urutan nomor absensi, Gayatri duduk di bangku tengah, sedangkan Leni duduk di bangku paling depan.
"Ah, sebel! Aku bakalan lurus seperti kuda yang pakai kaca mata," ucap Leni kesal.
"Kenapa, Len?" tanya Gayatri.
"Ya, mana bisa aku tengok ke kanan ke kiri, secara dudukku di bangku paling depan. Hadeh bagaimana ini nasibku? Terasa di ujung tanduk. Sumpah, aku pingin guling-guling, Yat," ucap Leni sambil mengacak-acak rambutnya.
"Ya sudah, mulai koprol supaya encer itu isi kepala dan mudah dalam mengerjakan soal-soal," goda Gayatri.
"Ah, kamu, Yat. Segitunya sama aku. Sini, pinjam pundaknya bentar. Aku pingin mewek dulu." Leni pun menyadarkan kepala di pundak Gayatri.
Gayatri hanya mengelus pelan rambut Leni.
"Semalam belajar, 'kan?" tanya Gayatri.
"Iya, belajar!" jawab Leni penuh keyakinan.
"Ya sudah, kalau sudah belajar, yakin pada diri sendiri. Kerjakan! Hajar itu soal-soal jangan sampai kalah. Satu lagi, yang terpenting jangan lupa berdoa dulu!" perintah Gayatri.
"Iya, nanti aku baca semua doa-doa supaya otakku bisa lancar dalam mengerjakan soal-soal," ucap Leni serius. Berharap apa yang barusan diucapkan Gayatri bisa membuatnya mudah mengerjakan soal-soal ujian.
"E ... tapi ingat jangan doa sebelum makan dan sebelum tidur ikut kamu baca juga. Bisa-bisa, kamu tidak jadi mengerjakan soal-soal ujian, tetapi menempelkan kepala ke atas meja karena mejanya sudah terlihat seperti pulau kapuk terempuk." Gayatri sedikit bercanda supaya Leni tidak terlalu tegang.
"Hee, masa' iya nanti aku tidak bisa menoleh ke arahmu, Yat?" tanya Leni dengan memasang wajah putus asa.
"Ya sudah, dilihat saja, nanti."
Empat orang pengawas ujian sudah memasuki ruang kelas. Salah satu dari mereka membawa amplop cokelat bertuliskan dokumen rahasia dan masih tersegel. Amplop cokelat itu pun ditunjukkan kepada para siswa peserta ujian bahwa dokumen masih tersegel. Kemudian, dokumen itu pun di buka dan dibagikannya satu persatu kepada peserta ujian.
Gayatri mengerjakan soal-soal dengan sangat cepat karena merasa mudah dengan setiap pertanyaan dalam ujian. Materi yang dipelajarinya semalam dan sekilas membaca ulang tadi pagi, ternyata sebagian besar keluar di soal-soal ujian.
Terlihat senyum samar di bibir Gayatri melihat kelakuan sahabatnya. Beberapa kali dia memegangi kepala, lalu mengusap-usap rambutnya. Sesaat, tingkahnya mengundang senyum salah satu pengawas. Kemudian, pengawas itu pun memberitahukan kejadian itu kepada pengawas lainnya. Leni
yang tidak menyadari tingkahnya itu tetap melakukkan hal yang sama hingga rambutnya acak-acakkan.
Salah satu pengawas memberitahukan bahwa waktu ujian kurang lima belas menit lagi.
Gayatri sudah selesai mengerjakan. Waktu kurang lima belas menit dipergunakan untuk mengecek kembali jawaban yang sudah dikerjakan.
"Waktu kurang sepuluh menit. Bagi yang sudah selesai mengerjakan bisa mempergunakan waktunya untuk mengecek kembali jawaban yang sudah ditulis," ucap salah satu pengawas.
Setelah selesai mengecek jawaban soal-soal yang sudah dikerjakan Gayatri pun kembali melihat ke arah Leni. Terlihat Leni makin frustasi setelah salah satu pengawas kembali memberitahukan tentang waktu yang kurang lima menit lagi.
Teng! Teng!
Jam pertama pertanda usai dan para peserta ujian harus meninggalkan lembar soal serta jawaban di meja masing-masing.
