logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3. Meminta Kelonggaran Waktu

"Ah, mimpi itu selalu saja datang," ucap Gayatri lirih. Kemudian, naik kembali ke atas ranjang. Menghempaskan tubuhnya di bibir ranjang. Untuk sesaat diam dan melamun hingga terdengar suara deritan mesin jahit yang membuyarkan lamunannya.
Gayatri melebarkan mata untuk melihat jam weker yang berada di meja kecil dalam kamar.
Hampir jam dua pagi. Jadi, Ibu lembur untuk menyelesaikan pekerjaaanya. Apakah demi mendapatkan uang lebih, supaya bisa melunasi tunggakan pembayaranku? pikir Gayatri.
Rasa bersalah memenuhi ruang hatinya. Kemudian, Gayatri melangkah menuju ke tempat ibunya berada.
"Ibu, kenapa belum tidur?" tanya Gayatri.
Ibunya sangat kaget melihat kedatangannya.
"Kok Yatri bangun, Nak. Maafkan Ibu, suara deritan mesin jahit pasti menganggu tidurmu," ucap Bu Marni.
"Yatri yang harusnya meminta maaf kepada Ibu karena tidak bisa membantu dan belum bisa membahagiakan Ibu!" Seketika raut wajah Gayatri terlihat begitu sedih.
"Psst!" Bu Marni menempelkan jari telunjuk dibibir, "jangan bicara seperti itu. Kamu masih menjadi tanggung jawab Ibu dan Ayah. Hanya saja kami belum bisa sepenuhnya
membahagiakan dan memenuhi semua kebutuhanmu. Maafkan kami sebagai orang tuamu yang tidak bisa memberikan yang seharusnya kamu terima sebagai seorang anak." Raut wajah ibunya mengisyaratkan kesedihan yang begitu mendalam.
"Ibu tetap harus beristirahat! Ibu bisa sakit jika memaksakan diri bekerja terlalu diporsir."
"Sudah tidak apa-apa, Nak. Ibu bisa jaga kesehatan. Nanggung, ini sudah mau selesai, sekalian menunggu Ayah pulang. Kamu tidur lagi, ya. Ibu tidak ingin, besok kamu ngantuk di sekolah. Habis ini, ibu pasti akan tidur," ucap ibunya meyakinkan Gayatri.
Gayatri melangkah masuk ke kamar dengan langkah gontai karena rasa kantuk. Kembali merebahkan tubuh di ranjang, tetapi mata belum mau terpejam padahal tadi rasa kantuk sudah menyerang.
Memikirkan tentang keluarga, mimpi dan kehidupannya membuat Gayatri sesaat susah memejamkan mata. Ibunya adalah sosok wanita pekerja keras meskipun hanya sebagai tukang jahit kampung. Dia selalu bersikap profesional dalam mengerjakan setiap orderan jahit dari beberapa pelangan setia.
***
Seperti biasa Gayatri terbangun di pagi hari untuk menunaikan shalat shubuh, lalu membantu ibunya di dapur.
Terlihat ibunya sedang memasak makanan untuk bekal ayahnya. Meskipun semalam tidur di jam yang sudah mendekati pagi, tetapi ibunya selalu saja bersemangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
"Ibu tidak mengantuk? Semalam, tidur sudah hampir pagi dan sekarang sudah bangun lagi menyiapkan bekal buat Ayah?" tanya Gayatri sambil ikut membantu memotong sayuran.
"Kalau ngantuk sudah pasti iya, Nak. Namun, Ibu melakukan semua pekerjaan ini dengan senang dan gembira. Apalagi, ini adalah kewajiban sebagai seorang Ibu rumah tangga yang harus bertanggung jawab atas semua tugasnya. Nanti siang Ibu bisa tidur sebentar untuk melepas lelah dan kantuk."
"Aku begitu salut dengan Ibu. Hidup susah dan serba kekurangan, tetapi selalu senang dan riang mengerjakan setiap pekerjaan meskipun kadang hasil yang didapat tidak seberapa. Rahasianya apa, Bu?" tanya Gayatri.
"Itulah tugas sesungguhnya seorang wanita, Nak. Kamu harus ingat, suatu saat nanti setelah berkomitmen membina sebuah keluarga, maka kamu harus siap dengan semua konsekuensinya. Mau kamu hidup susah, bahagia, menjadi kaya atau pun hidup kekurangan dan saat jatuh bangun kamu harus selalu bersama suamimu."
Gayatri begitu seksama mendengarkan nasehat ibunya. Tanpa terasa masakan sudah matang semua.
***
Gayatri sudah tiba di sekolah. Dia sengaja berangkat lebih awal karena ingin menemui Bu Mia, wali kelasnya. Setelah memarkirkan sepeda, dia pun berjalan menuju ke kantor.
"Selamat pagi, Bu." sapa Gayatri.
"Selamat pagi, Yatri. Ada apa?" tanya Bu Mia. "Ayo, duduk dulu!" perintah Bu Mia mepersilahkan duduk. Kemudian, Gayatri menarik kursi yang berada tepat di depan mejanya. Kini mereka sudah duduk saling berhadapan.
