Gayatri berlari kecil menuju gerbang sekolah. "Pak ... tunggu!" suara teriakannya terdengar menggema dan begitu nyaring membuat semua mata menoleh ke arahnya. "Cepat, Neng! Keburu bel berbunyi. Ayo, lekas masuk!" perintah Pak tua yang sudah siap menutup gerbang sekolah. "Ah, Pak Karto. Ini juga sudah berjuang supaya bisa cepat sampai." Dengan napas ngos-ngosan Gayatri sedikit membungkuk dan memegangi perutnya. Dia berusaha menata ritme napasnya. "Neng pasti bangun kesiangan, jadinya telat 'kan," ucap pria tua yang bernama Karto—Pria yang selalu setia menjaga gerbang sekolah. "Yatri bangunnya nggak pernah siang, Pak. Shubuh malahan sudah bangun, terus bantu Ibu mengerjakan pekerjaan rumah." "Ah, yang benar, Neng. Jangan-jangan cuma melihat saja. Ibunya yang mengerjakan, anaknya jadi penonton." "Ih, Pak Karto suka nggak percaya kalau dibilangi. Ya sudah, saya masuk ke kelas dulu, Pak." Gayatri pun melangkah meninggalkan Pak Karto. Langkahnya setengah berlari menuju kelas yang letaknya di ujung belakang sekolah. Gayatri harus ekstra cepat melangkah, jika tidak ingin lebih telat lagi masuk ke kelas. "Yatri, cepetan dong! Dari tadi aku nunggu kamu," ajak Leni. Sahabat terbaiknya di sekolah. "Yakin cuma nungguin aku? atau ini, nih." Gayatri mengeluarkan buku tulis bersampul cokelat. Dengan cepat, Leni pun menghampiri dan meraih buku dari tangannya. "Ah, kamu tahu saja apa yang aku mau," ucap Leni. Kemudian, bergegas menuju ke kelas dan meninggalkan Gayatri yang masih berjalan lambat di belakangnya. Gayatri masuk ke dalam kelas dan disambut dengan antusias oleh teman-temannya. "Bukunya mana?" Suara teman-temannya hampir secara bersamaan menanyakan buku. Gayatri yang merasa ditodong dengan cepat mengarahkan jari telunjuknya ke arah bangku pojok. Terlihat Leni begitu serius menulis, tanpa melihat teman-temannya yang akan segera menyerbu. "Serbu!" Suara serempak teman-temannya sambil berlarian ke arah Leni. Akhirnya, Gayatri bisa bernapas lega, melangkah ke tempat duduknya. Duduk di bangku paling depan dan tepat di depan guru. Dia lebih suka duduk di situ meskipun bagi teman-teman sekelasnya itu adalah bangku keramat. Banyak alasan yang diungkapkan dari tidak bisa leluasa bergerak, kaku, pemandangan hanya melihat wajah Guru, terlalu monoton, tidak bisa melirik ke kanan ke kiri dan satu lagi alasan yang sangat lucu karena tidak bisa bebas menguap saat rasa kantuk melanda mereka. Hari ini, ada mata pelajaran matematika dengan seabrek tugas yang cukup sulit harus dikumpulkan. Setelah semalam berkutat mengerjakannya, Gayatri bisa bernapas dengan lega karena tidak takut jika gurunya marah dan memberikan hukuman bagi yang tidak mengerjakan. Menjadi siswi teladan dengan kecerdasan di atas rata-rata membuat Gayatri menjadi siswi berprestasi yang selalu mendapatkan rangking di kelas. Teman-temannya selalu menjadikan Gayatri sebagai siswi andalan saat ada mata pelajaran yang cukup sulit. Apalagi, jika ada tugas rumah yang harus dikerjakan. Secara otomatis menjadikan buruan contekan bagi teman-temannya yang tidak suka mengerjakan tugas rumah. Terlihat kegaduhan di bangku pojok. Mereka duduk bergerombol dan memperebutkan buku milik Gayatri. Mereka ingin segera menyalin jawaban tugas mata pelajaran matematika karena takut guru akan segera tiba di kelas. Beruntungnya, guru matematika belum juga datang, sehingga mereka masih bisa leluasa menyalin. Sepuluh menit berlalu dari jam mengajar, Bapak Johan—guru yang mengajar matematika —tiba di kelas. Dengan kaca mata yang sedikit melorot di hidung dan tatapan seriusnya membuat pelajaran matematika yang identik dengan kesukaran, keruwetan, dan susah menjadi semakin ambyar di benak murid-muridnya. Semua itu didengar Gayatri saat mereka saling bercerita tentang mata pelajaran yang tidak disukai. Beruntung, Gayatri termasuk anak yang cerdas dan mudah memahami setiap materi yang disampaikan oleh gurunya. Teman-teman Gayatri yang menyalin jawaban tugas matematika dari bukunya sudah selesai dan duduk di bangku masing-masing. Dia pun menoleh ke arah belakang, tepat di bangku pojok. Seolah sudah paham dengan tatapan Gayatri, Leni pun memberikan buku itu kepada temannya yang duduk di bangku depan, lalu dioper lagi ke bangku depannya, begitu seterusnya hingga buku tulis bersampul cokelat itu sampai di tangan Gayatri. "Ada apa, ini?" tanya Pak Joham kepada murid-muridnya. Kemudian, memperhatikan ke arah bangku pojok, "Leni!" panggilan itu pun seketika membuat Leni tergagap dan gugup. "I-iya, Pak. Leni ha-hadir," jawab Leni sambil mengacungkan tangan. "Bukan absensi. Saya perhatikan, barusan ada lomba estafet?" "Yang mana, Pak? Lomba estafet? Sekarang mata pelajaran matematika bukan penjaskes, Pak." Leni mencoba mengalihkan pembicaraan. "Saya tahu. Barusan saya melihat ada oper mengoper buku. Jangan dikira saya duduk diam dan tidak memperhatikan pergerakan kalian, ya!" tukas Pak Johan. "O ... itu, itu, anu, Pak, latihan estafet," ucap Leni sambil menggaruk kepalanya. Seketika suara sorakan pun pecah dan menggema memenuhi setiap sudut ruang kelas. "Huuuu ...." Seperti paduan suara saat sedang berlatih dan akan segera mengikuti lomba tingkat kabupaten. Mereka semua kompak bersuara sambil menoleh ke arah Leni. "Sudah, berhenti dan diam! Leni, maju ke depan!" perintah Pak Johan. Leni pun dengan sedikit ragu berdiri dari tempat duduknya, tetapi masih diam dan belum bergerak. "Ayo, maju ke depan!" perintah Pak Johan sekali lagi. Leni pun berjalan pelan ke depan dan berdiri tepat di depan Pak Johan. "Tapi, ini bukan sedang latihan paduan suara 'kan, Pak?" tanya Leni dengan raut muka yang begitu polos. "Bukan, ini tentang mengerjakan soal ini. Ayo kerjakan di papan tulis!" Seketika raut muka Leni berubah menjadi pucat pasi. Dengan gemetar dia pun meraih buku yang sudah disodorkan ole Pak Johan. Kemudian, melihat sekilas Soalnya. "Pak Johan, soalnya yang ini saja 'kan, Pak?" "Ya, satu saja. Memang kamu mau mengerjakan semua. Tidak apa-apa kalau kamu mau." "O, ja-jangan, Pak. Satu saja saya sudah puyeng." Sambil cengar-cengir, Leni pun segera mendekat ke papan tulis. Sepuluh menit berlalu, tetapi Leni masih saja dengan tulisan soal, diketahui, ditanya dan jawab, lalu diam mematung. "Ayo, Leni, kerjakan! Lima menit lagi," ucap Pak Johan. Leni masih bingung dengan angka-angka yang tertulis. "Pak ... Pak!" panggil Leni. "Leni nyerah, Pak. Otak Leni belum sampai sini, Pak." Terlihat mukanya memelas, seperti memohon belas kasihan kepada Pak Johan. "Iya, terus tidak jadi menjawab. Makanya Len, malam itu gunakan waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan Bapak atau Ibu Guru. Jika, kamu mau berusaha belajar bapak yakin kamu pasti bisa," ucap Pak Johan, seraya memperhatikan Leni. Kemudian, menoleh ke arah murid-murid yang lain. "Ini bukan masalah sukar atau mudah dalam mengerjakan soal. Saya yakin di kelas ini murid-muridnya pasti cerdas semua jika rajin belajar. Bagaimana kalian bisa mengerjakan soal kalau belajar saja malas. Nasehat ini bukan untuk Leni saja, tetapi berlaku untuk semua murid-murid saya," ucap Pak Johan sekali lagi. Anak-anak mendengarkan nasehat Pak Johan dengan seksama. Tidak ada lagi teriakan paduan suara yang tadi sempat menggema. Suasana semakin tegang. Bersambung ...
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 23 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (93)
Shazarina
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya...
Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
28/01/2022
0enk untuk di baca terimakasih:))
26/02/2025
0saya sangat antusias membaca novel terbaik
27/01/2025
0Lihat Semua