logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 36 Keysa Berulah

Kantor pagi itu terlihat lebih meriah dari biasanya. Seluruh ruangan tertata rapi dengan tambahan beberapa perabotan baru. Para karyawan berpenampilan terbaik hari ini karena pemilik perusahaan akan berkunjung.
Ada banner ucapan selamat datang di depan pintu masuk. Nama William tertulis besar sebagai penghormatan.
Sepasang kekasih itu turun dari mobil sembari bergandengan tangan. Mereka saling bertatapan mesra dan tersenyum senang. Keysa tampak semakin cantik karena tubuhnya terlihat lebih berisi. Perutnya memang membuncit karena ada janin yang sedang bersemayam di dalamnya.
"Kenapa aku harus ikut ke kantor?" bisik Keysa ketika beberapa orang menghampiri mereka.
"Karena aku ingin memperkenalkan kamu kepada semua karyawanku," jawab William dengan bahasa yang kaku.
Sejak Keysa menyetujui perjodohan mereka, William mulai mempelajari banyak hal mengenai Indonesia. Dia mulai mencicipi berbagai menu khas daerah, juga belajar adat istiadat beberapa suku.
Sebenarnya William hanya suka mengunjungi tempat-tempat wisata, seperti Bali dan Lombok. Hanya saja dia menghormati Keysa dengan memenuhi semua keinginannya, termasuk berburu kuliner nusantara.
Beberapa menu dari berbagai daerah cukup bersahabat di lidah William. Namun, ada juga yang sama sekali dia tak suka. Sambal uleg, contohnya.
William langsung mual saat pertama kali mencoba. Apalagi saat mencium baunya. Hal itu sempat menjadi perdebatan dengan Keysa, karena wanita itu sangat menyukainya.
"Tapi aku mau tidur di apartemen. Aku capek," ucapnya sembari mengelus perut yang tampak sedikit menonjol.
Willian berhenti sejenak, lalu mengusap perut calon istrinya itu dengan bahagia. Beberapa bulan lagi buah cinta mereka akan lahir. Rasanya dia sudah tak sabar menunggu hari itu.
"Kalau begitu, kita sebentar saja," bujuknya.
Keysa mengangguk dan menggandeng lengan William dengan mesra.
"Kamu bisa tidur di ruanganku. Setelah aku selesai meeting, kamu boleh pulang," jelas lelaki itu lagi.
William mengabaikan Keysa sejenak, lalu menghampiri para karyawan dan menyapa mereka. Tak tampak Dewa di sana karena lelaki itu sedang berada di kamar mandi. Sejak pagi perutnya melilit. Entah penyebabnya apa. Mungkin kuah ayam pedas yang dimasak Dara saat sarapan tadi menjadi penyebabnya.
"Selamat Datang, Pak Will. Apa kabar?"
Para manager masing-masing divisi bergegas menghampiri William. Mereka langsung menuju ke tempat pertemuan. Sementara itu, Keysa diantar ke ruangan tunangannya untuk beristirahat.
"Dimana Dewa?" tanya William saat tak melihat karyawan kesayangannya itu.
"Di kamar mandi," jawab yang lain sembari menjelaskan bahwa lelaki itu sedang terserang penyakit perut.
"Oh, kasihan sekali," ucap William iba.
Sembari menunggu Dewa datang, mereka berbincang mengenai perkembangan perusahaan dan kenaikan omset yang cukup signifikan. William berencana akan memberikan bonus kepada karyawan yang berprestasi. Hanya saja dia akan memberikannya sebagai kejutan di akhir tahun nanti.
Usahanya cukup berkembang di Indonesia dibanding dengan negara asal. Hal itu membuat William yakin untuk menetap dan memantau progresnya.
Bisnis ekspor impor minuman botol memang cukup menjanjikan. Apalagi harga jual di negara lain lebih murah karena tarif pajak yang kecil. Masyarakat Indonesia juga memang senang mengkonsumsi minuman kemasan. Itu membuka peluang baru bagi mereka.
William tidak memproduksi jenis-jenis minuman yang dia distribusikan. Perusahaannya hanya membeli merek dagang dan melabelinya. Oleh karena itu, dia tak perlu repot mengurus pabrik atau semacamnya. Keinginan seperti itu sebenarnya ada. Hanya saja dia butuh modal yang lebih banyak. Untuk saat ini, mereka memilih untuk membesarkan yang ada.
Selain itu, sikap Keysa yang kerap merajuk dan rindu dengan keluarga, membuat William semakin yakin untuk berpindah domisili. Akhirnya lelaki itu mengalah. Jakarta-Singapura tak terlalu jauh. Soal biaya tak masalah buatnya.
Setengah jam berdiskusi, akhirnya pintu ruangan diketuk. Dewa muncul dengan wajah yang agak berantakan. Lelaki itu langsung menyapa William dan bercerita mengenai kondisi perutnya. Mereka berdiskusi sebentar, lalu akhirnya memutuskan untuk memulai meeting.
"Baiklah, karena semua sudah lengkap. Kita mulai saja," usul manager yang lain.
Presentasi dimulai. Setiap bagian diminta menjelaskan visi dan misi mereka. Tak lupa rencana kerja yang akan dieksekusi dalam jangka waktu pendek atau panjang.
William tampak puas saat mendengarkan penjelasan mereka. Apalagi Dewa begitu bersemangat saat menyampaikan target yang ingin dicapai. Juga rencana kerja dan trik-nya untuk menarik minat pelanggan. Itu membuat rekan yang lain berdecak kagum.
Ada beberapa daerah baru yang menjadi target pemasaran mereka. Dewa bahkan menyanggupi untuk berkunjung dan melakukan evaluasi.
"Kaki saya memang pincang. Tapi tubuh saya yang lain masih berfungsi dengan baik. Saya rasa, gak ada salahnya kita survey ke daerah secara langsung. Jadi, kita bisa lihat sendiri gimana perkembangannya."
Dewa mengakhiri presentasinya. Lelaki itu meletakkan pointer dan mematikan LCD karena dia yang terakhir bicara. Suara riuh dan tepuk tangan menyambut ucapannya barusan.
William langsung berdiri dan menyalaminya. Mereka kembali berdiskusi lalu memutuskan untuk makan siang di luar. Sebenarnya ini belum waktunya, tetapi lelaki itu merasa khawatir dengan keadaan Keysa.
"Kita bertemu di The Resto's. Kalian boleh pesan duluan. Saya akan mengurus calon istri," pamitnya.
Semua orang mulai beranjak meninggalkan ruangan, ketika tiba-tiba saja William berkata, "Dewa, kamu bisa ke ruangan saya sebentar?"
Semua orang saling berpandangan dalam kebingungan. Selama ini mereka tahu jika Dewa merupakan anak emas dari William. Namun, agak sedikit mengejutkan bila bos besar memanggil salah satu karyawan secara pribadi. Apalagi dia baru datang dan akan mengadakan acara ramah-tamah besok hari.
"Dewa adalah teman kuliah Keysa. Dia ingin bertemu sebentar," jelas William lagi.
Jantung Dewa berdetak kencang, tak menyangka jika akan dihadapkan pada situasi begini. Untuk menghormati atasannya, lelaki itu akhirnya mengekori William. Lagipula mereka akan bertiga di dalam ruangan. Jadi Keysa tak mungkin berbuat macam-macam.
***
Dewa menatap jendela mobil dengan kesal. Kali ini dia harus menemani Keysa pulang ke apartemen William. Setelah itu, melanjutkan makan siang ke The Resto's, tempat yang sudah dijanjikan tadi.
Keysa tak mau diantar supir dan memilih naik taksi online. Syarat lain yang dia minta adalah ditemani Dewa. Wanita itu ingin berbincang berdua tanpa ada yang mengetahui, kecuali si supir taksi yang notabene tidak mengenal mereka. 
"Kamu kenapa jutek begitu, Wa?" tanya Keysa sembari mencuri-curi pandang.
"Kamu kenapa minta aku temenin?" balas Dewa malas.
"Aku cuma kangen."
Dewa mengumpat. Sudah mengandung benih William pun, Keysa masih saja bertingkah.
"Ingat-ingat status kamu, Key," tegur Dewa. Jika bukan karena permintaan William, mungkin dia sudah keluar dari taksi ini.
"Aku tau, kok. Tapi apa salahnya kalau aku kangen kamu. Aku kan gak ngapa-ngapain. Cuma kangen aja," ucap Keysa santai.
Dewa mendengkus. Teringat kejadian silam di mana Keysa mencoba merayunya. Wanita itu sangsi dengan ucapan wanita itu tadi. Dulu saja dia hampir dijebak.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Dewa tanpa basa basi.
"Selain bilang kangen, aku juga mau minta maaf," sesal Keysa.
Dewa tersenyum pahit. Tentu saja dia tidak bisa membenci Keysa. Jika bukan karena bantuan wanita itu, entah bagaimana nasibnya sekarang. Lelaki itu rela jika diminta bantuan apa saja semampunya. Asal jangan membalas perasaan. Istri dan anak-anaknya lebih berharga dari apa pun di dunia ini.
"Aku udah maafin semua dari dulu, Key. Rasanya malas banget kalau kamu ungkit-ungkit lagi," ucap lelaki itu tegas.
Keysa tersentak karena merasa tersinggung. Entah karena hormon kehamilan atau ucapan Dewa tadi memang pedas. Hingga suasana hening tercipta dan tak ada yang berniat memulai pembicaraan.
"Makasih udah nganterin aku. Sampai sini aja cukup."
Keysa mengatakan itu dengan pelan sebelum keluar. Belum sempat Dewa membalas ucapannya, wanita itu langsung membanting pintu mobil, hingga membuatnya terkejut.
"Jalan, Pak. The Resto's," ucap Dewa singkat.
Mobil melaju membelah jalanan ibukota. Untuk mengusir kegalauan, Dewa meminta supir memutar lagu. Lelaki itu memilih untuk berdendang sembari menatap jalanan. Dalam hatinya berucap semoga pertemuan ini tak berujung masalah.
Mereka sudah tenang menjalani rumah tangga, setelah begitu banyak cobaan yang menerpa. Dewa bahkan berani mempertaruhkan pekerjaan jika Keysa berniat berulah.

Komentar Buku (849)

  • avatar
    saputraIndri

    baguusss..baguuusss..baaguusss bgt ceritanya, aku sudah hampir baca semua novelnya 👍👍 semangat terus yaa Thor 💪💪

    27/06/2022

      3
  • avatar
    Heddwyn72Adika

    masih pemula, penyesuaian dengan aplikasi

    02/03

      0
  • avatar
    Floraginting

    bagus

    22/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru