Terlihat Gayatri tersenyum-senyum sendiri karena dagangannya laris manis hari ini. "Alhamdulillah. Laris manis tanjung kimpul, dagangan habis uangnya ngumpul," ucap Gayatri lirih. Kemudian, Gayatri mendongak, seolah-olah ingin mengucap syukur yang tiada terkira. "Pulang sekolah, kita ada belajar kelompok, Yat," ucap Leni sambil menepuk pelan pundak Gayatri. Terlihat, Gayatri kaget oleh tepukan tangan Leni di pundaknya. "O, ya, ya ... hampir lupa," jawab Gayatri sambil menepuk jidatnya sendiri. Ia tampak sedikit kaget. "Ah, kamu sekarang dagangan melulu yang dipikirkan," goda Leni "Maaf, ya. Habis, butuh tambahan uang, Len." Sesaat wajah Gayatri terlihat begitu sedih dan memelas. "Memang kurang berapa sih? Biar aku tambahin," ucap Leni. "Gak usah, Len. Pasti terkumpul kok, uangnya. Lagian, kamu sok mau bantu, ingat itu uang orang tuamu. Sebagai seorang sahabat, aku sungguh berterima kasih mempunyai sahabat baik seperti kamu, Len." Gayatri merangkul dan mencolek hidung Leni. "Ih, apaan sih? Ee ... hampir lupa, ditanyai Ardi, tuh. Kapan kamu bisa ikut belajar kelompok. Sepertinya, dia naksir berat sama kamu," goda Leni. "Ah, baru juga kelas tiga SMA. Mikirnya sekolah dulu, jangan pacaran. Belajar dulu untuk bisa meraih cita-cita dan membahagiakan orang tua, baru boleh pacaran," jawab Gayatri. "Kamu kelamaan. Keburu Ardi digaet orang, Yat!" "Ya sudah, berarti tidak jodoh. Simpel 'kan!" jawab Gayatri. Dia ingin menegaskan kalau Ardi bukan prioritas utama dalam hidupnya. "Yakin? Hati-hati, nanti bisa kebalik, kamu yang mengejar-ngejar Ardi," goda Leni lagi. "Ih, amit-amit, jangan sampai!" jawab Gayatri dengan harapan dan doa, semoga apa yang dibilang sahabatnya tidak menjadi kenyataan. "Nanti, pulang sekolah kamu naik mobilku. Sepedamu titipkan di warung depan sekolah!" suruh Leni. "Siap, Bu Bos!" ucap Gayatri, sambil tangannya diangkat ke atas, bersikap hormat. ***. Jam istirahat pun tiba, setelah ditandai dengan bunyi bel yang dipukul nyaring oleh Pak Karto. Tugasnya selain sebagai penjaga gerbang, dia juga bertugas memukul bel sebagai pertanda masuk ke kelas, istirahat dan pulang. Rencananya, Gayatri akan menitipkan sepeda di warung depan sekolah. Kebetulan, warung itu milik Pak Karto dan yang berjualan adalah istrinya. "Pak Karto, tunggu!" Pak Karto pun berhenti, lalu membalikkan badan mencari ke arah suara yang memanggil. "Oh, Neng Yatri. Ada apa?" tanya Pak Karto. "Nanti, pulang sekolah, saya mau nitip sepeda di warung, Pak. Hari ini, saya ada tugas kelompok di rumah Ardi. Kebetulan saya berangkatnya diajak bareng sama Leni," Gayatri menjelaskan. "Iya, Neng, nggak apa-apa. Di sana ada Ibu, taruh saja dulu. Nanti akan bapak masukkan ke dalam supaya aman dan tidak hilang." Pak Karto memberi izin. "Ah, cuma sepeda butut. Mana mau penjahat ngambil," ucap Gayatri beralasan supaya sepeda tidak dimasukkan ke dalam karena sepedanya sudah butut. "Jangan salah, Neng. Biarpun sepeda butut masih berguna 'kan. Ingat jangan pernah memberikan kesempatan kepada para penjahat untuk melakukan aksinya. Bisa tuman!" nasehat Pak Karto. "Yee, Pak Karto eksis juga kata tuman," goda Gayatri. "Maksudnya, tuman itu jadi keseringan. Kalau kata pembawa acara berita kriminal di salah satu stasiun televisi selalu bilang ingat waspadalah, waspadalah! Kejahatan terjadi karena ada kesempatan, Neng. Makanya jangan suka teledor atau dengan sengaja memberi jalan buat aksi kejahatan," nasehat Pak Karto sekali lagi. "Betul. Makasih ya, Pak," ucap Gayatri. "Untuk apa, Neng?" tanya Pak Karto. "Untuk nasehat gratisnya." Terlihat senyum Gayatri menghias di wajah yang membuat Pak Karto ikut tersenyum juga. *** Setelah menitipkan sepeda di warung depan milik Pak Karto, Gayatri menuju ke tempat Leni menunggu. Gayatri membuka pintu mobil. Terlihat di dalam sudah ada Leni sedang menunggunya. Kemudian, dia duduk di sebelah Leni. "Ayo jalan, Pak!" Perintah Leni kepada supirnya. Mobil pun berjalan menuju ke rumah Ardi. Mereka pun asyik mengobrol. "Yatri, setelah lulus, kamu mau melanjutkan kemana?" tanya Leni kepada Gayatri. "Hem ... memikirkan biaya sekolah yang sekarang saja sudah susah apalagi harus mikir ke depan mau melanjutkan kemana?" ucap Gayatri masih bingung harus menjawab tentang masa ke depan selepas SMA. "Iya aku tahu, tetapi bermimpi itu sah-sah saja, Yat. Punya keinginan melanjutkan kemana? Seandainya saja ada biaya?" ucap Leni menyuruhnya berandai-andai tentang keinginannya selepas SMA. "Mimpi, ya! Oke, kalau cuma mimpi aku inginnya ke Universitas Negeri Malang dan mengambil jurusan Tata Busana," jawab Gayatri berandai-andai tentang keinginannya masuk SMA. "Wow hebat! yang mau menjadi desainer. Kalau aku, mungkin akan ke Jakarta. Di sana ada kakakku. Kita jangan sampai putus komunikasi ya, tetapi bagaimana caranya menghubungi kamu, Yat. Handphone saja tidak punya?" Leni memandang Gayatri dan menanyakan bagaimana cara menghubunginya nanti setelah mereka tidak lagi sekolah. "Kamu 'kan tahu rumahku, Len. Untuk makan saja susah apalagi harus bergaya punya handphone segala," jawab Gayatri pelan. Dia mengingatkan Leni tentang hidup serba susahnya. "Jangan salah, handphone tidak untuk bergaya saja tetapi untuk komunikasi, lo," Leni mencoba beralasan. "Tahu, tetapi tiap bulan harus kasih jatah supaya handphone tetap bisa hidup. Buat aku jajan saja tidak ada apalagi mau kasih jajan handphone," Gayatri kembali mengingatkan Leni akan hidupnya yang serba susah meskipun handphone adalah salah satu alat komunikasi yang sangat penting di era teknologi yang serba canggih. Pembicaraan mereka pun berakhir setelah sampai di halaman rumah Ardi. Rumah yang sangat besar dan megah. Bagi Gayatri ini adalah kedatangannya yang pertama kali. Leni dan Gayatri pun turun dari mobil, lalu menuju ke pintu rumah. Terlihat seorang wanita cantik dengan dandanan yang sangat modis. "Siang, Tante Siska," ucap Leni. Kemudian, mencium punggung tangan wanita itu. Gayatri yang melihat sikap Leni pun ikut mencium punggung tangan wanita itu. "Ardi masih ganti baju. Masuk yuk, duduk dulu!" Tante Siska mempersilahkan Leni dan Gayatri masuk ke dalam. Mereka berdua duduk di kursi ruang tamu menunggu Ardi. "Len, siapa wanita itu? Apakah ibunya Ardi?" tanya Gayatri sedikit berbisik di telinga Leni. "Iya. Aku biasa memanggilnya Tante Siska," jawab Leni ikut berbisik. "Kamu sering kemari, Len?" tanya Gayatri, penasaran. "Nggak juga. Hanya saja dia adalah teman arisan mamaku," jawab Leni masih berbisik. Gayatri hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Leni. Tak berapa lama Ardi menghampiri mereka. "Sorry tadi ganti baju dulu," ucap Ardi masih berdiri. "Teman-teman yang lain mana?" tanya Leni kepada Ardi. "Sudah ada di taman belakang. Semua sudah berkumpul menunggu kalian. Ayo kita ke sana." Ajak Ardi lalu diikuti Gayatri dan Leni menuju ke taman belakang. *** Gayatri mempersiapkan diri dengan belajar lebih giat lagi. Walaupun sebelumnya dia juga selalu rajin belajar tetapi demi menghadapi ujian akhir, dia lebih meningkatkan lagi belajarnya. Bu Marni sebagai ibunya pun mengerti jika putrinya akan menghadapi ujian akhir dan itu yang akan menentukan kelulusan. Dia pun memberi kelonggaran waktu kepada Gayatri. untuk lebih banyak belajar daripada membantunya bekerja. "Sebaiknya kamu jaga kesehatan. Persiapkan dirimu dengan banyak belajar dan jangan lupa selalu berdoa. Semoga Allah memberimu kelancaran dalam menghadapi ujian kelulusan," nasehat Bu Marni. "Iya, Bu. Aku juga sudah belajar dengan sungguh-sungguh!" Gayatri memberitahu ibunya. "Kemarin uang tunggakkan pembayaran sudah kamu lunasi semua, 'kan?" tanya Bu Marni. "Sudah, Bu. Kemarin dua hari berturut-turut dagangan Gayatri ludes terjual. Ibu ngasih Gayatri tiga ratus ribu dan kekurangannya aku ambil dari uang hasil jualan aksesori," ucap Gayatri menjelaskan tentang uang pembayaran kepada ibunya. "Alhamdulillah. Akhirnya sudah lunas terbayarkan semua. Ibu hanya ingin kamu bisa fokus dan semangat belajar, tanpa kepikiran oleh tunggakan pembayaran," harap ibunya. "Iya, Bu. Semoga aku bisa lulus dengan nilai bagus dan bi--." Sebelum Gayatri menyelesaikan kalimatnya, Bu Marni sudah memotong perkataannya. "Bisa masuk ke perguruan tinggi. Maafkan ibu dan ayah, Yatri. Untuk mengantarkanmu menggapai mimpi dan cita-citamu, sepertinya akan sulit bagi kami. Kami sudah tidak sanggup lagi membiayai jika kamu masuk ke perguruan tinggi," ucap Bu Marni. Terlihat wajahnya mengisyaratkan kesedihan mendalam. Untuk sesaat, Gayatri masih diam mematung dan mencoba berbesar hati, menerima keadaan kedua orang tuanya. "Tidak apa-apa kalau tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Yatri akan mencari pekerjaan supaya bisa membantu perekonomian keluarga kita, Bu." Gayatri hanya bisa pasrah dan menerima semuanya dengan lapang dada, keadaan yang menjadikannya seperti ini. "Maafkan kami, Yatri. Sebagai orang tua ibu telah gagal untuk mewujudkan mimpi putrinya." Air mata Bu Marni pun menetes membasahi pipi. Kehidupan serba kekurangan telah mematahkan mimpi putrinya. Harusnya mimpi itu bisa diraih dengan mudah jika saja ada biaya untuk mewujudkannya. Namun, sayang semua hanya ada di angan-angan. Terlihat Bu Marni begitu sedih sekali memikirkan semua itu. "Bu, Yatri selalu bersyukur dengan keadaan kita. Meskipun harus hidup serba kekurangan. Namun, Ibu mengajarkanku menjadi seorang gadis yang percaya diri dengan keadaan serba kekurangan, tidak suka meminta-minta apalagi menghalalkan segala cara untuk bisa mencapai sesuatu." "Kamu bisa menjadi anak yang baik dan mengerti keadaan orang tua itu saja sudah menjadikan kami selalu bersyukur memiliki kamu, Yat." Masih dalam keremangan malam hanya lampu berkekuatan 15 watt yang menerangi gelapnya ruang tamu mereka. "Assalamualaikum," ucap salam Pak Harjo. Ucapan salam itu pun membuyarkan pembicaraan Bu Marni dan Gayatri. "Walaikumsalam," jawab salam Bu Marni dan Gayatri hampir bersamaan. Kemudian, Bu Marni segera menghambur ke depan pintu rumah. Pak Harjo masih berdiri di depan pintu sambil melepaskan caping yang dipakainya. Bu Marni meraih punggung tangan suaminya lalu masuk ke dalam rumah mengambil segelas air putih. "Minum dulu, Yah!" Bu Marni menyodorkan segelas air putih ke tangan Pak Harjo. "Terima kasih, Bu," ucap Pak Harjo. Gayatri pun ikut berdiri dari tempat duduknya menghampiri Pak Harjo yang sudah duduk di kursi ruang tamu. Dia meraih punggung tangan ayahnya. "Kapan mulai ujiannya, Yat?" tanya Pak Harjo kepada Gayatri sambil menyesap air putih di tangannya. "Minggu depan, Yah. Doakan Yatri bisa melaksanakan ujian dengan lancar dan mudah dalam mengerjakan soal-soal." Gayatri meminta doa restu kepada ayahnya. "Iya. Kami berdua akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kesuksesanmu, Yat." Doa Pak Harjo untuk Gayatri. Bersambung ...
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 34 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (93)
Shazarina
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya...
Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
28/01/2022
0enk untuk di baca terimakasih:))
26/02/2025
0saya sangat antusias membaca novel terbaik
27/01/2025
0Lihat Semua