Riri menepikan motor di parkiran rumah sakit dan membuka jaketnya. Cuaca cukup dingin pagi ini. Dia tidak mengajar karena ini hari Sabtu. Wanita itu ingin bertemu dengan kekasihnya. Sudah lama mereka lost contact. Sejak keberangkatan Radit untuk mengikuti seminar, lelaki itu seperti hilang ditelan bumi. Padahal Radit berjanji akan melamarnya sepulang dari luar kota. Riri menunggu dengan sabar. Sayangnya, entah mengapa lelaki itu sulit dihubungi. "Poli gigi di mana ya?" tanya Riri kepada salah satu petugas resepsionis yang berjaga di depan. "Mbak sudah daftar?" "Saya bukan pasien. Saya mau ketemu Dr. Radit," jawabnya dengan yakin. Resepsionis itu memandang Riri dengan lekat seolah-olah mencari tahu identitasnya. Radit adalah salah satu dokter favorit di rumah sakit ini. Selain berwajah tampan, lelaki itu juga ramah kepada karyawan lain dan pasien. Status Radit yang masih lajang juga menambah nilai plus, sehingga banyak wanita yang ingin mendekatinya. "Saya calon istrinya," ucap Riri lagi, setelah tak ada respons dari resepsionis tadi. "Calon istri?" Resepsionis itu terlebelak lalu meminta Riri untuk menunggu. Dia meminta izin untuk menghubungkan panggilan ke poli gigi agar mereka bisa bertemu. "Mbak, baiknya menunggu di poli gigi saja. Tapi nanti setelah selesai pasien baru masuk. Soalnya lagi rame hari ini," jelas si resepsionis. "Arahnya?" Riri bertanya dengan sedikit kesal. Bukannya sejak tadi dia hanya bertanya di mana letak ruangan itu. Namun, si resepsionis malah berbicara yang lain. "Eh, maaf, Mbak. Saya lupa." Resepsionis itu mulai menunjukkan arah di mana ruang poli gigi. Riri mendengarkan penjelasannya dengan khidmat. Lalu, dia berjalan lurus hingga ke ujung dan berbelok ke kanan. Matanya terbelalak melihat jumlah pasien yang sedang duduk menunggu giliran masuk. Riri berjalan pelan melewati mereka sembari menatap tulisan yang tertera di pintu masuk. Ada tiga dokter gigi yang praktik hari ini dan ruangan Radit berada paling ujung. "Permisi, apa saya bisa bertemu dengan Dokter Radit?" tanya Riri dengan sopan kepada salah satu perawat jaga. "Antrean nomor berapa?" tanya perawat itu balik. "Saya ... temannya Dokter Radit. Bukan pasien," jelas Riri. Perawat itu mendelik dan menatapnya dari atas hingga ke bawah. Penampilan Riri memang sederhana, tetapi pakaiannya rapi dan bermerek. Dia memang tidak suka berdandan menor. "Kalau gitu habis pasien baru bisa masuk ya, Mbak. Agak siang tapi," lanjut si perawat lagi. "Tolong bilang saja kalau Riri mau ketemu," pinta gadis itu setengah memohon. Perawat itu mengiyakan, lalu memintanya untuk menunggu sebentar dan masuk ke ruangan. Beberapa menit kemudian tampak sosok gagah itu keluar dengan tergesa-gesa. "Ri? Kenapa datang ke sini?" tanya Radit menghampirinya. "Kamu gak bales pesan aku. Jadi aku datang ke sini," jawabnya. Ini pertama kalinya Riri datang ke rumah sakit tempat praktik Radit. Biasanya dia berobat ke rumah sakit lain karena jaraknya lebih dekat. Mereka berdua asyik berbincang hingga menimbulkan perhatian dari karyawan lain. Bisik-bisik mulai terdengar dari mulut beberapa orang. Apalagi saat Radit memeluk pundak Riri dan membisikkan sesuatu. Gadis itu menjawabnya dengan anggukan dan akhirnya meninggalkan tempat itu. Radit kembali ruangannya dan melanjutkan pemeriksaan. Sejak pulang dari luar kota, pekerjaannya bertambah. Apalagi ada dokter lain yang cuti sehingga pasien menumpuk. Hanya saja dia memang menghindari Riri karena gamang dengan perasaan. Radit masih terbayang akan sosok Dara yang bertahun-tahun telah mengisi hatinya. Hadirnya Riri memang memberikan arti tersendiri. Namun, perasaanya memang sulit untuk dialihkan. Dara yang lembut dan penyabar. Riri yang energik dan Radit kembali fokus dengan pekerjaannya dan sejenak melupakan sang kekasih. Hingga jam makan tiba, lelaki itu bergegas keluar dan meminta izin untuk tak kembali bekerja. Salah seorang temannya bersedia menggantikan dengan kompensasi khusus. Sesuai janjinya tadi, mereka akan bertemu siang ini. *** Radit memeluk Riri dengan erat saat pertemuan mereka terjadi. Lelaki itu langsung menarik kursi dan memesan makanan karena kelaparan. "Makan dulu. Ntar kangennya dilanjutin," bisik lelaki itu ketika sang kekasih enggan melepaskan pelukan. "Yaudah," jawab Riri merajuk. Gadis itu langsung melahap makannya yang sejak tadi sudah siap duluan. Radit mengulum senyum saat meilhat wajah Riri yang masam. Lelaki itu mengusap rambutnya dengan lembut sembari memerhatikan gadisnya makan. "Jangan cemberut. Nanti cantiknya ilang," godanya. Ah, andai saja Dara tak menguasai hatinya sejak dulu, mungkin Radit tak akan ragu menjadikan Riri sebagai pendamping hidupnya. Sayang, pesona wanita itu masih kuat walaupun sudah memiliki dua anak. "Kamu ingkar janji," ucap Riri saat menyelesaikan makanannya. Sementara itu Radit baru saja mulai menyuap karena pesanannya baru disajikan. "Aku sibuk, Ri," jawab Radit jujur. Riri membuang pandangan, antara percaya dan tidak. Begitu sibuknya Radit hingga membalas pesannya pun tak sempat. Itu sama saja bohong. "Okelah." "Ri--" "Kalau kamu ragu lebih baik kita break. Aku gak mau cuma jadi bayang-bayang," ucap Riri blak-blakan. Radit tersentak lalu menghabiskan makanannya dengan cepat. Memang salahnya memberi harapan ke Riri sementara hati masih terisi wanita lain. "Kalau kamu udah, aku mau pulang." Riri mengambil tas dan hendak pergi ketika lengannya dicekal dengan lembut. "Katanya kangen. Kok mau kabur aja?" bujuk Radit. "Kayaknya kamu sibuk. Sampai sore masih ada poli, kan?" jawab Riri lemas. Radit tergelak. Selama berhubungan, lelaki itu belum pernah melihat Riri merajuk. Gadis itu selalu ceria dan banyak tertawa. Jika sampai bersedih, itu berarti dia benar-benar kecewa. "Aku gak balik poli. Tadi udah izin minta gantiin sam dr. Rio. Jadi kita bisa free sampai malam," bujuk Radit. "Beneran?" "Iya. Sampai besok pagi juga boleh," ucapnya sembari mengedipkan mata. Sejak mereka berhubungan, Radit kerap mencoba bersikap mesra kepada Riri, walaupun terasa kaku. Bukannya dia tak mencoba membuka hati. Namun, suara Dara yang manja, juga sikapnya yang lembut membuat lelaki itu sulit berpaling. "Memangnya mau ngapain sampai pagi?" tanya Riri sembari melotot. Menyadari sang kekasih melihatnya secara berbeda, membuat gadis itu menjadi salah tingkah. "Ya ngobrol. Kalau mau yang lain juga boleh," lanjut Radit yang membuat Riri membuang pandangan. "Halalin dulu," lirih gadis itu. Ah, Radit mengusap wajah lalu menarik napas panjang. Lelaki itu meraih lengan Riri dan mengusapnya lembut. "Sabar ya, Sayang." "Aku tau kamu--" "Apa?" "Udahlah. Aku mau pulang," ucap Riri sembari menarik tas dan meninggalkan tempat itu. Radit tertegun sesaat lalu terdiam dan meraih ponsel. Dia memang pengecut karena telah mempermainkan perasaan Riri. Namun, lelaki itu harus melakukan sesuatu. Bagaimapun, dia tak boleh menggantung perasaan seseorang. *** Dara menatap Radit dengan lekat sembari menggeleng. Untunglah ibunya mau dititipkan anak-anak sehingga hari ini mereka bisa bertemu. Dewa juga sudah memberikan izin sehingga wanita itu berani datang. "Kamu itu kenapa lagi sih, Dit? Galau banget soal cinta. Udah gede juga." Dara membuka pembicaraan setelah piringnya bersih. Mereka sudah selesai makan sejak tadi. Kini, Radit mulai mencurahkan isi hati. Sebuah restoran franchise dengan jargon jagonya ayam, menjadi tempat yang mereka sepakati untuk berjumpa. Dara hanya menyetujui dua jam pertemuan. Setelahnya dia akan pulang untuk menyusui Sarah. "Aku sama Riri--" "Kamu sayang gak sama dia? Jadi laki-laki jangan plin-plan, Dit," ucap Dara tegas. "Aku sama kamu--" Dara menunduk dan menarik napas dalam. Kedekatan mereka dulu adalah kisah cinta remaja yang tak terungkapkan. Dara sendiri telah lama melupakan Radit setelah sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang guru. "Andaikan kita gak ketemu lagi malam itu, mungkin kamu juga udah lupa sama aku, kan?" Radit tertegun, lalu mengangguk. "Pertemuan kita dulu, mungkin itu sudah ditakdirkan untuk membuka jalan jodoh kamu sama Riri. Percayalah," ucap Dara meyakinkan. Mereka kembali terdiam. Suasana menjadi hening seketika. Radit mengaduk minuman dan nenyesapnya dengan pelan. Dara sendiri mengambil ponsel dan membalas beberapa pesan. Dewa sejak tadi menghubunginya. Sekalipun memberikan izin, lelaki itu tetap saja cemburu. "Ra. Aku mau tanya tapi kamu jawab jujur, ya." "Tanya apa?" Radit mengusap wajahnya, lalu menarik lengan Dara. Dia menautkan jemari mereka dengan lembut, lalu mengatakan sesuatu yang membuat wanita itu terkejut. "Jawab jujur, Ra. Apa kamu pernah punya perasaan sama aku?" "Perasaan apa, Dit?" "Cinta." Dara tertegun lalu tersenyum. "Jawab, Ra. Jujur!" pinta lelaki itu dengan memelas. Apa pun jawaban Dara nanti, dia ikhlas menerima. "Apa maksud kamu kayak gini, Dit?" "Biar hati aku lega ngelepas kamu." Dara menutup mulut karena tak percaya. Bukankah mereka sejak dulu tak mempunyai hubungan apa pun. Lalu, kenapa Radit ingin melepasnya? "Tolong, Ra. Jawab!" Dara kembali menarik napas, lalu berkata, "Dulu memang aku pernah suka sama kamu, Dit. Kita dekat dan bersahabat. Tapi dengan berjalannya waktu, perasaan itu hilang." "Kenapa aku gak bisa?" "Kamu terbawa perasaan yang salah, Dit." "Gak, Ra. Aku tetap sayang kamu." "Aku mencintai Dewa. Aku mencintai suamiku," ucap Dara dengan tegas. Radit tersentak, lalu menangguk dan tersenyum. Lelaki itu melepaskan tautan jemari mereka, lalu mengusap dada. "Aku udah lega sekarang, Ra. Paling gak aku tau bahwa aku telah mengabaikan perasaan kamu dulu demi mencapai cita-cita," ucap Radit jujur. Menjadi seorang dokter itu berarti Radit harus fokus dengan sekolah dan pekerjaan. Itulah sebabnya dia mengubur semua perasaan kepada Dara. Setelah selesai, lelaki itu tak menyangka jika mereka dipertemukan lagi. Hanya saja semua sudah berubah. Dara mengangguk lalu kembali berkata, "Dit. Masa depan kamu masih terbentang di depan sana. Bukalah hati. Ada cinta lain yang lebih tulus." "Ra--" "Lupakan aku, Dit. Assalamualaikum." Dara berpamitan dan meninggalkan lelaki itu sendirian. Sudah lebih dari dua jam dia berada di sini dan menemani lelaki itu makan. Wanita itu bergegas meninggalkan Radit sendirian dengan hati berkecamuk.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 33 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (849)
saputraIndri
baguusss..baguuusss..baaguusss bgt ceritanya, aku sudah hampir baca semua novelnya 👍👍
semangat terus yaa Thor 💪💪
baguusss..baguuusss..baaguusss bgt ceritanya, aku sudah hampir baca semua novelnya 👍👍 semangat terus yaa Thor 💪💪
27/06/2022
3masih pemula, penyesuaian dengan aplikasi
02/03
0bagus
22/11
0Lihat Semua