Gayatri pun melangkah ke luar kelas, tetapi sesampainya di depan Leni, dia pun berhenti.
"Sudah selesai 'kan?" tanya Gayatri kepada Leni
"Sudah! Pakai jurus bayangan," jawab Leni
"Apanya!?" tanya Gayatri penasaran.
"Ngerjain soalnya. Jawabanku pakai jurus bayangan semua."
"Hah! Yang benar saja jurus bayangan atau awuran?"
"Hus! Jangan keras-keras. Nanti, ada yang dengar. Yang jelas, dua jurus itu aku pakai semua. Kapok dah aku! Nanti malam aku mau gas pol belajar supaya bisa mengerjakan soal-soal," ucap Leni merasa kapok atas ujian hari ini.
"Yang terpenting itu selalu semangat belajar dan jangan lupa berdoa," ucap Gayatri meyakinkan sahabatnya Leni untuk terus belajar.
***
Hari kelulusan pun tiba. Hari yang dinanti-nantikan oleh para siswa kelas III setelah beberapa hari berjuang menghadapi ujian dan menunggu pengumuman kelulusan.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya pengumuman kelulusan dibagikan, sekolah menyatakan bahwa SMA Putra Putri Bangsa, Nganjuk, tahun ajaran 2014/2015 lulus seratus persen.
"Yei! Aku lulus, Yat. Alhamdulillah, padahal waktu ujian rasanya mau guling-guling," ucap Leni seraya menunjukkan raut wajah bahagiannya.
"Selamat, Len! Semoga setelah ini kamu bisa meraih impian dan cita-citamu. Sukses selalu buatmu, sahabatku," ucap Gayatri sambil memeluk Leni.
"Kamu juga, Yat. Aku akan berdoa semoga kamu bisa memperoleh jalan terbaik untuk bisa meraih mimpi dan cita-citamu. Yakinlah semua usaha dan kerja kerasmu selama ini pasti tidak akan sia-sia. Ayo semangat jangan loyo. Terus semangat karena Yatri yang kukenal adalah gadis yang luar biasa. Aku yakin suatu saat kamu pasti berhasil!" Terlihat Leni mengangkat tangannya sebagai simbol ucapan semangat.
"Amin ... makasih doanya, Len," ucap Gayatri pelan.
Terlihat senyum terus menghiasi wajah murid-murid kelas III yang telah berhasil dalam perjuangan menaklukkan soal-soal ujian beberapa minggu lalu. Dengan mata yang berbinar memancarkan kebahagiaan, bibirnya pun tak henti-hentinya mengucap rasa syukur.
Kini, pengumuman kelulusan itu pun menjadikan bukti nyata bahwa masa ujian itu telah mengakhiri perjuangannya selama tiga tahun belajar di SMA Putra Putri Bangsa.
Mereka bersemangat dan begitu berbahagia dengan saling bercerita tentang tujuannya setelah lulus dari SMA. Melihat semua itu Gayatri hanya bisa diam dan menjauh dari keriuhan, lalu duduk di bawah pohon rindang. Mendongak ke atas melihat langit yang sangat cerah hari ini.
"Hari ini, langit sangat cerah tetapi kenapa hatiku terasa mendung," ucap Gayatri lirih.
Sesaat dia merenung. Gayatri cukup tahu diri bahwa semua mimpi dan cita-citanya akan disimpan rapi dalam ingatan dan menguncinya bersama keinginan.
"Aku selalu berusaha menguburnya dalam, karena aku cukup tahu dan sadar siapa diri ini sebenarnya. Namun, panggilan jiwa itu selalu meronta untukku bisa meraih mimpi dan cita-cita. Ya Allah berilah hamba jalan terbaik," ucap Gayatri lirih.
Tanpa terasa air matanya berderai membasahi pipi.
Bersambung ...

Komentar Buku (93)

  • avatar
    Shazarina

    Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง

    28/01/2022

      0
  • avatar
    KurniawanFurqon

    enk untuk di baca terimakasih:))

    26/02/2025

      0
  • avatar
    Wulan SariRatna

    saya sangat antusias membaca novel terbaik

    27/01/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru