Tok! Tok! Tok! "Lintar, keluar kamu!" teriak seorang wanita paruh baya dengan suara lantang, berdiri di depan pintu rumah sederhana milik Lintar. Wanita itu, bernama Rasti, ia tampak kesal dan marah. "Kenapa Bu Rasti begitu, Mbak?" tanya seorang wanita bertubuh tambun yang kebetulan sedang berbelanja di warung dekat rumah Lintar. Ia mengernyitkan dahi, penasaran dengan alasan Rasti berteriak seperti itu. "Tidak tahu, mungkin Bu Rasti kesurupan," jawab seorang wanita setengah baya dengan nada bercanda, sambil tertawa-tawa. "Ah, Mbak, ada-ada saja," timpalnya, seolah-olah tidak percaya dengan sikap Rasti yang dianggap kesurupan. "Baru tahu ya? Bu Rasti dari dulu memang seperti itu ... sombong, angkuh, dan sok kaya," sahut seorang ibu yang mengenakan kerudung biru, dengan nada sedikit mencemooh. Ia tampaknya tidak suka dengan sikap Rasti yang keterlaluan. Rumah sederhana Lintar, dengan dinding berwarna biru langit, berdiri kokoh di antara deretan rumah-rumah warga lainnya. Meskipun sederhana, rumah itu tampak rapi dan terawat, mencerminkan kepribadian Lintar. Suasana di sekitar rumah Lintar mulai ramai dengan perbincangan warga yang penasaran dengan kejadian tersebut. Sudah hampir lima tahun lamanya, Lintar mendiami rumah sederhana itu seorang diri. Kedua orang tuanya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan yang tragis, meninggalkan kenangan pahit yang masih membekas di hatinya. "Lintar!" Wanita paruh baya itu kembali berteriak dengan suara lebih keras dari sebelumnya. "Keluar kamu!" teriaknya lagi, suaranya semakin meninggi dan penuh kemarahan. Namun, Lintar masih terlelap tidur di dalam rumahnya, tidak menyadari suara teriakan Rasti, seorang wanita paruh baya yang terkenal angkuh dan sombong di lingkungan kampung itu. Karena tidak mendapat tanggapan dari Lintar, Rasti semakin kesal dan berteriak lagi, "Lintar! Jangan pura-pura tuli kamu, ya! Buka pintunya, saya mau bicara penting dengan kamu!" Suara teriakannya semakin keras, dan tangannya terus mengetuk-ngetuk daun pintu rumah itu dengan keras. Bahkan, ia tidak segan-segan menggedor pintu rumah itu dengan kasar. Teriakan Rasti yang keras dan terus-menerus akhirnya membangunkan Lintar dari tidurnya. Ia terbangun dengan rasa terganggu dan sedikit kesal. "Ya, Allah! Siapa sih itu?" desisnya, masih dalam kondisi mengantuk dan berusaha memejamkan mata untuk menghilangkan rasa kantuk. Namun, suara teriakan Rasti terus terdengar, membuatnya tidak bisa tidur lagi. Dengan rasa tidak sabar, Lintar akhirnya bangun dari tempat tidurnya dan menuju ke pintu untuk melihat siapa yang berteriak seperti itu. "Iya, Bu. Tunggu sebentar!" Lintar menyahut sambil melangkah ke arah pintu, kemudian langsung membukanya. Ia masih dalam kondisi ngantuk berat setelah semalaman tidak tidur dan baru saja selesai mengerjakan tugas perusahaan dari bosnya yang ia bawa ke rumah. Setelah pintu terbuka, tampak seorang wanita paruh baya bertubuh gempal berdiri angkuh di depan pintu rumahnya. Raut wajahnya memerah, ketus, dan penuh amarah, dengan sorot mata tajam yang menatap sinis wajah Lintar. "Bu Rasti! Ada apa, Bu?" sapa Lintar dengan sikap ramah, sambil mempersilakan tamunya itu untuk duduk di sebuah kursi di teras rumahnya. "Silakan duduk dulu, Bu!" "Nggak perlu!" jawab Rasti ketus, tanpa mau menoleh ke arah kursi yang ditunjukkan oleh Lintar. Sekilas, Lintar dapat memahami bahwa wanita paruh baya itu sedang dilanda kegusaran, namun ia tetap menunjukkan rasa hormat dan sopan santun terhadap tamunya itu. "Kamu sengaja tidak langsung membuka pintu karena ingin mempermainkan saya?!" bentak Rasti penuh emosi, suaranya keras dan terdengar sangat nyaring. Napasnya pun menderu-deru menahan rasa emosi yang berkecamuk dalam jiwa dan pikirannya. Dua bola matanya yang tajam terus menatap wajah Lintar penuh kebencian, seakan-akan hendak menelan mentah-mentah pemuda itu. "Maaf, Bu. Tadi saya sedang tidur di dalam kamar, saya tidak dengar suara Ibu dan tidak bermaksud untuk mempermainkan Ibu," kata Lintar menjelaskan dengan tenang. Rasti menarik napas dalam-dalam, matanya yang tajam terus menatap wajah Lintar penuh kegusaran. "Saya ingin bicara dengan kamu," kata Rasti masih bersikap sinis. "Ada masalah apa ya, Bu?" tanya Lintar penasaran, tetap berusaha tenang dan bersikap ramah terhadap sang tamu. "Hey, kamu jangan sok bersikap baik di hadapan saya!" bentak wanita paruh baya itu sambil menatap tajam wajah Lintar. Meskipun sudah dibentak secara kasar, Lintar masih tetap bersikap tenang dan tidak mau menanggapi sikap kasar dari tamunya itu. Ia berpikir bahwa Rasti adalah orang yang lebih tua darinya dan harus tetap dihormati sebagaimana mestinya. Melihat Lintar hanya diam saja, Rasti tampak semakin geram. "Kamu punya kesalahan besar terhadap anak saya! Apa kamu tidak sadar?" tanya Rasti bernada tinggi, suaranya penuh kemarahan. Lintar tampak kaget mendengar perkataan yang terlontar dari mulut wanita paruh baya itu. 'Astagfirullaahal'adziim,' ucap Lintar dalam hati, berusaha menahan kejutan dan kemarahannya. Sikap Rasti memang sudah sangat keterlaluan. Ia tiba-tiba datang dan langsung memaki-maki Lintar tanpa basa-basi. Meskipun demikian, Lintar tetap bersikap sabar dan berusaha tenang dalam mengendalikan amarahnya agar tidak terpancing oleh sikap angkuh wanita paruh baya itu. "Maaf ya, Bu. Kenapa Ibu tiba-tiba memarahi saya? Saya ini tidak punya persoalan apa-apa dengan anak Ibu," kata Lintar lirih sambil mengerenyitkan kening. "Hubungan kami baik-baik saja, Bu," tambahnya masih dalam keadaan bingung. "Saya ingatkan kamu, jangan pura-pura pikun! Kamu sudah menyakiti perasaan anak saya, kamu harus bertanggung jawab. Karena ulah kamu, anak saya kabur dari rumah!" bentak Rasti, suaranya semakin keras dan tidak terkendali. Ia sudah tidak dapat mengendalikan amarahnya, dan sikapnya terhadap Lintar semakin kasar saja. "Astaghfirullaahal'adziim, Ibu tidak seharusnya bersikap seperti ini!" ucap Lintar lirih, berusaha menahan kesal. "Kamu mau ceramah di hadapan saya?" tanya Rasti kasar, membentak sambil melotot tajam. "Mohon maaf ya, Bu. Bukan itu maksud saya. Jika memang ada persoalan, sebaiknya kita selesaikan dengan cara baik-baik!" jawab Lintar, berusaha menenangkan Rasti dengan harapan amarah dalam jiwa dan pikiran wanita paruh baya itu sedikit mereda. "Kamu jangan coba-coba mengajari saya. Asal kamu tahu, saya ini lebih tua dari kamu!" bentak Rasti, tidak terima dengan perkataan Lintar yang dia anggap sudah lancang menasihati dirinya. Rasti merupakan orang paling kaya di kampung tersebut, tetapi banyak warga yang tidak suka terhadap dirinya karena keangkuhan dan sikap sombong yang dimilikinya. Bahkan para tetangganya pun tidak ada yang mau bergaul dengannya. Lintar mengerutkan kening, lalu menjawab dengan sikap tenang, "Perasaan, saya tidak pernah melakukan hal buruk terhadap putri Ibu. Hubungan saya dengan Eva baik-baik saja, Bu," kata Lintar berusaha membela diri. Namun, Rasti tidak mau peduli dengan perkataan yang terlontar dari mulut Lintar. Mendengar penjelasan Lintar seperti itu, ia malah semakin geram saja, dua bola matanya tajam menatap wajah Lintar yang berdiri di hadapannya. "Kamu sudah menolak mentah-mentah cinta anak saya. Lantas, kamu bilang tidak ada persoalan apa-apa?!" bentak Rasti untuk kesekian kalinya. Dengan segenap kesabaran yang dimilikinya, Lintar hanya menghela napas dalam-dalam. Lintar sudah tidak mau lagi menjawab perkataan Rasti yang semakin lama semakin kasar saja, sehingga membuat Rasti tambah semakin gusar. "Seharusnya orang miskin seperti kamu ini bersyukur. Karena ada seorang gadis dari anak orang terkaya di kampung ini sudah menyukaimu!" kata Rasti dengan nada menghina, suaranya penuh dengan kebencian dan kesombongan.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
pokonya srudeh
14d
0bagus
29/03
0❤ sangat bagus
09/01
0Lihat Semua