"Sebelumnya, saya mau meminta maaf karena belum bisa melunasi pembayaran. Namun, kedua orang tua saya sedang mengusahakannya, Bu. Saya ke sisni disuruh meminta kelonggaran waktu. Apakah bisa dibantu, Bu?"
"Ee ... sebenarnya sebentar lagi ujian akan segera dilaksanakan dan semua tunggakan pembayaran harus diselesaikan. Namun, saya akan mencoba berkoordinasi dengan bagian keuangan untuk masalahmu. Nanti, Ibu kabari berapa hari kelonggaran yang akan diberikan. Maaf masih itu yang bisa Ibu bantu. Ee ... bentar-bentar, apakah ibumu bisa menjahit atau berjualan?"
"Menjahit. Kebetulan Ibu saya seorang penjahit."
"Adik saya mempunyai beberapa toko aksesoris dan souvenir. Kebetulan sedang mengerjakan banyak pesanan dan kewalahan. Kamu bisa mengambil beberapa jahitan untuk dikerjakan di rumah atau berjualan aksesoris dengan mengambil barang langsung dari adek saya."
"Ya, mau-mau, Bu! Saya mau!"
"Nanti sepulang sekolah, kamu bisa kesana."
Bu Mia memberikan kartu nama kepada Gayatri. Terlihat senyum sumringah Gayatri tergambar jelas di wajahnya.
***
"Assalamualaikum, Bu! Ibu ... Ibu di mana?" teriak Gayatri sambil mengetuk pintu rumah.
Keringat bercucuran membasahi tubuhnya. Di boncengan sepeda bututnya sudah ada setumpuk barang yang akan dikerjakan. Sepulang sekolah tadi, Gayatri langsung pergi ke rumah adiknya Bu Mia untuk mengambil beberapa barang.
Terlihat wajah Gayatri begitu sumringah. Dia sudah tidak sabar ingin segera memberitahukan kepada ibunya tentang beberapa barang dagangan dan order jahitan.
"Walaikumsalam. Maaf, Ibu ketiduran," jawab ibunya sambil mengucek mata.
Gayatri langsung meraih punggung tangan ibunya. Kemudian, kembali ke tempat sepedanya berada dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.
"Apa itu, Yatri?" tanya ibunya yang melihat setumpuk barang di boncengan sepeda.
Dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya, Gayatri pun menarik ibunya untuk duduk di kursi. Sedangkan dia masih berdiri sambil menggenggam kedua tangan seolah-olah simbol mengucap rasa syukur yang benar-benar ingin diucapkan berkali-kali.
Gayatri menceritakan kejadian tadi pagi dengan Bu Mia hingga bisa membawa setumpuk barang yang akan dijahit dan dijual.
"Alhamdulillah, masih ada jalan untuk mengatasi masalahmu, Yatri," ucap syukur ibunya.
"Alhamdulillah, Bu," sahut Gayatri, ikut mengucap rasa syukur.
"Habis ini yatri bantu, ya, Bu!" pinta Gayatri ingin membantu ibunya.
"Ya sudah kamu ganti baju dulu, lalu makan. Setelah itu, baru bantu Ibu!" suruh ibunya.
***
Pagi-pagi sekali Gayatri sudah bersiap berangkat ke sekolah dengan membawa beberapa dagangan yang dimasukkan ke dalam tas yang berbeda. Berjualan aksesoris. Barang yang tidak terlalu besar karena ukurannya cenderung kecil dan imut jadi tidak terlalu memakan tempat dan tidak terlalu berat membawanya.
Setelah memarkirkan sepeda bututnya, Gayatri berjalan sambil membawa barang dagangan.
Bagi Gayatri saat ini adalah dia bisa terus bersekolah. Rasa gengsi dan rasa malu itu adalah nomor yang kesekian. Yang terpenting, apa yang dikerjakan adalah sesuatu yang baik dan positif.
Hidup harus dijalani dan diperjuangkan karena sesungguhnya hidup tidak seindah kata-kata mutiara apalagi berharap bisa berubah menjadi cinderella. This is real, jika tidak mau berusaha dan berjuang maka hidupmu akan tetap sama.
Saat ini, Gayatri hanya butuh kata-kata penyemangat untuk dirinya sendiri supaya bisa terus semangat menjalani hari.
Bangkit dari berandai-andai karena yang dibutuhkan adalah action bukan slow motion.
Bersambung ...

Komentar Buku (93)

  • avatar
    Shazarina

    Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง

    28/01/2022

      0
  • avatar
    KurniawanFurqon

    enk untuk di baca terimakasih:))

    26/02/2025

      0
  • avatar
    Wulan SariRatna

    saya sangat antusias membaca novel terbaik

    27/01/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru